Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 122. Kemajuan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, dan dua orang muda mudi itu sama sekali belum keluar dari ruangan. Membuat tujuh orang pasukan pendekar yang tersisa menjadi cemas.


"Ah bagaimana ini, Tuan Lin Tian belum juga kembali." ucap satu-satunya pendekar Zhang yang masih tersisa.


"Kita tunggu sebentar lagi, jika memang mereka tidak keluar sampai malam, kita pulang saja." sahut salah satu pendekar.


Sedangkan di dalam ruangan sana, Zhi Yang dan Lin Tian sedang duduk bersila bermeditasi. Melatih diri dengan menghimpun tenaga dalam mengikuti aturan ilmu silat yang baru saja mereka dapat.


Memang benar bahwa di dalam sana terdapat banyak sekali kitab ilmu silat, namun hampir semuanya adalah ilmu-ilmu yang jahat dan keji. Hanya buku yang dipelajari oleh Lin Tian sajalah yang bukan merupakan ilmu hitam, sungguhpun masih cukup kejam untuk seorang pendekar golongan putih.


Akan tetapi karena kitab itu cocok dengan kondisi tenaga dalam Lin Tian, akhirnya dia memilih buku tersebut.


Buku itu bernama Pukulan Tapak Beku. Sesuai namanya, pengguna jurus ini mampu mengeluarkan angin dingin hingga membuat target membeku. Namun tentu saja butuh penguasaan tenaga dalam yang tinggi.


Bahkan menurut penjelasan di buku, jika seseorang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, dia bisa membekukan jantung musuh hanya dengan sambaran hawa tenaga dalam dan juga membekukan udara menjadi kepingan-kepingan salju. Jurus yang hebat sekali!


Sedangkan untuk Zhi Yang sendiri, dia memilih untuk mempelajari kitab racun yang berjudul Seribu Racun Dunia. Menjelaskan macam-macam racun kuat dan teknik pengubahan hawa tenaga dalam menjadi racun.


Dalam waktu hampir bersamaan, mereka membuka mata. Pandang mata mereka jauh lebih jernih dari sebelumnya, karena peningkatan tenaga dalam yang besar-besaran, sungguh pun belum menguasai ilmunya dengan sempurna.


"Zhi Yang, ilmu yang kau pelajari amat berbahaya. Apakah-"


"Aku bersumpah dan kau jadilah saksi!! Tak akan pernah kugunakan ilmu racun ini selain untuk menumpas kejahatan dan menyembuhkan orang!!" tegas Zhi Yang memotong Lin Tian.


"Bagus, sebagai seorang pendekar, aku yakin kau tidak akan sudi mengingkari sumpahmu sendiri."


Setelah bangkit berdiri, Zhi Yang segera berkata, "Bagaimana jika kita saling beradu kepandaian. Aku ingin lihat siapa yang lebih kuat." katanya sambil terkekeh.


Lin Tian bergeming, tidak menjawab atau apapun.


"Heh, apa kau takut?" tanya Zhi Yang dengan nada sedikit mengejek.


Tanpa aba-aba lagi, pemuda itu langsung melesat cepat mengirim pukulan berhawa dingin yang dahsyat sekali. Mengarahkan pukulan itu kearah pundak.


Zhi Yang segera bergerak, melepaskan hawa beracun kuat untuk menahan tenaga dingin dari Lin Tian.


"Deesss-Boomm!!"


Terdengar suara ledakan begitu dua tenaga besar itu beradu. Membuat ruangan itu sedikit gempa bahkan sampai terasa ke tempat para pendekar berada.


Lin Tian melanjutkan serangan, memutar tubuhnya dan menendang kearah leher kiri Zhi Yang. Kali ini Zhi Yang tak mau memandang remeh, maka dia segera meloncat ke samping menghindar.

__ADS_1


"Ssrraasshh"


Dinding batu yang berada di belakang Zhi Yang beku seketika, membentuk garis horizontal mengikuti arah tendangan pemuda tersebut.


"Gila, kau mau membunuhku!??" bentak Zhi Yang keras.


"Kau terbunuh dengan serangan itu? Bukanlah Hantu Seratus Lengan sahabatku!!" balas Lin Tian berteriak seraya mengirimkan hawa serangan menggunakan tangan kiri.


"Cih, jangan sombong bocah!!" gadis itu balas menyerang dengan mengirimkan hawa beracun yang mengepulakan asap hitam untuk memapaki serangan pemuda itu.


"Deeesss!!"


Dua tenaga berlainan jenis bertemu, membuat mereka sama-sama terhuyung ke belakang sejauh dua langkah.


"Hm...agaknya kita tak sia-sia mengurung diri di sini selama satu minggu. Walaupun ilmu ini masih sangat jauh dari tingkat sempurna." Zhi Yang berkata.


