
"Selamat datang kepada ketua dan para petinggi sekalian." ucap pembawa acara yang berbalik dan memberi hormat kepada para petinggi dan Sian Yang. Tindakannya ini diikuti oleh seluruh pasukan tak peduli yang berada di atas tanah atau atas genteng.
Acara dilanjutkan dengan pidato singkat Sian Yang yang mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu tua dan lemah. Dan karena para bawahannya terdapat banyak sekali orang pandai dan lihai, maka dia ingin turun jabatan dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada para bawahannya.
"Langsung saja kita mulai!!"
Suara gemuruh sorak-sorai para penonton menggema memenuhi suasana malam yang dingin itu. Akan tetapi semuanya menjadi hangat bahkan panas ketika api unggun dinyalakan dan asapnya membumbung tinggi menyatu dengan kegelapan langit malam.
Semua orang di sini sejatinya tak ada sedikit pun niat untuk mengikuti pertandingan yang akan menentukan siapa pemimpin selanjutnya. Karena mereka tahu yang akan mengikuti pertandingan dan yang layak hanyalah orang-orang yang duduk di kursi itu. Sebenarnya boleh-boleh saja jika ada orang lain yang ingin ikut coba-coba, asalkan dia anggota Iblis Tiada Banding, maka hal itu diperbolehkan. Tapi tak ada yang cukup bodoh untuk menantang sembilan orang terkuat di tatanan organisasi Iblis Tiada Banding ditambah orang-orang dari kedua perkumpulan itu.
"Aku mengusulkan Zhang Heng untuk menjadi ketua. Siapa yang akan menantangnya!?" Sian Yang dengan bangga mengajukan muridnya untuk menjadi calon pemimpin.
Zhang Heng bangkit dari duduknya dan melompat ke tengah panggung. Pakaiannya hitam-hitam sama seperti yang lainnya, hanya yang membedakan adalah sebuah topeng putih polos yang hanya berlubang di bagian mata saja. Topeng yang menjadi ciri khas dari murid Setan Racun Api itu.
Pedang di pinggangnya nampak menambah kegagahannya yang membuat para pendukungnya bersorak-sorak keras.
Beberapa saat kemudian, Naga Emas berdiri dan melompat dekat. Memandang Zhang Heng dengan seringaian lebar melambangkan keangkuhan.
"Aku lawanmu! Sebagai sesama murid ketua, kupikir tak ada salahnya kita main-main." ucap Naga Emas.
Zhang Heng menunduk memberi penghormatan. Karena tahu dialah yang lebih muda dan harus menghormat pada yang tua, maka berkatalah ia, "Mohon bimbingan tuan."
"Jaga seranganku!!" Naga Emas sudah melesat cepat melayangkan pukulan dahsyat sampai menimbulkan suara bercuitan nyaring.
Sebenarnya jika dilihat dari kualitas kepandaian, jelas Zhang Heng menang jauh karena dia sendiri saja sudah lebih kuat dari Sian Yang. Akan tetapi soal pengalaman, Naga Emas masih menang selangkah. Sehingga raksasa berambut emas penuh tato merah darah itu berani menantang Zhang Heng.
Zhang Heng dengan mudah saja mengelak ke kanan saat kepalan tangan kanan Naga Emas mengarah wajahnya. Akan tetapi tangan kiri Naga Emas sudah menyambut untuk memberi pukulan kearah perut. Tentu saja gerakan semacam ini sudah diperhitungkan oleh Zhang Heng.
"Hiatt!" teriak Naga Emas mengirim hawa pukulan ke atas saat Zhang Heng melambung tinggi.
Tapi aneh sekali, dari udara sana, Zhang Heng seperti menjejak sesuatu dan menghindari hawa pukulan itu. Hal ini berhasil menciptakan seruan-seruan kaget juga kagum. Tak terkecuali Naga Emas yang menjadi terkejut sekali.
Karena keterkejutan itulah maka celah lebar tercipta dan membuka kesempatan bagi Zhang Heng untuk menyerangnya. Maka saat tubuhnya mendarat turun, Zhang Heng melesat secara aneh yaitu berbelok-belok seperti ular.
__ADS_1
Ketika sudah sampai dekat, dia menghindari pukulan Naga Emas dan mengambil posisi jongkok. Dari posisi itulah dengan tumpuan kaki kanan, dia menggunakan kaki kiri menendang dagu Naga Emas yang membuat raksasa itu terpelanting.
"Zhang Heng ketua baru kita!!" terdengar salah satu jeritan dan memancing jeritan-jeritan lainnya. Keadaan kembali ricuh setelahnya mengetahui Zhang Heng menang telak.
Ketika Naga Emas sedikit kesakitan saat bangkit berdiri, dari bawah sana melambung tinggi tubuh seseorang yang seperti burung hantu. Jubah lebarnya berkibar ketika tubuhnya melambung tinggi dan mendarat tepat di depan Zhang Heng yang masih tenang-tenang saja.
"Sungguh bukan hal aneh bahwa Naga Emas dapat dikalahkan oleh tuan Zhang Heng yang termasuk satu dari pendekar sejati. Tetapi biarlah saya yang kiranya sederajat dengan anda akan coba-coba keberuntungan." ucap orang itu yang tak lain adalah ketua dari Hati Iblis.
Ketua dari Hati Iblis dan Pedang Hitam memang sudah mencapai tingkat pendekar sejati. Karena itulah, bukan hal aneh bila pertarungan kedua ini terjadi lebih sengit dari sebelumnya. Tubuh dua orang itu lenyap menjadi gulungan hitam yang saling terjang dan desak.
Zhang Qiaofeng yang melihat itu semua malah menjadi bosan karena tidak mendapatkan sesuatu yang berarti. Sebenarnya api dendam sudah membakar hatinya ketika melihat kemunculan Zhang Heng, tapi dia bukannya gadis bodoh yang akan menerjang tanpa perhitungan. Maka dia berniat untuk segera pergi dari sana.
Ketika turun dari pohon, dia melihat ada banyak orang yang berdiri sigap untuk berjaga-jaga. Tahulah dia kiranya di sekitar pulau ini sudah dipasangi beberapa penjaga untuk mengamankan jalannya acara itu.
Zhang Qiaofeng berindap-indap di balik kegelapan malam untuk mencari jalan keluar atau setidaknya jalan yang paling sepi. Untuk kabur dari sini tidaklah sulit, justru sebaliknya, sangat mudah. Karena perahu dan kapal-kapal dari beberapa pulau sekitar yang digunakan untuk transportasi kemari masih berlabuh rapi di pantai.
Akhirnya dia melihat jalan yang paling sepi, yaitu sebuah bukit batu terjal yang sama sekali tidak ada penjaganya. Mungkin mereka mengira tak akan ada pengganggu di tempat ini karena di balik bukit itu adalah sebuah jurang curam yang di bawahnya adalah pusaran air ganas. Namun bukan Zhang Qiaofeng namanya kalau tidak nekat, maka dia berjalan melalui jalan ini dan memikirkan cara kabur lainnya nanti.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah bisa dianggap tingkat tinggi saja, masih kesulitan untuk mendaki bukit ini. Selain licin dan lembab, batu-batu di sana juga tajam sekali bahkan ada yang berbentuk duri-duri tajam mematikan.
"Waduh....cuman ada air-air yang berputaran dan batu-batu pedang! Bahaya benar!" tanpa sadar dia berteriak sedikit keras mengekspresikan keterkejutannya.
Lalu dia menoleh ke kanan dan melihat hamparan pantai yang memanjang jauh penuh dengan jajaran perahu atau kapal.
"Aku harus ke sana, tapi sayangnya banyak penjaga. Tak sulit kurobohkan mereka, yang sulit itu jika terjadi keributan dan aku dikeroyok mereka semua." gumamnya melihat sekitar puluhan orang berjaga di sana.
Tiba-tiba, entah kenapa angin sepoi-sepoi yang melambaikan rambut panjangnya berhenti bertiup dan suasana menjadi hening sekali. Terlampau tenang. Bahkan ombak-ombak di laut pun sedikit melambat gerakannya.
"Eh, ada apa ini?" bisiknya kebingungan.
Beberapa tarikan nafas setelah itu, dari arah daratan menyambar angin lembut. Lama-kelamaan makin keras dan dahsyat serta ganas. Topi capingnya tak kuasa bertahan dan terlempar jatuh ke air yang mulai mengganas lagi.
Zhang Qiaofeng mengerahkan tenaga dalam ke kaki dan membuat kaki itu seolah tertanam di pijakan batu itu.
__ADS_1
"Apa ini? Apa-apaan!?" serunya mulai panik.
Kemudian angin berhenti, lalu berhembus lagi, berhenti lagi dan mengganas lagi. Terus berulang sampai empat kali banyaknya sebelum keadaan kembali normal seperti sedia kala.
"Apa itu tadi!?" dia berteriak gemas dengan rambut awut-awutan seperti orang yang baru saja bangun dari tidur selama tiga hari.
Matanya yang tajam menangkap siluet seseorang yang melompat tinggi sekali. Kilatan-kilatan yang berasal dari tubuhnya itu dapat diduga adalah sebuah pedang.
"Sial, ada musuh!"
Zhang Qiaofeng mencabut sepasang belati dan bersiap. Benar saja, setelah berputaran di udara, sama seperti Zhang Heng tadi, menjejak udara dan melesat cepat sekali dengan pedang terhunus menuju dada Zhang Qiaofeng.
"Trang!"
Dengan tangkas Zhang Qiaofeng berhasil menangkis pedang lawan yang mengeluarkan kilat-kilat dan hawa familar. Akan tetapi dia tak punya kesempatan berpikir saat lawannya kembali menerjang dengan bacokan dari atas.
Tubuhnya melompat ke samping dan serangan itu luput. Dia melempar tujuh jarum tipis yang berhasil disampok runtuh lawan misterius itu. Kesempatan ini dia gunakan untuk melomlat ke belakang, membuat jarak dari penyerangnya.
"Siapa kau!? Bagus juga matamu yang tajam bisa melihat kehadiran....ku....?"
Matanya membolat dan wajahnya pucat seketika. Di hadapannya saat ini, berdiri seorang pemuda yang beberapa tahun lebih muda darinya. Memakai jubah hitam legam dan topeng setengah wajah menutupi wajah kanannya. Kulitnya nampak sedikit pucat namun tak merubah pandangan Zhang Qiaofeng yang masih mengenal jelas sosok itu. Mulut dari penyerangnya itu terkatup rapat, matanya menatap tajam dan ekspresinya dingin mengerikan.
Pedang di tangan kanan itu mengeluarkan sinar-sinar mengerikan ketika cahaya bulan menerpanya. Sebuah pedang berwarna biru terang hampir ke warna putih.
"Penyusup? Apa kau punya sembilan nyawa sehingga berani main gila dengan kami?" tanya orang tersebut tak merubah posisi dan ekspresinya
Seluruh tubuh Zhang Qiaofeng lemas dan jatuh berlutut. Entah lemas karena suara itu ataukah lemas karena kehadiran orang tersebut. Entahlah dia pun tak tahu, yang jelas, rasa lemas dan tak berdaya ini lebih parah ketimbang ketika dia menerima totokan lumpuh pendekar sejati di distrik merah.
Lidahnya yang kelu itu akhirnya mampu mengeluarkan suara lirih seperti tercekik. Bercampur air mata yang mulai mengalir, suaranya terdengar di telinga lawannya karena diantar oleh hembusan angin malam yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka.
"Lin....Tian....kaukah itu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG