Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 202. Pembersihan


__ADS_3

Malam hari belumlah lewat dan yang pasti keadaan sekitar masih gelap gulita. Di hutan lebat dekat dengan distrik merah, dua ratus keluarga Zhang berkumpul untuk memberi laporan penyelidikan kepada nona mereka.


Satu per satu dari mereka melaporkan apa yang dilihat, didengar dan diketahui oleh mata sendiri kepada Zhang Qiaofeng. Bermacam-macam laporan didengar oleh gadis itu yang hanya dijawab dengan anggukan kepala.


Sebelumnya, Zhang Qiaofeng sudah menyelidiki seorang diri bersama lima Hantu Merah. Dan informasi yang dia dapat adalah, semua pelacur di sini agaknya tidak ada yang berumur lebih dari tiga puluh tahun. Terlihat dari wajah mereka yang masih halus dan lembut.


Memang hal itu bisa disebabkan dengan riasan profesional untuk menyembunyikan kerutan di wajah. Akan tetapi Zhang Qiaofeng dan lima Hantu Merah adalah seorang wanita tulen, maka mereka bisa membedakan mana wajah asli dan mana wajah cantik karena tebalnya rias.


Ketika salah satu orang giliran memberi laporan, ada hal yang membuat Zhang Qiaofeng tertarik.


"Aku melihat kakek tua renta seperti ini." ucapnya sembari memperagakan gaya berjalan kakek itu.


"Berjalannya agak bungkuk seperti ini, namun terlihat sangat kokoh dan kuat. Entah siapa dia tapi aneh sekali rasanya jika di tempat pelacuran terdapat kakek-kakek macam itu. Apakah dia juga mencari hiburan?" demikian orang itu memberi laporan.


"Dimana kau melihatnya?" tanya Zhang Qiaofeng.


"Di jalanan dekat gerbang masuk. Lalu saat saya berkeliling, saya melihatnya lagi di jalanan tengah distrik yang lebar dan sangat ramai."


"Ah...saya juga melihatnya di dekat gerbang!" seru seseorang yang menyamar sebagai pengemis.


Zhang Qiaofeng diam beberapa saat mendengar dua laporan itu. Diam-diam dia juga terkejut akan keberadaan kakek aneh yang kemungkinan besar kakek itu adalah orang yang sama seperti sosok kakek-kakek yang dia lihat.


Dia mengalihkan pandangannya kepada Zhang Hongli dan Minghao. Kemudian berkata untuk menanyakan pendapat mereka mengenai kakek misterius tersebut.


"Menurutku dia bukan orang biasa. Bukan pula seorang kakek-kakek yang mencari hiburan. Aku yakin pasti ada sesuatu di balik keberadaannya di distrik merah." ucap Zhang Hongli setelah berpikir beberapa saat.


"Sekarang mengapa kakek-kakek renta sepertinya berjalan di distrik merah? Apakah dia ingin menikmati hari tua dengan berkumpul bersama wanita muda? Tak masuk akal!" Minghao berpendapat.


Zhang Qiaofeng mengangguk-angguk paham. Lalu dia merencanakan strategi penyerangan untuk esok hari. Dia juga menjelaskan kepada pasukannya untuk berhati-hati dalam membunuh lawan. Karena khawatirnya orang yang dibunuh itu adalah warga biasa.


"Lalu bagaiamana jika ada warga biasa yang menyerang kita karena bujuk rayu para siluman rase itu? Apakah harus dibunuh juga?" tanya salah satu pasukan Zhang.


"Siluman rase?"

__ADS_1


"Para pelacur itu!"


Zhang Qiaofeng sejatinya juga bingung akan hal ini. Dia sudah memikirkan hal itu masak-masak sebelum memulai perundingan kali ini, maka dengan tegas dia menjawab.


"Bunuh saja. Tapi ingat, jika benar-benar dalam keadaan terpaksa."


Beberapa saat kemudian, terdengar Zhang Hongli berkata, "Kita sudah meminta ijin kepada kaisar Song. Tetapi warga kota ini tak ada yang tahu tentang hal tersebut, bagaimana jika terjadi kegemparan di antara penduduk?"


"Itu resiko. Tak apa, kita hancurkan saja distrik merah. Jika memang ada prajurit kota yang mencoba menghalangi, aku akan gunakan ini." jawab Zhang Qiaofeng sembari menunjukkan sebuah plakat emas berukir "Song".


"Siapa orang waras di kekaisaran Song yang berani melawan plakat ini?" lanjut Zhang Qiaofeng sambil menyeringai di balik topengnya.


"Semuanya istirahat, besok siang tepat tengah hari keluarga Zhang akan menghancurkan distrik merah!"


"Baik nona!"


...****************...


Mereka berjalan di jalanan kota dan kadang-kadang juga bersenda gurau bersama para pelacur. Namun sejatinya di balik jubah masing-masing, sudah siap dengan senjata tajam yang akan menikam para pelacur itu bila perintah dari nona Zhang sudah turun.


Ketika matahari sedikit condong ke Barat, Zhang Qiaofeng memutuskan untuk memulai penyerbuan. Dia membuat asap tebal berwarna merah di bagian paling sepi distrik. Ini adalah komando dari nona Zhang untuk menyerang.


Asap merah itu tercipta dari api unggun yang dicampur dengan bubuk merah buatan Zhang Hongli. Menimbulkan asap tebal yang mungkin tebalnya sama seperti satu rumah kebakaran. Hanya bedanya kali ini asapnya berwarna merah.


"Itu perintah nona!" gumam seseorang yang sedang bercakap-cakap dengan pelacur di sana.


Segera saja dia meloloskan pedang lenturnya yang tadi disembunyikan di balik sabuk untuk ditusukkan ke wanita di depannya. Karena tidak siap, dengan telak pedangnya mampu menembus tubuh menggairahkan itu.


"Craat!"


"Ahkkhh..." rintihan kecil keluar dari tenggorokan pelacur itu sebelum tubuhnya tumbang tak bernyawa.


Pembantaian besar-besaran di distrik merah terjadi. Di Utara, Barat, dan Timur distrik semuanya terjadi pembunuhan berdarah yang berhasil merenggut banyak sekali nyawa.

__ADS_1


Karena sudah yakin semua pelacur di sana adalah bagian dari Iblis Tiada Banding, maka pasukan Zhang sama sekali tidak ragu dalam menebas kepala atau melubangi jantung orang-orang itu.


Jika ditanya kemana perginya para pelacur yang dulunya adalah gadis kota biasa dan diculik oleh Sie Yang? Maka jawabannya saat ini mereka sedang berada di suatu komplek perumahan di wilayah Timur distrik.


Zhang Qiaofeng tahu akan hal ini maka dia sengaja melarang anak buahnya untuk menyentuh komplek perumahan di wilayah Timur itu.


Zhang Qiaofeng, di salah satu rumah lacur, sedang bertarung melawan lima pelacur yang gerakannya cukup gesit.


Di sisi lain namun masih berada dalam bangunan yang sama, lima orang Hantu Merah juga bertempur hebat melawan musuh-musuhnya.


"Bajingan kau Gadis Hantu!! Ternyata kau dalang di balik semua ini!?" bentak salah satu lacur yang bersenjatakan pedang pendek.


"Memang begitulah, kau mau apa? Membunuhku? Mampukah?" balas Zhang Qiaofeng penuh ejekan.


"Sialan! Pergilah ke neraka!!" bentak wanita ini dan menusukkan pedangnya mengarah dada Zhang Qiaofeng.


Namun sedetik kemudian, terdengar jerit melengking tatkala pedang lacur itu malah berbalik arah dan menusuk tenggorokannya sendiri.


Sebelum mengenai dadanya, Zhang Qiaofeng menggunakan sedikit gerakan dari ilmu Ketenangan Batin yang mampu menimbulkan angin halus namun cukup kuat dengan tekanan dinggi.


Dia menyapukan tangan kanannya untuk menangkis pedang. Namun karena tindakannya ini, angin kencang yang timbul dari sapuan tangannya berhasil membelokkan arah serangan yang sebelumnya mengarah dadanya sendiri, menjadi menusuk leher lawan. Benar-benar cara bertarung yang luar biasa.


"Siapa lagi? " ucap gadis itu dengan nada dingin dan sorot mata tajam.


"Matilah kau!!" seru keempat wanita lainnya dan menerjang maju.


Detik berikutnya, di ruangan itu terjadi adu silat yang cukup sengit antara Zhang Qiaofeng dan empat wanita itu. Namun tak sampai tiga menit, nona Zhang sudah berhasil melempar-lemaparkan kepala keempat lawannya.


"Dasar wanita-wanita rendahan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2