Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 237. Berkunjung ke Pulau Tulang Naga


__ADS_3

"Semuanya....kita sudah sampai!!"


Seorang yang berdiri di dek kapal besar itu berteriak memberitahukan serta membangunkan kawan-kawannya. Kapal berhenti dan berlabuh di pinggir pulau Tulang Naga yang memiliki pasir putih bersinar.


Ketika jangkar dilempar turun, dari dalam laut sana terlihat hempasan pasir putih yang indah sekali begitu jangkar kapal menghantamnya.


Para awak kapal bangun dan bangkit sambil sesekali menguap atau merenggangkan tubuh. Memandang ke sekitar untuk melihat bahwa matahari sudah muncul malu-malu dari Timur sana dan keadaan remang-remang di awal pagi.


"Ayo, segera turunkan mereka semua agar kita bisa lekas beristirahat!" kembali orang yang berada di kepala kapal itu berseru memberi komando.


Dua puluh orang berlari-larian masuk ke dek kapal, sedangkan sisanya menggulung layar besar atau mengangkati barang-barang yang untuk diangkut turun.


"Ayo cepat...cepat!"


Terlihat rombongan manusia berjalan berbaris dari dek kapal, kepala mereka menunduk dalam dan tak ada ekspresi di setiap wajahnya. Yang tampak hanya kesuraman dan keputusasaan.


Mereka lalu digiring masuk ke dalam pulau Tulang Naga yang dari pantai sini hanya terlihat hutan. Tapi agaknya di tengah sana ada beberapa bangunan yang menjadi markas mereka. Karena dari pantai ini pula, jika sedikit mendongak, maka akan terlihat ujung genteng bangunan terbesar markas Iblis Tiada Banding, yaitu bangunan tempat tinggal ketua mereka.


"Hoaaammm....."


Zhang Qiaofeng menguap ketika cahaya matahari berhasil memaksa kelopak mata indahnya itu untuk terbuka. Begitu mata itu melihat dunia, yang tampak hanya hamparan langit biru dan suara desir angin laut.


"Huh, sudah siang?"


Gadis ini bangkit duduk untuk melihat keadaan sekelilingnya. Dan memang hari sudahlah siang dengan matahari yang cukup terik.


"Kemana semua orang? Sudah pergi? Eh, jam berapa kalian bangun?" gumamnya seraya memandangi kearah dek kapal yang kosong melompong tak ada satu pun manusia. "Aneh..." dia menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


Memang inilah kebiasaan Zhang Qiaofeng, sebenarnya di waktu beginilah dia baru bangun dari tidur nyenyaknya. Entah sudah berapa lama dia kehilangan kebiasaan ini semenjak kehilangan Lin Tian, namun karena tujuan perjalanan kali ini adalah untuk cari hiburan dan melupakan segalanya, maka dia kembali ke kebiasaan lama.


Zhang Qiaofeng menoleh ke arah pulau dan menemukan sebuah genteng bangunan yang tinggi besar. Tak perlu dijelaskan lebih jauh karena Zhang Qiaofeng sudah tahu milik siapa bangunan itu.


"Sepertinya aku harus ke sana." ucapnya sambil melompat turun.


Beberapa saat kemudian, dia sudah memasuki kawasan hutan pulau Tulang Naga yang cukup gelap ini. Pohon-pohon raksasa benar-benar menutup akses jalan sinar matahari untuk menerangi bagian dalam hutan ini. Sehingga Zhang Qiaofeng tak tahu sedang berjalan kearah mana dan hanya asal lurus saja.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba dia mendengar suara mendesis panjang yang datangnya dari tumpukan semak dan atas pohon. Cepat ia menoleh kanan dan kiri untuk menemukan sumber suara, dan tahu-tahu di sekelilingnya sudah mengurung banyak sekali ular berbisa berbagai macam.


"Hei....aku baru masuk dan ini sambutan kalian....?"


Tak paham bahasa manusia, ular-ular itu menerjang dan mencoba membunuh Zhang Qiaofeng yang mereka anggap sebagai ancaman. Tentu saja gadis ini tak bisa dirobohkan hanya dengan beberapa puluh ular itu saja, dengan kepandaiannya, dia berkelit dan menendang lalu memukul kemudian menendang lagi dilanjut pukulan lagi. Beberapa menit setelahnya ular-ular itu mati tak bersisa.


"Aku harus hati-hati, bisa-bisa hewan-hewan ini adalah para penghuni hutan yang bertujuan untuk menghambat orang luar datang. Jika memang benar begitu, maka akan sangat berbahaya jika kita semua menuruti ucapan menteri untuk menyerbu kemari."


Hingga tak berselang lama kemudian, indera pendengarnya menangkap suara-suara banyak orang yang seperti sedang melakukan beberapa pekerjaan. Ada seperti suara menebang kayu, menjatuhkan kayu, teriakan-teriakan, bahkan umpatan kepada bawahan yang dianggap tak becus dalam pekerjaan. Zhang Qiaofeng berpikir jika saat ini dirinya sudah berada dekat sekali dengan kandang lawan, maka ia mulai mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melompat-lompat dari pohon ke pohon.


"Woah, ramai sekali." komentarnya begitu melihat di depan sana ada banyak sekali bangunan megah. Di tengah kumpulan bangunan itu, ada tanah lapang yang luas sekali, dan agaknya suara ribut-ribut itu berasal dari tengah lapangan yang sedang sibuk membangun sebuah panggung besar.


Gadis ini juga terkejut ketika mengetahui bahwa orang-orang yang diambil dari desa pelabuhan itu dijadikan sebagai para pekerja yang membantu membangun panggung.


"Tapi, yah...setidaknya mereka tak dibunuh."


Lalu dari arah dalam bangunan terbesar, keluar beberapa orang yang menggotong sembilan kursi mewah-mewah. Kemudian ada tiga orang yang mengangkat satu kursi lagi yang agaknya paling berat dan paling mewah dan paling megah sekaligus paling diistimewakan.


"Pasti itu milik Sian Yang." gumam Zhang Qiaofeng memandang kursi paling berat dan paling mewah, paling megah, paling diistimewakan itu.

__ADS_1


Sepuluh kursi itu kemudian ditata rapi berjajar memanjang di ujung panggung yang terdapat sebuah tempat sedikit tinggi. Di tempat itulah nantinya para petinggi dan enam pendekar sejati Iblis Tiada Banding menonton.


Tak lama setelah itu, datang lagi beberapa orang yang menggotong sepuluh kursi mewah, tapi tak semewah sepuluh kursi itu. Kursi-kursi ini diletakkan di bawah panggung. Kursi itu digunakan oleh orang-orang dari Hati Iblis dan perkumpulan Pedang Hitam. Dua golongan hitam paling ditakuti.


"Lalu, setelah ini....aku harus apa? Mencoba datang mendekat dan menawarkan jasa? Hem....." dia berpikir sambil mengelus-elus dagunya. Tak lama setelah itu wajahnya memucat.


"Jika aku menawarkan jasa, takutnya bukan untuk disuruh bantu membangun malah disuruh melayani 'jasa' yang lain waktu malam. Hih....lihat-lihat dari sini sajalah."


Zhang Qiaofeng akhirnya memilih sebuah pohon paling tinggi dan paling rimbun untuk dijadikan tenpat bersembunyi sekaligus mengintai. Dia duduk di salah satu dahan pohon besar dekat puncak pohon, tapi walaupun begitu, matanya masih bisa memandang jelas kearah orang-orang yang masih sibuk bekerja itu.


Cukup lama dia duduk di sana sampai melihat panggung besar itu berhasil di dirikan. Di depan panggung besar itu, ada tumpukan kayu yang dibuat menggunung. Tentulah digunakan untuk membuat api unggun besar.


Beberapa jam berlalu dan malam sudah tiba, tempat itu sudah siap untuk digunakan dan dari empat penjuru datang orang-orang Iblis Tiada Banding yang segera duduk seeenaknya membentuk setengah lingkaran di depan panggung itu. Mereka mengelilingi tumpukan kayu yang belum dinyalakan itu.


Sampai sini, akhirnya Zhang Qiaofeng mengetahui bahwa pulau-pulau kecil di sektiar pulau ini juga termasuk bagian dari pulau Tulang Naga. Dari pulau-pulua kecil ini juga berdatangan orang Iblis Tiada Banding yang menggunakan perahu. Diam-diam Zhang Qiaofeng mrerasa kagum dengan markas musuh besar ini.


Tak berselang lama tempat itu menjadi ramai sekali, Gerombolan manusia itu seperti pasukan semut yang mengerubungi gula. Sangat banyak sampai-sampai tanah luas itu tak muat. Rombongan manusia ini ada yang duduk di atas genteng demi menonton acara di panggung itu.


"Terima kasih sudah datang." salah seorang pria berpakaian hitam yang dapat diduga menjadi bagian dari mereka mulai membuka acara. Terdapat pengerahan tenaga dalam di suara itu sehingga terdengar sampai jauh ke luar pulau.


"Dia pasti bukan keroco." gumam Zhang Qiaofeng memberi komentar.


Tak lama setelah itu, dari bangunan terbesar, keluar sepuluh orang dengan sikap agung dan mengintimidasi. Zhang Qiaofeng mengenal mereka sebagai Sian Yang dan kawan-kawannya.


"Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dalam pemilihan ketua ini...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2