Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 46. Saudara


__ADS_3

Malam hari itu, sesuai yang dijanjikan, Lin Tian datang ke rumah Hu Tao untuk menenuhi undangan makan malam tersebut.


"Haha...Lin Tian akhirnya kau datang juga!!" sapa Hu Tao di depan pintu gerbang. Ternyata pemuda ini sudah menunggu kedatangan Lin Tian dan ingin menyambut langsung saudaranya itu.


"Kau sidah menunggu daritadi?" tanya Lin Tian yang heran kepada Hu Tao karena masih mau menyempatkan diri memyambutnya di pintu gerbang.


"Ya, sudah cukup lama aku berdiri di sini. Tapi tak apalah, sekarang mari!!" jawabnya.


Lin Tian mengikuti langkah pemuda itu dari belakang. Ternyata dia tidak di bawa ke rumahnya, akan tetapi di bawa menuju sungai kecil di hutan kecil sebelah kediaman keluarga Hu.


"Baiklah, kau tunggu di sini. Aku akan minta kepada para pelayan untuk mengantarkan makanan dan arak kita."


"Aku tak minum arak." jawab Lin Tian yang berhasil menghentikan langkah Hu Tao.


"Oh...lalu kau mau minum apa?"


"Terserah, asalkan jangan arak."


"Baiklah, tunggu sebentar." ucap Hu Tao yang kemudian sudah berlari cepat menuju rumahnya.


"Hah...kenapa tidak di siapkan daritadi?" gumam Lin Tian heran akan kelakuan Hu Tao.


...****************...


Lin Tian memandang lekat-lekat kearah aliran air sungai itu. Terlihat di sana pantulan wajahnya yang remang-remang karena kegelapan malam. Memang saat ini Lin Tian sudah melepas topengnya.


Aliran sungai itu tidak terlalu deras, akan tetapi agaknya cukup dalam. Sesekali terlihat ikan-ikan kecil yang lewat di depannya.


Lin Tian memandang itu semua dari tempat duduknya dengan tatapan datar.


Aliran sungai yang tenang itu seolah memutar kembali memori tentang masa lalunya. Keluarga Zhang, misteri kepergian Zhang Heng, keluarga Xiao, keluarga Hu dan...Zhang Qiaofeng, perempuan yang selalu menjadi tujuannya selama ini. Semua ingatan itu seakan-akan tergambar jelas di permukaan aliran sungai yang tenang.


Kemudian, tiba-tiba dia teringat dengan pesan Yin Yin, "Tapi, saya pernah mendengar jika mereka mendirikan markas-markas rahasia di desa-desa atau tempat terpencil. Saya juga pernah mendengar asosiasi ini memiliki markas di desa Tanah Hujan yang letaknya jauh di selatan sana."


"...Saya juga pernah mendengar asosiasi ini memiliki markas di desa Tanah Hujan yang letaknya jauh di selatan sana..."


"...Tanah Hujan..."


"...Tanah Hujan..."


Itulah kata-kata yang terngiang di kepala Lin Tian.


"Tanah Hujan ya..." gumamnya perlahan.


"Sebarapa jauh desa itu dari sini?"


"Maaf memnuatmu menunggu Lin Tian!!" tiba-tiba terdengar suara Hu Tao yang berseru keras dari belakangnya. Di kanan kirinya terdapat dua gadis pelayan yang sudah membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Refleks Lin Tian membalikkan muka dan hanya menjawab singkat, "Oh..."


"..."

__ADS_1


"..."


"Ada apa dengan kalian?" Lin Tian bertanya heran kepada mereka bertiga yang berdiri kaku memandanginya.


Tiba-tiba, tubuh pelayan di sebelah kanan Hu Tao bergetar dan hampir jatuh jika dirinya tidak mampu menjaga keseimbangan.


"Siapa...kau?" tanya Hu Tao.


"Hah...?" Lin Tian mengerutkan kening tanda heran.


Sedetik kemudian dia teringat, ternyata selama ini Hu Tao sama sekali belum pernah melihat wajah aslinya, jadi wajar jika pemuda itu terkejut. Tapi Lin Tian heran, mengapa hanya dengan melihat wajahnya saja mampu membuat ketiga orang itu terpaku?


Hu Tao yang melihat ada sebuah topeng di pangkuan Lin Tian tiba-tiba langsung bertanya, "Kau...Lin Tian?"


"Kau pikir siapa?" tanya Lin Tian dengan nada sedikti kesal.


"Pe-pemimpin ini..." kata gadis di sebelah kiri yang sudah memejamakan matanya dan dengan tubuh gemetar. Dia sudah tidak kuat untuk menahan getaran tubuhnya sehingga nampan berisi minuman itu hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh Hu Tao.


Setelah mengambil minuman dari tangan pelayannya, celat Hu Tao meletakkan nampan itu di dekat Lin Tian duduk. Sedetik kemudian, pelayan itu sudah jatuh terduduk dengan nafas terengah-engah.


Begitupula dengan pelayan yang satunya, dia malah sudah pingsan begitu nampan yang berisi makanan di tangannya diambil oleh Hu Tao.


"Lin Tian...kau sungguh berbahaya!!" ucap Hu Tao perlahan seraya memandang tajam kearah saudaranya.


"Hah?" Lin Tian yang masih belum paham hanya mampu mengeryitkan kening dengan heran.


...****************...


"Maksudmu?"


"Maksudku, kau itu siapa, darimana asalmu dan untuk apa kau menjadi pendekar?" Hu Tao memperjelas pertanyaannya.


Lin Tian kemudian menatap air sungai itu, menikmati gambar pantulan bulan dan bintang-bintang yang ada di air tersebut. Kemudian dia berkata,


"Aku berasal dari wilayah Utara daratan. Dahulu, aku hidup di sebuah desa kecil yang mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. Tapi, desa itu beserta kedua orang tuaku lenyap setelah diserbu oleh segerombolan bandit."


Hu Tao hanya diam, memperhatikan.


"Kemudian, aku di temukan oleh seseorang yang berasal dari sebuah keluarga bangsawan dan aku menjadi pembantu di keluarga itu. Singkat cerita, setelah beberapa waktu, aku diangkat menjadi pengawal pribadi Nona muda mereka." jelas Lin Tian.


Sampai di sini, Hu Tao menampakkan ekspresi terkejut, lalu berkata dengan sedikit berteriak, "Apa? Kau seorang pengawal!!?? Tak mungkin, jangan kau membohong Lin Tian!! Orang sekuat kau ini mana mungkin menjadi seorang pengawal!? Kalau kau menjadi tunangan Nona muda itu baru aku akan percaya!"


Lin Tian melirik sejenak kearah pemuda albino itu. Kemudian dia menyeruput teh hijaunya, lalu berkata, "Heh, aku kuat? Aku...? Kau salah besar Hu Tao, jika aku kuat, tak mungkin keluarga bangsawan yang sudah kuanggap sebagai rumah itu ikut pula lenyap akibat gempuran pendekar golongan hitam." jawabnya seraya tersenyum pahit.


"Kau tahu...aku tidak bisa melakukan apa-apa waktu itu." lanjutnya.


"Hah...keluarga barumu juga telah lenyap?" Hu Tao memandang tak percaya.


"Ya...hanya menyisakan aku dan Nona muda yang sebetulnya belum bisa kupastikan apakah dia masih hidup atau tidak. Dan selama ini aku masih berusaha mencarinya."


Terjadi keheningan yang cukup lama setelah itu. Hanya terdengar gemericik air dan suara jangkrik yang sedang bernyanyi untuk mengisi kesunyian malam.

__ADS_1


"Lalu...kenapa kau pergi ke Selatan?" akhirnya Hu Tao bertanya.


"Kami menganggap jika di Selatan adalah tempat yang paling aman bagi kami. Kami pikir, dengan datang ke wilayah Selatan ini, para musuh tidak akan mampu menemukan keberadaan kami. Tapi..." ucapannya tiba-tiba berhenti.


"Tapi?"


"Tapi, kurang lebih satu minggu yang lalu, aku menemukan fakta bahwa para penyerang yang dahulu menyerbu keluargaku itu berasal dari Aliansi Golongan Hitam. Tahulah aku bahwa sekarang ini tidak ada satupun tempat yang aman bagiku dan Nona muda." terlihat sedikit kesedihan di wajah yang biasanya selalu datar itu.


"Bagaimana kau tahu jika mereka berasal dari Aliansi Golongan Hitam?"


"Ketika aku berada di Kota Batu, aku bertempur dengan beberapa orang dari mereka. Dan jika kuperhatikan, ilmu silat mereka sama persis seperti para penyerang keluargaku waktu itu. Juga, mereka ini adalah anak buah dua pendekar topeng merah dan topeng putih. Sekarang aku curiga, jika dalang dari kehancuran keluargaku adalah mereka berdua." jawab Lin Tian


"Begitu ya..." ucap Hu Tao seraya menghela nafas.


Setelah itu kembali terjadi keheningan antara mereka berdua. Hanya sesekali terdengar suara cawan yang ditaruh di atas nampan setelah diminum oleh pemiliknya. Mereka tenggelam di pikiran masing-masing.


"Hu Tao." panggil Lin Tian mengejutkan pemimpin muda itu.


"Ya?"


"Seperti yang kuceritakan, hanya ada dua orang saja yang berhasil selamat dari penyerbuan itu, yaitu aku dan Nona muda. Di masa depan nanti, dapat dipastikan bahwa kami berdua akan membutuhkan bantuan dari pihak ketiga untuk membangun kembali keluarga kami. Jika kau berkenan, maukah kau membantuku dan Nona muda untuk kembali bangkit seperti dulu?" tanya Lin Tian serius.


Hu Tao sedikit terkejut mendengar hal ini. Dia tidak terkejut akan permintaan itu, akan tetapi dia terkejut dengan diri Lin Tian. Ternyata, setelah berpisah dengan Nona mudanya, pemda itu sama sekali tidak berniat untuk berkhianat!!


Padahal jika Lin Tian mau, dia bisa saja meminta bantuannya dan mengangkat diri sendiri sebagai pemimpin keluarga yang baru tanpa harus menunggu kedatangan Nona mudanya. Akan tetapi, pemuda itu ternyata lebih memilih untuk mencari sang Nona muda dan akan membangun keluarga bersama. Sungguh pengawal yang hebat!! pikir Hu Tao.


Lalu Hu Tao merangkul pundak Lin Tian dan berkata semangat, "Kau telah menyelamatkan keluarga ini, kau telah mampu mengusir kedua setan itu pergi, kau adalah saudaraku!! Tenang saja aku akan selalu membantumu kapan pun kau butuh!!"


Lin Tian sedikit terharu mendengar pernyataan ini.


"Hu Tao, kenapa kau begitu mempercayaiku? Waktu pertama kali bertemu, apa kau tidak berpikir bahwa aku sedang memanfaatkanmu untuk mengambil alih kursi pemimpin keluarga Hu?" tanya Lin Tian.


"Haha...Sebenarnya, selama ayah berubah, aku sudah bosan hidup dan hanya hidup untuk menunggu mati. Jadi waktu kau datang aku sama sekali tidak peduli kau itu orang baik atau jahat. Yang kupikirkan hanyalah, bahwa aku harus bisa mengembalikan keluarga Hu seperti dulu. Dan andaikata kau berkhianat, aku akan memilih mati ditanganmu untuk mengakhiri semua penderitaan hidup!!" jelas Hu Tao.


"Tetapi kenyataannya, kau bahkan hampir mati saat melawan topeng merah, dan dalam keadaan seperti itu, kau masih sempat membantuku untuk menghadapi topeng putih. Sejak saat itulah, aku memutuskan jika kau ingin mengambil kursi pemimpin, akan aku serahkan dengan sukarela."


"Namun kenyataan kembali mengejutkanku, kau sama sekali tidak mengatakan padaku bahwa kau ingin menjadi pemimpin keluarga ini. Tapi malah kau sendiri yang mendesakku untuk segera menjadi pemimpin dan membersihkann para pengkhianat pengikut ayah. Jika sudah seperti itu, bagaimana aku tak bisa mempercayaimu? Hahaha..."


"Kita memang baru kenal, dan aku tidak tahu kau ini orang baik atau bukan. Akan tetapi, aku berjanji akan selalu menjadi saudaramu!! Budimu terhadap keluarga Hu terlalu besar, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikan ini." jelas Hu Tao mengakhiri ucapannya.


"Begitu ya? Kalau begitu terima kasih." ucap Lin Tian seraya tersenyum.


"Tapi Lin Tian, apa nama keluarga Nona mu itu?" tanya Hu Tao dengan ekspresi bingung. Tak mungkin juga dia membantu keluarga yang bahkan dia sendiri tidak mengetahui namanya.


Senyum Lin Tian semakin lebar, kemudian menjawab.


"Keluarga Zhang!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2