
Sudah tiga hari lamanya setelah pertempuran di tengah hutan itu terjadi. Selama itu pula tidak ada gangguan ataupun ancaman dari pihak Aliansi Golongan Hitam.
Lin Tian masih memilih untuk menginap di rumah penginapan sederhana itu. Dia menambah biaya untuk bisa menginap di sana lebih lama.
Sebenarnya Hu Tao sudah memberi tawaran kepada pemuda ini untuk menginap di kediamannya, akan tetapj Lin Tian menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan.
Selama tiga hari ini, Lin Tian tidak lekas pergi dari Kota Sungai Putih adalah karena permintaan Hu Tao yang meminta bantuan kepadannya untuk ikut menjaga kota ini selama beberapa hari.
Lin Tian pun menyanggupi, juga ia ingin berada di sini sedikit lebih lama untuk sekedar bersantai.
Hari ini seharusnya menjadi hari terakhir Lin Tian untuk tinggal di kota ini. Dan untuk mengucapkan terima kasih sekaligus sebagai salam perpisahan, malam nanti Hu Tao mengajaknya makan malam bersama.
Pagi hari ini, langit terlihat berawan. Cahaya matahari bersinar sedikit redup karena tertutup gumpalan-gumpalan putih itu.
Lin Tian saat ini sedang memikirkan bagaimana cara untuk bertemu dengan Asosiasi Gagak Surgawi. Sambil berjalan keliling kota yang sudah dipenuhi banyak orang lalu lalang itu, pemuda ini tak henti-hentinya memikirkan hal tersebut.
Begitu dirinya sampai di perempatan di depan gedung tiga lantai. Dia melihat gedung itu sangat sepi dan pintunya tertutup rapat.
Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya mengerutkan kening. Lin Tian melihat di depan pintu bangunan lantai satu itu duduk delapan orang wanita yang sama cantik dan sama elok.
Delapan wanita itu ada yang duduk di tangga pintu masuk, ada yang di tanah kering, di batu ataupun di rumput tebal depan bangunan itu.
Mereka memakai jubah yang berwarna kuning gelap dipadukan dengan warna merah hati. Cantik dan anggun, itulah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan mereka.
"Ah...!!" seru salah seorang wanita ketika melihat sosok Lin Tian yang berdiri dari kejauhan.
Mendengar seruan ini, sontak ketujuh orang lainnya ikut menolehkan kepala kearah yang di pandangi wanita itu.
"Diakah orangnya?"
"Ya benar dia, aku masih ingat betul!! Waktu itu aku malah yang melayaninya memesan makanan!"
"Waktu itu aku di lantai atas, jadi aku sama sekali tidak tahu."
Terdengar dua orang gadis yang bercakap-cakap begitu melihat Lin Tian.
Memang yang melihat Lin Tian waktu itu hanyalah tiga orang. Mereka adalah Yin Yin dan dua orang gadis pelayan lain.
Begitu Yin Yin melihat pemuda itu dari jauh. Cepat dia bangkit berdiri diikuti semua pelayan dan berkata, "Ayo!"
Sedangkan Lin Tian memandang heran kearah rombongan delapan orang itu yang begitu melihatnya tiba-tiba mereka langsung datang menghampirinya.
"Tuan!" seru Yin Yin begitu sampai di dekatnya.
Lin Tian hanya diam, karena dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi.
Kemudian, tiba-tiba mereka langsung membungkuk dalam seraya berkata, "Terima kasih Tuan!!"
Sontak hal ini mengejutkan warga sekitar yang sedang lewat di dekat situ. Sebentar saja mereka sudah menjadi pusat perhatian warga sekitar.
Pemuda itu terbengong di balik topengnya.
"Hah? Tunggu, ada apa ini?" tanya Lin Tian dengan nada heran.
"Lebih baik kita bicara di dalam saja, saya tidak nyaman dengan semua pandangan yang ditujukan kepada kita. Mari Tuan, sekaligus untuk menyampaikan rasa terima kasih kami, kami sudah menyiapkan hidangan yang cukup lezat untuk Tuan." jawab Yin Yin ramah sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Setelah itu, Yin Yin memimpin jalan dan diikuti ketujuh pelayannya. Tidak ada lagi tatapan genit atau menggoda dari mereka, jauh berbeda ketika Lin Tian pertama kali datang ke sana.
Mau tak mau, Lin Tian pun mengikuti mereka. Dia juga berpikir untuk menanyakan informasi mengenai Asosiasi Gagak Surgawi kepada wanita bernama Yin Yin ini.
...****************...
"Silahlan Tuan." kata Yin Yin seraya mempersilahkan Lin Tian untuk duduk.
Mereka saat ini berada di lantai satu yang biasanya dijadikan sebagai tempat rumah makan.
Setelah Lin Tian duduk, kedelapan orang itu kemudian ikut pula duduk di kursi masing-masing. Mereka duduk melingkar di pinggir sebuah meja bundar.
"Tuan, aku mewakili semua pelayan di sini, ingin menyampaikan rasa terima kasih karena anda telah membunuh keenam orang bejat itu. Andai saja tidak ada Tuan yang menolong, mungkin nasib rumah makan dan penginapan mendiang ayahku ini masih sama seperti dulu." kata Yin Yin seraya sedikit membungkukkan badan.
"Oh ya...perkenalkan nama saya Yin Yin, jika tak keberatan, bolehkah saya tahu nama Tuan?"
"Lin Tian." jawab pemuda itu singkat.
"Sebenarnya siapa sih mereka itu?" kemudian dia bertanya.
Yin Yin menampakkan ekspresi yang sulit diartikan. Setelah diam beberapa saat, akhirnya dia menjawab.
"Dia adalah para penjahat yang menyelundup ke kota ini. Semenjak keluarga Hu dipimpin oleh Hu Kai, kota ini tidak pernah aman seperti dulu. Penuh dengan penjahat dan perampok, terutama sekali para pendekar golongan hitam."
"Mereka berenam itu adalah orang-orang yang mengaku menjadi pembantu Aliansi Golongan Hitam. Sehingga kami sama sekali tidak berani melawan dan pasrah. Walaupun kami punya sedikit dasar ilmu silat, akan tetapi melihat kelompok besar di belakangnya itu, kami tak berani macam-macam." Yin Yin menjelaskan sambil menundukkan muka sedih.
"Lalu malam itu kau..."
"Ya, itu aku lakukan untuk melindungi mereka semua." jawab Yin Yin memotong perkataan Lin Tian. Dia menjawab seraya memandang ke tujuh orang pelayannya itu.
"Maksudmu?" Lin Tian masih terlihat bingung.
Mendengar ucapan Nyonya ini, wajah mereka bertujuh tiba-tiba menjadi sedih dan muram.
"Mereka memanggilmu Nyonya, mana suamimu?"
Mendengar pertanyaan ini, hati Yin Yin seolah ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Kemudian tiba-tiba dia menangis dan menjawab.
"Dia...dia...dia dibunuh oleh mereka...hiks."
"Oh...maafkan aku..." jawab Lin Tian yang merasa tidak enak.
Setelah itu, Yin Yin langsung menghapus air matanya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Lalu dia pun mengajak Lin Tian untuk makan bersama.
Tak berselang lama, para pelayan itu menghidangkan berbagai macam makanan di atas meja. Lin Tian sampai terkejut melihat ini, pasalnya semua makanan ini adalah makanan dari menu termahal rumah makan ini!!
"Ini...bukankah terlalu berlebihan?" kata Lin Tian.
"Tak apa Tuan...anggap saja sebagai tanda persahabatan kita." ucap Yin Yin seraya tersenyum.
Sebenarnya dia mengajak Lin Tian untuk makan bersama adalah karena dirinya ingin sekali melihta rupa di balik topeng itu. Jika dia makan, pasti dia akan melepas topengnya, begitulah pikirnya.
Akan tetapi dia harus kecewa melihat cara makan Lin Tian. Pemuda itu makan dengan cara yang luar biasa, yaitu dengan cara yang sama persis seperti saat waktu pertama kali dia makan di sini.
Sebentar saja makanannya sudah habis dan semua orang yang ada di sana hanya memandang bengong.
__ADS_1
"Nyonya, kau bilang jika ini adalah persahabatan kita bukan?"
"B-benar Tuan." jawab Yin Yin gugup karena masih kagum dengan aksi Lin Tian barusan.
"Kalau begitu bisakah kau membantuku?" tanya Lin Tian kembali.
"Tentu saja Tuan!" seru Yin Yin bersemangat. Begitupun dengan ketujuh gadis lainnya, terlihat wajah mereka nampak berseri.
"Bisakah kau memberitahuku dimana letak markas Asosiasi Gagak Surgawi di kota ini?"
Wajah berseri mereka perlahan-lahan lenyap, digantikan dengan pandangan heran dan penuh tanda tanya.
"Em...hanya itu Tuan?" akhirnya Yin Yin bertanya.
"Hanya itu." jawab singkat Lin Tian.
Hening sejenak. Kemudian terdengar Yin Yin berkata, "Maaf Tuan, tapi setahu saya, markas dari asosiasi itu tidak ada yang berada di kota-kota besar. Apalagi ditujuh kota kekuasaan keluarga penguasa."
"Tapi, saya pernah mendengar jika mereka mendirikan markas-markas rahasia di desa-desa atau tempat terpencil. Saya juga pernah mendengar asosiasi ini memiliki markas di desa Tanah Hujan yang letaknya jauh di selatan sana." jelas Yin Yin
Berseri wajah Lin Tian. Inilah yang dia tunggu, akhirnya setelah sekian lama, dia akan mendapatkan informasi tentang Nona mudanya dari asosiasi ini.
Hanya tinggal satu langkah lagi, yaitu pergi ke desa Tanah Hujan dan mendatangi mereka.
"Kalau begitu terima kasih atas jamuannya. Aku mohon pamit."
Bergegas Lin Tian bangkit dan hendak keluar. Akan tetapi langkahnya terhenti akibat seruan dari Nyonya tuan rumah itu.
"Tunggu Tuan!"
"Hm?"
Yin Yin diam sejenak. Kemudian wajahnya sedikit memerah. Lin Tian yang melihat hal ini lalu bertanya, "Ada apa?"
"Em...b-bolehkah aku melihat wajah sahabatku?" kata Yin Yin sedikit malu.
Lin Tian tidak langsung menjawab. Dia berpikir sejenak untuk memilih keputusan yang terbaik.
Tak berselang lama akhirnya Lin Tian memutuskan untuk mengabulkan permintaannya. Toh mereka orang baik, aku mungkin bisa meminta bantuan mereka demi kemajuan keluarga Zhang dimasa mendatang, pikir pemuda ini.
"Aku hanya berpesan, berhati-hatilah terhadap Aliansi Golongan Hitam. Jika mereka membalas dendam, pergilah temui Hu Tao. Dia adalah orang yang bisa kalian percaya."
Sambil berpesan demikian, Lin Tian membuka topengnya itu. Setelah ucapan itu berhenti, kembali ia mengenakan topeng dan berjalan santai pergi dari sana.
"Bruk-bruk-bruk"
Tujuh orang gadis pelayan itu tiba-tiba jatuh ke lantai dengan muka yang teramat merah.
"T-tampannya...." gumam mereka sebelum benar-benar pingsan.
Yin Yin masih memandang bengong kearah kepergian Lin Tian. Wajahnya juga tak jauh berbeda dengan ketujuh pelayan tadi.
Lalu tiba-tiba Yin Yin membenturkan wajahnya ke meja dengan sangat keras hingga membuat jidat perempuan itu mengeluarkan darah. Setelah itu dia juga ikut ambruk ke lantai.
"Dasar perempuan murah....!!....ingat Yin Yin...kau...sudah punya....suami dan anak....bisa-bisanya kau terpesona dengan wajah pria lain....Dasar wanita rendahan!!" setelah itu pingsan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG