
Lima wanita perkasa berjuluk Hantu Merah, pasukan pengawal paling dibanggakan oleh Zhang Qiaofeng, bergerak liar nan cepat membabati kepala-kepala manusia itu seperti menebas rumput kering.
Namun di luar tahu semua orang, pandang mata mereka tak pernah tertuju kepada seseorang yang dibunuh. Mereka selalu melirik nonanya yang sedang bertarung hebat melawan A Yin dan A Liu. Tak bisa dipungkiri perasaan khawatir melingkupi seluruh benak mereka.
Tak hanya Hantu Merah, perasaan yang sama juga dirasakan oleh Zhang Hongli dan Minghao yang bertempur dengan setengah hati. Mereka seringkali lengah karena perhatian serta kewaspadaan tercurahkan untuk Zhang Qiaofeng dan Lin Tian. Seolah mengantisipasi jika keduanya dalam bahaya, maka mereka bisa langsung melesat memberi bantuan.
Memang pertarungan antara delapan pendekar sejati itu cukup berat sebelah. Agaknya hanya Kang Lim yang mampu mengimbangi lawannya. Karena Zhang Qiaofeng dan Lin Tian, sungguh pun lebih kuat dari Kang Lim, namun musuh yang dihadapi mereka juga dua kali lebih kuat.
Kepandaian gabungan antara dua orang lawan itu sedikit banyak mampu membuat kerugian di pihak Lin Tian juga Zhang Qiaofeng.
"Hyaaat!"
Pekik Lin Tian nyaring ketika membabatkan pedangnya dengan bacokan keras. Ilmu pedang Teratai Putih ia mainkan sedemikian rupa sehingga mengeluarkan angin bercuitan setiap kali pedang menyambar.
Tepat saat Zhang Heng dan A Jiu melompat menghindar, kakinya bergerak gesit melakukan putaran berbentuk huruf-huruf di kitab Ketenangan Batin. Lalu sekali lagi ia memekik untuk menembakkan angin puyuh dari tangan kiri menuju lawan-lawan Zhang Qiaofeng.
"Ughh!" lenguh A Yin dan A Liu, memandang Lin Tian marah.
"Jangan alihkan perhatianmu!" bentak Zhang Heng dan kembali menerjang.
Merasa ada bantuan dari Lin Tian, Zhang Qiaofeng panas hatinya. Dia merasa diremehkan Lin Tian karena tak bisa mengalahkan dua orang lawannya. Maka setelah itu serangan kedua belatinya jauh lebih ganas dan mematikan.
Namun usaha mereka yang kian mengeras mendapat tanggapan yang tak kalah keras. Lawan-lawan mereka makin gencar mengirim serangan ganas yang membuat Lin Tian maupun Zhang Qiaofeng kepayahan.
Apalagi Zhang Heng yang terlihat sangat bernafsu membunuh pemuda itu. Benar-benar membuat repot karena ilmunya Pukulan Tapak Api yang sangat panas sekaligus berbahaya.
Zhang Heng melesat dan tiba di punggung Lin Tian. Ketika A Jiu mengirimkan tendangan dua kaki mengarah dada Lin Tian, Zhang Heng dengan pedang hitamnya meluncur deras bak anak panah, menusuk punggung pemuda itu.
Satu-satunya usaha yang dapat Lin Tian lakukan saat ini adalah melawan, tak ada waktu untuk menghindar.
Ia kerahkan hawa saktinya ke tangan kiri dan Pedang Dewi Salju. Ketika senjata itu berkelebat, terdengar suara mencicit nyaring yang dengan telak memutar balik arah serangan Zhang Heng. Kemudian terdengar pekik kaget ketika tangan Lin Tian mampu melemparkan tubuh A Jiu kearah sebaliknya.
Dua orang itu bangkit berdiri dan melongo.
__ADS_1
"Bocah ini....benar-benar sesuatu..." gumam A Jiu.
Zhang Heng memandangi Lin Tian penuh perhatian. Bagaimana pun juga rasa gentar dan ragu mulai mengakar di hatinya. Kemudian tanpa sengaja matanya melihat siluet Zhang Qiaofeng yang terus menggempur A Liu dan A Yin. Lalu pandangannya kembali tertuju pada Lin Tian.
Zhang Heng tercekat, seperti teringat akan sesuatu dan hal itu bukanlah hal baik. Terlihat dari suaranya yang menggereng-gereng marah.
"Sepasang Naga Putih...." desisnya geram.
"Sepasang Naga Putih....ternyata kalian! Guru benar-benar salah duga dan bodoh sekali telah membunuh si rambut putih!"
A Jiu terperanjat mendengar ucapan Zhang Heng tadi. Begitu pula dengan saudara-saudaranya. Tapi Zhang Qiaofeng dan Lin Tian tak peduli, seolah mereka sudah tahu akan identitas itu.
Di saat tegang seperti itu, tiba-tiba datang angin badai yang menerbangkan orang-orang di sekitar delapan pendekar itu. Menjauhkan mereka dari pertempuran kedelapan pendekar sejati.
Pertarungan berhenti sejenak dengan kedatangan angin badai ini. Lalu suhu sekitar berubah dingin dan membekukan rumput serta dedaunan.
Ketika fenomena aneh membingungkan ini datang dan belum sempat ada yang merasa bingung, karena saking terkejutnya, di situ tahu-tahu sudah berdiri dua orang lainnya. Berdiri di batang pohon besar dengan tangan terlipat di depan dada.
"Hm....Sepasang Naga Putih sudah keluar. Nah, aku tidak bohong kan..." ucap kakek bercaping lebar itu. Chong San melirik Zhang Heng dan keempat pembantunya.
"Kau....kau....ternyata masih hidup! Pertapa Tangan Beku, sudah puluhan tahun sejak hari itu dan kau masih hidup!?"
Wang Ling Xue memandang sekilas ke arah A Liu dan mendengus. "Entahlah, mungkin yang berdiri di hadapan kalian ini cuma setannya."
"Guru!" seru Lin Tian dan Zhang Qiaofeng bersamaan. Sedangkan Kang Lim hanya mampu memandang bengong, namun melihat Lin Tian memanggil guru, wajahnya menjadi berseri.
"Sekarang....adil bukan? Lima lawan lima." gumam Chong San menatap satu persatu dari mereka, seolah mencari lawan. "Ah...kau pantas jadi lawanku." ucapnya kemudian menunjuk A Jiu dengan tongkatnya.
Diam-diam A Jiu terkejut dan melompat ke samping. Tongkat butut itu tak hanya menunjuk, melainkan juga mengeluarkan angin kencang yang mampu memaksa A Jiu menyelamatkan diri.
"Bangsat!" pekik A Jiu dan menerjang tubuh Chong San yang sudah memijak tanah.
"Nah, ayo lanjutkan pertandingan kita puluhan tahun lalu!" ujar Wang Ling Xue seraya menerjang A Liu.
__ADS_1
Pertarungan berlanjut makin dahsyat dan sengit. Anggota-anggota Iblis Tiada Banding sudah kehilangan semangat karena bagaimana pun juga, Zhang Heng serta para pembantunya memang datang, namun mereka sama sekali tidak membantu.
Sehingga pertempuran tak ada perbedaan kalau pun mereka tidak datang. Iblis Tiada Banding kalah dalam jumlah dan strategi. Pasukan kaisar agaknya benar-benar matang untuk menggunakan berbagai macam siasat perang.
Sebaliknya, rencana matang yang telah disusun oleh Iblis Tiada Banding tak berguna banyak karena adanya pengacau selama beberapa hari lalu.
"Aku menyerah–aaahhh!"
"Ampuni ak–Akkhh!"
Orang-orang Iblis Tiada Banding yang putus asa membuang senjata dan berlutut memohon-mohon. Namun kaisar Song dengan tombaknya, sama sekali tidak memberi ampun dan terus melibas mereka.
"Bunuh semua! Bunuh!!!"
Perang itu tak lagi menjadi perang. Lebih ke pembantaian.
Korban di kedua belah pihak jatuh dalam skala besar. Namun jika pasukan kaisar mengalami kerugian besar sebanyak ratusan atau mungkin ribuan orang, Iblis Tiada Banding bersih semua. Tak menyisakan satu pun orang selain lima orang terakhir yang sedang bertempur hebat jauh di sana.
Ada beberapa orang yang kabur dan berhasil lolos. Namun sebagian besar dapat ditangkap atau dibunuh di tempat.
Saat itu kekaisaran sudah dapat dianggap menang. Namun rimba persilatan belum dapat ditentukan pemenangnya karena datuk-datuk mereka sedang menentukan siapa yang berhak menjadi pemenang!
"Ini pertarungan terakhir!"
"Lin Tian, nasib semua orang ada di tangan kita!"
Zhang Qiaofeng dan Lin Tian saling pandang beberapa saat. Padahal di hadapan mereka sedang terjadi pertempuran sengit dengan serangan-serangan maut.
Namun hanya dengan kontak mata beberapa saat saja, seolah hati mereka sudah saling mengerti dan terpaut. Keduanya tersenyum penuh arti dan saat itu, api semangat berkobar dalam diri mereka, meluap-luap tanpa mampu dicegah lagi.
Keduanya berseru bersamaan, menerjang bersama dalam ritme serangan kombinasi yang rapi dan tangkas. Saling melengkapi kekurangan satu sama lain dan selalu bergerak dengan tempo serta pola luar biasa.
Saat itulah, semua orang seakan tidak sedang melihat pertarungan manusia. Dua orang itu benar-benar seperti sesuatu yang sangat indah. Sesuatu yang menari-nari di langit bebas, meliuk-liuk di angkasa mengarungi cakrawala. Seperti sepasang naga!
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG