
Terlihat jauh di sebelah Utara Kota Batu, asap dan debu mengepul tinggi menutupi pandangan, suara gemuruh dan teriakan-teriakan juga tak henti-hentinya terdengar. Makin lama asap itu terlihat makin besar, tanda bahwa sepasukan orang bar-bar sudah semakin dekat.
Di depan pintu sebelah Utara, sudah berdiri dengan gagah tiga ratusan orang prajurit kota yang berbaris rapi. Di atas dinding kota juga terdapat banyak pasukan pemanah yang sudah siap sewaktu sang pemimpin memberi aba-aba.
Di barisan paling depan prajurit kota itu, terlihat seorang pria paruh baya yang nampak gagah sekali dengan pakaian prajurit itu. Di pinggangnya juga nampak sebatang golok yang menjadi senjatanya. Dia ini tak lain tak bukan adalah Bao Chu, ketua penjaga gerbang sebelah Utara.
Di sebelahnya juga terdapat seorang pria yang terlihat sama gagah, umurnya sebaya dengan Bao Chu. Dia memakai baju perang berwarna merah kekuningan yang dilengkapi dengan sebatang pedang panjang di punggungnya. Dia adalah Bao Kun, penjaga gerbang sebelah Timur yang juga merupakan adik kandung Bao Chu.
"Mereka banyak sekali..." gumam Bao Chu.
Bai Kun tidak menjawab, pria ini hanya mampu menelan ludah karena sedikit banyak dia merasa ngeri untuk menghadapi serbuan tiba-tiba itu.
Tiba-tiba, terdengar suara hiruk pikuk di barisan paling belakang. Ketika dua orang ini memandang, kiranya Tuan besar mereka, Xiao Li sudah tiba di sana.
"Tuan..." ucap Bao Chu dan adiknya serempak sembari membungkukkan badan.
"Jadi itu mereka...tak kusangka suku manusia gunung akan menyerang di waktu yang sangat mendadak." katanya sambil melihat kepulan asap itu dengan pandangan tajam.
"Tuan, mohon anda kembali ke kediaman. Urusan serbuan ini serahkan pada kami, kami berjanji tidak akan mengecewakan Tuan." kali ini Bao Kun angkat bicara. Pria ini khawatir kalau-kalau Tuan besar mereka ikut pula terjun ke medan tempur.
"Jika aku bersikap seperti itu, tak layaklah diriku ini disebut sebagai seorang pemimpin! Aku akan ikut berperang! Harga diriku sebagai lelaki menolak keras untuk tetap berdiam diri di kamar sambil pura-pura buta akan pengorbanan rakyatku!! Seluruh pasukan, bersiaaapp!!!" katanya tegas diakhiri dengan sebuah perintah mutlak.
Tak terasa, kedua orang kakak beradik itu merasa terharu, mereka benar-benar bersyukur memiliki seorang pemimpin yang selain bijaksana juga bersikap sangat gagah. Maka bergegas mereka melaksanakan perintah itu dan sudah mencabut senjata masing-masing.
Begitu Xiao Li mengakhiri ucapannya, serempak para prajurit itu memasang kuda-kuda, barisan pemanah juga sudah siap dengan gendewa dan anak panah.
Tak dapat dipungkiri, walaupun mereka adalah seorang lelaki gagah perkasa, namun menghadapi penyerbuan manusia-manusia liar itu, diam-diam mereka merasa jeri. Maka hampir semua prajurit itu sudah mengeluarkan keringat dingin di kepala masing-masing.
Beberapa menit berlalu dan suara itu makin jelas terdengar, keadaan makin tegang dan mendebarkan. Namun demi keluarga dan kota tercinta, mereka mencoba mengeraskan hati siap untuk mati. Maka ketika terdengar seruan Xiao Li yang bagaikan guntur datangnya, serentak tiga ratus orang itu berlari menyambut terjangan para penyerbu.
"Para prajurit gagah perkasa!! Seraaaangg!!" demikian seru pemimpin keluarga Xiao itu sebelum dirinya melesat maju dengan pedang di tangan.
__ADS_1
Dengan teriakan-teriakan aneh, suku manusia gunung itu juga mempercepat larinya dan ikut menerjang pula. Sejurus kemudian, dua pasukan besar itu sudah saling gempur mati-matian.
Suara beradunya senjata dan teriakan-teriakan menyayat hati menggema memenuhi udara. Darah-darah dari para pejuang maupun penyerang, mengalir begitu saja di bumi yang berselimut rumput tebal bak permadani itu.
Terlihat di sana Xiao Li mengamuk bagaikan naga menari di angkasa. Pedangnya berkelebat kesana-sini memancarkan sinar menyilaukan, gerakannya kokoh kuat dan tangkas, sehingga membuat musuh kesulitan mencari celah untuk balas menyerang.
Sedangkan kakak beradik bermarga Bao itu juga tak kalah hebat. Dengan golok dan pedang, mereka membabati para manusia gunung itu dengan ganas. Sekali senjata mengayun, satu nyawa melayang.
Tiga puluh menit berlalu dan belum ada yang terlihat pihak mana yang terdesak. Hal ini tentu membingungkan hati para pejuang keluarga Xiao, pasalnya mereka sudah dibantu oleh pasukan pemanah dan sedaritadi belum juga mampu menguasai jalannya perang. Ini artinya, para manusia gunung itu memiliki kepandaian luar biasa.
Dan ini memang kenyatannya, apalagi untuk seorang pria berpakaian bulu beruang yang agaknya jadi pemimpin penyerbuan ini. Gerakannya luar biasa, walaupun terlihat seperti asal pukul dan tendang, namun Xiao Li dan Bao bersaudara itu tahu bahwa gerakan ngawur itu adalah sebuah ilmu silat tinggi sekaligus aneh.
"Kakak, ayo bunuh dia dulu! Dia yang berbahya!!" ucap Bao Kun disela-sela pertarungan.
"Benar!! Marilah, kita kerahkan seluruh kemampuan kita!" jawab Bao Chu sebelum memenggal salah seorang manusia gunung dan melesat menuju orang tersebut.
Orang berpakaian beruang ini terkejut ketika merasa ada sebuah angin tajam menyambar lehernya. Maka dengan cepat, dia melempar tubuhnya sembari membalikkan tubuh.
Namun sungguh hebat sekali dua saudara ini. Belum juga tubuh itu menyentuh tanah, dari belakang sudah menyambar pedang Bao Kun yang hendak memenggal leher.
"Trang"
Pedang bertemu tangan, dan kiranya tangan itulah yang menang, karena pedang di genggaman Bao Kun itu membalik dan penggunanya terhuyung sejauh dua langkah. Tahulah dia bahwa lawannya ini adalah seorang sakti luar biasa.
Namun untuk mempertahankan kota, dengan nekat Bao Kun kembali menyerang dan mendesak. Begitupun dengan kakaknya, Bao Chu sudah pula menggerakkan golok menebas setiap titik-titik vital orang tersebut.
"Trang-trang-tring-tring"
"Keparat, terbuat dari apa tubuh orang ini!?" seru Bao Chu penuh kekesalan.
Sedari tadi, pedang dan golok itu hanya bertemu dengan tangan kosong. Akan tetapi entah kenapa, mereka merasa seperti telah menebas sebuah balok besi padat.
__ADS_1
Orang berbaju beruang itu hanya tersenyum mengejek sebelum memutar tubuh dan menyambar angin dahsyat dari putaran itu.
Bao Chu dan Bao Kun yang mengenal bahaya, lekas melompat mundur dan waspada. Namun belum juga mereka mengambil tiga nafas, orang itu sudah kembali menerjang dan menekan pergerakan kedua orang ini. Detik berikutnya, kembali terjadi pertarungan sengit diantara ketiganya.
...****************...
Di posisi Xiao Li juga bukan dalam keadaan baik. Dia dan pasukannya sudah terdesak hebat oleh serbuan para manusia bar-bar itu. Hanya karena dirinya sudah memiliki ilmu silat tinggi, sehingga musuh menjadi kesulitan untuk menembus pertahanan orang ini.
"Apa-apaan ini? Mereka kuat!!" gumam Xiao Li merasa ngeri akan keadaan tubuh musuhnya yang seakan tak kenal lelah itu.
"Crap-crap-crap"
Tiga batang anak panah menusuk tepat pada mata ketiga musuh dihadapannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pria ini lekas menebaskan pedang dan memenggal mereka.
Sedetik kemudian, dari arah kiri muncul serangan tombak yang sangat berbahaya, mengarah lambung! Namun pria ini dengan tenang mampu mengelak dan mematahkan tongkat itu sebelum mematahkan sambungan leher si penyerang.
Sepak terjang pemimpin keluarga ini sungguh hebat, sehingga diam-diam para manusia gunung yang tak pernah takut itu harus berpikir seribu kali sebelum menyerang orang ini.
Tiba-tiba, Xiao Li mendengar teriakan keras seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Begitu menoleh, betapa terkejut hatinya melihat kedua orang penjaga gerbang Utara dan Timur itu sudah menggeletak mandi darah ditemani seorang mayat pria berbaju bulu beruang. Mereka bertiga mati dengan dada robek dalam.
"Bao Chu...!! Bao Kun...!!" teriaknya yang langsung melesat ketempat tersebut.
Namun tindakannya ini berhasil digagalkan oleh empat orang manusia gunung yang ingin melindungi mayat pria berbaju bulu beruang itu.
Dengan hati jengkel, Xiao Li membentak sambil menggerakkan tangan menyerang, "Minggir!!"
"Desss" isi dada empat orang tersebut hancur berantakan.
Akan tetapi, kesempatan yang hanya beberapa detik itu mampu mereka manfaatkan dengan sangat baik. Begitu empat orang itu roboh tewas, rekan-rekannya sudah mengurung Xiao Li dengan sikap mengancam sungguh pun tidak ada yang berani untuk maju duluan.
"Sialan!! Terima ini!!" seru Xiao Li dengan memutar pedang membabat orang sekitar dengan hebatnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG