Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 209. Konflik Kecil


__ADS_3

Lin Tian bukannya tidak terkejut mendengar suara barusan. Namun ia mencoba tetap tenang dan berdiri diam di sana.


"Siapa?" bentak salah satu dari tiga anggota Zhang.


"Boomm!!"


Tiba-tiba Lin Tian merasakan angin menyambar dahsyat dari pintu masuk. Sedetik kemudian, pintu restoran yang tertutup itu hancur berantakan berikut tembok-temboknya sejauh dua tiga inci di sekitar pintu.


Lin Tian menoleh dan menemukan lima orang dengan sikap angkuh sekali. Pakaian mereka hitam-hitam sama seperti sekumpulan kecoa yang ia bunuh di hutan bersama Kang Lim. Maka tanpa berpikir lagi Lin Tian sudah tahu siapa yang datang ini.


Melihat mereka, para pengunjung ketakutan dan buru-buru keluar restoren tanpa mempedulikan sudah membayar atau belum. Sedangkan para pelayan restoran sudah lari ke belakang dengan terbirit-burit.


"Hahaha...mati kalian orang-orang Zhang." si gendut itu tertawa dan kembali mendaptakan kepercayaan dirinya. Dia menunjuk-nunjuk tiga orang Zhang bersama Lin Tian dengan senyum remeh.


"Kalian berlima, bersihkan tikus-tikus ini! Untuk yang baju hitam buat dia lumpuh selamanya! Dia masih ada urusan denganku!"


"Seperti yang anda perintahkan."


Serentak mereka berlima menerjang ketiga orang Zhang yang sudah siap menyambut serangan. Mereka lantas meloloskan pedang dari pinggang mereka dan menahan gempuran lima orang itu.


"Trang-trang-trang."


Suara nyaring beradunya dua logam senjata terdengar memenuhi ruangan. Karena berada di dalam ruangan, sehingga suaranya seolah terdengar lebih keras.


Dua orang dari pihak Zhang melawan dua orang dari gerombolan pakaian hitam, sedangkan satu orang lagi melawan satu-lawan satu dengan pria berpakaian hitam.


"Hahaha, kalian orang-orang Zhang! Kalian pikir bisa memberi ketakutan pada kami!?" seru pria baju hitam yang satu lawan satu.


"Kau pikir Iblis Tiada Banding mampu menggetarkan nyali kami?"


Pertarunagn terjadi cukup sengit dan seimbang. Melihat kualitas manusianya, jelas sekali bahwa pihak Zhang yang sedang berada di atas angin. Namun karena dua di antaranya sedang dikeroyok dua orang, maka pertandingan berjalan seimbang.


Akan tetapi pria pakaian hitam dan orang Zhang yang satu lawan satu itu terlihat jelas perbedaannya. Sejak awal pertarungan, Lin Tian dapat melihat jelas bahwa orang Zhang itu mampu mendesak hebat lawannya. Hal ini membuat dia senang dan bangga.


"Sepertinya sudah waktunya aku unjuk gigi." gumam Lin Tian menyeringai lebar.

__ADS_1


Dia mengambil salah satu sumpit di mangkoknya dan hanya dengan menggerakkan dua jari, sumpit itu melesat cepat menuju satu orang pria pakaian hitam.


"Akgghh!" terdengar jerit mengerikan saat sumpit itu melesak masuk ke dalam lehernya. Membuatnya mati seketika.


Lin Tian melakukan hal yang sama, melemparkan satu sumpit sisanya untuk mengakhiri hidup salah seorang lainnya. Hasilnya sama seperti tadi, setelah menjerit dan berkelojotan sejenak, orang itu tewas seketika.


Tiga orang Zhang ini bingung, namun mereka tak bisa pikir panjang dan segera memanfaatkan kesempatan ini. Mereka segera mendesak tiga orang sisa lawannya yang menjadi panik.


"A-apa yang kau lakukan!" tanya si gendut dengan nada membentak kepada Lin Tian.


Lin Tian melirik orang itu yang berada di belakangnya. Dapat dilihat dengan jelas bahwa celana lelaki itu sudah basah oleh kencingnya sendiri, Lin Tian mendecih kesal.


"Setiap orang sombong pasti pengecut!"


