Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 149. Jadilah Saksi


__ADS_3

"Hiaat!!-Haaiitt!!"


"Trang-Trang!"


Di tanah luas yang dipenuhi pepohonan itu, nampak seorang pria dan gadis yang sedang bertanding menggunkan pedang dengan sengitnya. Si gadis menggunakan pedang dan gerakannya indah sekali, bahkan seperti menari. Sedangkan si pria yang hanya berlengan satu dan bermata satu itu, menggunakan goloknya yang berkelebatan untuk menangkis setiap serangan dari si gadis.


Mereka bukan lain adalah Xiao Lian dan pengawal pribadinya Hao Yu. Mereka sedang berlatih pedang di halaman belakang kediaman Xiao yang memang ditumbuhi banyak pohon.


Daritadi Hao Yu terlihat jelas bahwa pria itu selalu mengalah, hanya sesekali membalas serangan yang sama sekali tidak berbahaya. Di sisi lain, Xiao Lian menyerang dengan sungguh-sungguh, karena dia tahu bahwa pengawalnya itu tak akan kalah darinya, sehingga dia tidak khawatir.


Setelah perubahan besar-besaran yang terjadi dalam diri ayahnya, sifat Xiao Lian lambat laun juga berubah. Jika dahulu dia memang pendiam, kali ini dia lebih pendiam lagi. Dan setiap hari dari pagi sampai sore, dia terus berlatih silat dengan giat sekali. Hingga membuat Hao Yu dan adiknya khawatir.


Memang gadis itu merasa kesal kepada ayahnya, karena dia menganggap ayahnya itu tidak bisa melihat kenyataan dan pura-pura buta. Semua orang tahu bahwasannya ibunya, Xiao Mei, telah tewas terbunuh orang dan setelah diselidiki ternyata Aliansi lah pelakunya. Namun agaknya Xiao Li belum bisa merelakan dan timbulah perubahan sikap yang amat mencolok itu.


Xiao Li, seorang pemimpin keluarga Xiao yang dihormati dan terkenal dengan kewibawaannya, saat ini namanya malah terkenal akibat kemurungannya. Setiap hari dia selalu mengenang kematian istrinya dan tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri, sungguh malang.


Karena latihan yang amat giat, saat ini Xiao Lian sudah mengalami kemajuan drastis. Bahkan adakalanya Hao Yu yang selalu menemaninya berlatih itu menjadi sedikit kerepotan saat menangkis pedang Xiao Lian.


Gadis ini memang luar biasa, dia sejatinya cukup berbakat akan ilmu silat, namun karena dahulunya dia jarang berlatih dan saat ini sama sekali tidak ada pembimbing, maka ilmu silatnya masih belum matang dan setengah-setengah.


"Anda hebat nona, ilmu pedang dan gerakan anda sudah mengalami banyak kemajuan!" puji Hao Yu kepada nonanya.


Gadis itu terengah-engah, namun tidak menjawab pujian Hao Yu. Dia menjadi dingin sekali saat ini, sifatnya sangat cuek dan tidak pedulian akan keadaan sekitar. Perubahan ayahnya benar-benar berdampak besar padanya.


Xiao Lian kemudian berjalan menuju salah satu pohon kemudian mendudukkan dirinya di sana. Menatap langit cerah di siang hari itu sembari mengibas-ngibaskan ujung lengan bajunya kearah leher yang penuh keringat.


Saat duduk seperti itu dia termenung, pandangannya memandang jauh ke atas sana. Entah apa yang dilihatnya.


"Lin Tian....akankah kau akan menjadi sosok penolong lagi bagi kami?" gumamnya tanpa sadar. Masih dalam keadaan menatap langit, tiba-tiba matanya panas dan terasa olehnya air mata akan segera tumpah bila dia tidak segera mengusapnya.


"Tidak, tidak..." dia menggelengkan kepalanya seolah-olah untuk menyadarkan diri sendiri.


"Aku tidak boleh terus bergantung kepadanya, ini kehidupanku!"


...****************...


"Kakak....!!" Xiao Niu berlari kearah kakaknya dan memeluknya erat. Sedetik kemudian dia menangis kencang.


"Tenanglah Niu'er, kakakmu akan baik-baik saja..." ucap Xiao Lian lembut seraya mengelus ujung kepala Xiao Niu.


Sedangkan di belakang sana, Hao Yu hanya menatap dengan pandangan prihatin.


Setelah latihan siang tadi, tiba-tiba Xiao Lian berkata kepada Hao Yu bahwasannya dia ingin pergi berkelana. Untuk meluaskan pengalaman dan melihat dunia luar sana.


Tentu saja Hao Yu terkejut dengan permintaan tiba-tiba itu. Dia mencoba membujuk bahkan sampai terjadi percecokan di antara mereka. Namun memang watak wanita itu yang bandel, maka dia membentak sekaligus mengancam.


"Memang kenapa sih kalau kau menolak!? Aku hanya mengajakmu, bukan memaksamu!! Kau pikir aku takut untuk pergi sendiri hah!??"


Demikian gadis itu membentak dan membuat Hao Yu pucat seketika. Maka tak ada pilihan lain, mau tak mau dia akan menemani nonanya untuk berkelana sekaligus untuk menjaga keselamatan gadis tersebut.


Dan saat ini, pada malam hari, Xiao Lian menghampiri ayahnya dan meminta ijin untuk pergi.

__ADS_1


Xiao Li tak langsung menjawab ketika mendengar permintaan itu, dia malah menatap tajam kearah putrinya. Mulutnya kadang membuka kadang menutup, namun tak ada suara keluar dari sana. Hingga akhirnya terdengar juga ucapan Xiao Li yang sedikit gemetar.


"Lian'er, benarkah aku tak salah dengar?"


"Benar ayah, aku ingin pergi berkelana untuk mencari ilmu agar aku bisa menjadi pendekar kuat untuk keluarga ini!" jawab Xiao Lian tegas.


Wajah pria itu kelihatan makin tua tatkala kedua alisnya berkerut dalam dan mukanya menjadi kusut tak enak dipandang. Xiao Lian yang maklum akan keadaan ayahnya, segera menghampiri dan memeluknya lembut.


"Ayah tenang saja, aku tidak akan menjadi seperti kakak yang lenyap dan lupa keluarga. Ayah, aku hanya ingin pergi sebelum kemudian kembali lagi ke sini. Lagipula, ada Hao Yu yang selalu menemaniku."


Tak terasa, air mata Xiao Li turun membasahi pipi yang kurus itu. Dia balas memeluk anaknya sambil berkata.


"Aku tidak ingin kehilangan lagi..."


"Aku tidak akan menghilang ayah..."


Xiao Niu juga segera menghampiri dan memeluk mereka, memang sulit untuk gadis cilik itu karena setelah kehilangan ibunya, tak lama lagi dia akan ditinggal kakaknya.


Hao Yu juga sedikit terharu melihat momen ini. Diam-diam dia mengutuk Aliansi Golongan Hitam yang sungguh biadab. Dia menyalahkan semua peristiwa ini kepada Aliansi dan mulai hari itu juga, api dendam yang sangat besar berkobar di hati Hao Yu. Sebuah dendam yang ditujukan kepada Aliansi Golongan Hitam, tempat dimana kakak nonanya itu bernaung.


"Berjanjilah untuk pulang..." setelah sekian lama berpelukan, akhirnya Xiao Li berkata lemah.


"Aku janji ayah!!"


Setelah itu Xiao Li menatap Hao Yu dengan tatapan tajam. "Hao Yu, aku juga ingin agar kau berjanji kepadaku. Agar kau melindungi putriku dengan taruhan nyawa, bahkan jika itu berarti akan menambah kecacatanmu atau bahkan menghilangkan nyawamu yang hanya satu itu!"


"Saya berjanji tuan, selama perjalanan, saya berjanji akan melindungi nona dengan taruhan nyawa saya!!" Hao Yu berkata sambil berlutut.


"Kakak, apa kakak akan benar-benar pergi? Kalau begitu aku ikut!!!" Xiao Niu berkata dengan mata bersinar semangat.


"Jangan Niu'er, kau tetaplah di sini untuk menemani ayah."


"Tapi..."


Bocah itu hendak memantah, namun urung karena kakaknya sudah memeluknya dan mencium keningnya dengan lembut.


"Kakak akan pulang suatu hari nanti, entah kapan itu aku tidak tahu. Tapi ingatlah, sampai saat itu tiba, aku akan tetap menjadi Xiao Lian, putri keluarga Xiao!! Dan aku akan tetap menjadi Xiao Lian, kakakmu yang akan selalu membelamu! Aku tak akan menjadi seperti kakak Xiao Fu, tidak akan..." katanya sambil menatap wajah adiknya.


"Ambil ini, jika kau merasa kesepian, cukup pandangi saja ini dan bayangkan aku ada di dalamnya." kata Xiao Lian sambil menyerahkan kalungnya. Kalung yang memiliki gantungan permata berwarna hijau tua.


Xiao Niu menerimanya dengan tangis yang kembali pecah.


"Kakak harus pulang!!" teriaknya nyaring sekali.


"Ya...pasti!!"


...****************...


Pagi hari itu, Xiao Lian dan Hao Yu sudah pergi meninggalkan Kota Batu. Mereka berangkat pagi-pagi sekali, sehingga ketika matahari sudah nampak setingga tombak, mereka sudah berada jauh sekali dari Kota Batu.


Selama awal keberangkatan sampai saat ini, tidak ada satu pun percakapan diantara mereka. Hao Yu sengaja mendiamkan saja nonanya itu karena berpikir bahwa gadis itu masih dalam keadaan berduka sehingga belum juga mengajaknya bicara.

__ADS_1


Hingga beberapa jam dan mereka sampai di atas puncak gunung. Begitu tiba di puncak, terlihat oleh mereka betapa indahnya pemandangan alam yang nampak dari atas sana. Bukit dan gunung-gunung menjulang tinggi, aliran sungai di kejauhan sana nampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Ada juga sebuah bukit yang nampak warna-warni karena dipenuhi dengan berbagai macam pohon bunga yang indah sekali.


Xiao Lian dan Hao Yu memandang semua itu dengan takjub. Jika Hao Yu memandangnya dengan mata terbelalak sampai tak berkedip, berbeda dengan Xiao Lian yang merasa kagum namun hanya mengekspresikannya dengan senyum tipis saja. Sepertinya hatinya masih sangat tertekan.


Melihat keadaan nonanya, Hao Yu merasa prihatin. Namun setelahnya segera dia bertanya soal sesuatu yang membuatnya penasaran sedaritadi.


"Nona, kita hendak pergi kemana."


Tak langsung terdengar jawaban dari gadis tersebut. Hao Yu mengira bahwa nonanya itu memang tak mau menjawab, maka dia hanya diam saja.


Namun tiba-tiba Xiao Lian merentangkan kedua tangan seraya menghirup napas dalam-dalam, sesaat kemudian dia menjawab. "Kemana saja..."


"Hah!?" seketika Hao Yu memasang wajah bodoh dan melongo heran.


"Hihi...wajar jika kau tak paham, intinya kau ikut saja denganku. Yang kumaksud kemana saja itu adalah, kau harus mengikutiku kemana saja aku pergi. Kalau aku sih, tentu punya tujuan."


Hao Yu makin terheran, hingga dia tak mampu berkata-kata. Namun keheranan itu segera terjawab ketika Xiao Lian kembali berkata, "Pernah aku mendenga kabar burung yang mungkin kau sudah tahu pula, bahwasannya di Pegunungan Tembok Surga sana, banyak sekali para pertapa sakti yang mengasingkan diri untuk menjauhi dunia ramai. Aku ingin mencari mereka dan berguru kepada mereka."


"Tapi untuk sekarang, kita tidak akan langsung ke sana. Pernah kudengar suatu kabar jika diujung pantai Selatan, ada seorang sakti yang berjuluk Dewa Kipas. Kabarnya kesaktiannya bahkan lebih tinggi dari Empat Dewa Mata Angin, namun karena dia tak ingin lagi mencampuri urusan dunia, maka dia hanya bertapa di sana dan tidak termasuk anggota empat datuk sakti itu." lanjutnya.


"Maaf nona, tapi untuk mencari seorang guru hebat, bukankah masih banyak cara lain. Banyak kemungkinan jika beliau-beliau itu, apalagi Dewa Kipas, tidak ingin terganggu hidupnya dengan mengangkat seorang murid. Jadi nona--"


"Hao Yu..." potong gadis itu cepat, membuat sipemilik nama tak berani melanjutkan perkataannya.


"Aku...merasa iri dengan seseorang."


Perasaan heran Hao Yu berubah menjadi terkejut. Iri dengan seseorang? Dengan siapa? Batinya penasaran.


"Keluarga Zhang, memiliki Lin Tian yang hanya sebagai pengawal nona Zhang, namun kesaktiannya luar biasa. Keluarga Hu, memiliki pemimpin muda yang sakti pula, tak kalah oleh Lin Tian. Sedangkan aku? Seorang putri dari keluarga Xiao, satu dari tujuh Keluarga Penguasa, tidak mampu melakukan apa-apa. Hanya mampu mengandalkan orang lain, bahkan sampai sekarang ini. Buktinya, aku memaksamu untuk ikut dalam pengembaraanku. Heh....sungguh aku pengecut sekali." ucap Xiao Lian tersenyum pahit.


"Jangan begitu nona, anda itu--" kembali ucapannya terpotong oleh suara gadis tersebut.


"Hao Yu, kau pikir aku memaksamu ikut adalah dengan tujuan agar kau melindungiku? Sama sekali tidak!!"


"Hah? M-maksud anda?" Hao Yu makin dibuat tak paham.


Detik berikutnya, gadis itu membalikkan badan dan tersenyum kearah pengawalnya. Sebuah senyuman lembut namun penuh kedukaan.


"Hao Yu, aku memaksamu ikut adalah karena aku ingin kau menjadi saksi. Saksi bahwa nonamu--tidak, bahwa gadis di hadapanmu ini bukanlah seorang sampah. Aku ingin kau bersaksi bahwasannya aku adalah seorang gadis yang bisa berguna bagi keluargaku, bukan hanya seorang beban saja. Bisakah kau berjanji untuk mengabulkan permintaan egoisku ini?"


Hao Yu terperangah. Terperangah karena terkejut mendengar perkataan itu, juga terperangah melihat senyum yang teramat manis itu. Maka segera dia berlutut dan menjawab.


"Saya berjanji nona, saya berjanji!"


Senyum Xiao Lian makin melebar. Lalu dia ikut berlutut pula dan memegang kedua pundak Hao Yu, menatap matanya dengan tatapan sayu dan lembut.


"Hao Yu, kau memang sudah berjanji kepada ayah, bahwa kau akan melindungiku dengan taruhan nyawa. Tapi ingat ini, selama pengembaraan, aku bukan nonamu dan kau bukan pengawalku! Kita adalah dua orang sahabat yang saling melindungi, karena itulah, aku juga tidak akan membiarkanmu mati begitu saja karena kelemahanku!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2