Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 213. Pertolongan Kecil


__ADS_3

"Hebat juga kau." komentar Kang Lim begitu Lin Tian sudah sampai di sampingnya.


"Kau pikir aku ini hanya bisa main pukul saja?" Lin Tian menjawab datar sambil membalikkan jubahnya. Memakai kembali semua perlengkapan Pendekar Hantu Kabut.


"Sekarang apa lagi?" Kang Lim bertanya.


"Apa lagi kalau bukan menunggu? Tunggu saat penyerbuan!"


Mereka akhirnya berdiam diri di genteng bangunan besar itu sampai malam tiba. Karena genteng itu memiliki lapisan-lapisan, sehingga membuat dua orang ini tak bisa dilihat dari bawah jika tidak teliti.


Malam tiba dan mereka masih setia duduk di sana. Tak makan tak minum karena diantara mereka tak ada yang membawa keduanya sama sekali.


Mereka duduk dalam diam, menikmati indahnya langit malam yang sedikit mendung tanpa bintang dan bulan. Telinga mereka serasa panas sekali karena suara "berisik" yang terdengar di seluruh distrik.


Akan tetapi mereka tetap sabar dan terus mengawasi. Sampai matahari terbit, lewat dini hari, dan saat siang hari, akhirnya saat-saat yang ditunggu tiba.


"Itukah tandanya. Bisa jadi..."


Lin Tian menyipitkan matanya memandang uap merah tebal yang mengepul ke langit. Sama halnya dengan pemuda itu, Kang Lim pun memicingkan matanya melihat gumpalan asap tebal itu di kejauhan.


"Benar-benar...pastilah itu tandanya. Sekarang lihat apakah ada perubahan yang terjadi?"


Masih dengan tangan bersedekap, Lin Tian memandang ke bawah tempat dimana jalanan distrik trrlihat jelas. Beberapa detik setelahnya, dia mendengar jeritan keras seorang wanita yang dadanya sudah ditembus pisau.


"Oh...itu benar tandanya. Pertarungan sudah dimulai."


Setelah teriakan menyanyat hati tadi, berturut-turut terdengar suara serupa dari berbagai penjuru distrik. Beberapa detik setelahnya kericuhan tak dapat dihindari, teriakan-teriakan dan beradunya senjata tajam segera menghiasi suasana siang hari yang sedang panas ini.


Masih berdiri di tempatnya, Lin Tian melihat semua itu tanpa ekspresi. Namun di sudut hatinya, diam-diam dia bangga dengan keluarga Zhang yang melakukan tindakan cukup berani ini.


"Kapan kau akan turun tangan?" Kang Lim bertanya kepada Lin Tian yang belum juga beranjak dari posisinya.


"Kapan kau memenuhi janjimu?" Lin Tian balas tanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


Sampai cukup lama tidak ada yang menjawab. Baik Lin Tian maupun Kang Lim tidak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan lawan bicara mereka.


"Saat waktunya tepat." ucap mereka secara bersamaan. Entah sengaja atau tidak, namun jawaban Lin Tian atas pertanyaan Kang Lim dan jawaban Kang Lim atas pertanyaan Lin Tian adalah sama.


Mereka kembali hanyut dalam diam untuk mengamati gerak-gerik pertempuran yang kian memanas.


Lin Tian dapat melihat jelas bahwa nonanya bertarung hebat bersama lima wanita lain berpakaian merah. Dia tidak kenal siapa adanya lima orang wanita serba merah itu, namun tanpa sadar mulutnya tersenyum senang.

__ADS_1


"Keluarga Zhang sudah semakin kuat..."


Kurang lebih sekitar setengah jam sejak awal pertempuran, dari arah Utara, pasukan Zhang mulai membakari bangunan-bangunan distrik merah. Disusul dengan pasukan bagian Barat dan Timur yang melakukan hal yang sama.


"Semua pengunjung sudah keluar, bunuh dan bakar semuanya! Jangan ragu!!" seru seseorang nyaring sekali. Suara melengking itu jelas sangat familiar di telinga Lin Tian. Dan memang benar, suara itu milik nonanya.


"Woah...nonamu seperti singa betina!" Kang Lim tak tahan untuk berkomentar.


Lin Tian tersenyum tipis sambil menjawab, "Dia lebih dari sekedar singa betina."


Makin lama, kobaran api makin melebar. Kekacauan di distrik itu kian tak karuan. Apalagi setelah teriakan berani dari Zhang Qiaofeng barusan, mustahil sudah bagi pasukan Zhang itu untuk mundur.


"Duarr!"


"Apa itu!?" Kang Lim sedikit terperanjat karena terkejut. Sedangkan Lin Tian hanya sedikit melebarkan matanya saja untuk mengekspresikan keterkejutan itu.


Setelah ledakan ini dan berhasil menghindar dengan sempurna, Zhang Qiaofeng mengirim tebasan jarak jauh ke salah satu genteng dan terlihatlah beberapa bayangan manusia.


"Kakek itu...aku tadi melihatnya berkeliaran di jalanan. Ternyata memang benar, dia bukan orang biasa. Kakek, bagaimana menurutmu?" ujar Lin Tian setelah melihat kakek sepuh yang baru datang dan mulai berdebat dengan Zhang Qiaofeng.


Merasa heran ucapannya tak mendapat tanggapan, Lin Tian melirik Kang Lim dan mendapati dirinya saat ini sedang memasang ekspresi yang sulit diartikan.


"Ya...dia adalah juniorku." jawab singkat Kang Lim.


Terkejut juga Lin Tian, namun cepat-cepat dia sembunyikan itu dengan satu gumaman singkat, "Oh..."


Zhang Qiaofeng dan pasukan kakek itu yang berjumlah lima wanita mulai bertarung habis-habisan. Lima wanita bertopeng yang menjadi sekutu Zhang Qiaofeng terlihat mampu mendesak musuh mereka perlahan-lahan.


Namun yang membuat amarah Lin Tian memuncak adalah melihat kakek sepuh yang menjadi lawan Zhang Qiaofeng terlihat jelas sedang memepermainkan gadis tersebut.


Hingga beberapa jurus kemudian, nonanya itu berhasil dilumpuhkan total.


"Hm..." Lin Tian mulai bersiap dengan hawa saktinya yang menyebar ke seluruh tubuh.


"Bersiaplah kek, setelah ini kita akan turun tangan."


"Ya...itulah kalimat yang ingin kukatakan padamu."


Lin Tian masih bergeming di tempatnya. Dia masih mengharapkan bantuan kelima gadis topeng merah itu untuk membantu nonanya. Namun mustahil.


"Percuma saja mereka mengeroyok juniorku. Dia adalah pendekar sejati." kata Kang Lim melihat salah satu wanta topeng merah yang hendak menolong nona Zhang terpental setelah menerima kibasan tangan juniornya.

__ADS_1


"Oh, jadi mau tidak mau harus kita sendiri yang turun tangan?"


"Siapa lagi?"


Junior Kang Lim itu mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk mengakhiri nyawa nona Zhang. Melihat ini Lin Tian lekas berseru.


"Gantikan posisiku! Tak perlu kujelaskan kau pasti sudah paham!"


Tanpa menunggu jawaban, pemuda ini sudah lenyap dari sana dan sedetik kemudian tubuhnya sampai tepat di hadapan junior Kang Lim.


"Terima ganjaranmu!"


"Buaghh!"


Dengan telak kaki kanan Lin Tian mampu membikin terbang tubuh kakek sepuh tersebut. Sedetik kemudian, dia sudah kembali melancarkan ilmu Langkah Kilatnya untuk berpindah-pindah dan memecah-mecah kepala lima lacur lainnya.


Selesai menjalankan aksinya yang sangat singkat dan cepat itu, Lin Tian lekas melompat ke atas genteng.


"Orang-orang lemah! Kalian hendak menentang keluarga Zhang? Kalian pasti belum mengenal diriku!" gumamnya dan membalik menatap nonanya.


"Huh?"


Lin Tian terkejut karena nonanya sudah memandang kearahnya. Terlihat jelas di balik topeng itu, sepasang mata indah Zhang Qiaofeng terbelalak lebar saking terkejutnya.


Tak kuasa menahannya lagi, Lin Tian tersenyum.


"Untuk saat ini belum waktunya bertemu." gumamnya dalam hati dan segera pergi dari sana. Sedangkan untuk nona Zhang dan lain-lain, dia serahkan kepada Kang Lim yang sudah mengambil alih.


Seperginya Lin Tian dari sana, dia melihat bahwa pertempuran sudah mencapai puncak dan tak lama setelahnya selesai. Pasukan Zhang lantas mendekati tempat nona mereka yang juga sedang terjadi pertempuran sengit tak jauh dari sana. Namun mereka hanya melihat dari jauh tak berani mendekat.


Lin Tian lalu pergi ke Timur distrik, tempat dimana komplek para gadis curian tadi berada.


Sesampainya di sana, tempat itu sama sekali tidak tersentuh oleh api. Bahkan ada beberapa orang Zhang yang berjaga dan mengawal wanita-wanita itu keluar dari distrik. Lagi-lagi perbuatan mereka membuat Lin Tian tersenyum simpul.


"Agaknya sudah tidak ada lagi yang bisa ku lakukan."


Lin Tian melihat ke arah Timur dan matanya menajam. "Tugas berikutnya, markas Iblis Tiada Banding!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2