
Lin Tian dan Zhang Qiaofeng terbelalak memandang kearah kakek tua di hadapannya. Terkejut sekali begitu mendengar penjelasan yang baru saja terdengar dari mulut keriput sang kakek.
Sedangkan Cin Kok yang dipandang seperti itu, merasa wajar akan sikap kedua tamunya dan memilih untuk menyeruput teh hijaunya. Kim Chao yang hadir pula di ruangan itu hanya mampu untuk menghela nafas karena memang dirinya sudah menduga dengan reaksi Lin Tian dan nonannya.
"B-benarkah itu tuan?" tanya Lin Tian gugup.
Cin Kok hanya mengangguk mengiyakan, dia sebenarnya bingung ingin menjawab apa.
"Kenapa semuanya saling berhubungan?" kali ini Zhang Qiaofeng menimpali.
"Lin Tian...aku...tak salah dengar bukan? Coba cubit pipiku..." seperti dalam mimpi, Zhang Qiaofeng berkata sembari mendekatkan pipinya kearah Lin Tian.
Sama seperti gadis tersebut, Lin Tian yang juga seperti dalam mimpi hanya mampu mencubit pipi itu keras sampai si gadis mengaduh-ngaduh. Jika dalam keadaan biasa, tindakan Lin Tian ini bisa dianggap kurang ajar. Namun di mata Zhang Qiaofeng, agaknya gadis tersebut sama sekali tak mempermasalahkannya.
"Haha....kalian pasti terkejut. Kami pun juga begitu, karena itulah ketika mendengar kalau juniorku ini memperkenalkan kalian sebagai anggota keluarga Zhang, aku menjadi senang sekali. Dan alasan itulah aku mau memberikan informasi tentang kitab Teratai Putih kepada kalian tanpa ragu-ragu. Sudah lama aku mendengar kabar akan pindahmya keluarga Zhang ke Selatan dan sudah lama sekali aku menanti-nantikan momen ini." ucap Cin Kok sambil tersenyum.
Apa sebenarnya yang telah membuat dua orang muda dan mudi itu terkejut bukan main, hal itu adalah sebuah kenyataan yang memang patut untuk dikejutkan. Sebuah rahasia yang amat penting, yang jika pertemuan ini tak pernah terjadi, mungkin rahasia ini tidak akan pernah terkuak selamanya.
Rahasia itu menyangkut banyak hal, yang pertama adalah rahasia mengapa sepanjang sejarah dunia, kekaisaran Song dan kekaisaran Chu tidak pernah bentrok besar-besaran. Kedua, rahasia akan keluarga Zhang, keluarga Wang, dan keluarga Cin. Ketiga, rahasia antara tiga keluarga itu yang masih berhubungan erat dengan kitab-kitab yang dicuri dan kitab ilmu andalan Lin Tian, ilmu Ketenangan Batin.
Semua itu sudah terkuak dan inilah rahasianya.
Dalam cerita Cin Kok, kakek itu menuturkan bahwa dahulu kala ada seorang pendekar digdaya yang sangat terkenal akan kebaikan budinya pada masa itu. Pendekar itu memiliki empat orang murid yang kesemuanya laki-laki. Empat orang murid itu sama pandainya hingga sukar diukur mana yang terkuat.
Pada suatu ketika, sang guru menurunkan empat macam ilmu silat yang sangat tinggi tingkatannya. Satu ilmu untuk satu orang murid. Bahkan saking tinggi dan hebatnya ilmu itu, bagi empat orang murid jenius itu pun masih terasa sulit sekali untuk menguasainya.
__ADS_1
Sampai bertahun-tahun lamanya mereka menggembleng diri dan pada suatu ketika, mereka berhasil menguasai dengan sempurna. Saat itu juga, sang guru sudah mendekati akhir hayatnya dan memberi sedikit wejangan.
"Murid-muridku, dengarlah. Ilmu-ilmu itu kuturunkan kepada kalian untuk berbuat kebajikan, bukan kekacauan. Untuk melindungi, bukan membunuhi. Dan sekaligus sebagai simbol persaudaraan kalian yang tidak akan pernah putus selamanya. Karena itulah...ajarkan ilmu-ilmu ini hanya kepada anak keturunan kalian, dan pada suatu masa jika seandainya orang-orang yang memiliki empat ilmu ini bersatu, maka hanya ada kebahagiaan karena saling berjumpa dengan saudara. Aku tidak ingin, sangat tidak ingin, jika ilmu-ilmuku itu digunakan untuk saling bunuh antar diri kalian sendiri, untuk menebar kebencian dan permusuhan, dan untuk menjadi bahan perebutan hingga menumpahkan darah-darah tak berdosa."
Demikian isi wejangan itu sebelum si pendekar sakti yang namanya sudah sangat tersohor di kolong langit, yang konon umurnya telah mencapai ratusan tahun, menutupkan mata untuk selama-lamanya.
Keempat murid itu dengan patuh melaksanakan nasihat terakhir gurunya. Setelah mengurus jenazah gurunya, mereka berempat kemudian turun gunung untuk berkelana dan mengukir nama sebagai pendekar besar seperti gurunya.
Dua orang pergi ke Utara, sedangkan dua orang lagi pergi ke Selatan. Menjadi pendekar-pendekar penegak keadilan yang sangat dihormati juga disegani.
Empat orang itu berasal dari empat keluarga berbeda yang kala itu, keluarga mereka semua telah lenyap dari permukaan bumi akibat peperangan tak berkesudahan. Dan pendekar besar yang menjadi guru itu merupakan sosok penolong bagi mereka semua.
Maka setelah berpetualang untuk mengumpulkan pengalaman, mereka mendirikan kembali keluarga yang telah hancur.
Zhang Ci, sebagai seorang yang paling cerdik juga amat pintar otaknya, dia mendapatkan kitab dari ilmu Ketenangan Batin. Setelah turun gunung dan berkelana selama beberapa tahun, dia mendirikan kembali keluarga Zhang yang waktu itu sudah rata tak berbekas.
Song Bun An, seorang yang paling lincah dan cekatan diantara ketiga saudara seperguruannya. Mendapat ilmu silat tingkat tinggi yang amat hebat, bernama Naga Salju Menari. Setelah berhasil menikah dan membangun kembali keluarga Song yang telah runtuh, dia terus mengangkat derajat keluarga Song sampai pada suatu masa, keluarga Song menjadi keluarga kaisar dan putranya, Song Jingmi menjadi kaisar pertama kekaisaran Song yang terus memperluas wilayah hingga menguasai seluruh daratan Utara.
Cin Cheng, seorang yang paling patuh dan pendiam, juga paling taat terhadap gurunya dan tak banyak membantah. Mendapat kitab ilmu berpedang yang bernama Bungai Teratai Putih. Setelah turun gunung, dia pergi ke Selatan dan berhasil membangun kembali keluarga Cin.
Karena memang sifat pria itu yang tak ingin hidup mewah bergelimang harta, dia memilih hidup sederhana dengan jalan mengemis.
Aneh memang watak Cin Cheng ini. Ketika salah seorang saudara seperguruannya tak sengaja bertemu dan bertanya mengapa dia menjadi pengemis? Cin Cheng hanya menjawab.
"Aku ingin menghilangkan sifat kikir di hati si bangsawan dan si kaya karena telah menemukan seorang manusia yang tak punya harta bahkan untuk makan sesuap nasi seperti aku. Aku ingin menimbulkan rasa lega dan bersyukur di hati si miskin karena melihat diriku yang lebih miskin dari mereka. Aku ingin hidup sederhana yang tak menginginkan banyak hal, sehingga hidupku tenang damai tanpa dipenuhi was was akan kehilangan barang berharga." jawab orang itu tenang dan tersenyum sabar.
__ADS_1
Sungguh jawaban yang sangat tidak masuk akal. Karena menurut pandangan umum, pengemis itu merupakan orang-orang malas. Tapi di mata Cin Cheng, pengemis itu seolah-oleh menjadi seseorang yang mampu membawa berkah bagi banyak orang, baik yang miskin maupun yang kaya.
Cin Cheng juga yang telah membangun perkumpulan pengemis Bunga Teratai dan dia menjadi ketua pertamanya.
