Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 271. Kucing-Kucingan


__ADS_3

"Yang Mulia, bolehkan saya melihat keaslian dari tanda pengenal dan pedang itu?" Zhang Qiaofeng cepat menjura kepada kaisar untuk mengutarakan keinginannya.


"Ah, silahkan."


Tangan Zhang Qiaofeng lekas terulur untuk menerima uluran kedua benda itu. Ia pandangi baik-baik mulai dari tanda pengenal keluarga Zhang. Beberapa saat berlalu dan dia menemukan fakta bahwa tidak ada satu pun tanda kepalsuan di sana.


Lalu gadis ini beralih ke Pedang Dewi Salju dan mencabutnya dari gagang pedang. Sinar-sinar putih kebiruan nampak jelas begitu bilahnya nampak. Saat ini, semua orang terbengong memandangi pedang yang sejatinya berbahan utama kristal itu. Tak ada yang bisa berkata-kata saking indah dan cantiknya Pedang Dewi Salju.


"Ini semua asli..." gumam Zhang Qiaofeng seperti kepada diri sendiri, namun dapat didengar oleh semuanya.


"Benarkah itu asli nona?" kini kaisar bertanya memastikan.


"Ini asli Yang Mulia, saya sangat mengenal dengan pedangnya ini!"


Kaisar bangkit berdiri dan berbalik, menghadapi seluruh pasukannya dan berkata lantang. "Perjalanan kita percepat! Pendekar Hantu Kabut dalam bahaya!! Pasti ada sesuatu di bibir pantai!"


Sejak saat itu, pasukan ribuan orang ini melakukan perjalanan dengan sedikit mempercepat langkah dan lari kuda mereka. Untuk para pasukan tak berkuda, mereka ini akan bergantian kuda dengan kawannya yang berkuda.


"Lin Tian, benarkah itu dirimu?"


...****************...


"Ah....mereka sudah datang? Bagus...bagus..."


Setelah satu hari semenjak kepergian Xin Kiu, Lin Tian dapat melihat kapal-kapal besar milik pasukan Iblis Tiada Banding yang mulai mendekat ke daratan. Tapi walaupun begitu, seolah tak ada rasa takut di wajah pemuda ini, dia nampak masih tenang-tenang saja seolah kedatangan Iblis Tiada Banding bukanlah suatu hal spesial.


"Kau sombong ya...ingin menghadapi ribuan orang itu seorang diri? Heheh...mimpi!"


Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sudah cukup familiar di telinga Lin Tian. Kemudian tahu-tahu di sebelahnya sudah berdiri kakek sepuh yang seluruh tubuhnya ditutupi dengan kain putih sederhana, yang cara pakainya hanya dilibat-libatkan ke tubuh.


Rambutnya panjang dan putih, begitu pula dengan rambut wajahnya berupa alis dan jenggot, semuanya sudah putih. Begitu datang, mulutnya menyeringai dan terkekeh-kekeh.


"Kakek Kang Lim, kenapa pula kau tiba-tiba datang kemari? Ada urusan apakah?" Lin Tian bertanya sambil melirik kepada seorang yang sudah berada di sampingnya itu.


Kakek sepuh yang tak lain adalah sahabat Lin Tian bernama Kang Lim itu, kembali terkekeh dan malah ikut duduk bersila di samping pemuda itu.

__ADS_1


"Heheh...hanya lewat."


"Alasan konyol macam apa itu? Mana ada orang lewat hutan belantara ini? Bukankah lebih enak lewat jalan itu." Lin Tian menunjuk ke jalan setapak yang ada di samping desa.


"Hahah...mau lewat hutan, lewat air, lewat bawah tanah atau lewat langit, itu terserah kakiku yang melangkah!"


"Pendekar sejati sangatlah aneh!"


Padahal Lin Tian juga sama anehnya. Normalnya, seharusnya dia bisa menunggu pasukan Iblis Tiada Banding di desa yang sudah kosong itu. Dengan begitu dia bahkan bisa tidur di atas kasur empuk.


Tapi dia dengan aneh malah menunggu dengan duduk di dalam hutan di tanah yang sedikit tinggi ini. Bagaimana tidak bisa disebut aneh?


Beberapa waktu berlalu dan pasukan Iblis Tiada Banding mencapai bibir pantai. Berturut-turut, para pasukan melompat turun dari perahu atau kapal masing-masing. Kemudian dalam sekali perintah, mereka memasang berbagai jebakan di jarak kurang lebih dua kilo dari pantai. Itulah jebakan-jebakan untuk menyambut para pasukan pemerintah.


"Diam di sini bikin bosan, mau merusuh?" Kang Lim bicara sambil menguap lebar.


"Aku pun hanya mengantuk kalau melihat. Baiklah, ayo kita main-main." balas Lin Tian yang juga kelihatan ngantuk.


Tapi walaupun dua orang ini nampak ngantuk dan tidak ada semangat. Tapi sedetik kemudian setelah ucapan itu selesai, tubuh mereka lenyap dari sana.


"Ahhhh!"


"Apa itu? Siapa?" para pasukan menjadi panik dan gelagapan. Belum juga reda rasa panik itu, mereka melihat ada bayangan putih dan hitam yang berkelebatan dan menebar maut di sana-sini.


Saat orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian, mereka mampu melihat bahwasannya bayangan hitam adalah bekas pengawal ketua mereka, Lin Tian!


"Itu Lin Tian!!" seru salah seorang dari mereka.


Segera rasa merinding karena ngeri memasuki tubuh mereka. Bagaimana pun juga, sebenci apa pun juga mereka terhadap Lin Tian, tapi diujung hati masing-masing sebenarnya tidak ada secuil pun harapan atau cita-cita untuk membunuh pendekar itu. Mereka semua terlalu pengecut untuk menghadapi Pendekar Hantu Kabut.


Lin Tian pun mendengar teriakan ini, maka dia meloncat ke sumber suara dan langsung merobohkan orang itu dengan tendangan kearah batok kepala. Sedetik kemudian kepalanya remuk.


"Waahhh!"


"Dia datang!!"

__ADS_1


Orang-orang berseru kaget dan tak ada pilihan untuk menyerang. Maka sebentar saja Lin Tian sudah terkurung oleh penyerangan puluhan orang dan harus menerima hujan senjata yang bertubi-tubi.


"Hyaaaatt!"


"Dess–dess–dess!"


Teriakan yang berasal dari kerongkongan dan penuh tenaga dalam ini mampu membuat mereka lemas seperti tak bertenaga. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Lin Tian untuk mengirimkan tembakan tenaga dalam yang luar biasa ampuh dan dinginnya. Tiga kali terdengar teriakan menyanyat saat tiga tubuh anggota Iblis Tiada Banding roboh tewas.


Di lain pihak, Kang Lim juga mengamuk tak kalah hebatnya. Dia menebar maut di sana-sini dengan hebatnya. Setiap kali tangan atau kakinya bergerak, tentu setidaknya tiga orang yang roboh terpelanting sebelum tewas seketika.


Dua orang ini hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam saja, sudah mampu meratakan ratusan orang banyaknya. Tentu saja jumlah pasukan yang masih ribuan itu tak berani main gila dengan menyerahkan nyawa cuma-cuma. Mereka hanya main mundur dan lari jika ada kesempatan memungkinkan.


Kang Lim dan Lin Tian tak membiarkan hal ini terjadi. Setiap kali ada orang mundur, mereka akan terus mengejar dan menurunkan tangan maut kepadanya. Terus seperti itu sampai jumlah pasukan berkurang lebih dari seratus lima puluh orang.


Tiba-tiba di arah belakang pasukan, terdengar sorak-sorai gegap gembita yang meramaikan suasana. Lin Tian dan Kang Lim mampu melihat jika yang baru datang ini adalah A Jiu.


"Hehe...Lin Tian, ayo main kucing-kucingan!"


"Apa!? Kita bisa membunuhnya dengan mudah!"


"Goblok! Di tengah lautan manusia ini, kalau kita sampai dikeroyok, memang bisa apa!?" hardik Kang Lim sambil mengemplang kepala Lin Tian dengan sebatang kayu.


"Ayo kita main-main!" ujarnya lagi dan melompat pergi.


Lin Tian tak ada pilihan lain selain menurutinya. Maka dia juga melompat ke sisi sebaliknya dari Kang Lim tadi untuk menjauhi A Jiu.


Hal ini sungguh menguntungkan, karena selain dapat membingungkan A Jiu, mereka berdua juga mampu menebar maut di tempat-tempat berbeda.


Jika Kang Lim di sayap kiri, maka Lin Tian di sayap kanan. Jika A Jiu datang ke salah satu dari tempat mereka, maka dengan sigap Lin Tian atau Kang Lim berpindah posisi yang paling jauh dari tempat A Jiu.


Kang Lim dan Lin Tian melakukan ini dengan tawa yang terus terdengar. Seolah mengejek Iblis Tiada Banding yang sudah kepayahan mengurusi dua orang saja.


"Bangsat!" umpat A Jiu keras.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2