Dia berpikir untuk menakut-nakuti pria tersebut. Maka dia kerahkan tenaga dalamnya pada sup kuah di mangkoknya. Ia buat kuah sup itu melayang di udara membentuk seekor naga.


Lalu nasinya ia buat sedemikian rupa untuk membentuk kumis, rambut, dan taring naga itu. Untuk lauk dan sayuran, dia buat benda-benda itu berputaran di sekeliling naga, seolah naga itu sedang mengendalikan alam.


Maka terciptalah naga kecil yang terbuat dari kuah sup pesanan Lin Tian.


"A-a-a-apa itu?" pria gendut itu tergagap-gagap dan jatuh terduduk.


Lin Tian memasang wajah bingung saat bertanya, "Hah, kukira kau sudah tahu. Dia ini adalah naga, hewan peliharaanku. Kuambil dia di puncak Pegunungan Tembok Surga, jika sedang marah, dia bisa mengangkat gunung dan membantingnya."


Pria gedut itu makin gemetaran dan mencoba membentak, "M-m-mana ada yang seperti itu?"


"Kau tak lihat ini?" Lin Tian menunjukkan mangkoknya yang mengeluarkan sosok naga. Setelah itu dia meyeringai lebar.


"Makan dia." ucapnya dan menggerakkan naga itu untuk melahap wajah si gendut. Karena memang sudah ketakutan hebat, sebelum naga itu sampai, dia sudah pingsan duluan.


"Hehe...pertunjukan yang cukup menghibur." ucapnya dan menggosok-gosok tangannya ke pakaian yang tadi terkena tumpahan sup si gendut. Anehnya, hanya dalam beberapa kali usap saja semua kotoran itu sudah hilang.


Ternyata tiga orang Zhang itu sudah berhasil membereskan musuhnya masing-masing dan sempat melihat pertunjukan Lin Tian. Mereka berdecak kagum melihat hal itu.


"Tuan, ternyata anda juga pendekar."

__ADS_1


"Dan sepertinya jauh lebih lihai dari kami."


"Siapa anda tuan?"


Demikian ucap mereka memberi komentar. Lin Tian tidak menjawab dan menoleh kearah lima orang mayat itu.


"Buang saja mereka." ucapnya acuh tak acuh.


Jika dalam keadaan biasa, mungkin tiga orang ini tak akan menghiraukan perintah itu. Namun entah kenapa saat ini timbul rasa segan di hati mereka dan dengan segera mengangkati lima mayat tersebut dan membuangnya entah kemana.


Ketika mereka kembali ke restoran, dia melihat Lin Tian yang sudah mengenakan topeng sebelah wajahnya. Sedang duduk santai sambil minum teh hangat pesanannya yang tadi tidak ia jadikan "naga".


Lin Tian melihat mereka dan segera menghabiskan tehnya. Setelah habis, dia meletakkan satu koin emas ke meja kasir yang entah akan diterima oleh pihak restoran atau tidak.


Pemuda ini lalu menghampiri tiga orang Zhang dan bertanyalah ia.


"Aku tak ingin berlama-lama, apa kalian tahu dimana markas utama Iblis Tiada Banding?"


"Kami saat ini sedang menyelidikinya tuan. Kami dengar mereka berada di pantai Timur wilayah Utara ini. Lebih tepatnya di pulau yang berada sedikit menjorok ke tengah laut, pulau Tulang Naga. Pulau yang berisi banyak sekali hewan beracun."


"Terima kasih." Lin Tian lantas pergi dan berjalan melewati mereka tanpa menoleh lagi.


"Maaf tuan, bisakan beritahu nama kebesaran anda agar kami bisa mengenal orang gagah dunia persilatan." ucap salah seorang yang berhasil menghentikan langkah Lin Tian ketika tiba di luar restoran.


Dia menolehkan kepala memandang tiga orang itu secara bergantian. Sebenarnya dia bingung hendak menjawab apa, akhirnya setelah memutuskan, berkatalah ia.


"Kalian tak perlu tahu." setelah mengucapkan empat kata singkat ini, dia berkelebat pergi dari sana.


Tiga orang itu memandang bingung, lalu saling berpandangan satu sama lain. Setelah itu seperti dikomando, mereka berucap secara bersamaan.


"Siapa dia?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2