"Kau benar, entah kenapa aku malah sedikit bersyukur kau hampir mati di tangan nenek itu. Jika tidak, tak mungkin kiranya kita dapat mendapatkan kemajuan sepesat ini." Lin Tian menimpali dengan nada senang.


Namun ucapannya itu seperti menusuk hati Zhi Yang, membuat gadis itu tanpa sadar terbatuk-batuk.


"Bocah sialan!! Kau merasa senang atas penderitaanku hah!?" amarah Zhi Yang memuncak. Kedua lengannya sudah diselubungi hawa beracun.


"Eh...eh...bukan seperti itu...hanya saja, aku berterima kasih kepadamu yang telah menuntunku ke tempat ini."


Lin Tian makin bingung akan sikap gadis tersebut. Maka dengan kecerdikan akalnya, dia segera mengalihkan pembicaraan.


"Ekhm Zhi Yang, tak ingatkah bahwa rekan-rekan kita sedang menunggu di luar. Sebaiknya kita segera keluar agar mereka tidak merasa khawatir." demikian dia berkata dengan sikap berubah total, menjadi serius untuk menyakinkan Zhi Yang. Dan ternyata memang berhasil.


"Ah...benar juga, ayo lekas keluar."


...****************...


Malam telah tiba, dan tujuh orang itu sudah hampir putus asa.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain, dua orang saudara kita itu agaknya sudah dilenyapkan oleh si nenek siluman itu. Semoga saja pengorbanan mereka mampu membunuh setan tersebut."


"Kau benar, ayo kita kembali."


Maka beranjaklah mereka dari tempat tersebut. Dengan membawa obor masing-masing, mereka mulai berjalan pulang.


Tidak ada raut senang di wajah mereka semua. Tentu saja, setelah kehilangan banyak sekali rekan dan saudara, bagaimana mereka bisa merasa senang.

__ADS_1


Hanya satu harapan yang mampu sedikit menenangkan mereka, yaitu tentang keberhasilan pengorbanan dua pendekar sakti itu untuk membunuh nenek setan tersebut.


Namun tiba-tiba mereka bersikap waspada begitu mendengar ada pergerakan dari belakang mereka. Sebuah pergerakan yang halus namun cepat sekali. Karena keadaan hening dan rata-rata dari mereka bukanlah pendekar rendahan, maka pergerakan itu mampu mereka rasakan.


"Sembunyi, bisa jadi mereka adalah anak buah setan itu!!" ucap salah seorang dari mereka.


Serentak, mereka semua mematikan obor dan bersembunyi di balik rimbunnya pohon tinggi. Menanti datangnya orang yang menimbulkan pergerakan tersebut.


"Hah...agaknya mereka sudah mengira kita mati dan meninggalkan kita." ucap salah satu dari dua orang yang menimbulkan pergerakan halus tersebut.


"Hahaha...sepertinya aku masih menang darimu."


"Apa maksudmu?"


"Haha, kita sama sekali tidak ditinggal, benar bukan?" jawab salah seorang yang berpakaian putih.


"Maaf membuat kalian menunggu." lanjutnya sembari menatap kearah pohon tempat mereka bersembunyi.


Sontak wajah ketujuh orang itu berseri melihat dua orang yang selama ini mereka tunggu-tunggu.


"Hantu Seratus Lengan!"


"Pendekar Hantu Kabut!"


Serentak mereka turun dari pohon dan segera menghampiri mereka. Bahkan ada beberapa orang yang terharu sampai menitikkan air mata.


"Ah...Tuan berdua benar-benar membuat kami khawatir. Kemana sajakah kalian selama ini?"


"Haha...maaf-maaf, kami ada sedikit urusan sehingga aedikit terlambat untuk kembali." jawab Lin Tian.


"Sudahlah, lebih baik kita segera keluar dari sini dan mengabarkan kabar bahagia ini kepada penduduk desa." sambungnya.


"Baik Tuan!"


Malam hari itu, turunlah mereka dari puncak Bukit Pedang. Begitu sampai di bawah, mereka segera memberitahu berita tentang keberhasilan mereka kepada kepala desa.


Kepala desa itu tentu merasa terkejut sekali. Melihat betapa dua ratusan lebih pendekar yang berangkat mendaki, sekarang hanya menyisakan sembilan orang dengan keadaan luka-luka. Namun dia juga lega karena sumber teror di desanya berhasil dilenyapkan.


Malam hari itu, adalah malam kebahagian bagi para penduduk desa. Namun sebaliknya, menjadi malam penuh duka bagi para pendekar relawan tersebut. Sebuah malam yang tak akan pernah terlupa di pikiran mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2