Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 168. Lautan Darah


__ADS_3

"Boomm!!-Deess!!"


Suara ledakan terus terdengar setiap kali lengan Zhang Hongli dan Sian Yang beradu. Angin di sekeliling sudah berubah bagaikan angin badai yang dahsyat sekali. Semua orang diam-diam kagum dan jeri menyaksikan semua itu, selamanya baru kali inilah mereka melihat pertarungan dua orang jago silat yang demikian sakti.


Sudah banyak sekali yang gugur di kedua pihak. Di pihak Iblis Tiada Banding, mungkin sudah lima ratus orang lebih yang tewas, sedangkan di pihak keluarga Zhang sendiri tidak bisa dikatakan lebih sedikit. Banyak sudah pendekar-pendekar dari Asosiasi maupun pendekar bebas yang menggabungkan diri dengan keluarga Zhang gugur dalam perang kali ini.


Seperti halnya perguruan Elang Bayangan, Siang Ki dan kawan-kawan sudah habis dilibas semua, sehingga mulai hari itu perguruan Elang Bayangan lenyap dari muka bumi. Yin Yin dan putri-putrinya hampir semuanya tewas, hanya menyisakan Yin Yin dan anak kandungnya.


Anak murid Gong Fai juga banyak yang mati, hanya menyisakan tiga orang jika kakek itu dihitung. Yang masih sangat gigih melakukan perlawanan mati-matian adalah Zhang Hongli, keluarga Lu, dan tentu saja Minghao. Sastrawan ini sembari mainkan suling yang berubah menjadi gulungan-gulungan sinar putih, juga dia sesekali memetik yang-khim yang ada di punggungnya untuk memekakkan telingan lawan.


"Hahaha...hancurlah keluarga Zhang!!" Sian Yang melepaskan pukulan beracun dari kedua lengan. Membuat asap hitam tebal mengepul dari dua lengan tersebut.


Zhang Hongli yang melihat ini cepat bertindak, merendahkan tubuh sampai rendah sekali, kemudian mengirim hawa pukulan panas untuk melawan racun Sian Yang.


"Dessss!!"


Keduanya terhuyung ke belakang, namun hanya sebentar saja sebelum kembali melesat maju dan saling terjang.


Di lain sisi, Chan Fan berhadapan dengan Minghao dan Lu Jia Li. Lelaki berkulit wanita itu memang hebat sekali, sudah sejak tadi dia dikeroyok dua, akan tetapi belum juga terlihat terdesak. Dengan ilmu Pedang Rajawali miliknya, gadis bisu bermata satu ini melesat ke sana-sini dengan hebatnya, mengelilingi tubuh lawan untuk mengirim serangan dari setiap sisi lawannya.


"Trang-Trang-Trang!!"


"Matilah!!" setelah tiga kali tangkisan, Chan Fan lalu memutar rantainya untuk kemudian diarahkan ke leher Lu Jia Li, berniat memutus leher tersebut.


"Tring!!" tiba-tiba, nampak kelebatan bayangan yang segera menangkis rantai tersebut. Membuat rantai Chan Fan membalik dan terpaksa harus melompat ke belakang tatkala ada sebuah suling hendak menotok lehernya.


"Bagus!!" seru Chan Fan lebih bersemangat. Mereka lalu saling gempur kembali dengan hebatnya.


Sedangkan untuk Naga Emas sendiri, sedaritadi dia dihadang oleh Lu bersaudara. Karena maklum kesaktian lawan yang kelewat sakti, maka Lu Tuoli memutuskan untuk mengeroyok sekaligus. Terbukti dari awal pertandingan sampai saat ini, Naga Emas dan Lu bersaudara bertarung seimbang.

__ADS_1


"Desss!!"


Kembali dua lengan yang berisi tenaga dalam hebat itu beradu, membuat Zhang Hongli maupun Sian Yang terdorong sejauh satu tombak. Dari sudut bibir masing-masing, mengalir sedikit darah segar.


"Haha Topeng Hitam, dari dulu kau memang kuat sekali!" puji Sian Yang.


"Dasar setan!! Kau mempelajari ilmu racun!?? Ternyata kau memang berhati busuk!!" bentak Zhang Hongli.


"Haha...entah itu busuk atau apa pun, intinya itu adalah hatiku!! Kau tak bisa berbuat sesuatu dengannya, karena--aakhh!!"


Belum selesai ucapan ini, tiba-tiba nampak kelebatan dua bayangan hitam yang segera mengirim serangan. Untung bahwa Sian Yang berlaku cepat untuk menghindar, sehingga dua pukulan dahsyat itu luput.


Orang yang baru datang ini segera melakukan serangan susulan, dengan gerakan cepat sekali, dia memukul sebanyak tujuh kali ke bagian vital lawan. Sungguh luar biasa.


Maka repotlah Sian Yang berloncatan ke sana-ke mari untuk menghindarkan diri. Begitu bangun, matanya memerah marah dan dia membentak.


"Kalian!! Biksu-biksu sialan!"


Zhang Hongli yang melihat kedatangan dua datuk itu merasa senang dan ikut menerjang pula. Tak peduli jika dia dianggap sebagai pendekar pengecut, toh saat ini adalah pertarungan bebas dalam perang terbuka, sehingga tak mengherankan dengan aksi saling kroyok.


Begitu tiga orang kakek sakti ini menyerang, Sian Yang menjadi kualahan bukan main. Satu musuhnya adalah Raja Dunia Silat yang walau pun kepandaiannya sudah berkurang banyak, namun masih amat kuat. Sedangkan dua orang lagi adalah tokoh dari Empat Dewa Mata Angin yang juga lihai. Maka tak heran setelah belasan jurus saja, Sian Yang hanya mampu bertahan dan membalas sesekali saja.


Serangan tiga orang ini sungguh luar biasa, Zhang Hongli yang menggunakan ilmu Ketenangan Batin selalu menjadi penyerang utama dari depan. Sedangkan Shi Yong dengan Pukulan Selaksa Kati yang sangat ampuh, membuat gerakan memukul-mukul untuk melindungi kakak dan Zhang Hongli. Serangan dua orang ini saja sudah cukup membuat Sian Yang kerepotan bukan main. Ditambah dengan ilmu Pukulan Pembalik Gunung milik Shi Xue yang jauh lebih ampuh dari milik adiknya. Tangannya berubah kehijauan dan setiap kali kepalan tinju itu terayun, Sian Yang merasakan sambaran angin dahsyat yang amat mengancam.


Chan Fan dan Naga Emas sendiri juga sangat kerepotan ketika secara tiba-tiba ada dua orang kakek yang menerjangnya. Dewa Angin Timur yang maklum akan kelihaian lawan, maka dia membantu Lu bersaudara menyerang Naga Emas, karena diantara tiga jagoan itu, Naga Emas yang paling lemah. Sedangkan untuk orang terkuat dari Empat Dewa Mata Angin, si kakek bercaping itu membantu Lu Jia Li dan Minghao menghadapi Chan Fan.


"Senior!!" seru Minghao terkejut dengan kedatangan kakek bercaping yang dia tahu sebagai Dewa Angin Barat itu.


"Jangan lengah!!" jawab Dewa Angin Barat dan menangkis rantai Chan Fan yang tadinya mengarah Minghao.

__ADS_1


Pertempuran terus berlangsung hebat sampai hari menjelang senja. Saat itu Sian Yang sadar jika penyerangan dilanjutkan lagi, maka mereka akan kalah. Lagipula dia sudah cukup puas karena mereka berhasil membunuh banyak anggota Zhang. Maka dengan sekali bentakan nyaring, para pasukan Iblis Tiada Banding segera lari kocar-kacir untuk mundur dari medan tempur.


Melihat Sian Yang hendak lari, tentu tiga orang tokoh kosen itu tak mau membiarkan begitu saja. Dengan sekali loncatan kilat, mereka menyerbu seraya mengirim serangan.


"Desss!!!!"


Sian Yang bukan tidak tahu akan serangan ini, maka dia segera mengelak untuk menghindari pukulan Shi Xue yang ia anggap berbahaya, namun gerakannya sedikit terlambat sehingga pundaknya kena serempet, tetapi tidak menimbulkan luka berarti. Kemudian secepat kilat dia membalikkan tubuh untuk menangkis pukulan maut Zhang Hongli. Karena memang sama kuat, sehingga dampak dari pukulan kakek itu hanya membuat Sian Yang terpental jauh dan terluka dalam, sama sekali tak mampu membunuhnya.


Daya lontar akibat menangkis serangan itu dimanfaatkan oleh Sian Yang untuk kembali melarikan diri. Maka dalam beberapa loncatan saja, dia sudah lenyap di balik hutan.


"Kejar!! Jangan sampai dia kabur hidup-hidup!!" demikian Zhang Hongli berseru. Maka secepat kilat Shi Yong dan Shi Xue mengikuti kearah dimana kakek itu pergi.


Pertempuran telah selesai, entah siapa yang menang tidak ada yang tahu. Keluarga Zhang berhasil selamat, akan tetapi banyak sekali yang tewas atau terluka berat. Minghao amat berduka melihat matinya Siang Ki dan anak buahnya, keluarga Yin Yin beserta murid-murid Gong Fai. Namun semua sudah terjadi dan tak bisa kembali. Maka dengan sedih dia memerintahkan semua orang untuk merawat yang terluka dan mengurus jenazah-jenazah tersebut.


"Terima kasih atas bantuan senior yang sudi datang kemari memberi bantuan." kata Minghao sambil menjura hormat kearah Dewa Angin Barat dan Timur.


Bukannya menjawab, dua orang kakek itu malah saling berpandangan dengan tatapan heran. Mereka datang kemari bukan atas kehendak sendiri, melainkan karena perintah dari suara misterius tersebut.


"Siapa pemilik dari suara itu?"


"Entah" jawab si kakek caping.


Kemudian mereka memandang kearah kepergian Zhang Hongli dan dua orang biksu tersebut.


"Kita akan menyusul?" tanya Dewa Angin Timur.


"Tak perlu, aku yakin mereka akan bisa mengatasinya. Walau pun aku ragu apakah mereka bisa menewaskan tiga orang lihai itu, namun setidaknya Shi Yong, Shi Xue dan Tuan Zhang tak akan mampu terbunuh oleh mereka."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2