
Wajah Zhang Qiaofeng seketika memucat, matanya terbelalak lebar memandang kearah pengawalnya itu. Sepasang mata bening yang sebelumnya memancarkan api kemarahan itu tiba-tiba berubah penuh kekagetan dan keheranan. Siapa yang tidak terkejut begitu mendengar pengakuan dari seorang pengawal paling setia seperti Lin Tian?
Bahkan ketika dia hendak mengeluarkan kata-kata, suaranya tercekat dan hanya sampai ke tenggorokannya saja. Batinnya terguncang akibat mendengar pengakuan yang demikian tak terduga-duga itu.
Jantungnya memompa darah lebih cepat, berdegup keras sekali. Agaknya degupan jantung Zhang Qiaofeng saat ini jauh lebih keras ketimbang ketika seseorang mendengar pengakuan cinta dari sang pujaan hati.
"A-apa maksudmu Lin Tian?" akhirnya gadis itu bertanya dengan gugup.
Lin Tian tak mampu menjawab dan hanya menundukkan muka lebih dalam lagi. Sungguh dia merasa amat menyesal dan terpuruk, sehingga dia sama sekali tidak punya nyali untuk bertemu pandang dengan nonanya.
Melihat reaksi Lin Tian itu, makin besar keheranan Zhang Qiaofeng. Dia lalu melepas cengkeramannya pada syal Lin Tian, lalu memegang kedua pundak pemuda itu yang kemudian diguncang-guncangnya.
"Jawab aku Lin Tian, apa maksudmu?" kali ini nada suaranya sudah berubah total. Menjadi jauh lebih lembut dan sabar.
Lin Tian menjadi luluh juga mendengar suara halus dari nonanya itu. Memang harus diakui, bahwa nonanya itu tak ada ubahnya seperti cahaya terang bagi kehidupan Lin Tian. Karena itulah, merasa bahwa dirinya telah berkhianat, dia merasa berduka sekali. Selain karena telah menjadi manusia tak setia, dia juga merasa akan kehilangan cahayanya.
"Lin Tian..." gadis itu kembali memanggil. Kali ini dia memegang dagu Lin Tian agar pemuda itu mau menatap wajahnya. Gadis itu paham, ada sesuatu yang amat besar sedang menghimpit batin pemuda ini.
"Aku...aku telah berkhianat Nona...aku berkhianat..." Lin Tian menjawab sedih.
"Apa yang kau khianati? Siapa yang kau khianati? Katakan padaku!" titah gadis tersebut.
"Ini soal kitab Ketenangan Batin Nona. Menurut penjelasan Tuan Cin, hanya keturunan langsung dari keempat murid itu saja yang diperbolehkan mempelajari kitab-kitab hebat itu. Sedangkan aku? Bahkan anggota keluarga Zhang saja bukan, tetapi aku sudah mempelajari kitab itu..." jawabnya dengan muka makin keruh. Zhang Qiaofeng yang melihat itu menjadi iba sekali. Kiranya perubahan sikap pengawalnya itu disebabkan oleh hal ini.
"Aku sudah mengkhianati janji dari leluhur Zhang Ci..." lanjut Lin Tian.
"Bawalah ini Nona, anda lebih pantas." Lin Tian mengeluarkan buku Ketenangan Batin dan menyerahkannya kepada Zhang Qiaofeng.
Gadis itu diam-diam tersenyum dalam hatinya. Dia benar-benar dibuat takjub akan kesetiaan Lin Tian. Tak pernah disangkanya bahwa seorang yatim piatu yang dahulu ditolong keluarga Zhang akan menjadi seseorang yang begini setia.
Jika sudah seperti itu, tak mungkin rasanya untuk Zhang Qiaofeng marah lagi. Bahkan dia terharu sekali melihat Lin Tian. Hanya karena hal sekecil itu, dia sudah berduka sekali dan merasa amat bersalah.
Dengan lembut Zhang Qiaofeng mengambil buku itu untuk kemudian dia kembalikan kepada Lin Tian.
__ADS_1
"Tidak Lin Tian, kau bawalah ini." katanya sambil tersenyum.
"Tapi Nona..."
"Lin Tian, bukankah kakek yang mengajarimu soal buku ini? Bukankah kakek juga dahulunya menjadi pemimpin keluarga Zhang?"
Lin Tian hanya mengangguk mengiyakan.
"Nah, kupikir kakek sudah mengetahui akan fakta itu. Karena setelah ayah diangkat pemimpin dan dia pergi entah kemana, mungkin dia belum sempat menjelaskan soal kebenaran ini kepada ayah sehingga aku pun tak tahu menahu soal hal ini. Lin Tian, aku yakin kakek sudah tahu pula akan keharusan bahwa hanya keturunan langsung dari leluhur Zhang Ci saja yang boleh mempelajari kitab ini, tapi..." gadis itu menjeda sejenak penjelasannya untuk memandang wajah Lin Tian yang masih terlihat berduka.
"Tapi apa kau pikir kakek menurunkan ilmu ini kepadamu tanpa perhitungan? Memang kuakui bahwa orang tua yang satu itu sifatnya ugal-ugalan dan mungkin sekali otaknya agak miring. Tapi percayalah Lin Tian, kakekku bukanlah seorang bodoh yang ceroboh! Dia pasti sudah mempertimbangkan semuanya." tegas Zhang Qiaofeng dengan pandang mata menyakinkan.
Lin Tian sedikit kaget mendengar pernyataan itu. Dia sudah terpikirkan semua ini sejak pertama kali mendengar cerita itu dari mulut Cin Kok. Maka dari itulah, selama di kediaman orang tua itu, dia terus membaca buku Ketenangan Batin dengan harapan agar dirinya mampu menemukan rahasianya. Namun hasilnya nihil.
"Lin Tian ambilah, ini milikmu." gadis itu berkata.
"T-tapi Nona, anda lah pemimpin keluarga." jawab Lin Tian tagu-ragu.
Lin Tian menghela nafas dan merasa serba salah. Maka dengan berat hati, dia menerima kitab itu dan memasukkannya kembali ke saku jubahnya.
"Maafkan akan sikap saya selama ini nona, jujur saja saya merasa gelisah sekali." berkatalah Lin Tian dengan wajah berduka dan bersalah.
"Saya sebenarnya ragu untuk membicarakan hal ini kepada Nona. Karena saya takut kalau Nona akan....t-tidak, tidak apa-apa. Saya lega jika Nona tak mempermasalahkan hal ini. Nanti akan saya temui guru dan membahasnya." kata pemuda itu.
Zhang Qiaofeng mengerutkan kening karena merasa sedikit heran dengan ucapan Lin Tian yang seperti menyembunyikan sesuatu. Dia menatap tajam kearah pemuda tersebut, dengan nada penuh selidik dia bertanya.
"Takut kalau aku akan apa?"
"Bukan apa-apa." jawab Lin Tian cepat. Dia terlihat mulai salah tingkah.
Namun pemuda itu makin salah tingkah setelah beberapa lama tatapan tajam itu masih terus tertuju kearahnya. Dia coba untuk mengalihkan pandangan, namun nonanya itu masih terus berada di depannya.
Maka akhirnya dia mengalah dan menghela nafas panjang, tak ada pilihan lain selain jujur agar gadis tersebut mau minggir.
__ADS_1
"Saya...takut jika nona marah dan...dan....harus berpisah dengan nona." kata pemuda itu dengan muka sedikit memerah. Namun sedetik kemudian, dia mencoba menetralkan perasaannya dengan beberapa kali dehaman.
"Oh...aku marah? Seharusnya sudah dari kemarin kulakukan ketika aku mengetahui rahasia kitab ketenangan Batin." balas Zhang Qiaofeng sebelum membalikkan diri dan duduk di tempat semula.
"Sudahlah, lebih baik nanti kita bicarakan dengan kakek." lanjutnya singkat. Andaikan Lin Tian tahu, sebenarnya keadaan gadis itu lebih parah lagi.
Jantungnya seakan-akan mau meloncat keluar saking terkejut dan girangnya. Ternyata pemuda itu takut jika harus berpisah dengan dia. Maka tanpa sadar, Zhang Qiaofeng senyum-senyum sendiri sembari memandang kobaran api unggun. Untuk menutupi senyuman tak tertahankan itu, dia menutupinya dengan kedua tangan. Gadis itu berakting bahwa saat ini dia sedang kedinginan.
...****************...
"Dasar setan!! Beraninya kalian mengganggu kami!! Apakah belum cukup soal pengakuan identitas kami tadi!?"
Pagi itu di kedalaman hutan yang dipenuhi pohon-pohon rindang, nampak dua orang wanita berbaju merah dan hijau. Sepasang mata dari dua orang wanita itu jelas memancarkan kemarahan luar biasa.
Di sekeliling mereka, terdapat selusin pria yang mengurung mereka dan terkekeh-kekeh. Setiap orang pria membawa sebatang pedang panjang.
Sedang di tengah kepungan itu, dua orang wanita berbaju merah dan hijau sudah siap pula dengan senjata sepasang belati yang berkilauan tertimpa sinar matahari. Jelas dari sikapnya ini, mereka siap bertempur.
"Hehehe....untuk apa takut dengan Aliansi Golongan Hitam yang sebentar lagi akan musnah?" balas salah seorang pria.
"Sombong, kau siapa!??" bentak baju merah.
"Aku? Calon suamimu, mungkin?" jawab pria tersebut yang disambut dengan gelak tawa teman-temannya.
"Keparat!!" muka si baju merah sudah berwarna senada dengan bajunya. Dia merasa jengah dan marah. Maka sekali berkelebat, tubuhnya sudah menubruk lelaki itu.
Melihat si baju merah menyerang, si baju hijau juga tak tinggal diam. Segera saja dia melompat dan menerjang seorang pria lainnya.
"Matilaaahhhh!!" seru mereka berdua dan mengamuk hebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1