
Setelah resmi menjadi murid Chong San, maka sejak hari itu Zhang Qiaofeng menjalani hari-hari di goa tempat dimana dia diselamatkan Chong San.
Tugas pertama cukup nyeleneh dan berhasil membuat gadis yang pemarah ini mengumpat ratusan kali, tentu saja dalam hati.
Dia disuruh untuk mengambil beberapa ember air dari sungai, memasak, membersihkan goa dan sekitarnya, mencuci dan hal-hal rumah tangga lainnya. Bahkan dia disuruh untuk merawat anak kelinci dan menganggap hewan itu seperti anak sendiri.
"Sejak kapan dan entah kapan rahimku ini akan menciptakan kelinci...." batinnya dengan mulut cemberut dan menyodorkan rumput segar kepada "anaknya" itu. Karena sedang kesal, dia menjejalkannya dengan kasar dan membuat kelinci itu malah ketakutan.
"Kau ingin membunuh anakmu sendiri? Ibu tak berperasaan, ingin belajar ilmu dariku? Jangan mimpi!!" tiba-tiba terdengar suara "setan" yang entah berasal darimana.
"Anakku yang manis dan cantik, makanlah ini. Hayo makan, hargailah ibumu yang bersusah payah untuk mendapatkan rumput-rumput ini." Zhang Qiaofeng memasang senyumnya dan mengangkat kelinci itu seperti menggendong anak bayi. Menimang-nimanganya penuh kasih sayang. Yah...sayang dimuka saja maksudnya.
"Siluman!! Sepertinya aku telah salah pilih guru!!"
...****************...
Membosankan, menyebalkan dan menjemukkan. Itulah kata-kata paling tepat untuk menggambarkan suasana hati Zhang Qiaofeng selama seminggu ini tinggal bersama Chong San.
Seminggu di sana, entah kenapa bagi batin dan tubuhnya terasa seperti satu tahun! Benar-benar menyiksa dan penuh cobaan.
Saat malam hari, ketika dia menimang-nimang anaknya mencoba membuatnya tidur, gurunya memanggil dan segera dia datang ke depan goa untuk menemui gurunya yang meniup-niup api unggun.
"Duduk."
Ucapnya singkat menunjuk salah satu akar pohon yang mencuat keluar. Dia masih mengelus-elus anaknya itu dan tanpa sadar selama seminggu ini, pikiran, tubuh, hati dan semua perasaannya menganggap bahwa kelinci itu keluar dari kandungannya dan dia memang benar anak kandungnya. Mungkin otaknya sudah miring?
"Ada apa guru?" ujar Zhang Qiaofeng buka suara.
"Aku akan menceritakan sesuatu yang tentu teramat penting bagimu."
Zhang Qiaofeng menegang, tak pernah disangkanya bahwa sosok yang diidolakan sekaligus ingin diinjak wajahnya itu berkata seserius ini. Padahal selama ini, sehari-hari Chong San hanya menghabiskan waktu untuk makan, tidur, dan pergi ke sungai. Seperti seseorang yang putus asa dan menunggu mati saja.
"Sesuatu....seperti apa guru?"
"Tentang kau yang digauli Kauw Jin tiga hari tiga malam, kehamilanmu, pernikahanmu..."
Mendengar ini, tahu-tahu Zhang Qiaofeng sudah datang mendekat dan pandangannya menajam, menampilkan sorot mata dingin mengerikan.
"Tolong ceritakan padaku. Guru mengetahui sesuatu?"
"Tentu saja aku tahu."
__ADS_1
Mulailah Chong San bercerita. Sambil tangannya bergerak-gerak seperti memudahkan Zhang Qiaofeng untuk memahami kejadian yang dialaminya waktu itu, Zhang Qiaofeng mendengarkan penuh ketertarikan.
Ternyata tiga hari tiga malam itu hanyalah ilusi sihir yang diciptakan Chong San untuk mengelabui mata Kauw Jin. Sengaja dia buat selama tiga hari tiga malam agar Kauw Jin merasa semua itu nyata dan Zhang Qiaofeng menjadi istrinya.
Ketika perut gadis itu merasa sakit saat hendak mengirim serangan, itu adalah tindakan usil Chong San yang menyambitkan sebutir batu kerikil kearah perutnya. Dan ketika gadis itu muntah-muntah, itu juga kelakuannya yang diam-diam memberi obat bubuk ke makanannya.
"Semua itu sudah kurencanakan, dan jika kau bertanya untuk apa, maka jawabannya adalah di sana." kakek itu menunjuk kearah dimana Pulau Tulang Naga berada.
"Untuk menghilangkan ancaman dunia persilatan, Iblis Tiada Banding."
"Apa maksud guru? Apa hubungannya aku, Kauw Jin dan Iblis Tiada Banding."
Chong san lalu memandang Zhang Qiaofeng lekat-lekat, "Kaulah Sepasang Naga Putih. Dan aku akan membantumu menjadi sosok kuat setara dengan pasangan nagamu."
Terkejut sekali hati Zhang Qiaofeng ini, juga merasa tertarik. Dia bahkan lebih tertarik dengan pasangan naganya itu, tak mempedulikan takdirnya yang Sepasang Naga Putih.
"Siapa pasangan nagaku guru?"
"Untuk sekarang kau tak perlu tahu, biarlah waktu yang menjawabnya. Dan serangkaian kejadian itu, adalah sebuah pemicu atau tuas yang harus diaktifkan, untuk melemahkan Iblis Tiada Banding."
Ucapan membingungkan ini berhasil membuat Zhang Qiaofeng mengangkat satu alisnya. Menyadari perubahan ekspresi muridnya, cepat-cepat Chong San menyanbung.
"Pasangan nagamu, akan mengobrak-abrik perkumpulan itu."
"Kau jauh lebih sabar selama seminggu ini, itulah tujuanku. Jika tidak begitu, bisa-bisa kau bertindak ceroboh untuk menyerbu Iblis Tiada Banding seorang diri. Aku tahu kau menyimpan dendam teramat besar setelah kau jatuh ke laut."
"Hm..."
Hanya gumaman kecil saja yang menjadi jawaban. Pandangan gadis itu menerawang jauh ke depan.
"Jadi, kapan kita akan mulai berlatih?"
"Besok pagi!"
"Ngomong-ngomong berarti aku tidak hamil kan?"
"Hahaha...jangankan hamil, kau bahkan masih gadis!"
...****************...
Di sebuah ruangan yang terkena sinar rembulan dan diterangi lilin kecil, duduk dua orang yang saling berhadapan.
__ADS_1
"Jadi, kau akan pergi lagi?" tanya yang muda kepada yang tua.
"Benar, aku akan melamarnya. Dia sangat cantik, persetan dengan cinta, yang pasti dia bisa memuaskan hasratku." jawab yang tua. Mungkin berusia empat puluhan tahun, rambutnya masih berwarna hitam semua tapi keriputan sudah nampak cukup sering.
"Oh..." hanya itu saja yang menjadi tanggapan pemuda di hadapannya.
"Setelah menikahinya, kau mau apa?" tanya pemuda itu lagi.
"Tentu saja aku bisa menguasai dan menundukkan keluarga Zhang, dengan begitu kita bisa memperkuat Iblis Tiada Banding. Bagus bukan rencanaku? Hei, bagaimana menurutmu Lin Tian."
"Cukup bagus, dan....yah, semoga berhasil." pemuda itu menjawab acuh.
"A Xin, bukankah kau terlalu ceroboh?"
"Hahaha, ada ayah bodoh di belakangku, yang sampai sekarang tak tahu bahwa anak aslinya sudah mati! Aku terlindungi oleh nama ayahku dan kaisar!"
"Oh..." kembali hanya "oh" saja yang menjadi tanggapan Lin Tian.
"Semoga nona belum sampai rumah setelah kuceburkan ke lautan. Jika tahu begini, lebih baik si cerewet itu kusimpan saja secara diam-diam." ujarnya dalam hati.
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang pemuda beriris merah dengan pakaian pelayannya. Rambutnya pendek hampir gundul dan di tangannya terdapat sebuah nampan yang berisi seguci arak.
"Ini pesanan tuan."
"Xin Kiu, aku tak mau arak!" jelas Lin Tian.
"Tak apalah Lin Tian, kau ini pemuda yang sok suci! Kenapa, kau takut mabuk dan hilang kendali?"
"Aku tak suka arak!" jawabnya ketus dan menyuruh Xin Kiu pergi dari sana. Pelayan itu hanya menurut saja.
Sampai lama mereka berdua mengobrol di sana, dan hanya A Xin saja yang terus minum dan menghabiskan seguci arak itu. Ketika hari sudah tengah malam, terlihat A Xin yang sudah mabuk berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar. Di tangan kirinya menggenggam sebuah topeng kulit yang berwajah sama persis dengan wajah Kauw Jin.
"Aku tak sabar untuk malam pertama..." ucapnya singkat sebelum hilang di balik pintu. Meninggalkan Lin Tian yang duduk seorang diri memandangi bulan di atas sana.
Tapi jika seandainya orang tahu, meja dan kursi yang diduduki Lin Tian semakin lama semakin gosong. Tapi walaupun begitu, suhu dua benda itu malah makin dingin.
Kabut-kabut tipis mengepul dari nafas yang berembus keluar lewat mulutnya. Asap-asap berhawa panas mulai keluar dan nampak makin tebal di sekeliling tubuhnya.
"Nona akan baik-baik saja. Ya, aku yakin itu!! Firasatku mengatakan demikian!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG