
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Lin Tian kepada Tuan muda itu.
"Empat hari dari sekarang, ayah bersama ibu tiri dan kembarannya akan pergi dari kota ini untuk suatu urusan. Saat itulah kita akan menyerang." kata Hu Tao.
"Mohon maaf sebelumnnya, akan tetapi aku menyarankan agar para tetua dan saudara-saudara sekalian untuk tetap di sini sampai hari itu tiba supaya tidak menimbulkan kecurigaan." jelas Hu Tao panjang lebar.
Para tahanan yang baru bebas itu menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang terlihat kecewa, ada pula yang hanya diam menurut saja.
Hu Tao yang melihat hal itu kembali berkata, "Sekali lagi maafkan aku, hanya inilah satu-satunya cara untuk kita supaya dapat merebut kembali keluarga Hu."
Tetua pertama mengelus jenggot putihnya itu, kemudian berkata, "Tak apa Tuan muda, asal kita mampu mengusir pergi para pengkhianat itu, aku tidak keberatan."
"Aku juga." sambung tetua keempat.
"Aku setuju dengan tetua pertama dan keempat." kata pula tetua keenam.
Melihat tiga orang tetua itu setuju dengan usulah Hu Tao. Mau tak mau para pendekar yang lainnya pun juga ikut menyetujui rencana itu.
"Terima kasih semuanya." ucap Hu Tao sembari tersenyum. Senyum yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkan wajahnya.
Melihat senyum Tuan mudanya, keempat pelayan setia itu menjadi terharu dan sangat senang. Akhirnya Tuan muda bisa tersenyum lagi, begitulah pikir mereka.
"Dan kau Lin Tian, selama berada di kota ini kau tinggal dimana?"
"Oh...aku tinggal di salah satu penginapan yang ada di ujung kota, kau tenang saja."
"Maaf tak bisa memberimu tempat beristirahat yang nyaman." kata Hu Tao yang merasa tidak enak terhadap Lin Tian.
"Tak masalah." balas singkat pemuda bertopeng itu.
"Baiklah, empat hari dari sekarang, tepat pada pagi hari, kita akan berkumpul lagi di sini untuk memikirkan rencana selanjutnya. Sampai saat itu tiba, jaga diri baik-baik!!" perintah Hu Tao dengan gagah dan berwibawa. Dalam ucapannya itu terkandung jiwa pemimpin yang sangat kuat.
Mendengar perintah itu, serentak mereka semua berlutut dan menjawab, "Kami menerima perintah!!"
...****************...
Terlihat di jalanan kota Sungai Putih yang sudah sepi, berjalan seseorang dengan mengenakan jubah putih serta sebuah topeng yang berbentuk wajah manusia. Topeng itu berekspresi datar dan dingin sehingga menimbulkan kesan seram dari orang tersebut.
Di punggunya juga terdapat sebatang pedang yang gagang sekaligus sarungnya berwarna coklat gelap. Di gagang pedang itu menggantung sebuah hiasan ronce biru muda yang melambai-lambai tertiup angin malam.
Orang itu berjalan tenang di tengah kesunyian kota. Tenang sekali, seolah-olah kakinya itu tidak menapak tanah. Jubahnya berkibar kekanan dan kiri mengikuti arah hembusan angin dingin malam itu.
Orang ini adalah Lin Tian. Saat ini dia baru saja kembali dari kuil perguruan Tapak Suci dan sedang dalam perjalanan pulang menuju penginapan sederhana kala itu.
Hingga ketika pemuda itu sampai di perempatan jalan, dia melihat gedung tiga lantai yang cukup megah di sana. Ya, gedung itu adalah gedung yang berisi rumah makan, rumah penginapan, dan rumah pelacuran.
Di lantai satu, terlihat ruangan itu hanya memancarkan cahaya remang-remang yang berasal dari api lilin di setiap sudut ruangan. Pintu ruangan masih terbuka, dan terlihat di meja kasir sana duduk seorang pelayan wanita yang waktu itu menggoda Lin Tian sedang tidur nyenyak dalam pelukan hangat selimut tebal.
Jika melihatnya dalam keadaan seperti itu, timbul rasa kasihan pada diri Lin Tian. Dia sungguh menyayangkan gadis muda itu yang rela menjual harga diri dengan cara mengumbar tubuhnya hanya demi mencari uang.
Apa dia tidak merasa kasihan dengan suaminya di masa depan kelak? Batin pemuda itu.
Lin Tian berpikir jika gadis itu masih berada di sana kemungkinan besar adalah untuk berjaga-jaga agar jika ada tamu yang berkunjung di waktu selarut ini, masih ada seseorang yang akan melayani mereka.
"Malang sekali nasibnya. Entah dia menjadi seorang lacur seperti itu atas keinginan sendiri atau karena hal lain, akan tetapi tetap saja....hah....." Lin Tian berguman dan diakhiri dengan helaan nafas.
__ADS_1
"Semoga saja setelah keluarga Hu berhasil jatuh ke tangan Hu Tao, baik gadis itu maupun gadis lainnya, mereka akan kembali ke jalan yang benar. Walaupun mereka bukan siapa-siapaku, tetapi aku....." ucapannya tiba-tiba berhenti.
"Tunggu....tunggu....ada yang aneh, ada yang tidak beres dengan para pelacur itu." katanya sambil memandangi gedung tiga lantai itu dengan lebih teliti.
Tiba-tiba, entah kenapa dirinya teringat dengan seorang wanita yang berpakaian tebal tertutup dan dipanggil Nyonya itu.
Jika ini adalah sarang pelacur, mengapa orang yang dipanggil Nyonya dan begitu dihormati itu malah berpakaian sangat sopan? Bukankah ini hal aneh? Pikir Lin Tian bertanya kepada dirinya sendiri.
"Benar, ada yang tidak beres....ingat Lin Tian, kota ini sudah berubah sama seperti yang dikatakan biksu tua itu. Ini artinya mungkin tempat ini dahulunya bukanlah tempat pelacur." gumam Lin Tian menerka-nerka.
"Yang jelas, sekarang kota Sungai Putih ini sudah menjadi sarang orang jahat setelah pergantian pemimpin. Dan mungkin saja semua gadis yang ada di sana itu telah dipaksa oleh salah seorang penjahat itu untuk bersikap demikian." lanjutnya menebak segala kemungkinan yang ada.
"Jika hal itu benar...."
Lin Tian menghentikan ucapannya dan tiba-tiba dari balik topeng seram itu nampak ekspresi wajah yang lebih seram lagi.
Mengapa dia marah? Tentu saja marah karena semua ini mengingatkan ia akan Zhang Qiaofeng, Nona mudanya sendiri.
Bagaimanapun juga, Nona mudanya adalah seorang perempuan dan dia tentu tak terima jika seandainya seseorang yang begitu ia kagumi itu telah dipermainkan orang lain.
Sama halnya dengan tempat ini, jika ada seseorang yang memaksa mereka semua untuk menjadi pelacur, Lin Tian bersumpah pada diri sendiri untuk melenyapkan orang itu.
Memang Lin Tian mungkin berwatak pendiam dan dingin. Akan tetapi sejatinya pemuda itu sangat sopan dan menghormat dengan yang namanya perempuan.
Dia menganggap jika perempuan itu sama halnya seperti setangkai bunga indah yang harus dijaga dan dirawat, bukan malah untuk dipetik kemudian di biarkan layu begitu saja.
Karena itulah, Lin Tian bertekad seumur hidupnya tidak akan pernah bermain cinta apalagi mempermainkan cinta seseorang. Dia berpikir, semua wanita itu diciptakan untuk melayani suaminya kelak, bukan untuk melayani seseorang yang hanya berstatus sebagai "kekasih" dan belum tentu menjadi suaminya.
Bahkan ketika Lin Tian digoda oleh perempuan itu ketika dia makan disana kemarin. Pemuda itu bahkan tidak berani mengarahkan pandang matanya kearah belahan dada perempuan itu yang memang sengaja diperlihatkan padanya. Dia sama sekali tidak ingin merusak kesucian perempuan itu, sungguhpun hanya dengan memandang tubuhnya.
Karena pemikiran itulah Lin Tian sangat pantang dan membenci dengan yang namanya pemerkosaan. Emosinya pasti langsung meluap-luap tatkala dia mendengar ada seseorang yang melakukan hal biadap itu.
Hal ini pulalah yang membuat Lin Tian sangat emosional begitu mendengar kabar pemerkosaan.
"Sialan, ternyata kota ini sudah sedemikian hancur." gumamnya bergetar menahan amarah yang sudah memuncak.
Kemudian, pemuda itu langsung melesat menuju lantai tiga yang masih terlihat terang benderang.
Malam ini dia bermaksud untuk menguak misteri tentang bangunan tiga lantai itu.
Akan tetapi berbeda dengan siang kemarin, kali ini ruangan itu sudah sepi dan tak terdengar suara apapun dari sana.
"Tap..."
Lin Tian sampai di puncak gedung itu. Dia berdiri tegak di atas genteng dengan pandang mata tajam. Kemudian pemuda itu samar-samar mendengar suara seperti percakapan beberapa orang.
Langsung saja dirinya bergegas menuju ke sana.
Ketika Lin Tian sudah sampai di ujung genteng, dia melihat jendela di salah satu ruangan terbuka lebar dan suara itu ternyata berasal dari sana.
Cepat Lin Tian melompat ke pohon besar yang berada di depan ruangan itu dan mengintai dari sana.
Terlihat di dalam ruangan itu seorang pria paruh baya yang berumur sekitar lima puluh tahunan, sedang berdiri di depan ranjang dengan berpakaian hanya menggunakan celana tanpa baju.
Walau wajahnya sudah terlihat tua, akan tetapi tubuhnya masih berotot dan terlihat kuat. Tahulah Lin Tian jika orang itu adalah seorang pendekar.
__ADS_1
Di sana juga berdiri lima pria lain yang keadaannya sama seperti orang itu, hanya bercelana tak berbaju. Akan tetapi, melihat bentuk tubuh dari pria lain yang terlampau gemuk, agaknya hanya pria tua itulah yang merupakan seorang pendekar.
Mereka semua berdiri dengan memandang kearah ranjang hingga membuat air liur mereka menetes-netes.
Karena penasaran, Lin Tian mencoba menengok siapa gerangan orang yang mereka pandangi itu.
Setelah melihat orang yang di atas ranjang, hampir saja jantung pemuda itu pindah tempat saking terkejutnya. Ternyata orang yang sedang berada di atas ranjang adalah wanita berbaju tebal dan sopan dengan panggilan Nyonya itu!!
Tetapi kali ini pakaiannya serba terbuka dan dia sedang duduk di sana dengan wajah yang sangat merah.
"Ehehe....Yin Yin ah...kau cantik sekali. Oh Yin Yin dewiku..." kata pria berumur lima puluh tahun itu.
"Bajingan.....K-ka-kalian....akan mati dalam keadaan yang sangat buruk...!!!" jawab orang yang dipanggil Yin Yin itu dengan sangat gugup.
"Heheh....ada apa denganmu? Kau selalu saja berkata seperti itu. Akan tetapi hasilnya? kami masih hidup sampai sekarang dan masih bisa menikmati tubuhmu setiap hari. Hahah...!!" orang itu tertawa diikuti oleh pria lainnya.
"Bangsat....bajingan....j-jika bukan k-karena anakku dan jika bukan karena rasa sayangku kepada para pelayan di sini, a-aku lebih memilih mati daripada melakukan ini semua!!!" teriak si Yin Yin menimpali tawa mereka.
"Hahaha....sudah sudah. Sekarang seperti biasa, buat kami bersemangat...heheh...."
"Sialan....." gumam Yin Yin dengan berlinang air mata.
Kemudian di atas ranjang itu, Yin Yin melakukan gerakan-gerakan dan suara-suara cabul yang membuat nafsu binatang orang-orang itu bangkit.
Yin Yin melakukan semua ini sambil menangis, akan tetapi suara dan gerakannya itu tetap bisa membangkitkan gairah mereka.
Agaknya isak tangis perempuan itu tidak bisa menutupi pesona wanitanya.
Terlihat jelas bahwasannya perempuan itu sama sekali tidak ingin melakukan ini, akan tetapi karena suatu keadaan, dia harus rela melayani keenam orang pria bejat itu.
Lin Tian yang melihat dari atas pohon sudah kehabisan kesabarannya. Ternyata benar dugaannya, kemungkinan besar para wanita di sini menjadi lacur adalah karena paksaan dari orang-orang itu.
Karena sudah kelewat murka, sedetik kemudian Lin Tian lalu melompat masuk ke dalam kamar itu dan langsung memecahkan kepala salah satu pria dengan pukulan tangannya.
"Apa-apaan!?" kata pria pendekar itu terkejut sekaligus heran melihat kedatangan Lin Tian yang tiba-tiba.
Dia hendak mengambil pedangnya yang diletakkan di sudut ruangan, akan tetapi gerakannya harus terhenti karena dadanya sudah tertembus oleh tangan Lin Tian.
"Aaa....!!" teriak pria lainnya ketakutan.
Kemudian sekali kedua tangannya bergerak, empat orang lainnya sudah terpental dan menggeletak tak bernyawa.
Terjadi keheningan setelah Lin Tian melakukan pembantaian itu. Lalu, pemuda itu menyeret mayat-mayat mereka dan kemudian ia lemparkan keluar melalui jendela.
Saat dirinya melihat kearah Yin Yin, perempuan itu hanya memandangnya dengan ekspresi yang membayangkan ketakutan luar biasa. Dia juga telah menutupi tubuh terbukanya itu dengan selimut tebal.
"K-kau....kau...." ucapnya tergagap.
Lin Tian yang melihat ini langsung menjura memberi hormat sebelum kemudian lenyap dari sana.
Yin Yin masih duduk termenung di balik selimutnya, perempuan itu seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keenam orang itu mati di tangan satu orang dengan sekejap mata. Hal ini tentu saja membuat batinnya terguncang.
Setelah beberapa detik hanya keheninganlah yang menghiasi ruangan itu. Yin Yin kembali menangis dan berucap perlahan,
"T-t-terima...k-kasih...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG