Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 172. Pembalasan Song Qian dan Fen Lian


__ADS_3

Segera saja Zhang Qiaofeng menemui Minghao dan minta dibuatkan surat untuk Cin Kok dan Wang Su. Setelah itu, dengan burung merpati milik Minghao pula, dua surat itu dikirimkan ke dua keluarga tersebut.


Keluarga Zhang mendapat respon cepat dari keduanya, hanya berselang satu hari setelah pengiriman, keluarga Wang dan Cin sudah membalas surat. Intinya, mereka ingin segera mendapatkan kitab mereka. Karena itulah, Zhang Qiaofeng kembali mengirim surat yang isinya kerja sama untuk menyerbu markas Golok Penghancur Gunung di Hutan Kabut.


Satu hari berikutnya.


"Oh Nona, mereka sudah membalas."


"Coba kulihat." Zhang Qiaofeng segera mengambil surat yang tadi diulurkan Minghao kepadanya.


Selang beberapa saat, gadis itu berkata, "Hm, mereka setuju untuk melakukan pertemuan di luar Hutan Kabut. Kalau begitu ayo berangkat sekarang. Bawa dua ratus pasukan!"


Mendengar ucapan ini, Minghao segera pergi menjalankan perintah Nonanya.


Di hari yang sama pula, lebih tepatnya ketika pagi-pagi sekali, keluarga Zhang kedatangan seorang utusan kaisar yang mengatakan jika saat ini, Chen Hu si pengkhianatan telah diputuskan untuk diberi hukuman mati. Kaisar juga mengeluarkan perintah untuk mengeksekusi semua orang Chen yang terlibat dalam pemberontakan ini, sisanya yang tak tahu menahu, mereka dibubarkan dari keluarga Chen. Maka hari itu juga, keluarga Chen telah lenyap.


Sungguh hal yang sangat mengejutkan karena Zhang Qiaofeng sama sekali tak tahu menahu soal pemberontakan itu. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah...


"Apa!! Kaisar meminta kami untuk menjadi pengganti keluarga Chen!? Maksudmu, kami diangkat menjadi keluarga penguasa!!" Lu Tuoli berteriak keras saking terkejutnya.


"Benar Tuan, surat perintah itu sekarang sedang berada di tangan Nona Zhang." jawab sang utusan.


Di kursi kepemimpinannya, Zhang Qiaofeng sebenarnya juga bingung apakah harus menerima pengangkatan ini atau tidak. Namun kebimbangan ini segera sirna ketika dia mendengar bisikan Lin Tian.


"Nona, lebih baik kita selesaikan dulu urusan dengan Golok Penghancur Gunung. Minta waktu beberapa hari kepada kaisar untuk memikirkan hal ini."


Zhang Qiaofeng mengangguk dan berkata kepada utusan, "Maaf Tuan, bisakah anda memberi waktu dua minggu lagi dari sekarang? Kami baru saja diserbu oleh Iblis Tiada Banding dan saat ini masih disibukkan dengan masalah internal, bolehkan saya memikirkan dulu tentang tawaran ini?"


Utusan itu mengangguk-angguk sembari menjawab, "Tak apa Nona, anda tenang saja, kaisar juga sudah memprediksi akan hal ini. Pengangkatan keluarga Zhang menjadi keluarga penguasa juga bertujuan sebagai permintaan maaf kaisar karena tidak bisa mengirim bantuan apa-apa ketika keluarga Zhang diserbu."


Setelah menenggak arak yang dihidangkan tuan rumah, utusan itu berdiri lalu berkata, "Agaknya semua urusan sudah selesai, kalau begitu ijinkan saya untuk pamit."


Beberapa jam setelah kepergian si utusan, Zhang Qiaofeng mendapat surat balasn itu dan memutuskan untuk segera berangkat ke Hutan Kabut. Siang harinya, dua ratusan orang Zhang yang dipimpin langsung oleh Zhang Qiaofeng berangkat menuju Hutan Kabut. Kali ini Minghao atau para tetua lain tidak diperkenankan ikut karena harus mengurusi keluarga yang sedang kritis itu. Tapi sebagai gantinya, tetua pertama, Zhang Hongli yang merupakan pendekar terkuat di keluarga Zhang, ikut dalam penyerangan kali ini.


Demikianlah singkat cerita mengapa rombongan keluarga Wang, Cin dan Zhang bisa sampai di markas Golok Penghancur Gunung. Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, tiga keluarga ini akhirnya bertemu dan segera berangkat menuju satu-satunya telaga di Hutan Kabut yang katanya menjadi markas persembunyian Golok penghancur Gunung.


Dan benar saja, tak jauh dari telaga itu, mereka semua melihat sebuah goa besar yang dijaga oleh beberapa orang murid kakek datuk hitam itu. Setelah merobohkan mereka semua, segera Lin Tian dan Cin Kok berseru.


"Golok Penghancur Gunung, kembalikan kitab kami!" seru Cin Kok dengan pengerahan tenaga dalam.


"Tua bangka!! Kita lanjutkan pertarungan kita yang belum selesai waktu itu! Jangan kau kabur lagi kali ini. Hanya ada satu orang dari kita yang pantas untuk hidup lebih lama!!" Lin Tian berkata tak kalah keras.

__ADS_1


Dari dalam sana, tanpa aba-aba atau apa pun, tiba-tiba muncul tiga ratusan orang yang langsung menyerang pasukan gabungan dari tiga keluarga itu. Tapi tetap saja, sebentar saja pasukan Golok Penghancur Gunung mulai kerepotan, karena di pihak tiga keluarga, jumlah pasukannya hampir mencapai seribu orang! Dan keluarga Zhang lah yang paling sedikit mengirim pasukan.


Pertempuran di mulut goa itu pecah dengan hebatnya. Awalnya, pasukan tiga keluarga mundur-mundur untuk mencari banyak ruang. Setelah cukup jauh dari goa, mereka segera menghimpit tiga ratusan pasukan musuh itu.


Mereka juga dikejutkan dengan kehadiran dua orang guru dan murid yang bukan lain Ling Haocun dan Zhang Heng yang ikut membantu Golok Penghancur Gunung. Melihat ini, Lin Tian dan Zhang Hongli segera menyerbu tiga orang tersebut.


"Hiaaatt!!"


"Blaarr!!"


Tanah yang sebelumnya dipijaki Ling Haocun hancur seketika setelah terkena hantaman dahsyat dari Zhang Hongli, membuat si topeng merah itu meloncat jauh sambil berguling-guling.


Di sisi lain, Lin Tian sudah menyerang Golok Penghancur Gunung dengan hebatnya. Bahkan kakek itu dalam segebrakan pertama, karena tidak siap dia menjadi kerepotan dengan terjangan Lin Tian yang tak kenal ampun itu. Akan tetapi dalam kesulitannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam yang menyerang Lin Tian seraya berseru.


"Lin Tian, kita selesaikan urusan kita!!!"


"Bagus!! Kalian berdua maju sini!!" bentak Lin Tian sambil memapaki pedang lawan dengan tangan kiri, sedangkan pedangnya menangkis terjangan golok dari Golok Penghancur Gunung.


"Tring-Dingg!!"


Terdengar suara mengaung ketika dua serangan itu berhasil menghimpit satu orang. Namun bukannya terdesak, justru Lin Tian lah yang berhasil mematahkan serangan keduanya.


"Hiaaaa!!" Golok Penghancur Gunung tak mau kalah, segera dia bacokkan golok besar itu untuk menutup semua jalan keluar Lin Tian.


Maka terjadilah pertarungan yang amat sengit dari ketiganya, bahkan lebih hebat dari Zhang Hongli yang melawan Ling Haocun. Tiga orang ini dengan ganasnya saling bertarung satu sama lain, namun jika ada kesempatan, tangan kiri mereka yang tak memegang senjata sesekali mengirim hawa pukulan kearah pasukan musuh terdekat.


...****************...


"Pertarungan pecah, kita harus segera pergi!" Xiao Fu yang melihat dari jauh berkata kepada dua puluhan orang anak buah pribadinya yang semuanya terdiri dari perempuan. Memang mata keranjang benar orang ini.


Setelah berkata demikian, pria dempal ini lekas bangkit berdiri dan membalikkan tubuh hendak pergi dari sana. Dia sama sekali tidak peduli dengan Golok Penghancur Gunung atau Aliansi Golongan Hitam. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah nyawanya sendiri.


Niat awal memang ingin kabur, namun terpaksa harus berhenti ketika tiba-tiba terdengar teriakan menyanyat hati dari salah satu anak buahnya. Entah dengan cara bagaimana, tiba-tiba wanita cantik berjubah ungu itu sudah tewas dengan sebatang jarum menancap dalam di dahi.


"Penyerangan gelap!" Xiao Fu berseru dan mencabut pedang. Anak buah yang lain segera mengurung pria itu untuk membentuk tembok pertahanan.


Selang beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu namun mengerikan.


"Hihihi...Xiao Fu, tak hanya mata keranjang tapi juga amat pengecut ya...?"


"Kau ingin lari dari kematian? Hahaha....jika sudah ditakdirkan mati hari ini, mana mungkin kau bisa lolos!"

__ADS_1


Mendengar ini Xiao Fu menggigil ketakutan, tahulah dia siapa yang datang. Sedetik kemudian, dia berteriak untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Song Qian, Fen Lian!! Pengkhianat, setelah kabur dariku, kalian hendak membunuhku!?"


"Hihihi, membunuhmu apa susahnya?"


Sedetik kemudian, menyambar bayangan putih yang bayak sekali. Inilah jarum beracun andalan milik Song Qian dan Fen Lian. Puluhan jarum beracun itu segera menghabiskan seluruh anak buah Xiao Fu. Begitu satu jarum menancap di tubuh, membuat darah orang tersebut keracunan hebat dan ketika darah itu menyentuh jantung, tak ada jalan lagi untuk selamat.


"Akhh!!"


"Ugh!"


Dua orang anak buahnya berhasil selamat. Satu orang dari mereka membawa Xiao Fu dalam pelukannya untuk menyelamatkan pria itu. Namun sedetik kemudian, terdengar teriakan menyanyat hati ketika nampak bayangan merah berkelebat dan langsung menggorok leher salah seorang wanita yang tadi bergulingan.


Detik berikutnya, datanglah bayangan hijau yang langsung berdiri di depan Xiao Fu dengan senyum mengejek.


Melihat ini, seorang wanita yang tadi menyelamatkan Xiao Fu buru-buru bersujud di hadapan wanita yang baru datang itu.


"Adik Song Qian dan Fen Lian, mengapa kalian membunuh kami!? Kita semua sama, dipaksa ikut dengan mereka!"


"Hmph, kau pikir kami tak tahu dan bodoh!? Memang awalnya kalian diapaksa, tapi lama kelamaan kalian ikhlas juga. Kalian menyerahkan diri dengan sukarela, kalian sama sekali tak pura-pura untuk melayani pria busuk dan kakek tua cabul itu! Hanya demi harta dan ilmu silat yang tak seberapa, kalian rela dari pagi sampai malam menjadi mainan mereka!!" bentak Fen Lian dengan berapi-api.


"Semua orang yang sejalan dengan kami, yang dengan terpaksa sekali meninggalkan keluarga dan ikut dengan Xiao Fu, mati bunuh diri! Kau pikir kami buta!? Dari lima puluh orang pelacur Xiao Fu, hanya kami berdua yang masih selamat dan menguatkan hati kami untuk bertahan di neraka itu. Sekarang kami menjadi bagian dari keluarga Zhang! Sudah sepantasnya kami membasmi kalian!!" kali ini Song Qian bersuara.


"Tapi...tapi...tapi....aahhh matilah!!" seru wanita tadi yang seperti hendak merengek, namun dengan tiba-tiba malah menusukkan sebilah pisau ke perut Fen Lian.


"Trang-Aahhh!!"


Darah menyembur kemana-mana ketika belati Fen Lian berhasil menggorok leher wanita tersebut. Bagaimana mungkin serangan kejutan macam itu bisa membunuh Fen Lian yang termasuk anggota terkuat dari pelacur-pelacur Xiao Fu.


"Kalian....kalian..." Xiao Fu dengan gemetaran merangkak mundur dan mulai menangis.


"Hehe...waktunya pembalasan..." ucap Song Qian sambil membersihkan noda darah dari belatinya dengan lidahnya sendiri.


Tak lama setelah itu, terdengar jeritan-jeritan mengerikan dari hutan tersebut. Tak ada seorang pun yang mendengarnya karena selain tempat ini cukup jauh dari medan perang, juga mana mungkin orang-orang yang masih sibuk beradu senjata itu dapat mendengar?


Maka mulai hari ini, Xiao Fu, Informan Mata Keranjang dari Aliansi Golongan Hitam, tak akan pernah muncul lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2