Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 83. Tujuh Gadis Pelayan


__ADS_3

Lin Tian dan Minghao hanya mampu menelan ludah dengan gugup sekaligus tegang begitu melihat perubahan ekspresi yang begitu tiba-tiba dari Gong Fai. Mereka khawatir kalau-kalau kakek satu ini menolak, atau yang lebih parah malah marah-marah.


Namun kejadian berikutnya membuat mereka menghela nafas lega dan bersyukur dalam hati. Pasalnya secara tiba-tiba pula, kakek itu tertawa dan berkata.


"Bwahahaha....aku terima!! Inilah yang kutunggu-tunggu. Lin Tian, kau telah menyelamatkan bisnis serta anak muridku, sudah sepatutnya aku membalas budi tak terbayarkan ini! Haha...kapan kita berangkat?" demikianlah kakek itu berkata dengan senyum lebar di wajahnya yang berseri.


Lin Tian berpikir sejenak sebelum berucap, "Bagaimana kalau empat hari lagi Tuan? Kami harus pergi ke Kota Sungai Putih lebih dulu sebelum pulang ke rumah, apa anda tak masalah?"


"Jangankan empat hari, besok pun aku dan muridku sudah siap sedia!! Lebih baik aku ikut sekalian bersamamu ke Kota Sungai Putih itu, bagaimana apa kau keberatan huh?" tanya Gong Fai.


Lin Tian dan Minghao saling pandang sejenak. Kemudian terdengar Minghao berbisik perlahan, "Keputusan ada ditanganmu Lin Tian."


"Apa!? Tapi kan paman yang lebih tua, bukankah seharusnya paman bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan seperti ini??" balas Lin Tian yang agaknya kurang setuju dengan usulan itu.


"Hah, apa kau lupa bahwa posisimu dan posisiku itu berbeda? Kau seorang pengawal pribadi sekaligus tangan kanan dari pemimpin keluarga, sedangkan aku hanyalah seorang tetua. Sudah selayaknya aku patuh dan mengikuti perintahmu." jawab Minghao yang masih berbisik pula.


Mendengar ini Lin Tian hanya menghela nafas pasrah. Sebenarnya bukan karena dia keberatan, tapi dia bingung ketika sudah sampai di Kota Sungai Putih nanti, orang-orang Pandai Besi Selatan ini hendak ditaruh dimana? Tak mungkin kan dibiarkan menjadi gelandangan kota.


Kalau di penginapan, sudah menjadi kewajibannya untuk membayar. Dan saat ini separuh uang bekalnya sudah habis digunakan untuk pengobatan racun kemarin, dan sisanya hanya cukup untuk biayanya dan Minghao diperjalanan. Hal ini sungguh membuat Lin Tian bingung dan dilema.


"Tenang, karena aku yang meminta untuk ikut, aku tak akan merepotkanmu. Ketika di sana nanti, biar aku dan muridku mencari makan dengan uang sendiri. Dan jika seandainya kau di sana lebih dari satu hari, biarlah penginapan kami dibayar dengan uang sendiri pula. Kau tak perlu kahwatir." ucap kakek itu tiba-tiba. Agaknya dia tahu apa yang sedang dipikirkan Lin Tian.


Mendengar ini Lin Tian terkejut dan cepat menjura, "Ah...maafkan kami ini Tuan. Padahal kami yang butuh tetapi malah kami juga yang merepotkan. Sekali lagi maaf."


"Haha untuk apa sungkan-sungkan dengan orang sendiri. Kalian sama sekali tak merepotkanku, justru sebaliknya!! Aku senang bisa mendapat kepercayaan kalian! Maka dari itu aku ucapkan terima kasih!!"


Sekali lagi Lin Tian menunduk memberi hormat. Lalu mereka segera pamit untuk persiapan perjalanan besok. Gong Fai pun juga tak tinggal diam, dia segera memberitahukan hal ini kepada murid-muridnya dan mereka semua nampak sangat senang.


Kemudian hari itu juga, kakek tua itu memutuskan untuk menutup toko Pandai Besi Selatan di Kota Batu, dan akan membuka toko itu kembali di tempat Keluarga Zhang.


"Mari naik Tuan semua!!" ucap Minghao di atas seekor kuda besar. Tangan kirinya memegang kendali lima ekor kuda. Begitupun dengan Lin Tian, di atas punggung kudanya, dia memegang kendali empat ekor kuda lain.


"Terima kasih nak, ayo ambil kuda kalian dan kita segera berangkat!!" seru kakek itu yang langsung melompat keatas kudanya dengan sebelah kaki, hebat sekali memang.


Kedelapan muridnya pun juga langsung ikut melompat pula ke punggung kuda masing-masing. Maka pagi hari itulah rombongan Lin Tian pergi ke Kota Sungai Putih untuk kembali melanjutkan tugas.

__ADS_1


...****************...


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Gong Fai dengan raut wajah bingung menatap gedung tiga lantai dihadapannya.


"Anda akan tahu, kita di sini juga untuk makan. Mari masuk!" jawab Lin Tian santai sembari melangkah. Kudanya ia titipkan kepada seorang pelayan yang memang bertugas untuk menjaga alat transportasi pengunjung.


Gedung itu bukan lain adalah gedung tempat Yin Yin bekerja. Di papan besar lantai satu bertuliskan "Rumah Makan Piring Emas", lantai dua bertuliskan "Penginapan Bantalan Surga", dan lantai tiga......jangan salah paham!! Kiranya lantai tiga itu sudah menjadi bagian dari Penginapan Bantalan Surga pula, terlihat dari cat tembok yang berwarna sama dengan lantai dua.


Karena hari masih pagi, rumah makan itu masih sangat sepi, agaknya tempat itu baru buka beberapa menit lalu. Bagitu Lin Tian dan rombongannya masuk, para pelayan yang masih sibuk membersihkan meja dan lantai itu langsung menghampiri Lin Tian dan berkata. Ucapannya serempak bagai sudah dilatih dalam waktu lama.


"Selamat datang kembali Tuan~" demikian mereka berkata sembari menundukkan badan.


Tentu saja hal ini membuat mereka semua melongo macam orang bodoh. Bagaimana tidak terkejut hati mereka begitu memasuki sebuah rumah makan dan langsung mendapat penyambutan bagai raja seperti ini. Kemudian serentak mereka semua melirik Lin Tian, memandang dengan pandangan bertanya-tanya.


"Aku ingin bertemu Nyonya Yin. Apakah dia ada dan tidak sibuk?" tanya Lin Tian sesaat setelah tiga orang gadis itu bangun.


"Tentu saja Tuan, andai kata sibuk pun, kami akan selalu siap melayani Tuan dengan senang hati. Marilah Tuan, Nyonya ada di ruang atas." jawab salah satu gadis dengan senyum manis.


Seketika, sepuluh orang itu yang sebelumnya melirik Lin Tian, mengubah pandangannya menjadi melotot lebar. Pikiran mereka sudah terbang kemana-mana begitu mendengar ucapan penuh tanda tanya dari gadis tersebut.


"Hm...tak kusangka ternyata Lin Tian adalah seorang seperti ini. Dengan modal wajah tampannya, kau tak bisa berlaku sewenang-wenang bodoh! Akan kulaporkan kepada Nona begitu kita kembali!!" gumam Minghao dalam hati dengan wajah bengis.


Sedangkan untuk Lin Tian sendiri, dia malah merasa makin tidak nyaman ketika orang lain terlalu menghormat seperti itu. Maka dengan wajah masam, dia mengikuti tiga gadis itu naik keatas.


"Ayo ikut!" perintah Lin Tian kepada sepuluh orang itu begitu melihat mereka masih mematung ditempat.


Sepuluh orang ini saling pandang sejenak, saling pandang dengan pandangan tajam. Beberapa saat kemudian, mereka mengangguk bersama seolah sudah sepakat dengan suatu hal. Lalu bergegas mengikuti Lin Tian dari belakang.


Setelah melewati tangga dan sampai di lantai tiga, salah satu gadis mengetuk pintu merah dihadapannya itu.


"Nyonya, Tuan Lin Tian datang berkunjung..." ucapnya riang setelah mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Perilakunya ini membuat sepuluh orang itu makin curiga.


Secara tiba-tiba sekali, dari arah dalam sana terdengar suara gaduh dan teriakan-teriakan beberapa orang wanita. Detik berikutnya, pintu itu dibuka dari dalam dengan terburu-buru.


"Silahkan masuk~" Yin Yin berkata sambil tersenyum lebar. Di sampingnya, sudah berbaris rapi tiga gadis lain yang juga menyunggingkan senyum manis.

__ADS_1


Tindakan Yin Yin ini sedikit banyak membingungkan hati enam gadis lain. Biasanya, Nyonya itu hanya berkata "masuk!" begitu ada seseorang yang mengetuk pintu, bahkan ketika ada tamu dari keluarga bangsawan sekalipun, sikapnya sama sekali tidak berubah.


Ini membuktikan bahwa sosok Lin Tian sang Pendekar Hantu Kabut ini jauh lebih penting dari para tamu bangsawan itu, sampai-sampai membuat Nyonya ini membuka pintu sendiri untuk memberi sambutan.


Maka dari itulah, para pelayan hanya terkikik geli melihat perubahan sikap Nyonya mereka yang begitu drastis.


...****************...


"Jadi begitu, tentu saja kami bisa sekali untuk membantu Tuan. Sebuah kehormatan besar bagi kami untuk dapat membalas budi. Terima kasih sudah mempercayai kami Tuan." sambil menjura, Yin Yin berkata.


"Itu perintah Nona kami Nyonya, jangan bersikap berlebihan seperti itu."


Memang sejatinya Lin Tian merekrut Gong Fai dan Yin Yin bukan tanpa alasan. Tentu ini juga satu dari perintah Zhang Qiaofeng yang mengatakan kepadanya untuk sekalian merekrut pandai besi hebat dan tujuh gadis itu. Karena itulah dia sampai di sini.


"Baiklah, tentu Tuan lapar. Silahkan Tuan-Tuan tunggu di lantai satu dan akan kami siapkan hidangan terbaik kami. Kita sudah menjadi keluarga kan, kalau begitu sebagai sesama keluarga, tidak ada biaya untuk ini. Juga jika ingin menginap, silahkan pilih saja kamar manapun yang Tuan suka, semua itu tanpa dipungut biaya sedikit pun." jelas Yin Yin.


Seketika wajah mereka menjadi berseri, hilang sudah semua kecurigannya kepada Lin Tian. Maka dengan berbondong-bondong, sepuluh orang itu lekas turun kebawah untuk segera makan. Entah kenapa perut mereka tiba-tiba menjadi perih karena lapar.


"Terima kasih Nyonya." ucap singkat Lin Tian yang ditinggal teman-temannya. Kemudian pemuda ini melangkah pergi.


Tujuh gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil sebagai jawaban.


Begitu Lin Tian tiba di lantai bawah, tiba-tiba dari arah atas sana terdengar teriakan riuh rendah dari seorang wanita. Terdengar sangat heboh saling sahut menyahut.


"Astaga...!! Tak kusangka aku akan seberuntung ini~" teriak salah satu gadis yang masih terdengar di telinga Lin Tian.


"Mimpi!! Ini pasti mimpi!!" terdengar pula teriakan yang lain.


Lin Tian yang mendengar semua ini hanya menggeleng sambil menghela nafas panjang.


"Hah...dasar perempuan..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2