Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 96. Kelembutan Hati


__ADS_3

Suara bentakan itu terdengar amat mengerikan, seperti suara setan saja, menggema dan penuh getaran mencekam. Maka ketika teriakan ini terdengar, seketika perang pun berhenti dan semua orang memandang seseorang yang baru datang itu.


Ternyata orang itu adalah seorang gadis cantik yang memakai jubah warna biru muda dan sebuah caping lebar. Di kanan kirinya, terdapat dua orang pendekar. Yang satu tua dan satunya lagi memakai topeng putih.


"Siapa kau!!" bentak Xiao Li.


"Aku Zhang Qiaofeng!! Pemimpin keluarga Zhang saat ini!! Hentikan perang ini! Semua ini hanyalah salah paham!!" balas Zhang Qiaofeng tegas.


Tak berselang lama, dari kejauhan nampak dua rombongan pasukan besar. Masing-masing membawa sebuah panji perang. Satu rombongan bertuliskan "Zhang" sedangkan rombongan lain bertuliskan "Xiao"


"Kenapa mereka pulang bersama?" gumam Hao Yu kebingungan.


"Aku sudah tahu duduk permasalahannya, sekarang dengarkan! Zhang Heng bukan lagi bagian dari keluarga kami, dia adalah pengkhianat yang telah menghancurkan keluarga Zhang kami!!" kembali Zhang Qiaofeng berkata tegas dan berwibawa.


"Apa buktinya!??" tanya Xiao Li membentak.


"Aku punya bukti!!" kali ini Lin Tian menjawab.


"Katakan!!"


Setelah itu, pemuda ini maju selangkah kemudian menjawab, "Anda pasti ingat, dahulu di Kota Batu, tepatnya di Pandai Besi Selatan. Ada serombongan orang yang hendak menghancurkan toko itu. Apa anda tahu siapa yang telah menyerang mereka?"


"Menurut laporan prajurit kota, mereka dipimpin oleh pendekar bertopeng putih dan pendekar topeng merah!!" sahut Xiao Li.


"Tepat sekali!! Dan akan kuberitahu, bahwa seorang bertopeng putih itulah Zhang Heng dan seorang bertopeng merah itu bernama Ling Haocun, seorang diantara delapan Pilar Neraka!!"


Semua pasukan nampak terkejut, tak terkecuali Xiao Li. Namun pria itu agaknya belum menyerah, maka segera dia menjawab, "Heh, apa buktinya? Itu tak bisa dijadikan bukti bocah!!"


"Lalu apa yang bisa membuatmu percaya orang tua!!" kali ini Lin Tian sudah kehilangan kesabaran dan kehilangan sopan santunnya.


"Kalahkan pasukan kami dan kelak kami akan percaya dengan keluarga Zhang!!" balas Xiao Li.


"Dasar orang sombong!! Apa kau lupa betapa dahulu aku mampu untuk mengalahkanmu hanya dalam sekali totokan, jika waktu itu bukan sedang diuji, tentu sudah berlubang lehermu itu!!" bentak Lin Tian.


"Dan apa kau berpikir keluarga Xiao mampu mengalahkan kami!? Apa kau lupa bahwa di sini ada Pendekar Hantu Kabut dan Kakek Lengan Sakti yang telah melahirkan peristiwa Runtuhnya Tongkat Budiman!? Apa kau lupa pula jika Sastrawan Sakti si pendekar jenius memihak kami? Dan apa kalian juga belum tahu bahwa Asosiasi Gagak Surgawi juga berdiri di samping kami!?" jawab Lin Tian berapi-api sampai lupa dia telah membocorkan rahasia. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.


Mendengar penuturan ini, seketika nyali pasukan Xiao itu ciut seketika. Tanpa sadar, kaki dan tangan mereka sudah menggigil ketakutan.

__ADS_1


"Kalau semua pasukan dan tetua kalian bawa kemari, aku memang meragukan atas kemenangan keluarga Zhang. Tapi hanya lima ratus orang dengan di tambah beberapa tetua dan Hao Yu, kalian pikir kami akan mampu diinjak-injak begitu saja? Dan untuk Tuan Xiao Li, apa yang hendak kalian semua lakukan jika kepalanya itu aku angkat tinggi-tinggi dengan pedangku hah!?" kembali Lin Tian membentak.


Sebelumnya keadaan yang sudah hening itu, menjadi tambah hening dan menegangkan. Istri dan anak Xiao Li yang melihat dari dalam kereta kuda itu pun hanya mampu diam gemetaran.


Bukan main, pikir Minghao. Pasalnya pemuda ini secara tidak langsung telah mengajukan perang dengan keluarga Xiao. Dan jika memang perang itu benar-benar pecah, tentu keluarga Zhang akan menjadi pihak kalah.


"Hayo menjawablah!! Masih menganggap kami pengkhianat!? Hei dasar orang-orang tolol! Asal kalian tahu, sebenarnya yang menjadi pengkhianat duluan adalah kalian sendiri keluarga Xiao!!" Lin Tian melanjutkan ucapannya.


Mendengar ini, para pasukan Xiao itu makin dibuat bingung dan kaget. Begitu pula Xiao Li sendiri yang lekas bertanya, "Apa maksudmu?"


"Dengar, apa kau tahu Xiao Fu, seorang diantara anggota keluarga kalian? Sekitar satu tahun lalu, dia itu telah menjadi anjing-anjingnya Aliansi Golongan Hitam!! Bahkan dia jugalah yang telah menangkap Nona Zhang dan Nona Lu! Nah, sekarang sudah jelas siapa yang hendak mencari ribut duluan!" jelas Lin Tian.


Makin terkejutlah semua pasukan Xiao dan keadaan yang sebelumnya hening, menjadi ricuh dan berisik. Sedangkan Xiao Li sendiri, wajahnya berupah pucat sekali, begitu pula dengan anak istrinya yang ikut mendengar pernyataan itu.


"Ada apa Tuan Xiao, kau hendak membantah? Apa kau ingat dia? Mungkin memang benar jika waktu itu kalian sama sekali belum mengenal akan Nona Zhang, dan mungkin baru kali inilah kalian melihat wajah Nona. Akan tetapi, Aliansi Golongan Hitam adalah musuh terbesar kami! Jika kalian anggap tindakan Zhang Heng si pengkhianat itu masih ada sangkut pautnya dengan kami, maka akan kami kembalikan sikap kalian! Xiao Fu itu walau sudah meninggalkan keluarganya, akan tetapi akan kami anggap masih tetap keluarga kalian dan kalian harus menebus perbuatannya!!" kata Lin Tian tegas dan penuh intimidasi.


Memang Lin Tian telah mengetahui akan tindakan Zhang Heng yang hampir memperkosa Nona Xiao Lian dari panglima keluarga Xiao. Karena itulah dia berani untuk berkata seperti itu.


"Xiao Fu...kau bilang Xiao Fu? Dia...menangkap Nona Zhang?" kata Xiao Li tergagap.


"Scrriingg!!" Lin Tian sudah menacabut pedangnya yang memancarkan sinar putih kebiruan.


Melihat betapa pengawal pribadi itu sudah siap dengan senjatanya, maka seretak seluruh pasukan Zhang juga segera mencabut senjata masing-masing.


Namun sebelum kedua pasukan itu kembali bentrok, Xiao Li mengangkat tangannya. "Cukup hentikan, aku percaya apa yang diucapkan Lin Tian." demikian dia berkata kepada para prajuritnya.


Melihat ini, Lin Tian juga segera menyarungkan kembali Pedang Dewi Saljunya. Namun matanya masih awas dan memandang tajam.


"Ah...Xiao Fu, mengapa kau menjadi seperti itu..." kembali Xiao Li bergumam. Detik berikutnya, pria ini sudah jatuh terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Ayah!!"


"Suamiku!!"


Melihat keadaan Xiao Li, serempak istri dan anak-anaknya segera menghampiri. Mereka memeluk pria itu berusaha menenangkannya. Sedangkan Hao Yu hanya mampu terdiam.


"Maafkan aku...maafkan aku yang bodoh ini karena tidak bisa melihat kenyataan. Agaknya kita ini telah dipermainkan lawan. Mereka sengaja menggunakan Zhang Heng agar keluarga Xiao menghancurkan keluarga Zhang. Maafkan aku..." hanya itulah kalimat yang mampu diucapkan oleh Xiao Li.

__ADS_1


Namun tentu saja, penyesalan tidak berarti apa-apa. Dikedua belah pihak, sudah gugur puluhan prajurit dalam perang saudara ini. Sebuah perang yang disebabkan oleh salah paham dan pendeknya jalan pikiran pemimpin keluarga Xiao itu.


Mendengar permohonan maaf Xiao Li ini, Lin Tian hanya mendecih dan berjalan ke samping Nona mudanya. Sungguh pun dia masih penasaran tentang diri Xiao Fu itu yang bisa membuat keluarga pemimpin itu terlihat amat berduka.


"Nah, sekarang sudah jelas masalahnya, lebih baik kita hentikan ini dan mengurus semua mayat-mayat para prajurit." ucap Zhang Qiaofeng sembari memerintahkan para pasukannya untuk membereskan mayat-mayat itu.


Namun tiba-tiba sekali, Hao Yu berjalan menghampiri Lu Jia Li yang masih terduduk lemas.


"Kau mau apa!?" tanya Lu Tuoli dingin.


Akan tetapi kejadian berikutnya membuat semua orang tercengang atas perbuatan pengawal Nona Xiao itu. Pasalnya, begitu pertanyaan ini berhenti, Hao Yu segera mencabut goloknya dan...


"Craaatt!!"


"Apa yang kau lakukan!!" bentak Xiao Li yang terkejut melihat tindakan pengawalnya. Begitu pula dengan anak istri beserta seluruh pasukan.


Darah segar menetes-netes dari goloknya. Bukan darah siapa-siapa, namun itu adalah darahnya sendiri!! Darah yang berasal dari mata kanannya yang sengaja ia tebas dengan golok tersebut.


Setelah itu, dengan kondisi mata yang masih bercucuran darah, pria ini menjatuhkan golonya dan bersujud di depan kaki Lu Jia Li sambil berkata tegas.


"Maafkan aku yang telah bertindak kejam Nona Lu." hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Namun terdengar sangat jelas.


Lu Jia Li sejenak terkejut dan mengerjapkan mata beberapa kali. Kemudian gadis ini mengambil buku kecilnya, lalu menuliskan sesuatu dengan tangan yang agak gemetar, karena kondisinya memang masih lemah. Setelah itu, disertai senyum penuh kesabaran, dia memegang punggung tangan Hao Yu dengan lembut seraya memperlihatkan tulisannya kepada lelaki tersebut.


"Ini semua hanyalah salah paham. Andai kata kau tak membutakan mata kananmu, aku sudah memaafkanmu tanpa perlu kau meminta maaf. Sekarang bangunlah, tidak pantas rasanya jika seorang laki-laki sejati seperti engkau harus bersujud di bawah kaki gadis lemah sepertiku."


Hao Yu yang membaca tulisan ini menjadi terharu. Bukan hanya karena maksud dan isi tulisan itu, namun juga tentang gadis tersebut. Jika gadis ini berkomunikasi dengannya menggunakan sebuah buku dan rangkaian kalimat, itu artinya dia tak bisa bicara! Demikianlah pikirnya.


Maka secara perlahan, Hao Yu bangkit duduk dan memandang wajah jelita yang masih tersenyum-senyum itu. Kemudian berkata gugup, "Kau...kau...tak bisa bicara?"


Lu Jia Li masih tersenyum, dan hanya anggukan kecil sajalah yang menjadi jawaban. Maka dengan hati penuh penyesalan, Hao Yu kembali bersujud di hadapan Lu Jia Li. Bahkan kali ini dia menyodorkan goloknya dengan kedua tangan kearah Lu Jia Li.


"Maafkan aku!! Maafkan aku Nona Lu!! Ini ambilah, ambil golok ini dan penggal kepalaku jika memang hanya itulah satu-satunya cara untukmu agar bisa memaafkanku!" ucapnya tegas.


Namun, gadis yang mata kanannya masih mengucurkan darah itu hanya tersenyum dan mengambil golok itu. Memasukkannya ke sarung golok yang berada di punggung, kemudian kembali menyodorkan tulisannya. Namun kali ini dia melingkari pada kata "Aku sudah memaafkanmu".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2