Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 171. Sejarah


__ADS_3

Golok Penghancur Gunung sedang berada di ruangan tertutup miliknya. Di dalam sebuah ruangan yang berada dalam tempat persembunyiannya, terlihat kakek itu sedang duduk bersila dengan kening berkerut. Di hadapannya, nampak tiga buah kitab yang tak lain tak bukan adalah Ilmu Pedang Teratai Putih, ilmu silat Naga Salju Menari dan kitab Api Pelahap Mega.


Sudah beberapa hari lamanya dia mempelajari tiga buah kitab tersebut, namun belum juga mampu memahami intisarinya. Kecuali ilmu Pedang Teratai Putih yang sudah ia kuasai sedikit, kedua kitab lainnya itu benar-benar masih mentah penguasannya.


"Kitab setan apakah ini? Benarkah jika ini adalah kitab-kitab pusaka? Susah sekali memahaminya. Apalagi dua kitab ini, aku bahkan baru paham teorinya saja." gumamnya seraya memperhatikan dua kitab Api Pelahap Mega dan Naga Salju Menari.


Rasa penasaran orang ini harus ditunda terlebih dahulu ketika ada seorang anak buahnya datang untuk memberi laporan. Tanpa beranjak dari tempat duduknya, dia berkata.


"Katakan!"


"Baik! Tuan, di depan sana ada Tuan Setan Racun Api dan muridnya. Mereka bilang hendak berkunjung."


"Hmm?" kakek itu melirik sejenak kearah si pelapor, memandangnya tajam sebelum bertanya lagi. "Benarkah begitu? Untuk apa setan itu kemari?"


Anak buahnya hanya bungkam, tak berani menjawab.


Setelah itu Golok Penghancur Gunung memasukkan tiga buah kitab tersebut ke balik jubahnya, lalu bangkit dan berjalan ke pojok ruangan untuk mengambil golok kesayangannya sebelum menyeringai.


"Hehe....mari kita lihat, apa kehendak cecunguk itu datang kemari."


...****************...


"Hm...agaknya ketua kalian itu terlalu arogan ya?" kata Ling Haocun kepada salah seorang anak buah tuan rumah.


"Tunggu sebentar lagi Tuan."


Tak berselang lama, sepasang guru dan murid ini mendengar suara tawa menggelegar dari ruangan dalam. Lekas mereka menengok untuk melihat siapa gerangan yang datang. Sesuai dugaan, Golok Penghancur Gunung tiba.


"Hahaha....ada apakah ini tiba-tiba datang kemari?"


"Langsung keintinya saja. Aku ingin mengajakmu kembali ke aliansi, sudah terlalu lama kita berdiam diri."


Kakek itu memandang Ling Haocun remeh, masih dengan seringaian lebar, dia menjawab, "Apa hakmu bisa memerintahkan aku?"


"Brakk!!"


Pria topeng merah itu menggebrak meja di hadapannya sembari bangkit berdiri.


"Kau!! Aku ketuamu!!"


"Itu dulu...kali ini, apakah kau masih punya kewenangan untuk menjadi ketuaku? Seseorang yang takut dengan ancaman lawan dan memilih bersembunyi, sungguh tindakan pengecut! Memalukan nama aliansi!!"


Dengan kemarahan meluap, secepat kilat Ling Haocun sudah mengeluarkan senjata sabit dari balik jubahnya dan mengayunkan senjata itu kearah si pembicara.


"Arogan sekali kau!!"


"Trang!!"


Sabit Ling Haocun berhasil ditangkis dengan amat keras oleh golok milik kakek tua tersebut. Hal ini jelas menimbulkan keterkejutan di pihak Ling Haocun. Bahkan Zhang Heng sampai bangkit dari tempat duduknya.


"Apa-apaan ini? Aku memang lebih lemah darinya, tapi seharusnya selisih diantara kami berdua tak sejauh ini!" batin Setan Racun Api sambil memandang Golok Penghancur Gunung yang masih berdiri angkuh.

__ADS_1


"Kau tak layak menjadi pemimpin kami lagi Ling Haocun. Aku jauh lebih kuat darimu!"


"Kurang ajar!!"


Kali ini Zhang Heng membentak dan menerjang maju. Pedang hitamnya berkelebat cepat membentuk gulungan sinar gelap mengerikan, jika musuhnya pendekar biasa, tentu segebrakan ini sudah mampu merobohkan lawan.


"Anak kecil sok jagoan!!" Golok Penghancur Gunung membacokkan goloknya. Dan hasilnya sungguh luar biasa, pedang Zhang Heng terdorong ke bawah sampai setengah bilahnya menancap ke lantai keras.


"Keparat!!" pria itu tak mau menyerah begitu saja. Lekas dia mengirimkan hawa panas dari tangan kirinya menuju muka lawan. Golok Penghancur Gunung awalnya memandang remeh, akan tetapi sesaat kemudian dia memekik keras dan membuang tubuh ke belakang.


"Aiihh!!"


"Blaarr!!"


Dinding batu yang sebelumnya tepat berada di belakang Golok Penghancur Gunung hangus seketika. Membuat kakek itu juga beberapa orang anak buahnya terkejut bukan main.


"Hebat sekali!! Bahkan gurunya pun tak sampai seperti ini!" teriak kekek itu dalam hati.


"Golok Penghancur Gunung, bukan waktunya bagi kita untuk saling serang diantara orang sendiri. Ada hal lain yang bahkan lebih membahayakan daripada Iblis Tiada Banding. Setidaknya untuk saat ini."


"Sialan!! Jangan mengalihkan topik awal!! Aku sudah bukan lagi anak buahmu, bukan lagi anggota aliansimu! Aku tak sudi--"


"Musuh kita adalah Raja Dunia Silat."


Seketika Golok Penghancur Gunung menghentikan ucapannya, memandang terbelalak kearah pria bertopeng merah itu dengan tatapan tak percaya. Mulutnya terperangah lebar seolah yang dikatakan orang itu hanyalah lelucon belaka.


"Mengigau kau ya? Mana mungkin monster-monster itu masih hidup?" balas kakek tersebut tanpa sadar.


Makin terkejutlah Golok Penghancur Gunung. Seakan lupa akan pertarungannya, lekas dirinya bertanya. "Apa maksudmu? Siapa mereka!?"


"Satu dari mereka adalah pemimpin Iblis Tiada Banding yang kutahu bernama Sian Yang. Dan satu lagi...Zhang Hongli, tetua pertama keluarga Zhang. Musuh besar kita."


"Apa katamu!? Jangan bercanda!! Zhang Hongli si Kakek Lengan Sakti itu adalah Raja Dunia Silat!?"


"Benar!! Jika saja kita tak pandai-pandai menyembunyikan diri selama ini, ditambah jika senadainya keluarga Zhang sudah cukup kuat dalam mengumpulkan kekuatan, aku yakin aliansi sudah hancur dari dulu." jawab Ling Haocun serius.


Tak ada sahutan dari ucapan terakhir itu. Golok Penghancur Gunung dan anak buahnya masih terlalu terkejut dengan berita tak masuk akal ini.


Dalam ketegangan seperti ini, tiba-tiba dari arah depan terdengar seruan seseorang.


"Golok Penghancur Gunung, kembalikan kitab kami!"


"Tua bangka!! Kita lanjutkan pertarungan kita yang belum selesai waktu itu! Jangan kau kabur lagi kali ini. Hanya ada satu orang dari kita yang pantas untuk hidup lebih lama!!"


Betapa terkejut hati mereka semua begitu mendapat seruan-seruan penuh amarah ini. Buru-buru Golok Penghancur Gunung menyuruh semua muridnya untuk berkumpul dan menuju ke sumber suara.


