
Sebelum terjadi kericuhan, malam hari saat Lin Tian pulang setelah menemui Fu Hong.
Lin Tian mendayung perahunya ke salah satu pulau tak jauh dari pulau tempat Pedang Hitam bermukim. Pulau ini besarnya kurang lebih sama dengan pulau tempat Pedang Hitam, hanya saja penghuninya yang berbeda. Kali ini, perkumpulan Hati Iblis lah yang menempati pulau itu.
Cukup aneh memang Lin Tian dapat berkeliaran seorang diri di malam hari begini. Mengingat sebelumnya dia adalah musuh abadi dari Zhang Heng yang sangat ingin membunuhnya.
Tapi karena Lin Tian menekan kekuatannya, seolah-olah lebih lemah dari Zhang Heng, sehingga baik Zhang Heng dan anggota lainnya tak ada yang merasa curiga saat pil penghilang ingatan itu memasuki mulutnya. Mereka terlalu ceroboh untuk melepas Lin Tian dan terlalu percaya kepada ilmu sihir nenek siluman.
Karena itulah, setelah beberapa minggu Lin Tian bergabung dengan organisasi ini, dia sudah mendapat posisi tinggi yaitu pengawal pribadi Zhang Heng. Orang kepercayaan Zhang Heng yang diberi kebebasan kemana pun dia mau pergi. Karena itulah saat ini tak ada satu pun yang mengikuti kepergiannya.
Bahkan saat dia sampai di pulau tempat Hati Iblis berada, dia sudah disambut oleh para anggota perkumpulan itu yang sedang tugas jaga di pesisir pulau.
"Selamat datang tuan Lin Tian." sepuluh orang yang kebetulan bertemu Lin Tian menundukkan badan hormat.
"Aku ingin bertemu Sung Hwa, tolong beritahu dia."
"Baik tuan." salah satu dari penjaga itu lekas pergi ke kamar Sung Hwa untuk memberitahukan hal itu.
Lin Tian terus berjalan memasuki hutan, setelah beberapa meter memasuki hutan dia tersenyum tipis sebelum tubuhnya lenyap dari sana.
Sudah sering dia datang ke sini dan pemuda ini hafal betul dimana letak kamar Sung Hwa berada. Maka dengan ilmu meringankan tubuhnya, dia melesat secepat kilat ke kamar targetnya itu bahkan sebelum orang yang tadi hendak melaporkan keadaannya sampai.
Dia sudah membawa jubah hitam lebar lengkap dengan kerudungnya ketika dia sampai di atap bangunan besar. Di dalam bangunan ini adalah kamar-kamar para petinggi perkumpulan, termasuk Sung Hwa.
Dia menyimpan Pedang Dewi Salju di pinggang belakangnya, sehingga pedang itu tertutupi oleh jubah lebar. Sebagai gantinya, dia menggunakan belati nonanya sebagai senjata.
Dengan santai dan tenang, dia berjalan di koridor-koridor panjang dalam bangunan itu. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tinggi, mudah saja dia berjalan tanpa mengeluarkan suara. Bahkan Sung Hwa yang waktu itu belum tidur benar pun tidak mampu mendengar kehadirannya.
Sampai di tikungan yang berbelok ke kanan, dia berpapasan dengan seorang pelayan lelaki tua. Dia mengenal pelayan ini sebagai pendekar yang menjaga Sung Hwa secara diam-diam dengan penyamaran seperti pelayan. Maka ketika bertemu dengannya, sontak pelayan itu memekik karena merasa aneh dengan kedatangan orang berjubah.
"Siapa kau!?" pelayan itu menggerakkan tangan hendak mencekik Lin Tian.
Tapi dasar pendekar sejati yang kekuatannya sudah melampaui jauh pelayan itu, maka mudah saja dia menghindari cekikan lawan dan menotok urat di lehernya. Membuatnya gagu seketika.
Disusul dengan tusukan belati yang menghujam dada pelayan itu, membuatnya mati seketika.
"Hm...aksi yang sungguh misterius." dia tersenyum bangga kepada diri sendiri.
__ADS_1
Kemudian dia menyeret pelayan itu dan diletakkannya di depan kamar Sung Hwa. Pada saat inilah terdengar suara jeritan dari ujung lorong. Yaitu suara orang yang tadi menjaga di pantai dan sudah tiba di sini.
"Penyusup!"!
Pekiknya dan menerjang maju ke depan. Karena pekikan ini pula, dengan telinganya yang tajam Sung Hwa sudah bangkit dan membuka pintu kamar. Saat itu dia hanya melihat seseorang berjubah panjang sedang bertarung melawan salah satu anggota Hati Iblis.
Karena sadar akan kehadiran Sung Hwa, orang misterius yang tak diketahui laki perempuannya itu melemparkan belatinya kepada lawan dan membuat lawannya mendapat luka gores memanjang di dahi.
"Jangan kabur!" pekik Sung Hwa melemparkan jarum-jarum kecil sebagai senjata rahasia.
Tapi bukannya mengenai lawan, justru orang misterius itu menggunakan tubuh orang Hati Iblis penjaga pantai tadi sebagai perisai. Beruntung jarum-jarum itu hanya mengenai tangan
Sesaat setelah itu, penjaga pantai jatuh dan saat itu pula orang misterius ini lenyap.
"Hei bangun!"
Sung Hwa mendekat dan untung saja jarum tadi hanya jarum biasa, bukan jarum beracun. Maka orang itu hanya terkena luka biasa yang sedikit dalam.
"Saya tidak mengapa nona. Yang penting, tuan Lin Tian tadi datang dan ingin bertemu dengan anda."
"K-kalau begitu, tolong urus orang ini. Aku akan segera menemuinya." ujarnya kemudian sebelum memasuki kamar dan merias diri.
...****************...
Memandangi langit malam tanpa bulan atau pun bintang, Lin Tian duduk seorang diri di kursi taman belakang kediaman besar tempat dia mengacau tadi. Wajahnya ia buat sebiasa mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan kepada Sung Hwa.
"Sudah kuduga kau ada di sini, maaf membuatmu menunggu." ucapan lembut ini datang dari belakangnya yang sontak membuat dia menoleh untuk menengok siapa adanya orang tersebut.
"Ada apa Lin Tian, datang malam-malam begini. Jangan bilang kalau...emh....baiklah jika itu mau mu...aku siap dan suka melakukannya." Sung Hwa kembali melanjutkan dengan muka tertunduk dan malu-malu.
Tapi hal selanjutnya justru membuat ia terbengong dengan tampang bodoh. Tindakan Lin Tian yang menjadi tanggapan dari ucapannya benar-benar membuat dia kaget dan kebingungan.
"Huwaaa Sung Hwaa...tolong aku!!" Lin Tian tahu-tahu sudah melompat dan memeluk kaki Sung Hwa.
"Eh..eh...ada apa?" sedang wanita yang diperlakukan seperti itu heran sendiri dengan Lin Tian yang berubah kekanakan.
"Fu Hong...dia...." Lin Tian terus memasang ekspresi merengek macam anak kecil untuk menundukkan hati Sung Hwa.
__ADS_1
Dan berhasil! Wajah Sung Hwa mengeras dan dia berlutut, kemudian mengelus kepala Lin Tian seraya bertanya serius. "Apa yang dia perbuat padamu...?"
"Dia...dia...dia selalu menggangguku! Menganggap aku suaminya! Benar-benar menjengkelkan!"
Hampir muntah rasanya saat Lin Tian berakting demikian. Tapi demi kelancaran tujuannya, saat ini dia tak segan-segan melakukan apapun. Dia pikir, tak mengapa menggunakan cara curang, sedangkan yang dicuranginya juga orang-orang curang. Bukankah orang golongan hitam hampir selalu menggunakan cara curang?
"Apaaaa!!? Kurang ajar!! Dia berani main curang! Seenak jidat saja mengakuimu sebagai suami!!" tiba-tiba Sung Hwa melotot lebar dan memekik-mekik. Melihat ini Lin Tian tersenyum dalam hati.
"Tolong aku Sung Hwa, bantu aku jauhkan dia dari aku..." kembali Lin Tian memeluk kakinya, bahkan saat ini menggosok-gosokkan kepalanga pada perut Sung Hwa seperti seekor kucing.
"Tenanglah...aku akan coba semampuku." ujar Sung Hwa menenangkan sembari mengelus kepala Lin Tian.
Dia mencoba mencari-cari cara yang paling tepat untuk membantu sosok idolanya ini. Kemudian dia teringat akan kejadian yang belum lama terjadi ini, pembunuhan pelayan di dekat kamarnya, bukankah bersenjata pisau?
"Hehe....akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menyingkirkanmu Fu Hong..." batin Sung Hwa dengan senyum iblisnya.
"Kau tenang saja Lin Tian, sepertinya aku sudah menemukan cara untuk menyingkirkan hama satu itu."
"Hm...bagaimana?"
"Kau lihat saja besok."
Demikianlah, sedikit cerita mengenai asal usul keributan itu. Fu Hong yang percaya kepada Lin Tian dan tak punya bukti, mendatangi Hati Iblis untuk dimintai pertanggung jawaban. Karena Fu Hong mengira Hati Iblis mengirim seseorang untuk mengacau dengan mengenakan seragam Pedang Hitam demi mefitnah dirinya.
Sedangkan Sung Hwa membantu menjauhkan Lin Tian dari saingannya ini dengan jalan fitnah yang sejatinya alur skenarionya sudah dibuat oleh Lin Tian.
Padahal kedua orang itu sama sekali tidak memikirkan penyusup atau matinya pelayan, tidak memikirkan akan fitnah memfitnah dari kedua pihak. Yang mereka pikirkan hanyalah membuang saingan dengan jalan demikian untuk menguasai Lin Tian seorang. Mereka telah termakan api cemburu yang berasal dari hawa nafsu sendiri.
Dan Lin Tian, sosok anggota baru itu sudah sadar akan hal demikian. Maka memanfaatkan kecemburuan itu, dia seperti menambahkan minyak ke dalam bara api, keributan kedua bidadari itu makin panas seiring berjalannya waktu.
Mereka sama sekali tidak berpikir, bahwa semenjak hari itu, nyawa mereka sudah berada di tangan Lin Tian. Seorang pemuda yang sejatinya menyimpan dendam luar biasa kepada pemimpin organisasi ini. Dan memanfaatkan kelicikan orang-orang golongan hitam, dia bergerak di balik bayangan untuk mengadu kelicikan orang-orang itu.
"Sangat menyenangkan....boneka-boneka yang mudah dikelabuhi anak kecil...." gumamnya di atas pohon yang masih memandangi keributan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1