Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 108. Musuh Lama


__ADS_3

Tanpa sadar, tubuh Lin Tian menegang kaku setelah membaca surat tersebut. Sungguh tak pernah diduganya bahwa selepas dia pulang kerumah, malah mendapat kabar mengejutkan yang luar biasa ini.


"Nona, agaknya aku tahu siapa yang mungkin sekali telah membunuh mereka."


Zhang Qiaofeng sontak bangkit dari tempat duduknya, memandang Lin Tian dengan pandangan terbelalak kaget. Kemudian bertanya, "Apa maksudmu Lin Tian? Coba kau jelaskan!"


"Begini Nona, ini mungkin ada kaitannya dengan keadaan di markas Aliansi Golongan Hitam kemarin. Sebenarnya Nona, kemarin-"


"Apa, kau pergi ke markas Aliansi!? Jangan bercanda!!" tiba-tiba Zhang Qiaofeng memotong.


"Aku tidak bercanda Nona."


"Jadi...jangan-jangan kau menangkap Ang Bei di markas Aliansi!??" tanya Zhang Qiaofeng dengan nada yang sudah meninggi.


"Benar...Nona." jawab Lin Tian menunduk.


Merah muka Zhang Qiaofeng, matanya pun melotot lebar menandakan kemarahan hebat. Digebraklah meja di hadapannya dan dia membentak keras sekali.


"Dasar bocah sembrono!!! Bagaimana kalau kau tak berhasil pulang dengan nyawa!!"


Lin Tian tak mampu menjawab, hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Zhang Qiaofeng yang hendak membentak lagi merasa sedikit kasihan melihat betapa seorang yang selama ini menemaninya, menunduk dalam seperti itu.


Maka setelah menghela nafas sejenak, dia kembali duduk dan berkata. Suaranya lebih lembut, namun masih terdengar ketus.


"Sudahlah, lebih baik kau jelaskan siapa yang tadi berkemungkinan membunuh mereka."


Lin Tian menghela nafas lega, lalu menjawab, "Sebenarnya, kemarin di markas hanya ada satu anggota Pilar Neraka yaitu si Elang Salju. Sedangkan yang lain tidak ada di markas. Kemungkinan besar, mereka inilah yang telah membunuh mereka."


"Hm...begitu ya? Lantas, kemana perginya si Elang Salju?"


"Aku sudah membunuhnya Nona."


Zhang Qiaofeng melongo mendengar perkataan barusan. Seketika seluruh tubuhnya menegang begitu Lin Tian mngucapkan kalimat tersebut. Seperti bangun dari mimpi, sambil mengerjapkan mata, gadis ini bergumam.


"Hah?"


"Aku sudah membunuhnya Nona." Lin Tian menegaskan.


"K-Kau, membunuh Elang Salju salah satu dari Pilar Neraka?" masih dengan tatapan lebar tak percaya, gadis itu melontarkan pertanyaan.


"Benar Nona? Sayang sekali saya tak bisa membawa kepalanya untuk dipersembahkan kepada anda." Lin Tian menjawab sabar.


Berserilah wajah Nona itu yang sebelumnya sudah keruh tak enak dipandang. Kemudian gadis ini melompat ke depan Lin Tian dan spontan, memeluk pemuda itu erat-erat saking girangnya.


"Hahaha....bagus Lin Tian, bagus sekali!! Dengan begini, satu ancaman telah lenyap!! Soal kepergianmu, aku sudah memaafkanmu, haha!!!"


Lin Tian yang tiba-tiba dipeluk seperti itu, tentu merasa gugup luar biasa. Apalagi yang memeluknya adalah Zhang Qiaofeng, Nonanya yang paling ia hormati. Maka dengan gugup dia mengingatkan.

__ADS_1


"N-Nona...i-ini terlalu dekat."


Seketika tawa Zhang Qiaofeng langsung berhenti dan gadis itu refleks melompat kebelakang.


"Hehe...M-Maaf Lin Tian, aku kelewatan, heheh...." berkatalah gadis tersebut sambil terkekeh malu-malu.


"Sekarang lebih baik kau istirahat." gadis itu segera menyambung perkataannya untuk menutupi rasa malunya.


"Baik Nona, terima kasih." Lin Tian segera membalikkan tubuh dan hendak pergi dari sana, sebelum tiba-tiba terdengar seruan Nonanya yang dingin menyeramkan.


"Awas kalau kau pergi lagi..."


Entah kenapa, mendengar ancaman ini, tubuh Lin Tian menggigil ketakutan. Karena tidak ingin menambah kemarahan Nonanya, pemuda ini buru-buru keluar dan menuju kediamannya.


...****************...


Beberapa hari telah berlalu dan keadaan keluarga Zhang masih berjalan seperti biasa. Namun ada yang sedikit berbeda. Setelah kematian Ang Bei, pemimpin pembangunan markas utama keluarga Zhang diambil alih oleh Minghao, dan ternyata hasilnya cukup memuaskan.


Karena pria ini sejatinya adalah seorang sastrawan, maka begitu dia mendapat tugas untuk mengatur pembangunan tersebut, Minghao segera membuat desain bangunan yang indah sekali.


Dengan lukisan di atas kain putih bersih, dia menggambar struktur bangunan yang kelak menjadi markas utama Keluarga Zhang, yang tentu saja ukurannya jauh lebih luas dan besar dari yang saat ini mereka tempati.


Hari ini pula, ketika siang hari, tiba-tiba keluarga Zhang kembali kedatangan seorang utusan kaisar yang membawa surat dari Yang Mulia.


"Yang Mulia memanggil anda untuk menghadiri pertemuan bulan depan." antara lain utusan itu berkata kepada Zhang Qaiofeng.


"Silahkan Nona baca isi surat tersebut. Saya hanya seorang utusan, terlalu lancang bagi saya untuk melihat isi surat berpita emas dari kaisar." jawab utusan itu penuh hormat.


Zhang Qiaofeng segera membuka surat tersebut dan membacanya dengan serius.


Demikianlah antara lain isi surat yang ditulis kaisar Chu Quon.


Untuk Keluarga Zhang


Mohon datanglah ke pertemuan yang akan diadakan satu bulan lagi di istana kami. Aku sengaja mengabari jauh-jauh hari agar keluarga Zhang mampu bersiap dan memastikan untuk datang. Selain itu, waktu satu bulan ini adalah waktu untuk Keenam Keluarga lain melakukan perjalanan ke Kota Raja yang dimana mereka telah ku undang lewat burung elang pengirim pesan.


Kita akan membahas perihal kematian janggal Nyonya Xiao Mei dan Tuan Liong Bi. Mohon kehadirannya.


Chu Quon.


Demikianlah isi dari surat Kaisar Chu Quon bulan lalu. Dan malam ini, Zhang Qiaofeng, berdua dengan Lin Tian sudah tiba di Kota Raja dan hendak menuju istana.


Zhang Qiaofeng memang memaksa untuk pergi berdua dengan Lin Tian, karena dia beralasan agar supaya keluarga Zhang tidak terlalu mencolok. Padahal Zhang Hongli dan Minghao yang mendengar alasan tersebut, sudah tahu pasti akan motif tersendiri Nonanya yang tentu saja ingin memanfaatkan kesempatan. Tapi apa daya, mereka hanya bisa menghela nafas akan kelakuan keras kepala gadis tersebut.


"Lin Tian, bagaimana kalau kita makan malam di kedai Piring Emas milik bibi Yin?" gadis itu bertanya setelah sekian lama tidak ada percakapan di antara keduanya.


"Aku hanya mengikuti Nona." balas pemuda itu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu ayo!!" gadis itu berseru girang sambil menarik tangan Lin Tian.


Memang tempat kedai makan Piring Emas dan penginapan Bantalan Sutra milik Yin Yin berada di Kota Raja. Karena selain untuk penghasil uang keluarga Zhang, tempat ini juga bisa dijadikan ladang informasi bagi mereka.


Juga, para pelayan di sana diam-diam telah menjadi pengawal pribadi Nona Zhang. Namun karena Lin Tian selalu berada di sampingnya, sehingga mereka tidak terlalu sering bersama Zhang Qiaofeng, sungguh pun setiap hari selalu ada satu gadis yang akan menjaga Nona ini secara sembunyi-sembunyi.


"Ayo duduk di sana Lin Tian." ajak gadis tersebut seperti anak kecil saja.


"Aku mau pesan...." kata gadis itu yang langsung memesan ini itu kepada pelayan tanpa mempedulikan pengawalnya. Zhang Qiaofeng tentu tidak tanggung-tanggung untuk memesan, karena selain nafsu makannya memang besar, mereka tentu tidak dikenakan biaya berapapun untuk makan di rumah makan ini.


"Baiklah, pesanan anda segera datang Nona." ucap pelayan ramah kemudian bergegas pergi ke dapur.


"Nona, bukankah itu terlalu banyak?" akhirnya Lin Tian bertanya setelah dia merasa kenyang sendiri mendengar betapa banyak pesanan Nona di depannya itu.


"Tak apa...tak apa...kita kan berdua, tentu pesanannya harus lebih banyak." jawab gadis itu riang tanpa beban.


Lin Tian tak menyahut dan memilih diam.


Setelah beberapa menit, makanan datang dan tangan mungil Zhang Qiaofeng segera bergerak cekatan mengambil sumpit yang lalu segera ia gunakan untuk mencomot sana-sini dengan cepatnya.


"Enwak swekali...!!" seru Zhang Qiaofeng disela-sela makannya.


Lin Tian yang melihat hal itu, hanya mampu tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kemudian dia juga segera mengambil sumpit dan memakan makanannya.


Akan tetapi, tindakannya harus berhenti karena secara tiba-tiba sekali, pundak kanannya ditepuk oleh seseorang."


"Lama tak jumpa Tuan."


Lin Tian membolatkan matanya. Tentu dia ingat akan suara ini dan memang pemilik dari suara ini termasuk ke dalam salah satu daftar orang yang ingin sekali ia binasakan. Maka segera dia mencabut Pedang Dewi Salju dan menebasnya.


"Scriingg!!"


Pedang itu hanya menebas udara kosong karena tangan itu telah ditarik kembali oleh pemiliknya. Lalu pemuda ini secepat kilat melompat ke samping Zhang Qiaofeng, disusul dengan tarikan ke tangan gadis itu kuat-kuat yang memaksanya harus berdiri di belakang Lin Tian.


"Uhuk-uhuk, ada apa sih?" bentak Zhang Qiaofeng tersedak makanan.


"Keparat...kau lagi. Sebenarnya siapa kau?" Lin Tian berkata dingin dengan pengerahan tenaga dalam, sehingga suaranya mengandung getaran mengerikan.


Seluruh tindakan pemuda ini sontak mengejutkan semua penghuni rumah makan. Tak terkecuali para pelayan yang memang menjadi pengawal pribadi Zhang Qiaofeng.


Melihat betapa pengawal terkuat itu sudah mencabut senjata, maka merekapun diam-diam juga telah menyiapkan sebilah pisau di balik lengan baju lebar itu.


"Haha...aku hanya berkunjung." balas orang misterius itu sambil tersenyum ramah.


"Iblis!!!" bentak Lin Tian dan segera melesat maju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2