
"Lalu?"
"Lalu? Bagaimana maksudmu? Ceritaku sudah selesai."
Gadis itu menyeruput teh hangat yang berbau harum buatan Lu Jia Li. Sejenak dia menghembuskan nafas untuk menikmati sensasi nyaman setelah menelan beberapa teguk teh itu.
"Anda bertemu dengan seseorang yang melepaskan sihir untuk mengelabuhi pandangan A Xin. Dan orang itu jadi guru anda? Yang benar, mana ada ilmu setan macam itu?" Minghao yang duduk berhadap-hadapan dengan Zhang Qiaofeng membantah. Terlihat jelas raut ketidak percayaan di wajahnya.
"Tak percaya yasudah. Aku tak hamil dan masih gadis. Tunggu empat bulan lagi, apakah perutku ini akan membengkak. Kiranya dengan cara itulah kau akan percaya." balas gadis itu acuh dan kembali menyeruput tehnya.
Minghao yang memang tak paham dengan segala macam ilmu sihir menoleh kepada Zhang Hongli seolah meminta jawaban. Kakek itu mendengus kecil ketika memberi penjelasan.
"Ilmu sihir itu ada. Tapi bukan seperti sihir dalam dongeng yang bisa menciptakan api atau air. Hanya sihir seperti mengelabuhi matamu atau pendengaranmu atau meruntuhkan semangatmu atau membutakan matamu sesaat atau menulikan telingamu atau–"
"Berapa atau lagi?" potong Minghao cepat-cepat.
Zhang Hongli berhenti sejenak dan terlihat jari-jari tangannya bergerak seperti orang menghitung. Lalu kembali melanjutkan. "Atau membisukan suaramu atau membikin engkau lumpuh atau–"
"Cukup, aku sudah lebih dari paham!" tegas Minghao tak ingin mendengar lagi.
"Baiklah, kau cukup cepat merespon."
Kemudian Yin Mei maju setindak dan bertanya khawatir, "Nona, benarkah anda baik-baik saja?"
Zhang Qoaofeng memandang gadis itu lekat-lekat dan tersenyum. "Tak lihatkah engkau saat ini bahwa aku memang dalam keadaan baik? Adakah sesuatu dalam diriku yang terlihat tidak baik? Nah, hayo katakan."
Kali ini yang menjawab bukan Yin Mei yang menjadi alamat dari pertanyaan itu, justru malah Minghao lah yang menyela. "Anda itu nakal sekali. Tidak baik dalam diri anda itu sangat banyak sampai jari tangan serta kaki saya kiranya tak cukup untuk menghitungnya. Yang paling mencolok, anda sering pergi tanpa pamit!"
Zhang Qiaofeng mengerucutkan bibir ketika menjawab, "Biarlah, di sini ada kakek dan paman. Untuk apa mengkhawatirkan keadaan keluarga jika aku hanya pergi selama beberapa hari."
"Nah, nah, pergi beberapa hari? Anda bahkan lebih dari sepekan tak pulang!!" Minghao tak kuasa menahan emosi dan sudah bangkit berdiri sambil menuding-nuding ujung hidung gadis itu.
"Maaf...tidak sengaja...."
__ADS_1
"Tidak sengaja? Alasan darimana lagi itu hah!?"
...****************...
"Keadaan Iblis Tiada Banding semenjak matinya Kiam Bong dan Xu Cin Keng, sedikit banyak telah memperlemah organisasi ini. Belum cukup untuk menghancurkan semuanya, tapi ini sudah memuaskan aku."
"Kau benar, setidaknya tak sia-sia aku diutus kaisar kemari untuk menyelidik. Bahkan aku juga membantumu dalam peran memperlemah organisasi ini."
Dua orang itu duduk di halaman depan Lin Tian seraya mengobrol banyak hal. Entah penting atau tidak tapi mereka ingin mengobrolkan sesuatu hanya untuk melepas penat.
Lin Tian yang beberapa hari lalu telah membunuh Naga Emas, hari ini seolah tak ada apa-apa dan dia bersikap seperti biasanya. Memang itu adalah salah satu perintah dari Zhang Heng untuk bersikap biasa san tidak mencolok.
Pada suatu ketika, di tengah keheningan setelah mengobrol tentang masa lalu, Lin Tian bertanya, "Kapan kau akan pulang?"
Xin Kiu menoleh sambil menjawab, "Maksudmu?"
"Kapan kau pulang ke kekaisaran? Tak mungkin kan kau akan di sini selamanya? Lagipula, aku tak ingin perjuangan kita sia-sia tanpa diketahui kaisar. Jika kau mati di sini, siapa yang akan melaporkan segala usaha kita kepada kaisar?"
"Kau kan ada."
"Apa kau tak berpikir, semenjak awal kita melakukan kerja sama, mau tak mau aku harus melindungimu dengan nyawa. Karena hanya engkau seoranglah yang mampu menyampaikan segala informasi penting kepada kaisar. Jika aku yang melaporkan, mana mungkin beliau percaya. Pasti yang dipikirkannya pertama kali adalah, siapa aku? Darimana aku? Mengapa aku membantunya? Hal itu justru menambah kecurigaan."
"Bilang saja kau temanku, beliau mungkin akan percaya." balas Xin Kiu cepat tanpa pikir panjang.
"Bodoh sekali, justru jika aku bicara seperti itu, aku ragu apakah masih utuh kepala ini." ujarnya sembari mengelus-elus lehernya.
Setelah itu hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Ada satu persoalan paling berat yang membikin keduanya pusing, sehingga saat hendak mengungkapkan ke lawan bicara, mereka serentak berkata.
"Xin Kiu."
"Lin Tian."
Keduanya sama-sama terkejut dan Xin Kiu mengalah, "Kau duluan."
__ADS_1
"Baiklah, karena ini masalah amat penting. Beberapa hari lalu, aku mendengar bahwasannya Zhang Heng akan segera mengirimkan seluruh anggota untuk menyerbu kekaisaran Song. Saat ini kekakisaran dalam keadaan bertahan dan mereka seolah seperti terkekang. Maka rencananya, Zhang Heng akan mengurung dari segala penjuru dan membinasakan kekaisaran itu di ibukota."
Xin Kiu terperanjat dan cepat menyahut, "Hei, aku juga ingin mengatakan hal serupa."
"Baguslah, kita sepemikiran. Kalau begitu, bagaimana rencana selanjutnya? Siapa yang harus kita kurangi. Kau tahu, seluruh pendekar sejati di sini mampu menguasai Pukulan Tapak Api milik Ling Haocun, aku bisa melawan dua di antara mereka secara bersamaan, tapi lebih dari itu aku tak akan kuat. Dan jika melawan Zhang Heng, menurut taksiranku aku hanya mampu menandinginya dalam pertarungan satu lawan satu."
Xin Kiu nampak berpikir keras dengan mengelus-ngelus dagunya. Semua informasi yang dia kumpulkan selama ini disatukan menjadi satu dan mencari jalan terbaik untuk keadaan yang amat pelik ini.
Mereka harus mampu mengambil tindakan tepat saat ini, jika tidak, seluruh kekaisaran akan menjadi korban!
"Buntu....ini jalan buntu...." akhirnya Xin Kiu berkata.
"Apa katamu? Mengapa bisa begitu?"
"Lin Tian, para pendekar sejati itu selalu berdekatan. Jika kau ingin membunuh mereka, tak bisa dilakukan satu-satu, tapi harus bersamaan. Dan kau sendiri yang bilang bahwa kau tak bisa menandingi mereka." balas Xin Kiu dengan murung.
Lin Tian memukul bantalan kursi lengan kanan dan menginjak tanah dengan kasar. Dia merasa kesal dan tak puas dengan ucapan Xin Kiu barusan. Tapi jika dipikir secara logika, masuk akal juga. Bagaimana mereka bisa menjebak salah satu dari keenam pendekar sejati?
Tiba-tiba Xin Kiu bangkit berdiri dan berpamit, "Lin Tian, aku pergi dulu. Sudah terlalu lama aku pergi dan aku khawatir akan menimbulkan kecurigaan."
"Baiklah, hati-hati jangan sampai ketahuan saat pergi dari sini."
"Tentu saja, bukankah setiap hari aku melakukan hal itu?"
Ketika Xin Kiu pergi, entah kenapa perasaan Lin Tian menjadi tidak enak sekali. Gelisah, ya, hatinya merasa amat gelisah. Entah apa itu dia tidak paham.
"Ah sudahlah..." akhirnya dia berkata dan memasuki rumahnya.
Kedua orang itu tak tahu, jika tak jauh dari mereka, di atas pohon tinggi, ada seorang kakek tua dan seorang wanita yang berdiri melotot kearan Lin Tian. Memandang tajam dipenuhi api kemarahan.
Hal ini sudah menunjukkan jelas tingkat kepandaian dua orang itu tinggi sekali sampai-sampai Lin Tian tak sadar akan kehadirannya.
"Hm...ternyata dia yang menjadi biang keladinya selama ini...." gumam si kakek.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG