
Aneh, mengejutkan dan mengherankan, soal sosok Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut yang tiba-tiba berpindah haluan membela Iblis Tiada Banding musuh besarnya. Bahkan dia tak segan-segan untuk membuang nona tersayangnya ke dalam amukan pusaran air di bawah tebing.
Tuluskah Lin Tian melakukan itu semua? Apa sungguh-sungguh di dasar hatinya Lin Tian memang sudah memusuhi keluarga Zhang dan kaum aliran putih sehingga dia membela golongan hitam?
Andaikan saja ada orang yang bisa melihat keadaan hati seseorang, maka saat Lin Tian dengan wajah dingin dan kejamnya, melemparkan nona Zhang ke pusaran air laut, orang itu akan melihat hati Lin Tian menjerit seraya menangis, kemudian mengucurkan darah seperti air bah yang lalu membuat sebuah danau besar memenuhi seluruh ruang di dadanya. Sesak dan sakit sekali.
Akan tetapi dengan keyakinan hatinya, memaksa mengeraskan hatinya, Lin Tian mencoba untuk memerintahkan diri sendiri agar percaya bahwa Zhang Qaiofeng selamat. Dan memang hal itu benar adanya, dengan cara yang tak terduga, Zhang Qiaofeng berhasil selamat dari cengkeraman maut.
Tapi sebelum itu, marilah kita lihat keadaan Lin Tian sampai memaksa dirinya untuk bekerja di bawah naungan kelompok paling dibencinya itu.
Seperti yang sudah dijelaskan, Lin Tian sengaja menyerahkan diri kepada Iblis Tiada Banding yang waktu itu dapat membahayakan nyawa Zhi Yang beserta adik dan ayahnya. Dengan keteguhan hati dan keberanian tinggi, Lin Tian menaiki tangga kapal besar itu yang kemudian meluncur menuju Pulau Naga.
Sampai di pulau yang memiliki pasir teramat putih itu, Lin Tian kemudian digiring menghadap Sian Yang dan Zhang Heng beserta para petinggi lainnya. Tentu saja dia terkejut akan kehadiran seseorang yang dikiranya telah mati. Yaitu nenek siluman yang menurut ingatannya sudah ia lemparkan ke dalam jurang.
Namun semua itu ditahannya dan dia tetap menampilkan ekspresi keras tanpa rasa takut. Bahkan jika akan dibunuh pun, Lin Tian menaksir yang paling sulit ditundukkan adalah Zhang Heng, karena itu dia sama sekali tidak gentar.
Ketika dirinya diseret menuju ruang bawah tanah untuk disiksa oleh Zhang Heng sendiri yang merasa sial karena musuhnya masih hidup, Lin Tian sama sekali tidak mengeluarkan suara kesakitan atau apapun. Setiap kali tendangan dan pukulan, selalu dibalasnya dengan tatapan tajam penuh kebencian yang berhasil menusuk hati Zhang Heng.
Akan tetapi dasar watak iblis, Zhang Heng tidak menghendaki Lin Tian mati begitu saja dengan mudah. Maka dia memerintahkan nenek siluman untuk membuatkan sebuah pil racun yang nantinya dapat menghilangkan ingatan seseorang. Lin Tian yang mendengar ini memasang ekspresi terkejut, tapi sejatinya dalam hati dia malah tertawa.
Karena pil hilang ingatan itu, dia dapat menjalankan aksinya. Dalam pikirannya, Lin Tian cukup yakin akan kemampuan sendiri sehingga tidak terpengaruh racun sepele macam itu.
Dan ternyata memang benar, walaupun dengan sedikit usaha dan hampir saja gagal, Lin Tian dapat juga menepis hilang hawa racun itu dan membuatnya dapat berakting sebagai orang linglung hilang ingatan.
Mulailah Zhang Heng beraksi. Dia membuat berbagai macam dongeng yang mengatakan bahwa dirinya telah menyelamatkan Lin Tian yang hanyut di laut. Dia juga menyinggung-nyinggung soal harga diri, jika Lin Tian masih punya adab dan harga diri, maka dia harus membalas budi Zhang Heng.
Tentu saja Lin Tian akan tertawa bila saja dia tak ingat saat ini semua nasib golongan putih berada pada kedua tangannya. Maka dia hanya mengangguk mantap sebagai jawaban saat Zhang Heng bertanya serius.
"Maukah kau membantuku? Segala sesuatu yang kuperlukan? Semua itu akan cukup setimpal jika kau ingin membalas budi."
Sejak saat itulah, sosok Lin Tian yang pura-pura hilang ingatan dan menahan lebih dari setengah kekuatan aslinya, menjadi pengawal Zhang Heng. Sedangkan Zhang Heng, dia merasa amat puas karena dalam pendapatnya, Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut sudah "mati", dan pengawalnya saat ini hanyalah boneka saja yang dapat ia gunakan untum mencapai tujuannya.
__ADS_1
Akan tetapi tak ada satupun orang yang tahu, jika di masa depan nanti, Lin Tian inilah yang kelak akan mendapat julukan Iblis Gila.
Cukup aneh memang, tapi orang tak akan berkata demikian ketika melihat kehancuran dua perkumpulan besar penyokong Iblis Tiada Banding. Hati Iblis dan Pedang Hitam, di masa depan nanti, Hantu satu inilah yang akan meruntuhkan mereka.
...****************...
Jatuh ke dalam air dan kurangnya pengalaman berenang benar-benar membuat Zhang Qiaofeng kepayahan. Apalagi yang menyambut serta menjadi alas jatuhnya adalah sebuah pusaran air ganas yang bahkan mampu menenggelamkan sebuah perahu.
Mengesampingkan ilmu silatnya yang mampu membuat namanya tersemat julukan Si Gadis Hantu, sejatinya Zhang Qiaofeng ini tak pandai berenang. Bagaimana bisa berenang jika dari kecil kerjaannya hanya bermain-main di hutan atau mandi di sungai dangkal atau mengusili pengawal pribadinya itu.
Ketika sudah beranjak dewasa, tak ada waktu yang tepat untuk latihan berenang karena dia disibukkan dengan segala macam kerumitan tugas pemimpin keluarga. Sekalinya latihan berenang pun, untuk apa? Tak pernah terlintas sedikit pun di benak gadis itu jika suatu saat dia akan di telan bulat-bulat oleh keganasan air laut.
Tak memperdulikan dirinya yang terus berpusingan sembari tenggelam makin dalam, matanya terus terbuka dengan tatapan kosong. Bibir yang biasanya selalu cemberut namun cantik manis itu sedikit terbuka dan mengeluarkan gelembung karena banyaknya air yang masuk ke dalamnya.
Sedangkan pikirannya hanya menggumamkan satu kalimat dua kata yang terus terulang-ulang. Depresi dan frustasi, setelah kehilangan Lin Tian selama beberapa tahun, justru pemuda itu sendiri yang membunuhnya.
"Mati saja...."
...****************...
"Satu...."
"Ombak naik ke atas...."
"Dua...."
"Perahu terseret ke belakang...."
"Tiga...."
"Angin laut berembus pelan...."
__ADS_1
"Empat...."
"Seorang gadis cantik timbul dari perut samudra....."
Seorang kakek bercaping dan berjubah kuning lusuh, memegang sebatang tongkat butut, terus bergumam tak jelas sambil matanya menerawang jauh ke depan.
Berada di tengah samudra ini sungguh aneh dengan perahu kecil tanpa layar itu. Tapi jika orang ingin tahu, kakek itu sebenarnya jauh lebih aneh karena dia ini adalah Pengelana Tanpa Bayangan.
Bagaimana tak jadi hal aneh bila dia datang dari seberang lautan di sisi Timur sementara daratan tempat terjadinya pergolakan besar antara kekaisaran Song dan Iblis Tiada Banding berada di sisi Barat. Dan sekarang dia sedang melaju kearah Barat, entah datangnya darimana padahal selama ini semua orang sudah tahu tempat-tempat kemunculannya secara aneh dan macam setan itu adalah di daratan yang ada di Barat.
Tak akan selesai kisah ini jika harus menceritakan setiap hal ganjil dan diluar nalar kakek satu ini, marilah kita fokus kepada kemunculan tubuh lemas tak berdaya seperti yang diucapkan kakek tersebut.
"Itu dia....gadis malang...."
Entah bagaimana, dengan kekuatan gaib atau kebetulan semata, perahu kecilnya meluncur cepat menyongsong tubuh lemas tak berdaya itu tanpa di dayung. Sedangkan di perahu itu tak ada dayung, dan satu-satunya benda yang bisa digunakan sebagai dayung adalah tongkatnya, tapi saat ini tongkat itu masih diam di tangan kanannya yang sama sekali tidak melakukan gerakan mendayung.
Benar bukan, hanya masalah dayung-mendayung saja butuh penejalasan sepanjang itu jika pelakunya adalah Pengelana Tanpa Bayangan. Apalagi untuk menceritakan kisah hidupnya? Sampai tujuh generasi pun kiranya tak sanggup untuk mencapai titik tamat.
"Syut-bret!"
Tongkat butut itu melesat cepat menyambar tubuh gadis tersebut. Chong San meletakkannya di perahu sederhana miliknya dan memandang wajah itu lekat-lekat.
Seorang gadis yang amat cantik jelita, tapi sayang, agaknya dia akan mati dalam beberapa detik lagi jika saja Chong San tak segera menampar dada dan perutnya. Wajah yang sudah putih seperti patung gipsum itu sedikit berkedut dan bibir pucat kebiruannya tak lama kemudian terbuka untuk memuntahkan berteguk-teguk air.
"Nona Zhang...sudah kuprediksi hal ini akan terjadi. Beruntungnya aku yang tak terlambat dan beruntungnya dirimu yang belum mati sebelum kedatanganku yang hampir telat ini, juga beruntung sekali kita semua karena dirimu akan menjadi seseorang yang telah kuramalkan selama ini, juga sangat beruntunglah engkau karena pasangan nagamu adalah sosok yang selalu menjadi bunga tidurmu."
Wajahnya itu lalu tersenyum, tapi matanya menajam, "Takdir sudah ditentukan..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BSRSAMBUNG
__ADS_1