
Dua tahun, bukan waktu yang terlalu lama bagi seseorang untuk mendapatkan perubahan besar dalam hidupnya.
Sama halnya dengan Lin Tian yang sudah berhasil menguasai hawa sakti dan Naga Salju Menari hanya dalam kurun waktu kurang lebih selama dua tahun. Sungguh pencapaian yang cukup mengejutkan mengingat kitab yang dipelajarinya adalah kitab keramat.
Bahkan Wang Ling Xue dahulu saat digembleng ayahnya dengan ilmu ini, dia tidak menguasainya dalam waktu secepat itu. Dia masih ingat betul bahwa setelah sepuluh tahun kemudian, dia baru bisa menguasai Naga Salju Menari. Sedangkan tiga tahun setelahnya barulah dia mampu menguasai Api Pelahap Mega.
Wang Ling Xue merasa amat kagum dan bangga akan pencapaian muridnya. Namun di sudut hati terdalam, diam-diam dia merasa iri terhadap Lin Tian karena muridnya itu mampu menguasai Naga Salju Menari lebih cepat darinya. Hal ini membuktikan bahwa dia kalah dengan muridnya sendiri.
Setelah menguasai semua gerakan Naga Salju Menari, Wang Ling Xue memerintahkan Lin Tian untuk melatih ilmu itu setiap hari dengan cara melakukan gerakan-gerakannya dari awal sampai akhir. Lalu diulang-ulang dan tak boleh istirahat sampai tengah hari.
Setelah istirahat sejenak, Lin Tian lalu beralih ke ilmu silat yang lain, yaitu Api Pelahap Mega yang tak kalah ampuh dari Naga Salju Menari.
Masih sama seperti dahulu, latihan pertama yang dilakukan Lin Tian untuk Api Pelahap Mega adalah mengumpulkan tenaga alam sekitar untuk kemudian diubah menjadi hawa sakti panas. Hal ini jauh lebih sulit dari sebelumnya mengingat hawa sekitar sangatlah dingin dan tubuh Lin Tian juga sudah dipenuhi hawa dingin.
Namun pemuda ini memiliki kekerasan hati luar biasa. Tentu saja ada pendorong kuat yang membuatnya pantang menyerah seperti itu. Setiap kali dia bermeditasi dan merasa putus asa sampai ingin menyerah rasanya, dia selalu meneriakkan sebuah kalimat di hatinya.
"Untuk nona....untuk nona....untuk nona...."
Begitulah cara latihan Lin Tian selama ini. Jika hatinya mulai goyah karena kesulitan menyerap tenaga alam untuk diubah ke hawa panas, maka secara otomatis hatinya akan meneriakkan kalimat tersebut.
Pada suatu pagi, Lin Tian duduk di batu tengah danau dan seperti biasa, dia bermeditasi di sana. Namun jika sebelumnya dia mengumpulkan hawa dingin, sekarang dia sedang mengumpulkan hawa panas.
Gurunya berdiri di salah satu batu yang menjadi "jembatan" antara pinggir danau dan tengah danau. Kedua tangannya diselonjorkan ke depan dan dari dua telapak tangan itu menyebar hawa dingin luar biasa.
"Guru! Kenapa anda selalu begini!? Hal itu membuatku kesulitan sekali!" bentak Lin Tian yang sudah tidak sabar lagi.
Setiap kali dia meditasi hawa sakti panas, gurunya selalu menyiramnya dengan hawa sakti dingin. Hal ini sangat membuat kerepotan karena suhu sekitar dan suhu tubuhnya menjadi makin dingin.
"Sama seperti dulu Lin Tian. Saat kau meditasi hawa dingin, aku memberimu makan hawa panas. Sekarang, karena aku tak punya makanan hawa dingin, maka aku akan manfaatkan hawa sekitar dan hawa saktiku sendiri untuk melatihmu."
__ADS_1
"Guru, suhu sekitar dan tubuhku sendiri sudah cukup dingin untuk memberikan tantangan lebih padaku. Dan sekarang anda malah membuatnya semakin dingin dan sulit."
"Itu yang kuinginkan agar ketika kau menguasai hawa sakti panas, hawa saktimu akan lebih kuat dari milikku sendiri."
Gurunya menjawab tenang tanpa menghentikan sedikit pun hawa sakti yang dialirkan ke tubuh Lin Tian. Melihat ini mau tak mau Lin Tian melanjutkan meditasinya seperti biasa.
"Swuuusshh."
"Hm...?"
Di sekeliling tubuh Lin Tian, muncul semacam aura berwarna merah terang yang terlihat samar-samar. Wang Ling Xue memandang ini dengan mata terbelalak lebar. Tahulah dia apa yang terjadi akan diri pemuda itu, maka segera dia tingkatkan hawa dinginnya untuk menahan kekuatan itu.
Aura merah tersebut berasal dari hawa sakti panas yang bertempur dengan hawa sakti dingin.
Sebenarnya, hawa sakti yang sudah dikuasai sampai tingkat tinggi, dia akan semakin sulit terlihat oleh mata biasa. Hanya mampu dirasakan kedahsyatannya.
Sama halnya seperti Wang Ling Xue saat ini. Ketika dia mengalirkan hawa dingin untuk mendinginkan Lin Lin Tian, dari tangannya itu hanya nampak kabut-kabut tipis saja. Hanya karena dilakukan dalam waktu lama sehingga membuat kabut itu makin menebal.
"Lin Tian, kendalikan hawa dinginmu! Jangan terlalu menolak hawa panas yang masuk!" teriak Wang Ling Xue memberi arahan. Dia mencoba bantu Lin Tian untuk mendinginkan hawa panas itu dengan hawa sakti miliknya.
Lin Tian menuruti perintah gurunya, hawa dingin yang sudah mendarah daging itu ia biarkan bergerak apa adanya dan mencoba menerima hawa panas yang masuk. Akibatnya, seluruh tubuh Lin Tian memerah dan tubuhnya gemetaran. Dari atas kepalanya mengepul asap tipis. Hal ini adalah tanda bahwa tubuh Lin Tian terbakar dari dalam.
"Ugh..." keluh Lin Tian lirih.
"Jangan terlalu diterima bodoh!! Gunakan hawa dinginmu untuk sedikit meredam hawa panas!" bentak Wang Ling Xue kemudian.
"Cih...merepotkan!" desis Lin Tian namun menurut juga.
Dia mengerahkan hawa dinginnya namun tidak sampai ketingkat maksimal. Dia gunakan hawa dingin itu untuk membuat "jalan" bagi hawa panas agar bisa ia tampung di bawah pusar.
__ADS_1
"Bagus, terus seperti itu! Sedikit lagi!"
Beberapa menit berselang, warna tubuh Lin Tian lambat laun mulai kembali seperti semula. Namun saat proses sudah hampir selesai, tiba-tiba Lin Tian kehilangan konsentrasi dan "jalan" dari hawa panas itu buyar. Membuat hawa panas tak terkendali dan ini mengakibatkan Lin Tian muntah darah sangat banyak.
"Uagh!! Uhuk...uhukk..."
Wang Ling Xue lekas menghampiri dan memberikan pil berwarna ungu. Lin Tian lekas menelannya dan sebentar saja tubuhnya sudah kembali normal.
Pil itu memiliki ini tenaga Yin yang mampu menekan hawa panas yang sedang mengamuk dalam tubuh Lin Tian.
"Kau ceroboh, kenapa kau kehilangan fokusmu?" Wang Ling Xue menghardik dengan tatapan tajam.
"Maaf guru...."
"Jika saja itu bukan kau, mungkin jantung dan paru-parumu sudah pecah dan saat ini kau sudah menyusul kakekmu! Hawa panas dan dingin tak akan pernah bisa bersatu, namun bisa diselaraskan. Karena kau kehilangan konsentrasi, sehingga bukannya menyelaraskan kedua unsur, kau malah menyatukannya! Tentu saja mereka saling tolak!"
Lin Tian hanya diam saat dimarahi gurunya. Dia juga tidak tahu mengapa tiba-tiba menjadi hilang fokus seperti itu. Padahal biasanya dia snagat waspada dan hati-hati.
Tiba-tiba, hatinya terasa ngilu seperti diremas sesuatu. Tanpa sadar bahkan dia sampai meremas dada kanannya.
"Kau kenapa!?" tanya Wang Ling Xue sedikit bingung akan tindakan Lin Tian.
"Tak apa...tidak ada apa-apa."
Wang Ling Xue memandang tajam, kemudian kembali berkata.
"Teringat akan nonamu?"
Lin Tian hanya diam, namun tak lama setelah itu mengangguk dengan lemah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG