Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 201. Pengintaian


__ADS_3

Di tempat terpencil distrik merah, lebih tepatnya di rumah kecil yang berwarna merah. Ada tiga orang lelaki yang sedang bercakap-cakap.


Mereka duduk melingkari meja bundar kecil yang ada di ruang depan. Nampak berbagai makanan dan minuman tersaji dengan rapih di atas meja, sama sekali tidak ada tangan dari ketiga orang itu yang menyentuhnya.


"Pemimpin tidak sedang berada di sini tapi keluarga Zhang sudah tiba. Bagaimana ini?" ucap seorang pria gemuk yang berpakaian bangsawan mewah. Di kepalanya ada topi bulu yang menutupi kepala botaknya.


"Karena itulah, aku juga bingung. Apa kita harus lari?" kata orang tinggi besar dengan jubah lebar dan terdapat pelindung kulit di bagian dadanya.


"Jika kita lari, kita hanya akan menunda kematian kita! Apa kau tak ingat akan kemampuan pemimpin? Dia murid langsung tuan Sian Yang!" bentak seorang lagi yang agaknya paling tua. Jenggotnya tak semua putih namun wajahnya itu dapat menjawab semuanya bahwa dirinya benar-benar sudah sepuh.


"Lalu bagaimana baiknya, kau pikir nona Zhang itu lebih lemah dari pemimpin? Kita juga tak mampu melawannya sialan!" seru pria gendut.


"Apa yang akan kita lakukan selain melawan!? Biarlah distrik merah hancur sekalian berikut penghuninya, sisanya biar pemimpin dan gurunya yang urus." tukas pria tua itu bersungut-sungut.


Sedetik kemudian, kakek ini mendapatkan tatapan tajam dari keduanya. Dua orang ini diam-diam memang tidak suka dengan kakek tersebut yang dianggapnya terlalu mendewakan Sian Yang sampai rela mengorbankan apapun.


Maka dari itulah, pria tinggi besar yang pakaiannya terdapat pelindung kulit itu bangkit berdiri dan menggebrak meja. Menatap kakek itu dengan tatapan bringas.


"Ang Lin bajingan!! Apa-apaan kau ini, mengapa kau lebih mementingkan harga diri daripada nyawa sendiri? Kau ini anjingnya pemimpin, jangan terlalu berlebihan dalam bersetia kepadanya!"


"Hah...kau juga sama sepertiku! Kenapa kau berkata seolah-olah kau adalah golongan putih? Kita ini sama-sama golongan hitam, namun kesetiaan terhadap atasan tetap menjadi kehornatan tertinggi." bantah kakek tersebut yang dipanggil Ang Lin.


"Ang Lin, kau terlalu fanatik! Kami memang anggota Iblis Tiada Banding, namun kami bergabung dengan mereka karena demi suatu hal! Tidak sepertimu yang tak berotak mengorbankan segalanya demi orang-orang itu! Sudahlah, aku pergi!" seru pria gendut dan hendak pergi dari sana.


"Tunggu!" tiba-tiba Ang Lin berkata tegas untuk menghentikan langkah pria tersebut.


"Sampai kau berani menyentuh gagang pintu itu, aku jamin kau akan keluar tanpa kepala." ucap Ang Lin dingin.


Pria gendut itu mendengus tanpa menoleh dan tanpa menghiraukan ucapan Ang Lin, dia membuka pintu.


"Bresss!"


"Brak!"


Pintu terbuka dengan kasar. Sedetik kemudian, ada sesuatu yang jatuh dari dalam tanpa kepala. Sesuatu itu adalah tubuh si gendut yang sudah tak berkepala lagi.

__ADS_1


Pria yang tadi juga membantah Ang Lin berdiri dengan muka pucat. Akan tetapi dia mengeraskan hati dan membentak marah sambil mengirim pukulan kepada Ang Lin.


"Kau munafik, pendekar sejati!! Dasar anjing Sian Yang, tak heran kau sama sekali tidak takut terhadap Zhang!"


Ang Lin melihat itu dengan tatapan remeh. Kemudian mulutnya berdecih sebal dan tanpa berkedip atau menghindar, tangannya sudah bergerak cepat menyambut pukulan lawan.


"Krak!"


Lengan pria itu bengkok seketika saat tangan tua Ang Lin menyentuhnya. Spontan mulutnya berteriak keras sambil melempar tubuh ke belakang.


"Sepertinya hanya aku seorang yang harus menghadapi keluarga Zhang." kata Ang Lin dengan nada dingin dan penuh intimidasi.


Pria itu sambil merintih merangkak mundur-mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.


"K-Kau...pendekar sejati, kenapa menyembunyikan hal ini? Kenapa kau rela menjadi anjing Sian Yang!?"


"Matilah."


"Prak!"


Kepalanya pecah berhamburan ketika Ang Lin kembali mengirim tinjuan keras.


...****************...


Zhang Qiaofeng bersama lima Hantu Merah melompati atap-atap rumah di distrik merah. Hari masih siang dan sebenarnya saat ini adalah momen paling tepat untuk menyerbu. Namun Zhang Qiaofeng tak menghendaki demikian dan memutuskan untuk melakukan penyerangan besok.


Sedangkan hari ini, dia memerintahkan seluruh pasukan untuk menyelidik terlebih dahulu untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.


Zhang Qiaofeng hinggap di salah satu genteng bangunan. Melihat ini, kelima anggota Hantu Merah ikut berhenti pula dan berdiri siaga di kanan kiri nonanya.


"Ada apa?" tanya Song Qian kepada Zhang Qiaofeng yang memandang ke satu jurusan.


Zhang Qiaofeng menunjuk ke satu arah tanpa berkata apapun. Serempak kelima perempuan lainnya memandang ke arah itu keheranan.


"Hanya kakek biasa, apa maksud anda nona?" tanya Yin Mei, putri Yin Yin.

__ADS_1


"Ini tempat prlacuran, orang tertua yang masih doyan wanita itu anggap saja empat puluh atau yang lebih tinggi lima puluh tahun. Tapi lihat itu, kakek itu mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun! Walaupun jenggotnya masih banyak yang hitam, tapi wajahnya itu tak bisa membohong." kata Zhang Qiaofeng menjelaskan.


Lima orang ini kembali memandang dan terkejutlah mereka. Tidak ada satu pun dari mereka sebelumnya yang berpikir sejauh itu.


"Tak mungkin itu pengemis. Mana ada pengemis yang mengemis di tempat semacam ini? Jika memang pengemis, pakaiannya terlalu bersih bahkan untuk seukuran orang kaya sekalipun!" kembali terdengar Zhang Qiaofeng berkata.


"Memang benar sekali..." Fen Lian menyahut.


"Bagaimana ini, kita ikuti dia?" tanya Yin Yin kemudian.


"Tak perlu, jika memang dia orang penting, maka saat penyerbuan kita pasti bertemu dengan dia."


"Jika dia berwatak pengecut?"


"Pikirkan nanti!"


Kemudian tanpa berkata-kata lagi, Zhang Qiaofeng kembali melesat ke genteng lain untuk melanjutkan pengintaian.


Sampai berjam-jam Zhang Qiaofeng bersama yang lain berkeliaran di distrik merah. Untuk para tetua, karena tidak boleh melepas topeng, maka mereka melakukan penyelidikan secara sembunyi-sembunyi.


Karena jika tidak begitu dan berjalan seenaknya di jalanan distrik, maka mereka pasti akan menarik perhatian orang banyak.


Anggota-anggota yang menyamar sebagai pedagang, bangsawan dan sastrawan, dapat berjalan bebas di jalanan karena pemandangan tiga golongan itu sudah tidak asing di sini. Sedangkan untuk anggota yang menyamar sebagai pengemis, mereka pura-pura mengemis di gerbang masuk distrik merah untuk mengamati siapa saja yang masuk dan keluar.


Sesuai dugaan, saat malam tiba keadaan distrik merah menjadi jauh lebih ramai. Pelacur-pelacur itu sudah siap dengan pakaian terbukanya dan berdiri di depan pintu gedung masing-masing sambil melambaikan tangan. Tak sedikit pula yang berjalan di jalanan untuk menarik perhatian orang lewat.


Menjelang tengah malam, keramaian di distrik merah berubah dari yang sebelumnya terlihat banyak orang, berubah menjadi berisik sekali.


Jalanan di distrik hanya satu dua orang saja yang lewat, namun suara-suara aneh yang berasal dari setiap bangunan benar-benar menghiasi malam itu.


Hal ini membuat telinga Zhang Qiaofeng panas dan perutnya mual. Jika tak ditahan mungkin saat ini dia sudah mengeluarkan semua isi perutnya.


"Kita pergi! Aku muak dengan tempat menjijikkan ini! Apa-apaan teriakan-teriakan itu!?" Zhang Qiaofeng mengomel sambil membanting-banting kaki.


"Ayo pergi! Dan besok kita akan menyerang saat waktunya tepat."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BESAMBUNG


__ADS_2