Dan terakhir adalah Wang Kiu, seorang pria yang paling kuat tenaganya diantara tiga orang saudara seperguruannya. Dia mendapat kitab ilmu silat tangan kosong bernama Api Pelahap Langit yang menitik beratkan pada pengerahan tenaga Yang.
Setelah berhasil mendirikan keluarganya, keluarga Wang berhasil menorehkan sebuah prestasi yang membuat kaisar Chu kala itu memberikan satu kota sebagai wilayah kekuasaan.
"Jadi, kita memang saling berhubungan dan masih dihitung saudara." kata Cin Kok ketika mengakhiri penjelasannya yang membuat Lin Tian serta Zhang Qiaofeng terkejut sehingga terjadi peristiwa cubit-cubitan tadi.
Setelah beberapa saat, Lin Tian bertanya, "Lalu, apa maksud anda dengan rahasia antara kekaisaran Chu dan kekaisaran Song yang tak pernah saling bentrok. Juga mengapa keluarga Wang mempunyai dua buah kitab, bukankah seharusnya hanya kitab Api Pelahap Mega?"
"Tepat sekali, namun ketika kekaisaran Song dipimpin oleh kaisar pertama, Song Bun An merasa bahwa kitab itu dalam bahaya karena keadaan dunia yang belum stabil. Maka dia segera mengirimkan kitab Naga Salju Menari kepada saudaranya, Wang Kiu, untuk disimpan baik-baik. Dia juga mengijinkan agar keluarga Wang mempelajari kitab tersebut. Namun sama seperti perjanjian mereka dengan gurunya, kitab itu harus diturunkan kepada anak turun mereka, sehingga Wang Kiu hanya menurunkan dua buah kitab itu kepada anaknya sendiri." jelas Cin Kok.
"Lalu untuk dua kekaisaran yang masih damai-damai saja sampai kini, hal itu disebabkan karena salah seorang murid Cin Cheng, ada yang berasal dari keluarga Chu yang kala itu masih berstatus sebagai keluarga kecil saja. Cin Cheng melatihnya sungguh-sungguh sampai si murid memiliki kemampuan hebat. Tapi tentu saja dia tidak mengajarkan ilmu pedang Bunga Teratai Putih."
"Singkat cerita, murid Cin Cheng itu menjadi seorang pendekar hebat dan berhasil membunuh kaisar penguasa Selatan. Kala itu, kekaisaran Song dan kekaisaran penguasa Selatan masih sering terlibat perang akibat kaisar Selatan itu merupakan seorang pemimpin yang lalim dan semena-mena. Bahkan rakyat sendiri banyak yang menjadi korban. Sehingga pemberontakan murid Cin Cheng itu dibantu oleh banyak sekali pendekar dan kaisar terbunuh bersama ribuan orang bala tentaranya." Cin Kok menjeda penjelasannya untuk menyeruput tehnya.
"Karena anak murid Cin Cheng itu yang berhasil memenggal kepala kaisar, sehingga keluarga Chu sejak saat itu disetujui menjadi keluarga kaisar dan anak murid Cin Cheng itu menjadi kaisar pertama kekaisaran Chu. Sedangkan kaisar Song yang melihat perubahan itu, dia memutuskan untuk menjalin perjanjian damai kepada kaisar Chu yang dia kenal sebagai murid dari saudara seperguruan ayahnya. Kaisar Chu pun juga tahu jika kaisar Song adalah anak dari saudara seperguruan gurunya, maka dengan yakin dia menyetujui perjanjian itu. Sejak saat itulah, kekaisaran Song dan Chu hidup berdampingan. Serta tidak ada peperangan kembali di antara daratan Utara dan Selatan." Cin Kok mengakhiri penjelasannya.
Lin Tian dan Zhang Qiaofeng masih terbengong tak mampu berkata-kata. Sungguh kenyataan ini merupakan kenyataan yang teramat mengejutkan bagi dua orang itu.
Hingga beberapa saat lamunan mereka tersadar ketika Cin Kok kembali berkata.
"Ah...bagaimana jika untuk mempererat persaudaraan, bolehlah kiranya untuk beradu satu dua jurus?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG