Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 219. Pedang Lin Tian


__ADS_3

"Duduklah...duduklah..."


Gadis cantik ini mengangguk dan menurunkan keranjang besar namun kosong itu. Dia lalu mengikuti ayahnya berjalan ke kursi teras dan duduk santai di sebelah ayahnya.


Yuan Fei melihat keranjang itu, hanya kosong saja tanpa ada isinya. Ekspresinya berubah pahit ketika pria paruh baya ini bertanya kepada gadis tersebut.


"Kau...tidak menemukannya ya?"


Gadis ini menjawab namun dengan ekspresi dan nada bicara yang jauh berbeda dari ayahnya. Jika ayahnya nampak bersedih, gadis ini justru tersenyum dan menjawab renyah.


"Tidak ketemu, tak pernah kutemukan puncak salju itu."


"Kenapa wajahmu berseri seperti itu? Nyawamu hampir hilang loh..."


"Tak mengapa kalau memang sudah takdirnya seperti ini. Ayah tahu aku seorang pendekar, bagi pendekar, mati hidup adalah perkara mudah yang tak perlu terlalu dipusingkan."


Hati Yuan Fei serasa disayat-sayat mendengar penuturan ini. Tanpa mampu ditahannya lagi, dua titik air mata turun dan dia sedikit terisak. Dengan cekatan gadis tersebut mengangkat tangannya untuk merangkul sang ayah.


"Mengapa ayah menangis? Racun ini bersarang di tubuhku, menggerogoti tubuhku, dan tak lama kemudian akan membunuhku. Yang rugi aku, kenapa malah ayah yang menangis?" masih dengan senyumannya, gadis itu mengusap-usap lembut punggung ayahnya.


"Bagaimana tidak sengsara hati ini melihatmu masih bisa tersenyum ketika ajal sudah hampir menjemput? Ayahmu ini benar-benar tak berguna karena saat dibutuhkan seperti sekarang ini, aku malah tidak mampu melakukan apa-apa."


"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Lagipula, ketika aku mati nanti, aku yakin akan ada orang yang sudah menungguku."


Seketika tangis Yuan Fei berhenti dan menoleh menatap wajah anaknya lekat-lekat. Refleks dia bertanya, "Siapa?"


Gadis ini hanya tersenyum tak menjawab. Justru malah mengalihkan pembicaraan, "Sudahlah, dimana Rou'er? Sudah lama aku merindukan gadis cilik itu."


Mendadak Yuan Fei melompat bangun dari kursinya dan matanya terbelalak, namun di balik semua itu ada sedikit raut kegembiraan yang terlihat jelas.


"Ada apa?"


"Ah, benar! Rou'er sedang pergi mencari bahan obat di hutan seperti biasa! Dia bersama penolongmu!"


Gadis tersebut miringkan kepala karena heran sekali dengan ucapan ayahnya yang dianggap melantur itu. "Penolongku? Siapa?" bertanyalah ia.


"Nanti kau juga tahu. Ah, dengar...mereka sudah kembali."


Gadis itu memang mendengar suara adiknya yang seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tahu-tahu dia sudah berdiri dan melompat ke samping rumah, memandang penuh perhatian ke hutan belakang rumah itu tempat dimana biasanya adiknya mencari bahan obat.


Rouwei sadar dengan tindakan kakaknya yang tiba-tiba terlihat di balik tembok rumah itu. Tentu saja wajahnya langsung berseri dan melompatlah ia dari punggung Lin Tian yang menjadi kaget juga heran.


"Hei...hei...ada apa denganmu!?" dengus Lin Tian yang hampir jatuh ke belakang.


Namun pertanyaan ini ia acuhkan dan segera bangun untuk menyongsong kakaknya yang lari mendekat, "Kakak!!!"


"Rou'er!"


Mereka berpelukan erat. Keduanya menangis haru karena setelah sekian lama dapat bertemu kembali dengan orang tersayang. Rouwei membenamkan kepalanya di dada kakaknya, sedangkan kakaknya menangis terisak sambil menciumi pucuk kepala Rouwei.

__ADS_1


"Rou'er...Rou'er....ah andai kau tahu seberapa sepi rasa hati ini melewati hari-hari tanpamu..." ucap gadis tersebut di tengah isak tangis.


"Kakak...kakak....!!" Rouwei terus memanggil-manggil kakaknya dengan keras.


Pemandangan ini jelas membuat Yuan Fei terharu dan kembali menangis. Bagitu pula dengan Lin Tian yang terbelalak melihat siapa sosok sebenarnya dari kakak Rouwei ini.


Selama ini dia sengaja tidak menanyakan namanya karena menganggap hal itu tidaklah terlalu penting. Akan tetapi ternyata yang dilihatnya ini benar-benar diluar perkiraannya.


Dia lantas tersenyum dan jalan mendekat. Masih dalam keadaan saling rangkul, kakak Rouwei itu tidak menyadari kehadiran Lin Tian. Sampai ada sebuah tangan kokoh kuat yang mendarat dengan lembut di ujung kepalanya.


"Haha...kukira siapa, ternyata sahabatku sendiri..."


"Eh?"


Tentu saja kakak Rouwei amat terkejut dan cepat-cepat menolehkan kepala untuk melihat siapa adanya seseorang yang bicara barusan. Begitu tampak jelas olehnya, seorang pemuda tampan yang kini tengah tersenyum lembut kepadanya, tak kuasa lagi air matanya makin deras bercucuran. Mulutnya membuka dan menutup, seperti hendak mengatakan sesuatu namun tidak bisa.


"Zhi Yang...ceritakan semuanya pada sahabatmu ini. Jangan tutupi sedikit pun."


Kembali suara lembut ini terdengar, kakak Rouwei yang tak lain adalah Zhi Yang ini berteriak kencang dan menubruk Lin Tian. Memeluknya erat seraya membenamkan kepala di dada pemuda itu.


"Lin Tian...Lin Tian...kau bocah bodoh! Kemama saja kau pergi selama ini!??"


Mengelus rambut gadis itu dengan lembut, Lin Tian berkata ringan, "Intinya...aku selamat."


...****************...


Zhi Yang sudah menceritakan semuanya. Cerita ini lebih lengkap dari cerita versi Yuan Fei yang hanya garis besarnya saja.


Kekuatan mereka berimbang, dan Zhang Heng yang waktu itu belum sampai ke tingkat pendekar sejati, belum mampu terlalu mendesak Zhi Yang, begitu juga sebaliknya.


Keduanya sama-sama ahli racun. Zhi Yang adalah ahli racun yang didasarkan dari kitab Seribu Racun Dunia, sedangkan Zhang Heng adalah ahli racun panas dari ilmu Pukulan Tapak Api.


Akan tetapi naas sekali nasib Zhi Yang yang waktu itu tidak tahu menahu mengenai racunnya sendiri dan racun lawan.


Dia tidak tahu bahwa Seribu Racun Dunia adalah racun yang paling cocok dan akan menjadi racun paling mematikan di dunia jika bertemu dengan racun panas. Sementara itu, racun dari Pukulan Tapak Api adalah racun panas yang paling kejam di dunia ini. Zhang Heng tahu akan hal itu.


Namun dengan syarat harus menggunakan pengerahan hawa sakti. Karena penciptanya dahulu adalah seorang pendekar sejati, maka jika ilmu pukulan ini dimainkan dengan tenaga dalam biasa, kekuatannya akan berkurang lebih dari lima puluh persen.


Zhang Heng yang waktu itu belum menguasai hawa sakti dan tidak sadar akan kelemahan racun Zhi Yang, menyerang dengan pengerahan maksimal Pukulan Tapak Api yang mampu dia capai. Akan tetapi lama kelamaan, Hantu Seratus Lengan itu makin kepayahan sungguh pun serangannya selalu kena tangkis.


Ternyata, tangkisan Zhi Yang inilah yang mencelakakan diri sendiri. Karena sambil menangkis dia mengerahkan tenaga dalam racun dari ilmu Seribu Racun Dunia, maka sedikit banyak racun panas milik Zhang Heng tercampur dengan tenaganya dan memasuki aliran darahnya tanpa disadari.


Perlahan tapi pasti, akhirnya Zhi Yang mampu dirobohkan dengan pukulan telak menghantam perut. Beruntung Zhang Heng belum menguasai ilmu itu dengan sempurna, kalau tidak, dapat dipastikan saat itu Zhi Yang tak mampu melarikan diri dan mati di tempat.


Di tengah pelariannya, dia bertemu dengan Yuan Fei dan Yuan Rouwei yang sedang mencari obat. Gadis ini lalu ditolong oleh mereka dan setelah beberapa waktu, dia akhirnya diangkat sebagai anak oleh Yuan Fei.


"Menurutku, dia berambisi menjadi kaisar. Atau yang paling buruk, membangkitkan kembali kejayaan keluarga Ling dahulu yang menjadi penguasa seluruh daratan."


Lin Tian menggeram kesal mendengar ucapan penutup Zhi Yang. Selain kesal sekali karena ternyata dia belum mati, Zhang Heng juga selalu membikin repot hidupnya dan keluarganya.

__ADS_1


"Tenanglah Lin Tian..." Zhi Yang mencoba menenangkannya dengan mengelus pundaknya.


Lin Tian menghela nafas berat dan memandang datar sosok gadis cantik di sebelahnya.


"Bisa kau lepas? Kau pikir aku ini adalah seseorang yang bisa menghilang kalau tak dipegangi?" ucapnya sedikit kesal.


Pasalnya, sejak awal bertemu dengannya sampai saat ini, Zhi Yang belum pernah sekali pun melepas rangkulan pada tangan kanannya. Entah apa maksud gadis tersebut namun tangan Lin Tian sudah terasa pegal-pegal.


"Hmph!" Zhi Yang hanya membuang muka dengan wajah memerah. Namun tidak mau melepas rangkulan tangannya. Sedangkan dua orang ayah dan anak itu malah terkekeh geli.


"Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapatkan kakak ipar yang baik."


"Jangan sembarangan kalau bicara!"


Lin Tian mendengus sebal dan kembali ke topik pembicaraan.


"Jadi intinya, racun di tubuh Zhi Yang ini lebih kuat dari racun yang tak bisa disembuhkan nenek moyang anda, benarkah begitu paman?"


Yuan Fei mengangguk-angguk membenarkan, "Benar-benar! Tapi seingatku Seribu Racun Dunia masih bisa dihilangkan secara perlahan dengan kristal puncak Pegunungan Tembok Surga."


Lin Tian mengerutkan alisnya, "Bukankah racun itu sudah menyatu?"


Yuan Fei cepat-cepat menggeleng, "Tidak, mereka sebenarnya tidak menyatu. Hanya seperti minyak dan air saja, saling berdampingan namun tak pernah dapat bersatu. Akan tetapi tentu saja proses menghilangkannya akan sulit dan membutuhkan hawa dingin luar biasa karena setelah terkena Pukulan Tapak Api, racun Seribu Racun Dunia akan berubah menjadi racun panas."


"Satu-satunya harapan, hanyalah kristal Pegunungan Tembok Surga. Tapi...sepertinya Yang'er gagal mendapatkan itu." Yuan Fei melanjutkan sambil tertunduk lesu, begitu pula dengan anaknya yang nampak kehilangan semangat.


"Biarlah, mungkin memang sebentar lagi aku akan mati." celetuk Zhi Yang tiba-tiba.


Saat itu pula, tahu-tahu Lin Tian sudah lepas dari pelukan tangannya dan berjalan masuk ke dalam. Semua orang terkejut karena tidak menyadari gerakan Lin Tian. Zhi Yang ingin menyusul namun lebih dulu Lin Tian sudah kembali dengan tongkatnya.


"Paman, aku pikir kau sudah tahu apa ini?" dia menunjukkan tongkatnya.


"Itu bukan tongkat, melainkan pedang yang dibalut kain."


Lin Tian mengangguk dan membuka lilitan kain tebal pembungkus pedangnya. Saat pedang itu nampak, mereka berseru kagum melihat bentuk indah di sarung dan gagang pedang.


"Wah...ternyata memang pedang!" komentar Rouwei.


Lin Tian kembali berkata, "Pedang ini kuberi nama Pedang Dewi Salju, pedang yang menjadi sahabat pertamaku sejak aku terjun ke dunia persilatan. Zhi Yang, kau sudah pernah melihat wujud dari pedang ini dan apakah kau tahu terbuat dari apa bilah pedangnya?"


Zhi Yang spontan menggeleng dengan raut wajah bingung. Hal ini membuat Lin Tian tersenyum.


"Kabar baik, bilah pedang ini dibuat dari kristal puncak salju Pegunungan Tembok Surga yang kuambil sendiri beberapa tahun lalu. Jangan remehkan keampuhan dari pedang ini, apalagi kecantikannya. Pegang perkataanku, jika memang kristal itu mampu menolong Zhi Yang, maka pedang ini juga mampu karena bilahnya sama sekali tidak ada bahan lain selain kristal itu."


Mereka berseru kaget dan spontan bangkit berdiri. Memandang terbelalak ketika Lin Tian mencabut pedang dan mengacungkannya ke depan wajah Zhi Yang.


"Zhi Yang sahabatku, sepertinya aku harus turun tangan lagi untuk menyelamatkanmu dari yang namanya racun."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2