
Entah sudah keberapa kalinya, namun setiap kali kakek itu menyerang, Lin Tian selalu berubah menjadi halimun dan menghilang ke sisi yang lainnya. Tentu saja dia menjadi sangat kesal dan marah karena serangannya selalu meleset tanpa mampu mengenai sasaran.
"Apa kau tak lelah?"
Kakek itu lekas menoleh dan menemukan Lin Tian duduk di sebatang pohon yang sudah terpotong. Potongan itupun dia sendiri yang buat karena serangannya meleset.
"Kau...!!" dia melotot lebar dan wajahnya merah karena darahnya naik ke kepala. Kemarahannya sudah memuncak dan tak bisa ditahan lebih lama lagi.
"Lawan aku bocah kecil! Kau terlalu sombong dan tidak menghormat kepada yang tua! Apa maksudmu selalu menghindar seperti ini!?"
Lin Tian hanya memandang datar saat wajahnya ditunjuk-tunjuk lawannya yang sedang kalut dalam kemarahan itu. Dia terlihat sama sekali tak acuh terhadap setiap perbuatannya.
"Apa yang kulakukan? Tentu saja menghindari semua sernaganmu. Jika aku melarikan diri dari sini, kupikir kau tak akan melepasku dengan mudah."
"Memang betul seperti itu!" dia kembali menyerang setelah membentak marah. Dan lagi-lagi Lin Tian menghidar dengan mudah.
"Kau bilang aku tak menggormatimu karena tak balas menyerang?" ucapnya perlahan yang sudah berdiri di atas batang pohon. Kakek itu hanya memandang tajam penuh kemarahan.
"Jika memang begitu." Lin Tian melompat turun sebelum melanjutkan, "Serang aku dengan serangan terkuatmu. Aku tak akan menghindar kali ini."
Kakek itu tersenyum kejam sambil berkata lantang, "Bagus, itu baru namanya lelaki pendekar! Sekarang terima ini!"
Dia melebarkan kedua kakinya ke kanan dan kiri. Kedua tangannya terkepal di kedua pinggang. Tak lama setelah itu, tangan kirinya berubah menjadi kebiruan dan tangan kanan berubah menjadi kemerahan.
"Oh, menarik." gumam Lin Tian.
"Ini adalah salah satu keahlianku! Aku bisa melancarkan serangan dengan dua unsur berbeda, panas dan dingin! Hal semacam ini sangat jarang bisa dikuasai bahkan oleh pendekar sejati sekalipun. Sekarang, tunjukan taringmu anak muda!"
Lin Tian memandang itu penuh perhatian. Mendengar ucapan terakhir penuh tantangan dari musuhnya, Lin Tian menyeringai dan merentangkan kedua tangannya. Tak lama setelah itu, keluar asap putih yang cukup tebal menguar dari kedua tangan pemuda itu.
__ADS_1
"Hawa dingin? Hahaha, kau pikir bisa mengalahkan hawa panas dan dingin secara bersamaan hanya dengan satu unsur? Jangan bercanda bocah!" kakek itu tertawa mengejek.
Sedangkan Lin Tian yang diejek hanya tersenyum menyeringai dan menjawab tenang. "Kau tak tahu apa-apa soal ini. Seorang pendekar sejati penuh dengan misteri, bukankah kau sudah tahu akan hal itu?"
Kakek ini menghentikan tawanya dan raut wajah tua penuh keriputan itu sedikit berubah. Dia menggertakkan gigi dan berseru nyaring.
"Orang muda, sungguh kehormatan bagiku sebagai orang tua hampir mati ini bisa bertemu denganmu! Sangat jarang ada seseorang yang bisa setingkat dirimu di umur yang masih sangat muda. Jika aku kalah dan masih hidup, biarlah aku menjadi sahabatmu sampai akhir hayat!"
Lin Tian sedikit kaget lalu membalas, "Jika aku menang, akan kuterima ajakan persahabatanmu. Jika aku kalah, biarlah kepalaku jadi penghias kamarmu!"
"Bagus! Jaga seranganku!!" dibarengi bentakan nyaring, kakek itu melesat cepat dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke dada kanan dan kiri Lin Tian.
"Jangan terkejut!" seru Lin Tian sambil menggerakkan kedua tangan, memapaki dua tangan tua itu.
"Blaarrr!!"
Ledakan super besar tercipta, cahaya terang seperti kilat menyambar-nyambar. Pertemuan dua tenaga raksasa ini berhasil merobohkan beberapa pohon dan memecahkan batu-batu di sekitar mereka. Agaknya tak terlalu berlebihan jika orang menyebut jika pendekar sejati kesaktiannya seperti dewa.
"Apa ini? Jelas-jelas tadi bocah ini hanya mengerahkan hawa dingin, terlihat jelas dari kabut-kabut itu. Tapi kenapa...."
Ya, perkiraan kakek itu salah besar. Sebenarnya Lin Tian tadi bukan hanya mengerahkan hawa dingin, dia juga mengerahkan hawa panasnya.
Jika kakek itu di tangan kiri hawa dingin dan kanan hawa panas, Lin Tian sebaliknya. Tangan kanan hawa dingin dan tangan kiri hawa panas.
Sebenarnya, kabut yang dilihat di mata kakek tersebut bukanlah kabut saja, melainkan hanya di tangan kananlah yang berwujud kabut, sedangkan di tangan kiri adalah asap yang timbul dari hawa panas.
Akan tetapi Lin Tian tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena khwatir akan kesalahan tangan dan membunuh kakek ini. Tak mengherankan bila kakek ini sampai terbunuh karena yang Lin Tian gunakan untuk menyerang bukan lain adalah ilmu Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega.
Dua ilmu keramat ini memiliki kekuatan yang sangat hebat bila dimainkan dengan pengerahan hawa sakti sepenuhnya dan dalam penguasaan tinggi. Lin Tian pernah melihat kehebatan sejati dari dua ilmu ini saat beradu tinju dengan Wang Ling Xue. Dan menurut perkiraannya, kengerian dua ilmu ini sudah cukup untuk membunuh lawannya.
__ADS_1
"Aku tak mengerahkan sampai tingkat maksimal, tapi hasilnnya sudah semengerikan ini!?" Lin Tian menjerit dalam hati karena terkejut dengan kekuatannya sendiri.
Sampai cukup lama kedua telapak tangan mereka saling tekan dan dorong seperti itu. Dan sampai lama pula kilatan cahaya yang dihasilkan dari pertarungan tingkat tinggi ini menghancurkan area sekitar.
Setelah kurang lebih dua menit, kakek tersebut menyemburkan darah segar dari mulutnya. Namun Lin Tian melihat jelas bahwa lawannya ini tak mau mengakui kesalahan dan terus memaksakan diri menekan serangan Lin Tian.
"Tua bangka goblok! Kau bisa mati sialan!" umpat Lin Tian dalam hatinya dengan perasaan campur aduk.
"Cih, tak ada pilihan lain. Dia tak bersalah dan aku tak boleh membunuhnya!"
Berpikir demikian, Lin Tian mengurangi sedikit tenaganya. Akan tetapi tindakannya ini sudah lebih dari cukup untuk tenaga dahsyat lawannya memasuki tubuhnya dan menyerang organ dalam.
"Ughh–Aaaghh!!" Lin Tian muntah darah dan terpental jauh ke belakang. Tubuhnya baru berhenti saat punggungnya menghantam sebuah pohon besar sejauh belasan meter dari tempat mereka beradu tenaga.
Sedangkan kakek itu melongo heran atas tindakan Lin Tian. Orang berpengalaman sepertinya tak mungkin sampai tidak sadar apa alasan sesungguhnya Lin Tian terpental sampai jauh seperti itu.
Karena sadar jika tadi lawannya mengalah, kakek itu buru-buru melesat cepat menghampiri Lin Tian dan berkata panik.
"Heh bocah tolol! Apa kau masih hidup!? Kenapa kau mengalah sialan!?" bentak kakek itu sambil memandang tajam.
Lin Tian sudah melompat berdiri dan menjawab umpatan kakek itu sambil berkacak pinggang setelah mengusap darah di bibirnya. "Kau pikir serangan macam itu mampu merontokkan jantungku? Jangan mimpi! Ingin pertandingan ulang!?"
Kakek itu melongo, memandnag tak percaya kepada pemuda di hadapannya ini. Sedetik kemudian, dia tertawa bergelak sampai mendongak langit.
"Bwahahaha, kau memang hebat sekali! Aku kalah, aku akan jadi sahabatmu mulai sekarang! Nah, tak perlu lah untuk menyembunyikan identitas lagi kepada sahabat sendiri. Aku Kang Lim, siapa namamu dan dari mana?"
"Lin Tian, dari keluarga Zhang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG