
"Kena kau!"
Lin Tian cepat menoleh ketika terdengar suara bentakan diiringi angin bersiutan yang menyambar kearahnya. Kiranya suara itu berasal dari A Jiu yang meluncur turun dari atas pohon.
"Heyaahh!"
Pemuda itu membentak dan melemparkan salah seorang ke atas untuk ia gunakan sebagai perisai. Begitu hawa pukulan A Jiu dengan telak mengenai punggung orang itu, sedetik kemudian orang itu terhempas ke bawah cepat sekali.
Namun kesempatan ini menjadi keuntungan bagi Lin Tian yang cepat menyelinap ke balik pohon dan melesat secara diam-diam menuju A Jiu yang kebingungan. Ia tembakkan hawa sakti panas berdasarkan ilmu Api Pelahap Mega, mengarah punggung dan kepala A Jiu.
"Ahhh..."
A Jiu merunduk dan bergulingan, saat itu sebelas pasukan sudah mengurung Lin Tian dengan rapatnya. Lin Tian menghalau semua senjata dan serangan, namun begitu satu tewas, datang tiga orang. Begitu seterusnya seolah tak ada habisnya.
Apalagi ketika dirinya melihat A Jiu yang sudah mampu bangkit dan kembali menerjang. Lin Tian tidak melihat adanya kesempatan baik kali ini, maka jalan satu-satunya untuk memenangkan pertempuran adalah menunggu pasukan kaisar. Itu pun kalau dia masih hidup saat pasukan besar tiba.
Karena Lin Tian sepenuhnya sadar, menghadapi ribuan anggota Iblis Tiada Banding hanya berdua saja bersama Kang Lim, tentu pada suatu kesempatan keduanya akan tewas.
Maka saat A Jiu datang dekat, Lin Tian menggunakan strategi serupa. Ia lempar salah seorang kearah wajah A Jiu yang menjadi jengkel dan mengumpat keras.
Saat pandangan kakek itu terhalangi oleh anak buahnya sendiri, Lin Tian sudah menghilangkan diri di balik semak dan pepohonan.
"Bangsat! Kalian menghalangiku!" A Jiu mencela dengan keras.
...****************...
Keadaan Kang Lim tak bisa dibilang lebih baik, bahkan mungkin sebaliknya. Karena bagaimana pun juga, kepandaiannya masih berada di bawah Lin Tian.
Ditambah saat ini, dia harus menghadapi ratusan orang pengurungnya disertai dengan kehadiran tiga anggota pendekar sejati lain. Dia adalah A Liu, A Yin dan A Tong.
Dapat dibayangkan betapa repotnya kakek satu ini ketika setiap kali bergerak, tangan-tangan lawannya sudah siap menunggu untuk mengirim maut.
Kang Lim yang sudah tua tentu tak mau mati cepat setidaknya sebelum kaisar datang, maka dengan nekat dia terus membela diri.
"Dess-dess-dess!"
Tiga kali berturut-turut serangan dari tiga orang itu mampu ditangkis oleh Kang Lim yang segera terhuyung beberapa langkah. Dari sudut bibirmya mengalir cairan kental berwarna merah gelap. Akan tetapi, mulutnya menciptakan seringaian.
"Hehe...hahaha...bagus-bagus, memang pendekar sejati Iblis Tiada Banding luar biasa lihainya. Tapi tak cukup lihai agaknya kalau satu lawan satu denganku..."
__ADS_1
A Yin membentak dibarengi pukulan tangan kanan. Kang Lim menangkis dan bergulingan untuk menyelamatkan diri.
"Bagaimana bisa penilaianmu itu dianggap benar sedangkan sejak tadi kita satu lawan tiga!" bentak A Yin yang merasa diremehkan.
Begitu bangun, Kang Lim sudah harus menghadapi serbuan banyak sekali lawan dan dia menjadi sedikit kerepotan. Tapi tak cukup repot untuk membalas ucapan A Yin.
"Mana ada satu lawan tiga. Hei nenek peyot, tak lihatkah saat ini aku sedang dikeroyok berapa? Apa kau lupa cara menghitung? Hehehe...."
A Yin makin naik pitam dan kembali menerjang maju demgan pecutnya. Tapi tepat pada saat itu, dari arah kanannya menyambar serangkum hawa dingin menggiriskan yang telah berhasil menghentikan detak jantungnya selama beberapa detik.
Cepat-cepat ia kerahkan hawa murni untuk melindungi seluruh tubuhnya. Melupakan Kang Lim yang tertawa makin kencang, wanita ini lekas menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Lin Tian?"
"Syut-syut!"
Dua kali tangan Lin Tian menyambar, melakukan totokan mematikan kearah ulu hati dan leher. A Yin yang terkejut sekali itu dengan terpaksa membuang diri ke belakang sembari mengirim serangan pecut yang amat berbahaya.
"Wah dia kabur!"
"Kejar!"
"Bajingan!"
...****************...
"Kau hebat juga bocah! Keberanianmu patut diberi pujian!"
"Aku tak butuh pujian!"
Keduanya beristirahat di atas salah satu pohon tinggi yang dimana daun-daunnya itu menjuntai ke bawah. Sehingga jika tidak diperhatikan lebih teliti, maka orang tak akan pernah mengira kalau di atas sana ada manusianya.
Lin Tian dan Kang Lim duduk dengan ngos-ngosan. Sesakti-saktinya mereka, tetap ada batasan sebagai bentuk perwujudan dari manusia biasa. Bagaimana pun juga, kedua tangan mereka hari ini sudah membunuh lebih dari seratus orang. Bagaimana tidak lelah?
Baik Lin Tian dan Kang Lim berlaku hati-hati sekali sungguh pun keadaan mereka bisa dibilang aman. Karena beberapa meter dari batang pohon tersebut, terlihat A Yin dan A Jiu yang sedang mencari-cari. Kang Lim dan Lin Tian tak perlu membingungkan apa yang mereka cari karena sudah tahu jawabannya.
"Kita sergap sekarang? Mangsa empuk itu, hanya ditemani beberapa orang saja." usul Kang Lim.
"Jangan, kita sudah terlalu lelah dan mereka tadi mengeroyok kita. Tentu kekuatan yang dikeluarkan saat bertanding melawan kita bukan kekuatan serius karena mampu membahayakan pasukan sendiri. Dan sekarang, kita kelelahan!"
__ADS_1
"Lalu, bagaimana baiknya?"
"Tunggu pasukan kaisar saja. Jika besok belum datang, kita lanjutkan kegiatan ini sampai kelelahan. Dan jika belum datang lagi, besoknya kita melakukan hal yang sama."
"Kalau memang kaisar belum datang sampai nyawa kita sudah didatangi malaikat maut, kita harus bagaimana?"
"Yasudah."
"Apa maksudmu?" Kang Lim memandang bingung.
"Ikuti nasib."
...****************...
Keesokan harinya, dua orang tua dan muda ini kembali melakukan hal yang sama seperti pada diskusi di atas pohon. Mereka membantai setiap orang Iblis Tiada Banding yang terlihat sampai tangan dan kaki lemas gemetaran.
Lalu pada malam harinya, mereka menyerang diam-diam dengan menggunakan kerikil atau ranting tipis dan tajam. Hal ini bukan untuk pembersihan, melainkan hanya main-main. Siapa yang membunuh lebih banyak dengan senjata-senjata kecil itu, dia menang. Dan kemenangan tertinggi dicapai jika seluruh musuh yang dibunuh malam itu, mampu dibunuh dengan kerikil sebesar kuku. Tentu saja hal ini bisa dilakukan dengan cara menembaknya mengarah mata sampai tembus ke otak.
Hingga hari ke tiga setelah mereka berdua mengacau pasukan Iblis Tiada Banding, membuat organisasi itu tak mampu menjalankan rencananya untuk membuat jebakan, Lin Tian dan Kang Lim total telah menghabiskan lima ratus orang. Sungguh pencapaian besar mengingat di sana ada lima orang pendekar sejati yang lihai sekali dan tak pernah mampu melukai mereka barang sedikit pun.
Terdengar suara gemuruh dari arah Barat. Pagi hari itu Lin Tian dan Kang Lim hendak melakukan "rutinitas" mereka. Namun harus urung karena terlalu tertarik dengan suara gemuruh itu.
Beberapa saat berlalu, keduanya makin berbinar dan girang sekali ketika setelah sekian lama, suara gemuruh terdengar makin jelas. Bahkan orang-orang Iblis Tiada Banding yang berdiri berkelompok tanpa formasi itu mulai berseru nyaring.
"Itu pasti pasukan pemerintah! Laporkan pada ketua!"
"Buat formasi!"
Makin legalah hati dua orang itu dan keduanya serentak duduk di atas tanah dengan kasar. Seolah ingin melepaskan segala kepenatan selama ini dengan mendudukkan diri sejenak di atas tanah.
"Akhirnya mereka datang..." gumam Lin Tian.
"Ini belum berakhir bocah! Pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai!" Kang Lim mengingatkan.
"Aku tahu...aku tahu....hanya saja, setidaknya kita bisa beristirahat walau hanya beberapa jam?"
Kang Lim tertawa mendengar ini, "Hahaha...kau benar!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG