Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 105. Penolong


__ADS_3

Tujuh puluhan orang bersama Lin Tian itu berlari cepat meninggalkan kawasan markas Aliansi. Namun kiranya pendekar-pendekar Aliansi itu sudah mengejar pula sambil menembaki mereka dengan senjata rahasia atau anak panah.


"Berhenti kalian!!" bentak seorang anggota Aliansi sambil melemparkan tujuh buah jarum beracun.


"Cih sialan!!" bentak salah satu rombongan Lin Tian seraya mengayunkan tangan menangkis.


Tak lama setelah itu, muncul ratusan anak panah yang meluncur deras ke arah mereka. Tentu saja hal ini membuat kaget mereka semua, maka dengan sangat terpaksa, puluhan orang ini menghentikan larinya dan berbalik untuk menangkis hujan anak panah tersebut.


"Persiapan tempur!!" demikian kakek tua itu memerintah begitu melihat ratusan pendekar Aliansi yang sudah mengurung mereka.


Lin Tian juga tidak diam saja. Dia cepat mencabut Pedang Dewi Saljunya kemudian memasang kuda-kuda sempurna. Sambil tangan kirinya masih memanggul Ang Bei.


"Heii orang-orang Perguruan Elang Bayangan!! Berani-beraninya kalian menerobos keluar. Apa kalian sudah tak takut akan kematian!!?" bentak seorang pria pendekar Aliansi sambil menodongkan tombaknya.


"Huahahaha....kalianlah yang takut mati!! Buktinya kalian mengurung kami dengan batu sialan itu. Sekarang coba maju, ingin kulihat sampai dimana nyali kalian!!" jawab kakek tua itu tertawa lebar.


Lin Tian terkejut sekali mendengar ini. Lebih tepatnya terkejut akibat perkataan pendekar Aliansi itu. Perguruan Elang Bayangan? Bukankah mereka juga yang membantu dalam penumpasan bajak sungai Naga Air di Desa Hijau dulu? Demikian pemuda ini bergumam dalam hati.


Lin Tian kembali memandang penuh perhatian ketika suara kakek itu terdengar.


"Aku selaku pimpinan Perguruan Elang Bayangan yang telah kalian hancurkan, tak akan pernah gentar sedikitpun untuk melawan setan-setan macam kalian!!"


Kembali Lin Tian tercengang karena terkejut. Ternyata kakek yang ditolongnya itu adalah seorang pemimpin dari perguruan besar tersebut! Dan yang lebih mengagetkannya, perguruannya telah hancur? Yang benar saja!.


"Keras kepala!! Kau juga Pendekar Hantu Kabut, mengapa kau tiba-tiba datang mengacau!?"


"Hmph, kalau kujawab untuk mengisi waktu luang, kau mau apa!?" jawab Lin Tian dengan tenang dan mengejek.


"Kau...!! Kalian para anjing-anjing busuk!! Tak tahu tingginya langit dalamnya lautan! Matilah disini, serbuuu!!!!"


Serentak ratusan orang Aliansi itu segera mengurung dan mengeroyok tujuh puluhan orang itu. Namun ternyata orang-orang dari Perguruan Elang Bayangan bukanlah seorang pengecut. Mereka dengan gagah perkasa menyambut datangnya serangan dan menyerang balik.


Sedangkan si pria bertombak tadi sudah bertarung hebat melawan kakek pemimpin Elang Bayangan. Gerakannya amat cepat, agaknya dia ini memang seorang ahli tombak kawakan.


Namun di sisi lain, kakek tua yang belum diketahui namanya itu juga tak kalah hebat. Walau dengan tangan kosong, dia mampu menangkis bahkan menyerang balik. Sungguh luar biasa!


"Cih!! Jangan sombong kau. Hanya seorang pendekar rendahan berani malawanku dan hendak mengalahkanku!? Jangan mimpi!!" seru si kakek itu disela-sela pertarungan.


Kemudian, kakek itu menghentakkan kedua lengan ke depan. Mengirim pukulan tenaga dalam yang luar biasa hebat.


Pria bertombak itu segera menggeser tubuh ke kanan, disusul dengan tusukan tombak kearah lambung.


"Trang!"


Terkejut hati pria bertombak itu. Begitu tombaknya sudah berjarak kurang lebih satu senti dari lambung si kakek, entah dengan cara apa dan bagaimana, tiba-tiba tangan yang sudah pemuh dengan keriput itu mampu menangkis dan malah balas menyerang.


"Deesss!!"


Hantaman tangan kiri si kakek tepat mengenai dadanya. Membuat dada orang tersebut berwarna hitam seperti terbakar. Setelah bergulingan beberapa kali, orang ini roboh binasa.


Di pihak Lin Tian juga tak kalah seru. Dengan pedang di tangan kanan, dia mengamuk hebat sekali. Sungguh pun tangan kirinya masih memanggul tubuh Ang Bei, tetapi tidak ada satu pun senjata yang mampu menggores tubuhnya.


"Inikah Pendekar Hantu Kabut itu? Mengerikan!!" gumam seorang pendekar Aliansi dengan perasaan ngeri dan gentar. Maka dengan kaki menggigil ketakutan, dia memilih untuk lari meninggalkan medan tempur.

__ADS_1


Pertempuran masih berlangsung sampai setengah jam lamanya. Dan pihak Perguruan Elang Bayangan terus mendesak Aliansi.


Namun ternyata, dari arah markas sana, muncul lima ratusan pendekar yang siap membantu tiga puluhan anggota Aliansi yang masih tersisia. Agaknya mereka ini adalah bala bantuan Aliansi yang dipanggil oleh orang yang lari ketakutan itu.


"Gawat! Kita harus segera lari!" seru Lin Tian.


"Mundur....mundur!! Lari masuk ke hutan!!" kakek itu berseru keras.


Maka tujuh puluh orang yang sekarang tinggal lima puluh orang itu, segera mengerahkan ilmu lari cepatnya menuju kegelapan hutan.


Akan tetapi, kiranya keberuntungan belum berpihak kepada mereka. Pasalnya, begitu mereka baru saja memasuki hutan, dari arah belakang sana nampak banyak sekali bola-bola api yang melayang di angkasa lepas. Tahulah mereka semua bahwa itu adalah anak panah berapi yang dilepaskan oleh bala bantuan tersebut.


"Celaka!! Ini benar-benar gawat!!"


"Pemimpin, kita lari kemana!!?" teriak salah seorang anggota Perguruan Elang Bayangan.


Alih-alih menjawab, kakek itu malah terus berlari. Dia sebenarnya juga bingung hendak lari kemana, karena jelas jika panah-panah itu sampai membakar hutan, tak akan lagi ada tempat sembunyi yang aman.


Di tengah-tengah kebimbangannya, tiba-tiba ada sebuah gema suara yang segera mengejutkan mereka semua.


"Hei kalian, belok ke kanan!!"


Tentu saja hal ini mengejutkan mereka. Namun karena tidak ada pilihan lain, segera mereka semua berbelok kearah kanan.


Ratusan anak panah itu sudah turun dan membakar hutan, memaksa mereka untuk berloncatan kesana-sini menghindarkan diri dari api.


Sampai jauh mereka terus berlari dan suara misterius itu belum terdengar lagi. Sedangkan dari arah Utara, ratusan pendekar Aliansi sudah semakin dekat.


Beberapa menit kemudian, kembali suara itu terdengar.


"Terus maju kedepan, dan setelah bertemu dengan pohon pek yang dibawahnya terdapat batu berbentuk kubah, segera belok ke kiri. Kira-kira seratus meter kemudian, turunilah tebing curam itu melalui batu-batu cadas yang tidak ditumbuhi lumut."


Mereka semua nampak girang bukan main mendapat petunjuk dari sosok misterius tersebut.


Dan benar saja, kira-kira sejauh tiga ratus meter kedepan, terdapat pohon pek yang tinggi sekali, di bawahnya juga terdapat batu kubah besar. Maka setelah melewati pohon itu, segera mereka berbelok ke kiri.


"Inikah tempatnya?" tanya kakek pemimpin begitu mereka sudah tiba di atas tebing yang sangat curam.


"Sepertinya memang begitu Tuan." jawab Lin Tian seraya memandang kebawah tebing.


Ternyata di bawah sana, mengalir air sungai yang sangat deras. Sungai itu juga cukup lebar. Walau keadaan masih gelap, namun mereka tahu jika dibawah terdapat sungai adalah karena suara gemericik air yang terdengar sampai keatas tebing.


"Benar-benarkah di sini tempatnya?" tanya salah satu orang yang nampak ragu-ragu.


"Sudahlah jangan banyak tanya! Kita percaya saja dengan orang itu. Ayo lekas turun!" jawab Lin Tian mencoba menyakinkan.


Setelah itu, dengan diawali Lin Tian dan si kakek, berturut-turut lima puluhan orang itu merayap turun.


Ternyata mereka semua mendapat kenyataan bahwa batu cadas tak berlumut itu selain tidak licin, juga jalan untuk menuju ke bawah lebih mudah karena banyaknya cekungan-cekungan batu yang bisa dijadikan tempat pijakan atau pegangan. Karena itulah, dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi, mereka dapat menuruni tebing tanpa kesulitan berarti.


"Kemana mereka pergi!?" terdengar suara keras dari atas tebing sana. Dia adalah pendekar Aliansi yang tadinya melakukan pengejaran.


"Lihat, mereka turun ke bawah!!" seru temannya sambil mengarahkan obornya kearah bawah tebing.

__ADS_1


"Panah mereka!!"


Maka berkumpulah para pemanah itu dan mengarahkan anak panah itu ke bawah.


"Sialan!! Dasar keras kepala!!" ucap Lin Tian emosi.


"Tembak!!"


Dengan satu komando, meluncurlah puluhan batang anak panah itu. Menghujani tubuh mereka yang masih merayap-rayap seperti cicak itu.


"Trang-Trang-Trang!!"


"Cepatlah turun! Nyawa kalian dalam bahaya!!" suara misterius itu kembali berucap.


Dengan aneh dan ajaib sekali, puluhan batang anak panah itu berbelok arahnya dan tidak ada satupun yang mengenai target. Karena mereka semua memiliki kepandaian tinggi, maka sekali lihat saja tahulah mereka bahwa tadi ada seseorang yang menangkis anak-anak panah tersebut dari bawah.


Pemimpin para pengejar itu kembali memerintahkan untuk memanah. Namun kembali anak-anak panah itu meleset berbelok arah.


"Sialan!! Turun, kejar mereka!!" akhirnya pemimpin itu beseru setelah tiga kali percobaan serangan anak panah gagal.


Sedangkan Lin Tian dan lima puluh orang itu sudah sampai di bawah tebing. Lalu terdengar Lin Tian berseru keras.


"Lalu kemana lagi!!?"


"Lihat ke kanan, dan seberangilah sungai dengan jembatan alami yang terbuat dari susunan batu-batu kali itu. Aku tunggu kalian di seberang."


Mereka segera menuruti perintah itu. Menyebrang sungai melalui "jembatan" tersebut.


Begitu sampai di seberang, wajah Lin Tian nampak berseri begitu melihat siapa yang telah menolongnya.


"Kau...terima-"


"Diam! Tak ada waktu untuk bicara!" potong orang itu kemudan berjalan menghampiri sungai. Kemudian dia memberi isyarat kepada Lin Tian untuk mendekat.


"Kemarilah dan tolong aku!"


Lin Tian menurut. Begitu sampai di dekatnya, orang itu kembali berkata.


"Bantu aku untuk memecahkan batu-batu ini agar mereka tidak bisa menyebrang."


Lin Tian mengangguk paham. Kemudian menurunkan Ang Bei dan memasang kuda-kuda. Sejurus kemudian, pemuda ini sudah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengirim pukulan jarak jauh guna menghancurkan batu-batu.


"Brak-Brak-Brak!"


Berkali-kali suara keras terdengar begitu belasan batu jembatan itu hancur terkena sambaran tenaga dalam dua orang sakti tersebut.


Setelah benar-benar hancur, orang itu segera mengajak mereka semua pergi dari sana.


"Ikuti aku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2