
Beberapa hari setelahnya, Sian Yang, Chan Fan dan Naga Emas berhasil menyusul pasukannya untuk menyerbu keluarga Zhang. Begitu tiga orang ini sampai, tanpa menunggu lama lagi, ratusan orang itu segera mempercepat larinya menuju kediaman Zhang.
Pasukan besar ini bergerak cepat sekali, tanpa tunggangan atau apa pun, namun gerakan mereka sangat ringan dan cepat. Sehingga dalam beberapa jam saja sudah tiba dekat di kediaman Zhang.
Di pihak keluarga Zhang sendiri, enam ratusan pasukan keluarga Zhang sudah berdiri tegak di depan gerbang, bersiap menghadapi pasukan itu mati-matian. Di bagian paling depan, nampak Zhang Hongli yang berdiri tegap memandang kearah pasukan besar yang sudah tampak dari jauh itu.
Melihat ini, tanpa diperintah semua pasukan sudah menyiapkan senjata masing-masing. Memandang dengan tegang dan jantung berdebar, maklum bahwa sekali ini pertempuran akan berat. Karena pihak musuh memiliki Naga Emas, sedangkan di keluarga Zhang sendiri Lin Tian yang mampu menandingi monster itu belum pulang. Kekuatan dari pemimpin pasukan musuh pun belum diketahui benar.
Beberapa menit kemudian, pasukan itu sudah tiba dan berdiri kurang lebih seratus meter di hadapan pasukan Zhang. Sekilas pandang mungkin pasukan itu ada enam ratusan orang atau bahkan lebih. Sikap mereka garang dan membayangkan keangkuhan.
Akan tetapi begitu melihat pemimpin pasukan musuh, Zhang Hongli terbelalak lebar, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Begitu pula dengan Sian Yang, melihat keterkejutan Zhang Hongli, dia tersenyum dan berkata.
"Topeng Hitam, bagaimana kabarmu?"
Zhang Hongli menelan ludahnya susah payah, lalu menjawab gugup, "Kau....kau....Sian Yang?"
"Hahaha....kau masih ingat denganku?"
Percakapan ini membuat bingung mereka semua, terutama sekali dari pihak Zhang. Tentu saja mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa tetua terkuat keluarga mereka bisa mengenal pimpinan musuh.
Namun tiba-tiba muka Zhang Hongli memerah, wajahnya terlihat marah dan dengan bentakan nyaring, dia berkata, "Sian Yang!! Apa maksudmu ini? Bersekongkol dengan Naga Emas!?? Lagipula, bagaimana kau masih bisa berdiri di sini? Bukankah kau sudah mati!!?"
Dengan santai Sian Yang menjawab, "Yah...panjang ceritanya, intinya aku masih hidup dan sekarang bukan lagi sekutumu seperti dahulu. Hei Zhang Hongli, semua orang dari Raja Dunia Silat sudah mati, hanya menyisakan kita berdua. Nah, hari ini sudah kunanti-nantikan sejak dahulu, aku sudah muak berpura-pura menjadi sekutumu!! Ingin kulihat siapa yang lebih kuat di antara kita."
"Raja Dunia Silat!?"
"Yang benar saja? Tetua pertama adalah Raja Dunia Silat!!?"
Terdengar seruan-seruan kaget dari mulut pasukan Zhang. Wajar karena selama ini Zhang Hongli memang menyembunyikan identitas.
"Tak pernah terpikirkan olehku bahwa kakek dari Nona ini adalah Raja Dunia Silat." batin Minghao penuh kagum.
"Hem...sebagai ahli obat, agaknya kau menolak tua ya?" cela Zhang Hongli.
"Haha, tidak-tidak, ini hanya permukaan saja. Sejatinya aku juga tak jauh lebih muda darimu, kau tahu itu." balas Sian Yang.
"Bagaimana mungkin dia masih hidup?" batin Zhang Hongli.
"Sudahlah, tak usah banyak cakap. Kedatangan kami kemari sudah kalian ketahui. Kami, Iblis Tiada Banding, akan meruntuhkan keluarga Zhang hari ini juga!!"
"Oh, sebelum itu, aku punya hadiah." lanjut Sian Yang sambil melemparkan sebuah bungkusan hitam.
__ADS_1
Bungkusan itu menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki Zhang Hongli, begitu kakek ini membukanya, terdengar pekik-pekik ngeri dari para pasukan.
"Hu Tao..." lirih Minghao memandang priahatin.
"Keparat!! Kiranya kau sudah membunuh pemimpin muda keluarga Hu!? Bagus Sian Yang, kau benar-benar cari mati datang ke sini!!" bentak Zhang Hongli.
"Bawa dia masuk!!" perintahnya kepada salah satu pasukan sambil menyodorkan kepala Hu Tao yang penuh darah itu.
Masih dengan muka tersenyum, Sian Yang menjawab, "Ho...ingin kulihat siapa yang akan mati..."
Sedetik kemudian, tanpa aba-aba lagi, dua orang sakti ini segera melesat ke depan. Kemudian terdengar suara dentuman yang nyaring sekali begitu dua telapak tangan mereka beradu. Di samping itu, pertemuan dua telapak tangan ini juga menimbulkan angin ribut yang hebat sekali.
"Hahaha, ingin kulihat kemajuanmu, Topeng Hitam!!"
"Bajingan kau Topeng Putih!! Dasar munafik!!"
Mereka kembali beradu dan kali ini gerakan mereka cepat sekali. Zhang Hongli menggunakan ilmu silat Ketenangan Batin, sedangkan Sian Yang menggunakan pukulan racunnya. Kembali terdengar suara dentuman berkali-kali dan terciptalah angin kencang seperti badai.
Pertarungan dua orang sakti ini bagaikan komando bagi kedua pasukan untuk menyerang. Maka segera saja dua pasukan saling bentrok dengan hebatnya. Akan tetapi mereka tidak berani dekat-dekat dengan pertempuran Sian Yang dan Zhang Hongli, maklum jika hal itu dilakukan, tak menutup kemungkinan tubuh mereka akan terbawa terbang.
...****************...
Di tempat lain, juga sedang terjadi pertempuran hebat. Pertempuran ini berlangsung sengit di dekat kota raja. Seperti yang sudah dijelaskan, kaisar menyiapkan pasukannya untuk menyambut serbuan keluarga Chen yang hendak memberontak.
"Tidak boleh Nona!! Bagaimana pun juga, anda adalah putri keluarga Xiao, aku tak menghendaki terjadinya sesuatu yang buruk dengan anda!" balas Chu Quon.
"Benar Nona, tinggalah di kota raja untuk beberapa hari demi keselamatan anda." sambung anaknya, Chu Wei.
Di sana hadir pula pemimpin dari keluarga Chu, Chu Shen. Wajahnya kerut merut tidak enak dipandang, menunjukkan hatinya sedang sangat buruk saat ini.
"Kaisar, apa yang akan anda lakukan dengan keluarga Chen?" tanya Chu Shen.
"Hmph!! Bukti sudah jelas adanya, mereka hendak memfitnah kekaisaran. Aku bersyukur dengan adanya Nona Xiao ini, maka kita bisa melakukan persiapan. Jika kau bertanya tindakanku selanjutnya, tentu gelar tujuh keluarga penguasa dari keluarga Chen aku aku cabut!!" jawab tegas Chu Quon.
Hal ini berhasil membuat Xiao Lian sedikit bingung. "Hah, kenapa tidak dilenyapkan saja?"
"Tidak bisa, aku hanya akan membunuh si keparat Chen Hu itu. Lagipula sebagian besar tentara Chen Hu sudah dikerahkan untuk perang kali ini, sebagian kecil mungkin masih ada di kediaman Chen tetapi dengan jumlah sekecil itu mereka bisa apa? Mungkin akan membubarkan diri dan terpecah-pecah." balas kaisar.
Xiao Lian dan Hao Yu saling berpandangan sejenak. Lalu terdengar Xiao Lian berkata, "Baiklah Yang Mulia, kalau saya tak diijinkan ikut membantu, biarkan saya dan pengawal saya ini pergi melanjutkan perjalanan."
"Tidak boleh!!" Seru Chu Quon, Chu Shen, Chu Wei dan Chu Rou secara berbarengan. Membuat Xiao Lian kaget dan lekas bertanya.
__ADS_1
"Eh, mengapa begitu?"
"Bahaya!! Bagaimana jika ada mata-mata yang mengikuti anda!? Bagaimana pun juga, anda lah yang berhasil menggagalkan rencana busuk mereka. Dan tentu saat ini anda sedang menjadi incaran keluaraga Chen." terang Chu Quon.
"Lalu, saya harus menunggu di sini?"
"Benar!! Ini perintahku demi kebaikan anda dan pengawal anda, tinggalah di istana selama satu minggu sampai suasana mereda!!" seru Chu Quon tak bisa dibantah lagi.
Tak ada pilihan lain, Xiao Lian dan Hao Yu hanya menghela nafas dan menurut saja.
...****************...
Di sebuah puncak gunung tinggi yang dipenuhi kabut tebal, nampak empat orang kakek sedang duduk melingkar dan saling bercakap-cakap. Dua kakek berjubah biksu warna hitam, satu kakek berpakaian sastrawan dengan sebatang kecapi di punggungnya, dan satu lagi yang paling tua dan sederhana, menggunakan jubah ringkas dan caping butut. Mereka ini tak lain tak bukan adalah Empat Dewa Mata Angin, datuk kaum putih.
Saat ini mereka sedang malakukan pertemuan di puncak gunung itu untuk membahas hasil penyelidikan masing-masing tentang Aliansi Golongan Hitam dan Iblis Tiada Banding.
"Untuk tempat persembunyian Golok Penghancur Gunung, aku menemukan dia dan anggotanya berada di Hutan Kabut, dekat telaga. Dan untuk keberadaan Naga Emas, aku tidak mengetahuinya." kata Dewa Angin Timur.
"Untuk Ling Haocun dan muridnya, aku sama sekali kehilangan jejaknya." Dewa Angin Barat menimpali.
"Bagaimana dengan Iblis Tiada Banding?" lanjutnya sambil menatap dua orang biksu tersebut.
Shi Yong dan Shi Xue hanya mampu menggeleng lemah sebagai jawaban. Maklum lah mereka jika iblis satu ini memang merupakan lawan yang jauh lebih berat dari Aliansi.
"Kesampingkan urusan yang tak jelas itu. Sekarang sebagai tokoh-tokoh kaum putih, sebagai pendekar-pendekar kuat penentang kejahatan, pergilah ke kediaman Zhang. Mereka membutuhkan kalian!"
Sontak empat orang ini segera berdiri dengan sikap waspada. Entah datang dari mana, tiba-tiba suara itu terdengar menggema di seluruh puncak gunung. Bahkan suara itu seolah-olah berasal dari kepala mereka sendiri.
"Iblis Tiada Banding...menyerbu kediaman Zhang!" lanjut suara itu disusul dengan suara "tak-tok-tak-tok" yang amat berirama. Hal ini tak dimengerti benar oleh keempat datuk tersebut, namun seolah-olah ada kekuatan gaib yang memasuki tubuh mereka, keempat orang ini segera percaya dengan omongan itu dan sedetik kemudian, mereka lenyap dari sana.
Tak lama setelah itu, muncul seorang kakek tua bercaping yang membawa tongkat bambu. Memandang kearah dimana keempat orang tadi duduk melingkar.
"Hah...mereka itu memang orang kuat...tapi, mengingat akan kesaktian Raja Dunia Silat, hem...Empat Dewa Mata Angin belum bisa untuk bersanding bersama lima orang pendekar itu." gumam kakek tersebut.
"Ah...sudahlah, dengan adanya topeng hitam dan mereka berempat, perlu apa berkhawatir lagi? Biarlah si hantu dan nonanya itu tak pulang sampai pertempuran selesai. Demi keselamatan mereka sendiri." kemudian dia menggaruk kepalanya dengan tatapan sedikit bingung.
"Eh...tapi jika Pendekar Hantu Kabut ikut bertempur, itu akan sangat menguntungkan. Ah...sudahlah, memang sudah seperti ini jalan takdirnya. Aku tak boleh sampai merubahnya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di novel baru saya. Buat yang suka genre Pedang dan Sihir, boleh lah mampir😄😄
BERSAMBUNG