Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 254. Surat Untuk Sung Hwa


__ADS_3

"Suruh dia masuk menemuiku di ruangan penerima tamu." perintah Sung Hwa kepada salah seorang pelayan yang datang. Mendengar ini pelayan itu lekas berbalik dan menjalankan perintah nonanya.


Sung Hwa melanjutkan membaca bukunya, suasana di kamarnya itu hening sekali serta angin dari luar mampu menerobos masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Benar-benar tempat yang cocok untuk membaca buku seperti yang dilakukan wanita itu.


Mungkin ada lima menit kemudian, pelayan yang tadi memepersilahkan sang tamu masuk sudah kembali lagi ke ruangan Sung Hwa. Dapat dilihatnya bahwa wanita itu masih duduk diam di tempatnya, sama seperti tadi, masih membaca buku menghadap jendela.


"Nona, orang itu sudah menunggu di ruang penerima tamu."


"Baiklah, kau boleh pergi." jawab Sung Hwa tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibaca.


Beberapa saat setelah kepergian pelayannya itu, dia menutup bukunya setelah menekuk kertas di salah satu halaman untuk menandai dimana terakhir kali dia baca. Ia letakkan buku itu di atas meja dimana ada sebuah cermin kecil yang menjadi benda kesayangan wanita itu.


Memandangi dirinya sendiri dalam pantulan cermin, wajah yang mula-mula tanpa ekspresi itu perlahan-lahan mulai tersenyum manis. Kemudian dia mengerling kepada bayangannya sendiri seraya berkata. "Aku memang manis."


...****************...


"Tidak di sana, tidak di sini...semuanya sama saja! Aku sudah menunggu daritadi, tapi tuan rumah sama sekali tak segera menemuiku!" gerutu Xin Kiu lirih karena khawatir terdengar oleh para penjaga pintu.


Pintu besar dari dalam ruangan terbuka seketika, refleks Xin Kiu menoleh untuk memandang siapa adanya yang datang. Kemudian kalimat pertama yang berteriak di hatinya adalah, "Cantik sekali!!"


Terlihat Sung Hwa berjalan dengan anggun menuruni beberapa anak tangga yang mengubungkan ruangan dalam dengan ruangan dimana Xin Kiu duduk. Jubahnya berwarna hitam panjang sampai mata kaki, tapi di balik jubah itu, agaknya Sung Hwa hanya mengenakan pakaian tanpa lengan sehingga memperlihatkan lengan atas sampai ujung jarinya. Putih mulus!


Cepat-cepat Xin Kiu mengalihkan perhatiannya untuk memandang hidangan yang tadinya disediakan oleh para pelayan. Diam-diam dia mengatur aliran nafasnya untuk membuatnya terlihat setenang mungkin.


"Fiuh...."


Setelah beberapa kali tarikan nafas, akhirnya Xin Kiu mampu menenangkan debaran jantungnya yang seperti memukul-mukul dada dari dalam. Dia memasang ekspresi dingin karena ingat akan pesan Lin Tian.


"Kau tak usah takut dengan mereka berdua. Percayalah, dengan suratku dan namaku, mereka tak akan berani mengganggumu bsrang seujung rambut."


Demikianlah pesan suci dari Lin Tian begitu menyerahkan dua surat untuk Fu Hong dan Sung Hwa.


Melihat Sung Hwa sudah datang dekat dan duduk di kursi depannya, segera Xin Kiu berdiri dan memberi hormat.


"Hormat kepada nona Sung Hwa, murid terpandai Hati Iblis."


"Hm..." balas Sung Hwa singkat menyuruh Xin Kiu duduk.

__ADS_1


Setelah Xin Kiu duduk di tempatnya semula, ruangan menjadi hening karena keduanya sama-sama tidak ada yang buka suara. Sung Hwa menunggu Xin Kiu bicara sedangkan Xin Kiu terlalu gugup untuk mengutarakan maksud tujuannya datang kemari.


"Kau mau bicara apa denganku?" ucap singkat Sung Hwa sambil tersenyum. Cantik benar, pikir Xin Kiu.


Rumor mengatakan bahwa Sung Hwa ini adalah sosok yang baik serta halus tutur katanya. Diam-diam Xin Kiu mulai percaya dengan rumor itu karena setelah beberapa bulan tinggal di sini, baru sekali inilah dia bertemu sedekat ini dengan Sung Hwa.


"Kenapa kau seperti berhadapan dengan setan saja, nih makanlah...hargai para pelayan yang menyiapkan ini untukmu." kembali Sung Hwa berujar seraya memberikan satu buah apel kepada Xin Kiu yang dengan gugup menerimanya.


Kembali hatinya merasa benar-benar yakin akan rumor yang beredar itu. Wah ternyata nona Sung Hwa adalah sosok berbudi, batinnya dengan girang.


Tapi tiba-tiba, ucapan seseorang yang satu-satunya dapat dipercaya saat ini bergema dalam kepalanya. "Fu Hong itu lincah sekali dan ucapannya macam brandalan pasar di pelabuhan. Sedangkan Sung Hwa tutur katanya sopan dan halus. Tapi ingat, hati mereka mungkin sejajar dengan iblis!"


Mengingat ini, dia mengeraskan hatinya dan berkata untuk mengingatkan diri sendiri. "Sung Hwa tak lebih manusia dari Fu Hong sedangkan Fu Hong tak lebih mending daripada Sung Hwa. Keduanya sama-sama orang jelmaan setan!! Aku harus hati-hati!"


"Hem...ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu? Hihi...hayo makanlah apel segar itu, percayalah rasanya enak. Aku tidak bohong." Sung Hwa berujar lirih menutupi mulutnya dengan tangan kiri.


"Woaaahh....Lin Tian sepertinya berbohong akan Sung Hwa!!"


"Ekhm....terima kasih nona. Tapi urusanku ini terlalu penting untuk dibandingkan hanya memakan sebuah apel." akhirnya Xin Kiu berkata sambil meletakkan kembali apel itu pada tempatnya.


"Memangnya sepenting apa itu?"


"Tolong dibaca ini, anda akan tahu dari siapa pengirimnya karena sudah tertera di dalamnya." kata Xin Kiu yang akhirnya memilih makan juga buah apel pemberian Sung Hwa.


"Hah....padahal dia tadi hanya memegang buah ini sebentar, tapi....wangi sekali!!!" dia menjerit dalam hati ketika mencium bau apel itu yang sangat wangi.


Ketika dia melirik untuk melihat perubahan raut ekesprei Sung Hwa setelah membaca surat itu, dia mengerutkan kening. Apakah dia salah kirim surat, pikirnya.


Terlihat wajah Sung Hwa yang makin lama makin keruh dan tak enak dipandang. Wajahnya lambat laun menjadi bengis dan matanya tajam melotot memandang Xin Kiu yang sudah ciut nyalinya.


"No-nona?"


"Brakk!!"


Sung Hwa menggebrak meja dengan kakinya dan menekan pundak kiri Xin Kiu ke kursi. Membuat Xin Kiu meringis kesakitan tapi diam-diam dia bersyukur juga karena rasa sakit itu sedikit terobati dengan bau harum memabokkan yang menguar dari tubuh Sung Hwa.


"Hei...apa maksudmu ini?"

__ADS_1


"Eh...eh...." Xin Kiu bingung sekali ketika nada daripada pertanyaan itu terlampau dingin dan menusuk. Membuat bulu kuduknya berdiri dan tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin mulai bercucuran.


"M-maksud nona?" dengan gugup dia bertanya.


"Brakk!!" sekarang tangan kiri Sung Hwa yang bergerak menekan sandara kursi di samping kanan Xin Kiu. Membuat benda tak berdosa itu retak bahkan hampir bolong.


"Kenapa kau tak bilang surat itu dari Lin Tian. Surat sepenting itu....apalagi surat sepenting dan segawat itu.....kenapa tak bilang dari awal....? Heh....kau pikir aku ini wanita kejam yang akan membuat orang lain menunggu ketika keinginan sudah di ujung ubun-ubun?"


"Kau melakukan hal itu padaku tadi!! Aku menunggumu lama sekali!!!"


"M-maaf nona...." akhirnya hanya itu yang mampu terucap dari mulut gemetar Xin Kiu.


Ketika Xin Kiu memejamkan mata, tiba-tiba muka Sung Hwa memerah dan menjadi merah sekali semerah buah apel yang tadi dimakan Xin Kiu.


Perlahan dia melepas cengkeraman di pundak Xin Kiu dan berjalan pergi dengan tenang. Memasuki ruangan dalam.


Sebelum tubuhnya benar-benar lenyap, dia berkata kepada Xin Kiu, "Sudahlah, maafkan kekasaranku. Sekarang kau boleh pergi dan katakan pada Lin Tian aku akan mengabulkannya." ucapnya yang sudah menjadi halus sekali namun sedikit gemetar.


Xin Kiu tak tahu, jika dibalik suara itu Sung Hwa sedang menekan dirinya sendiri agar tidak mencolok di depan Xin Kiu. Jika tidak begini, tentu dia akan malu karena dia merasa sangat....sangat.....sangat....yah nanti akan tahu ketika melihat surat Lin Tian.


Xin Kiu melongo melihat perubahan sikap yang begitu tiba-tiba itu. Dengan tiba-tiba pula, hatinya kembali memercayai Lin Tian sepenuhnya.


"Lin Tian tidak berbohong padaku!"


...****************...


Ketika perjalanan pulang, entah kenapa dia heran sendiri kepada Lin Tian.


"Lin Tian...hatimu sungguh kuat untuk menahan godaan sebesar itu." demikian antara lain Xin Kiu memberi komentar.


Kemudian dia malah bergidik sendiri ketika mengingat isi dari surat Lin Tian yang ditujukan kepada dua bidadari itu.


"Datanglah ke pantai pulau sebelah Utara pulau utama. Aku sudah tak tahan lagi!!!"


Xin Kiu berkeringat dingin seketika, "Apa yang akan terjadi jika dua orang setan berkulit bidadari itu sampai berjumpa?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2