Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 138. Kemarahan Lin Tian 2


__ADS_3

"Tenang semuanya!!" suara walikota terdengar nyaring ketika pria itu berkata. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, memberi isyarat untuk diam. Hatinya benar-benar dibuat tegang melihat betapa dua pasukan itu sudah siap untuk saling gempur.


"Nah, berikanlah alasan yang masuk akal untuk ini." balas Lin Tian, namun dia masih memegang dua buah senjata itu erat-erat.


"Dengar semuanya, jujur saja majikan dari orang ini sesungguhnya bukanlah aku." katanya sambil menunjuk pengawal Sie Lun yang masih nampak kesakitan.


"Majikan dia ini bernama Sie Lun, yang waktu di kota tadi hampir bentrok dengan tuan pendekar. Dia sama sekali bukanlah keluargaku, hanya sahabat dan pengawalnya ini ada tujuh orang. Di dunia persilatan mereka dikenal sebagai Tujuh Cakar Harimau..."


"Langsung keintinya!!" Lin Tian memotong.


"Ekhm...jadi, lebih baik kita menghampiri kediamannya saat ini daripada ribut-ribut di sini. Mungkin dengan melakukan hal itu, kita akan mendapat jalan keluar atas masalah ini."


"Oh...kau akan meng-kambing hitamkan seorang bernama Sie Lun itu? Hahaha....terserah, sekarang cepat bawa kami ke sana!!" kata Lin Tian.


Maka berangkatlah mereka, untuk pasukan Zhang dan pengawal walikota, mereka sengaja ditinggal di halaman luas itu bersama pasukan Hu dan Hu Tao.


Ternyata letak kediaman Sie Lun itu cukup jauh dari halaman depan. Terbukti setelah kurang lebih lima menit berlalu, mereka belum juga sampai.


"Jangan menjebak kami...!!" Minghao buka suara, dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Zhang Qiaofeng.


Belum sempat walikota menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawa dari rumahnya sendiri. Tawa yang sangat nyaring dan menggelegar, apalagi begitu mendengar kalimat yang terucap di sela-sela tawa itu, membuat walikota bergidik dan wajahnya pucat pasi.


"Hahaha....bagus-bagus, ini barang bagus!! Tak sia-sia aku selalu menyabarkan diri di sini!! Oh...Nyonya Wang sungguh manis sekali..." demikian suara tawa itu terdengar.


Tanpa banyak cakap lagi, walikota yang sepertinya juga memiliki sedikit kepandaian itu segera berlari cepat menuju rumahnya. Mendengar suara itu, apalagi terdengar suara jerit wanita sesaat setelah suara tawa itu menghilang, membuat walikota khawatir dan panik sekali. Sadarlah ia kalau istrinya dalam bahaya.


"Hei kau mau kemana!?" tukas Kim Chao hendak mencegah. Namun ia urungkan karena Minghao menghalanginya.


"Biarkan, di sana masih banyak pasukan kita dan pengawal walikota. Yang lebih penting, lihat itu..." katanya menunjuk kearah Barat. Terlihat di sana asap hitam mengebul dan nampak pula cahaya terang di bawahnya.


"Ayo ke sana, mungkin itulah kediamannya..." tanpa menunggu tanggapan dari rekan-rekannya, Lin Tian sudah meloncat ke arah tempat asap itu mengebul.


Tempat itu ternyata terletak di ujung Barat kediaman walikota. Setelah melewati beberapa rumah dan bangunan-bangunan, tibalah mereka di sebuah rumah yang cukup besar itu.


"Wah...mereka datang!!" kata si muka kuning yang terkejut atas kehadiran empat orang itu. Dia bersama dua orang rekannya ditugaskan untuk membakar kediaman Sie Lun atas perintah orang bermarga Sie itu.


"Maju!!" perintah si brewok yang langsung dituruti dua orang rekannya.


Serentak mereka bertiga melemparkan obor di tangan masing-masing kearah empat orang tersebut. Bertujuan untuk menghalangi penglihatan mereka semua. Sesaat setelah obor terlempar, segera mereka mencabut senjata golok di pingging.


"Aaahhhh!!" tiba-tiba mereka memekik tatkala Lin Tian mengibaskan lengan kirinya. Dari kibasan itu pula, menyambar hawa dingin yang tak hanya mampu mementalkan mereka bertiga, tetapi juga telah memadamkan tiga api obor dan rumah yang sedang terbakar itu.


Tanpa berkata-kata lagi, Lin Tian segera menerobos masuk ke dalam rumah. Tentu saja tiga orang itu hendak mencegah, namun gagal karena Minghao dan dua kawannya sudah menghadapi mereka.


"Dasar keras kepala!!" si brewok mencela dan menerjang ke depan diikuti dua orang lainnya.


Sebentar saja, terjadilah pertandingan sengit di luar rumah itu. Suara maki-makian dari si brewok dan lain-lain tak pernah berhenti menghias jalannya pertempuran.

__ADS_1


Akan tetapi sungguh pun Tujuh Cakar Harimau sudah amat terkenal di kalangan orang-orang persilatan, namun musuh mereka jauh lebih terkenal sakti. Siapa sih yang tak kenal dengan Sastrawan Sakti dan Dewi Pedang Terbang? Agaknya hanya kakek Kim Chao sajalah yang tidak begitu terkenal namanya.


Karena itulah, lambat laun tiga orang Cakar Harimau itu mulai mundur-mundur perlahan. Kerepotan dengan terjangan tiga orang lawannya dan terdesak hebat.


...****************...


Begitu memasuki dalam rumah yang sudah gosong terbakar itu, Lin Tian dengan cekatan memandang ke seluruh penjuru ruangan. Di ruang tamu itu tidak ada apapun kecuali puing-puing.


Maka pemuda ini lekas mengecek ke ruang lainnya dan hasilnya sama saja. Hanya tinggal di dalam kamar yang berada di sebelah belakang rumah saja yang belum dibukanya.


Bergegas Lin Tian berjalan ke kamar itu dan membukanya.


"Apa? Nona!??"


Betapa terkejut hatinya begitu dia menemukan sobekan-sobekan baju gosong nonanya yang tercecer di lantai kamar. Namun yang lebih mengejutkan lagi, tidak ada satu pun tanda-tanda dari keberadaan Zhang Qiaofeng.


"Nona...!! Nona...!??" Lin Tian terus berteriak. Makin lama makin panik karena tak kunjung mendapat balasan. Rasa khawatir mulai menyelimuti hatinya, apalagi mengingat jika sepasang belati gadis itu ditinggal di kamar, maka saat ini dia sama sekali tidak bersenjata.


Juga melihat sobekan-sobekan baju itu, tahulah Lin Tian apa kiranya yang telah terjadi kepada Nonanya.


"Sialan...!!" amarahnya bangkit dan sekali berkelebat, tubuhnya lenyap dan sudah tiba di luar rumah.


Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah pertarungan antara tiga temannya dengan sisa anggota Tujuh Macan Harimau. Dengan amarah memuncak, sekali dia menggerakkan kaki, tiga orang musuhnya itu sudah terpelanting ke sana-ke sini.


"Katakan!! Dimana Nona Zhang berada!!??" Lin Tian membentak seraya mencengkeram kerah salah satu dari mereka bertiga.


"Prookk!!!" kepala si jangkung pecah seketika. Membuat mereka semua memandang sosok Lin Tian dengan pucat bagai mayat.


"Katakan dimana!!!??" kali ini dia bertanya kepada si muka kuning.


Berbeda dengan orang sebelumnya, si muka kuning ini bukannya menjawab, dia malah bergumam "ah-uh-ah-uh" saja. Mungkin karena saking takutnya, dia menjadi gagu.


Namun tindakan Lin Tian masih sama, segera saja dia mengirim pukulan jarak jauh dan kepala itu pecah seketika.


"Katakann!!" kali ini dia bertanya kepada si brewok.


Melihat yang ditanya hanya bungkam dan merangkak mundur-mundur, Lin Tian ingin sekali memecahkan kepalanya itu. Namun dengan sigap Minghao sudah berdiri di hadapannya untuk mencegah Lin Tian bertindak lebih lanjut.


"Cukup Lin Tian, tenangkan dirimu!!"


"Minggir!!" bentak Lin Tian dan menggerakkan tangan kanan dengan membuat gerakan menampar, berniat menyingkirkan Minghao dari hadapannya. Akan tetapi gerakan tangannya jangan dianggap remeh, karena terasa oleh Minghao sebuah angin kencang yang menyambar melalui telapak tangan itu.


Minghao refleks menggerakkan tangan menangkis.


"Tep-Duk-Duk!!"


Lengan Minghao terasa nyeri sekali begitu menerima tamparan tangan kanan Lin Tian. Jika tadi tidak dibantu oleh tangkisan Kim Chao dan cengkeraman Lu Jia Li, agaknya tulang tangannya sudah remuk.

__ADS_1


"Tenanglah Lin Tian!!" dia mencoba menyadarkan pemuda itu.


Begitu Lin Tian hendak mengirim serangan lagi, tiba-tiba terdengar seruan nyaring namun juga gemetaran.


"Dia di rumah walikota...!! T-tadi tuan Sie membawa Nona Zhang ke rumah walikota...." kata si brewok dengan mata terbelalak.


Mendengar ini, Lin Tian segera melesat kearah jurusan dimana tadi mereka berangkat. Menuju ke rumah walikota yang terlihat paling besar itu.


Melihat Lin Tian pergi, Minghao segera menotok lumpuh si brewok dan pergi mengikuti pemuda itu. Lu Jia Li dan Kim Chao ikut serta pula.


...****************...


"Buka jalan atau mereka akan mati!!" ancam Sie Lun seraya menodongkan pedangnya kearah leher Zhang Qiaofeng yang sudah setengah telanjang itu. Sedangkan satu anak buah lainnya menodongkan pedang ke leher nyonya Wang, istri walikota.


Ternyata Sie Lun itu masih mempunyai anak buah lain di kediaman ini. Entah siapa sebenarnya pemuda ini, namun agaknya ada sesuatu yang tak bisa dianggap remeh tentang dirinya.


Semua orang menjadi ragu-ragu, namun berbeda dengan pasukan Zhang dan Hu. Mereka benar-benar marah melihat keadaan Nona Zhang yang dilecehkan seperti itu. Keluarga Hu sudah menganggap keluarga Zhang sebagai saudara sendiri, dan melihat keadaan nona itu tentu menjadi murka.


Sedangkan untuk keluarga Zhang, dapat dibayangkan betapa hebat api kemarahan yang berkobar di hati lima puluh orang itu. Seorang pemimpin muda yang selalu dibanggakan, saat ini telah dibuat hampir telanjang oleh seseorang dan dijadikan bahan tontonan. Siapa yang tidak marah.


"Sie Lun kan namamu...? Hei orang muda, tak takutkah bila seluruh keluarga Zhang akan memburumu?" tanya salah satu orang Zhang yang berusia sekitar empat puluh tahun.


Sie Lun tertawa bergelak, membuat buntalan emas hasil curiannya mengeluarkan suara gemerincing nyaring.


"Hahaha....untuk apa takut dengan keluarga kecil macam kalian!?" demikian dia mencela.


"Lepaskan mereka!! Kau sudah membawa hartaku kan!?" kali ini walikota yang dipanggil walikota Wang itu membentak.


"Eh..eh...memang benar aku mengambil hartamu, tapi...hehe....aku juga butuh penghangat kamar. Nona ini untukku, dan nyonya ini untuk guruku..." jawabnya sambil tersenyum sinis.


"Dasar pengkhianat!! Kami keluarga Wang sudah bersikap baik kepadamu, namun ini balasannya!!?"


"Dari awal aku bukan bagian anggota keluarga Wang, untuk apa kau sebut pengkhianat? Lagipula, siapa yang memaksa kami untuk mengenakan seragam ini? Kau ingin memaksa kami menjadi bagian dari kalian bukan?"


"Iblis!! Kau pantas mati!!" teriak putra walikota yang sudah bersiap maju dengan pedang.


"Nah ayo maju, maka ibumu akan kumatikan!" ucapan Sie Lun ini berhasil menghentikam tindakan putra walikota itu.


Tak lama setelah itu, entah kenapa tiba-tiba udara sekitar menjadi dingin sekali. Bahkan mulai muncul kabut-kabut tipis yang makin lama kian menebal. Tentu saja yang paling tersiksa adalah Zhang Qiaofeng, karena sebagian besar kulitnya tidak tertutup kain sama sekali.


Namun dalam hati gadis itu, diam-diam dia merasa sedikit lega karena tahu siapa gerangan yang telah datang.


"Kau sama sekali tidak memandang wajah kami, apa maksudmu memperlakukan Nona Zhang sampai seperti itu? Sie Lun, siapa kau dan apa yang membuatmu menjadi begini arogan?" tanya sebuah suara yang entah berasal darimana.


"Hahaha....heh Hantu, akan kuberitahu, aku adalah Sie Lun, murid dari Golok Penghancur Gunung!!" jawabnya dengan bangga. Membuat mereka semua menjadi pucat pasi dan gemetaran penuh perasaan jeri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2