
Setelah kemarin menyuruh Chan Fan mengirim seorang utusan untuk mengirim surat kepada keluarga Chen, tak lama setelah itu Sian Yang kedatangan salah seorang anak buahnya. Dia berkata bahwasannya saat itu rombongan keluarga Hu sedang dalam perjalanan pulang menuju Kota Sungai Putih.
Dan saat ini, Sian Yang bersama Chan Fan juga Naga Emas, sedang duduk-duduk di ruang depan. Mereka sedang membahas rencana ke depan untuk menindaklanjuti keluarga Hu.
"Haha...keluarga Hu sudah berpisah dengan keluarga Zhang, sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk melenyapkan satu ancaman itu!"
"Ketua, kita akan langsung menyerbu?" tanya Naga Emas.
"Tentu saja, cukup dengan kita sendiri yang menyerang, puluhan orang keluarga Hu yang sudah terluka itu bisa apakah!?" jawab Sian Yang penuh semangat.
"Kalau begitu, kapan kita akan berangkat?" Chan Fan bertaanya.
"Sekarang! Lebih cepat lebih baik! Hehe...kita juga akan mengirimkan hadiah kepada keluarga Zhang di saat kita menyerbu ke sana!"
Setelah itu Sian Yang memanggil seorang anak buahnya, mengatakan padanya jika pada hari ke lima belas bulan ini, dia memerintahkan agar pasukannya sudah siap sedia di pegunungan dekat kota raja.
"Baik ketua, akan saya laksanakan perintah anda!" demikan jawab orang tersebut yang segera pergi.
"Nah...setelah kita berhasil mengambil kepala si Hu Tao itu, kita akan langsung menyerbu keluarga Zhang sesuai rencana. Hahaha...sekali dayung dua tiga pulau terlewati, pemimpin keluarga Hu akan mati, keluarga Zhang pun sebentar lagi akan tamat riwayatnya! Yah walau pun aku ragu kita bisa langsung menghancurkan mereka dalam sekali serang, tetapi agaknya kita masih mampu membuat keonaran di sana." seru Sian Yang.
Chan Fan mengangguk kemudian menjawab, "Benar ketua, akan tetapi perlu diingat bahwa ketika menyerang keluarga Zhang, harus disaat Lin Tian sedang tidak berada di kediaman. Karena tentu dia akan menjadi lawan tangguh."
"Dan agaknya keberuntungan sedang berada di pihak kita. Buktinya, sampai sekarang kita tahu bahwa Lin Tian belum sampai ke kediaman Zhang, malah kabar terakhir yang kita dengar, dia baru saja keluar dari markas Perkumpulan Bunga Teratai. Bukankah ini kabar baik? Karena itulah, ayo lekas pergi!" Sian Yang bangkit dan segera berjalan meninggalkan ruangan. Melihat ini, Chan Fan dan Naga Emas segera mengikut.
...****************...
Tiga puluh pasukan keluarga Hu itu melakukan perjalanan pulang dengan seenaknya. Tidak cepat-cepat untuk sampai karena memang mereka sedang tidak buru-buru.
Contohnya seperti siang hari ini, ketika mereka mendaki sebuah puncak bukit, sambil berjalan mereka juga menikmati pemandangan sekitar. Lagipula di sana terdapat banyak sekali pohon tinggi, sehingga membuat mereka merasa sejuk karena terlindung dari sinar matahari.
__ADS_1
Akan tetapi begitu hampir tiba di puncak, Hu Tao mengerutkan keningnya. Firasatnya mengatakan jika sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Semuanya berhenti dan waspada!!" serunya dengan tiba-tiba sehingga mengejutkan semua orang.
"Pemimpin, ada apa?" tanya tetua ketiga heran.
"Lakukan saja!!"
Masih dengan kebingungan, mereka lalu mencabut senjata masing-masing. Menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari-cari jika seandainya terdapat bahaya. Akan tetapi mereka tak menemukan apa-apa.
Hingga beberapa menit kemudian, dari barisan paling belakang, terdengar suara teriakan nyaring.
"Aakhh!!"
Begitu mereka semua menengok, kiranya orang tersebut sudah menjadi mayat. Lalu tak lama setelah itu, terdengar pekik mengerikan di sebelah depan, di sebelah kanan dan kiri, lalu di belakang lagi, terus berulang seperti itu hingga yang tersisa hanyalah Hu Tao seorang.
"Keparat!! Keluar kalian!!" Hu Tao membentak, sedikit banyak jeri juga dia karena tadi matanya yang tajam berhasil menangkap kelebatan tiga bayangan orang.
"Trang-Trang!!"
Bunga api berpijar ketika pemuda itu menangkis dua kali serangan lawan. Begitu melihat lebih teliti, tertanya yang menyerangnya itu adalah Naga Emas!! Dengan pakaian yang juga serba emas, agaknya dia sudah memiliki pakaian baru.
"Kau!! Mau apa lagi kau!!?"
Bentakan Hu Tao ini tak dijawab, melainkan secara tiba-tiba, terdengar angin bercuitan dari kanan kiri. Buru-buru Hu Tao memutar belati untuk menjaga diri.
"Trang-Trang-Crokk!!"
Pemuda itu terhuyung ke belakang. Dua serangan yang ternyata berupa serangan tapak dan rantai itu mampu ia tangkis, namun serangan susulan dari rantai tersebut sama sekali tak sempat ia elakkan atau tangkis.
__ADS_1
"Cih, siapa kalian!!" bentak Hu Tao.
Mereka ini bukan lain adalah Sian Yang, Naga Emas, dan Chan Fan. Tiga orang berkepandaian tinggi seperti mereka, apa sukarnya untuk meratakan tiga puluh pasukan Hu yang walau pun termasuk pasukan elit, namun hanya seperti semut di mata ketiganya.
"Karena kau hampir mati, baiklah akan kuberitahu. Iblis Tiada Banding, itulah kami." jawab Sian Yang sambil tersenyum.
Pucatlah wajah yang memang sudah pucat itu. Siapa yang tidak tahu akan iblis baru itu, yang katanya telah membunuh Dewa Kegelapan dengan sangat berani, yaitu di dekat markas Aliansi!! Akan tetapi bukan itu yang dia takutkan, melainkan ada urusan apakah dia sampai saat ini harus berhadapan dengan iblis tersebut.
"Apa-apaan ini? Seingatku, aku tak punya urusan apalagi permusuhan dengan kalian!! Mengapa kalian membunuhi seluruh anak buahku!!?" bentak Hu Tao.
"Memang kau tidak ada permusuhan dengan kami, tetapi kau harus mati untuk kami!?" seru Sian Yang sambil melesat maju.
Terkejutlah Hu Tao. Jika dahulu melawan orang ini berdua bersama Lin Tian saja mereka masih kalah, dan sekarang dia harus menghadapi tiga orang lihai itu seorang diri!? Tentu saja hanya matilah jalan keluarnya.
"Trang-Trang!!"
Hu Tao memepertahankan diri mati-matian. Walau pun dia tahu ujung-ujungnya tetap akan mati, akan tetapi sebagai seorang pemimpin, dia tidak ingin mati begitu saja.
Chan Fan dan Naga Emas sudah bergerak dari kanan kiri. Chan Fan menggerakkan rantainya sedemikian rupa, sehingga senjata itu bagaikan seekora naga menari yang siap menerjang Hu Tao. Sedangkan Naga Emas dengan menggunakan pukulan ampuhnya, memukul kearah pelipis kiri Hu Tao.
Hu Tao yang mengenal bahaya segera meloncat dan memutar-mutar sepasang belatinya di sekeliling tubuh. Inilah jurus andalannya yang bernama Naga Melahap Langit. Dengan pengerahan hawa panas sepenuhnya, sepasang belatinya itu menjadi merah terang yang terus bergulung-gulung menahan hujan serangan dari lawan.
Akan tetapi sayang seribu sayang, sekuat apa pun Hu Tao, saat ini mustahil baginya untuk keluar sebagai pemenang dari pengepungan mereka bertiga. Di samping kalah tenaga dalam dan pengalaman, Hu Tao juga dalam posisi tidak menguntungkan karena didesak tiga orang. Maka tak lebih dari lima puluh jurus, rantai Chan Fan berhasil menembus jantungnya.
"Hebat-hebat, orang muda yang hebat sekali..." Sian Yang memuji.
"Ambil kepalanya, dan kita segera berangkat menuju kediaman Zhang!" perintahnya kepada Naga Emas.
Demikianlah, serangkaian peristiwa ini terjadi dalam waktu yang boleh dibilang hampir bersamaan dengan peristiwa bentroknya Xiao Lian dan Hao Yu dengan pria bercaping. Di lain pihak, saat ini Lin Tian, Zhang Qiaofeng, Song Qian dan Fen Lian sedang melakukan perjalanan pulang menuju kediaman Zhang. Semua ini terjadi di hari yang sama namun dengan tempat yang berbeda.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG