Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 94. Salah Paham


__ADS_3

Sudah lima belas hari lamanya rombongan Zhang Qiaofeng melakukan perjalanan, dan selama itu pula tidak ada masalah yang berarti.


Pada suatu sore, Nona Zhang itu menghentikan perjalanannya di pinggir sebuah sungai yang cukup lebar. Airnya jernih dan arusnya lumayan deras, di sana juga terdapat banyak sekali ikan untuk makan.


"Hah...masih setengah perjalanan, jauh sekali ya..." keluh Zhang Qiaofeng sambil mengipas-kipaskan topi capingnya.


"Benar Nona, memang perjalanan dari kota raja ke kota tempat tujuh Keluarga Penguasa lain cukup jauh." balas Lin Tian.


"Lalu saat kau pergi bersama paman Minghao, apa kau tidak lelah?"


"Tentu saja lelah Nona. Namun demi tugas, kami tidak memepedulikannya." jawab Lin Tian.


Zhang Qiaofeng hanya mengangguk kecil sebelum tiba-tiba Zhang Hongli menyahut.


"Lin Tian membohong!! Perjalanan ini bahkan belum memakan setengah perjalanan. Waktu itu Lin Tian bisa sampai di sana dalam waktu satu bulan adalah karena dirinya menggunakan ilmu meringankan tubuh, bukan menggunakan kuda."


"Hah...!!?" seru Zhang Qiaofeng seakan tak percaya.


"Yang benar saja!?" lanjutnya dengan wajah cemberut.


Namun tiba-tiba wajahnya berubah berseri lalu berkata sambil memandangi wajah Lin Tian, "Tapi tak apa lah, ini juga tak terlalu buruk hehehe...."


Tentu saja Lin Tian bingung akan hal ini, namun seperti biasa, dia tak ambil peduli dan kembali fokus membuat api unggun.


Tiba-tiba, ada salah satu pendekar yang lari tergopog-gopoh kepada Nona itu.


"Nona, ada berita penting!!"


"Ada apa!?" tanya Zhang Qiaofeng yang sudah bersikap sebagai pemimpin. Gagah dan berwibawa.


"Dari arah Utara, datang seratusan orang yang hendak menyerbu kemari." jawab orang tersebut.


Spontan gadis itu berdiri dan berkata. "Apa? Mengapa kau tahu mereka hendak menyerbu kita??"


"Dalam barisan itu, mereka tak henti-hentinya meneriakkan seruan 'basmi keluarga Zhang!!! Basmi pengkhianat Zhang!!' seperti itu Nona!"


Zhang Qiaofeng nampak berpikir, mencoba menerka-nerka, siapa gerangan yang telah keluarga Zhang khianati.


"Ada satu lagi Nona!" celetuk orang itu tiba-tuba.


"Katakan!"


Orang ini nampak ragu, namun akhirnya menjawab juga, "Mereka, membawa sebuah bendera yang bertuliskan...Xiao."


"Apa!??" kali ini bukan hanya Zhang Qiaofeng, namun deluruh pasukan tanpa sadar berseru begitu mendengar ucapan itu.


"Cepat bersiap semuanya, buat barisan pertahanan!! Kita sambut mereka!!" perintah Zhang Qiaofeng kepada mereka.


"Siap Nona!"


Setelah itu mereka semua berlari kalang kabut kesana-kemari menyiapkan segala sesuatu. Bahkan ada seseorang yang masih buang air di pinggir sungai, terpaksa harus ia hentikan di tengah jalan demi mengindahkan perintah Nonanya.

__ADS_1


"Keluarga Xiao sialan!! Kenapa harus datang sekarang!!??" demikian orang itu mengomel sambil membenarkan celananya.


Di antara keributan itu, Lin Tian bertanya, "Bagaimana ini Nona, benar-benarkah mereka dari keluarga Xiao?"


"Aku tak tahu, tapi kenapa mereka menganggap kita pengkhianat? Bukankah kau dulu sudah membantu mereka menyelamatkan Kota Batu dari serbuan manusia gunung?" balas gadis tersebut.


"Ah sudahlah, lebih baik kita sambut mereka supaya masalah ini lebih jelas. Ayo!!" ajak gadis itu yang sudah melompat keatas punggung kuda.


Bertepatan dengan itu, semua prajurit sudah siap. Panji keluarga Zhang diangkat tinggi-tinggi dan berangkatlah mereka menuju Utara.


"Persiapan penuh!! Waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi!!" perintah gadis itu dari barisan terdepan.


"Siap Nona!!" balas mereka serempak.


...****************...


"Menyerahlah kalian!!" bentak seorang panglima keluarga Xiao sambil menudingkan sebatang goloknya.


"Ada apa ini!!? Mengapa kalian mengancam sahabat sendiri!??" teriak Zhang Qiaofeng.


"Hmph!! Seorang jahat mana mau mengakui kejahatannya!? Kalian jangan pura-pura bodoh dan tak tahu!! Berani-beraninya kalian hendak menguasai keluarga sahabat sendiri dengan cara mencemarkan harga diri Nona muda kami!!" bentak orang itu garang.


"Apa maksudmu manusia brewok!! Siapa yang hendak mencemarkan Nona muda kalian? Cepat katakan!!" Zhang Qiaofeng balas membentak. Dasar watak gadis itu pemarah dan mudah jengkel, maka dia menerima bentakan itu dengan bentakan pula.


"Jangan banyak omong!! Menyerah atau kami enyahkan kalian!!?" balas panglima itu yang tak terima disebut manusia brewok.


Mendengar ini, serentak seratus orang prajurit Xiao itu mencabut senjata masing-masing.


"Bersiap!!!" seru Zhang Qiaofeng kepada prajuritnya. Serentak, keluarga Zhang pun sudah mencabut senjata pula.


"Tungguu!!!"


Suara ini bagai guntur datangnya dan menggetarkan jantung mereka semua. Ternyata suara ini adalah bentakan Lin Tian dengan pengerahan tenaga dalam luar biasa.


"Ini salah paham...ini pasti kesalah pahaman! Lebih baik kita bicarakan baik-baik sebagai dua orang sahabat. Bagaimana Tuan-tuan sekalian?" ucap Lin Tian mencoba menenangkan.


"Heh tak ada yang perlu dibicarakan! Semua sudah jelas dan jika kalian melawan, pedang kamilah yang akan melawan!!"


"Tenang...aku punya usul!" kali ini Zhang Hongli berkata.


"Bagaimana jika kita mengajukan satu perwakilan dan bertanding. Jika kami menang, kalian harus mau diajak berunding dan mendengarkan kami. Jika kami kalah, kami akan ikut kalian. Bagaimana?"


Mendengar ini, panglima itu nampak berbisik-bisik kempada rekannya. Kemudian menjawab, "Baiklah setuju, siapa perwakilan kalian?"


"Aku!!" jawab Lin Tian cepat karena sedikit banyak dirinya sudah merasa jengkel.


Seketika pasukan Xiao itu menjadi bungkam. Siapa yang tidak tahu bahwa pendekar satu ini adalah Pendekar Hantu Kabut yang tersohor itu? Tentu nyali mereka ciut.


"Baiklah, aku sendiri yang akan maju." akhirnya panglima itu berkata.


Kemudian Lin Tian lekas melompat turun dari kudanya dan melangkah kedepan, menanti lawannya itu melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Panglima tersebut segera turun dan tiba di hadapan Lin Tian. Lalu terdengar Lin Tian berkata.


"Majulah duluan!" ucap Lin Tian dingin.


"Terima ini!!" dengan bentakan keras, panglima ini membuka serangannya.


Dia segera mencabut golok panjangnya dan membabat tangan kanan Lin Tian. Sebuah serangan yang mengandung tenaga dalam sepenuhnya.


Lin Tian hanya mendengus dan miringkan tubuh. Karena lawan sudah mencabut pedang, dia tidak ingin menjatuhkan nama panglima itu dengan cara menghadapinya tanpa senjata. Maka secepat kilat Pedang Dewi Salju pun sudah berada di genggaman pemuda itu.


"Hiat!!" bentak Lin Tian balas menyerang dengan tusukan kearah dada.


Panglima itu berseru keras dan membuang tubuh kebelakang sebelum akhirnya kembali menerjang.


Pertarungan terjadi dengan sengit dan seru. Dua senjata itu mengeluarkan bunga api setiap kali bertemu. Bentakan-bentakan dari panglima pun juga ikut menghiasi jalannya pertarungan.


Namun agaknya Lin Tian sama sekali tidak serius. Terlihat dari gerakannya sedari tadi amat lambat dan serangan pedangnya sama sekali tidak berbahaya.


Panglima tentu melihat hal ini dan segera berseru, "Jangan meremehkanku!! Bertarunglah sebagaimana seorang pendekar bertarung!!"


Lin Tian lekas menjawab, "Baiklah, terima ini!!"


Sedetik kemudian, tangan Lin Tian yang memegang pedang itu berubah menjadi banyak sekali, menusuk-nusuk ke sekujur tubuh sang panglima.


"Ahh!!" panglima itu memekik keras begitu ujung bilah pedang lawan berhasil menggores pundaknya.


Namun tak berhenti sampai di sana, Lin Tian terus menusuk-nusuk pedang itu sampai sang panglima melompat mundur dan berkata keras. "Aku menyerah!!"


Nafas pria itu terengah-engah dan wajahnya pucat pasi. Diam-diam dia merasa jeri, agaknya jika ini pertandingan sesungguhnya, kiranya tubuhnya sudah bolong-bolong akibat tusukan pedang Lin Tian.


"Bagaimana, apakah sekarang kalian sudi mendengarkan penjelasan kami?" tanya Zhang Hongli tegas.


Panglima itu nampak ragu. Setelah mengatur nafas untuk beberapa saat, terdengar ia berkata singkat. Nadanya masih mengandung rasa ketidak puasan.


"Silahkan."


Zhang Hongli kemudian menarik nafas panjang dan berkata. "Mohon jelaskan apa alasan kalian menganggap kami pengkhianat, agar kiranya kami dapat memeberi penjelasan untuk meluruskan hal itu."


"Beberapa hari yang lalu, pada malam hari, Nona kami hampir diperkosa oleh seseorang. Dan menurut penuturan Nona, orang itu bermarga Zhang." jawab sang panglima.


Kagetlah semua orang rombongan keluarga Zhang. Maka cepat Zhang Qiaofeng mendesak, "Siapa orangnya, cepat katakan!!".


"Nona bilang, orang itu memperkenalkan nama sebagai Zhang Heng."


Makin terkejutlah hati semua orang keluarga Zhang itu. Apalagi untuk tiga orang paling depan, tanpa sadar wajah mereka telah berubah menjadi merah padam.


"Keparat Zhang Heng!! Di luar sana kau masih saja membikin susah kami!! Dasar pengkhianat busuk!!" bentak Zhang Qiaofeng spontan.


Hal yang membuat seluruh orang dari keluarga Xiao bengong terheran-heran.


"Hah...pengkhianat?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2