"Sialan!! Keluarga Zhang, mereka sudah tiba. Zhang Heng, ayo sambut mereka!"


"Baik guru!"


...****************...

__ADS_1


Beberapa hari lalu, di kediaman Zhang.


"Lin Tian, ada seseorang yang dahulu menjadi peramal terkenal. Banyak sudah hal-hal yang dikemukakannya dan benar terjadi di masa depan, tapi tak jarang pula yang salah. Siapa sejatinya orang ini tak ada yang tahu, ada yang bilang dia ini seorang pendekar, ada pula yang mengatakan dia ini seorang petani dan penggembala. Tapi tak ada yang tahu siapa sejatinya identitas peramal tersebut." Zhang Hongli mulai bercerita.


"Aku mendengar cerita ini dari ayahku, dia bilang ada satu ramalan yang amat terkenal dari orang itu, sebuah ramalan yang belum juga terwujud tetapi belum bisa dianggap salah. Ramalan itu adalah tentang kemunculan sekelompok pendekar pengacau yang mengahabisi orang-orang, baik dari golongan putih maupun hitam, tak pandang bulu. Namun tak lama setelah itu, muncul dua orang pendekar yang sama-sama putih, mereka kelak akan dijuluki sebagai Sepasang Naga Putih."


Nampak sedikit raut perubahan di wajah Zhang Qiaofeng dan Lin Tian. Akan tetapi mereka tetap diam memperhatikan.


"Dia berkata jika seandainya tiba di suatu masa saat dua pendekar itu muncul, maka kita harus berada di pihak mereka. Nah inilah yang menjadi alasan mengapa aku mengajarkan ilmu Ketenangan Batin padamu. Aku tak akan menjelaskan soal empat buah kitab keramat itu karena aku yakin kalian sudah tahu, tapi akan kukatakan sekarang, sejak pertama kali kita bertemu, aku punya firasat jika kau adalah seorang dari Sepasang Naga Putih. Karena itulah aku tanpa ragu mengajarkan kitab itu."


Lin Tian tentu terkejut sekali mendengar ini. Sepasang Naga Putih? Bukankah orang mengenal dirinya sebagai Pendekar Hantu Kabut? Demikian pikirnya.


"Tapi...kenapa kakek tak mengajarkan ilmu ini kepada ayah?" Zhang Qiaofeng angkat suara.


"Pertarungan besar antara Raja Dunia Silat terlalu mendadak, aku tak sempat menurunkan ilmu ini kepada ayahmu ketika dia diangkat menjadi seorang pemimpin. Jika kau bertanya mengapa tak kuajarkan semenjak kecil, itu hal sederhana karena ayahku berkata jika aku harus menurunkan ilmu ini kepada pemimpin keluarga." balas Zhang Hongli.


"Tapi kenapa anda mengajarkan kepadaku? Aku bahkan bukan anggota keluarga Zhang, hanya pengawal pribadi."


"Lin Tian, persoalan Sepasang Naga Putih jauh lebih penting. Aku yakin jika pemilik asli dari keempat kitab itu sedang berada di posisi ini, mereka pasti akan melakukan hal yang sama. Keselamatan orang banyak jauh lebih penting daripada pantangan kecil seperti itu."


"Lalu, setelah Nona naik menjadi pemimpin, anda tetap tidak menurunkan kitab itu!" Lin Tian masih membantah.


Zhang Hongli memandang muridnya sejenak sebelum menjawab, "Itu memang kesalahanku, maafkan aku. Akan kuturunkan ilmu itu kepadanya setelah ini. Sekarang berikan kitab itu padaku."


Lin Tian mengambil buku itu dan menyerahkannya. Setelah menerima buku itu, segera Zhang Hongli berkata.


"Mungkin itu saja yang bisa kuceritakan untuk saat ini."


"Oh iya! Kita harus kirim pesak ke Tuan Cin!" tiba-tiba Zhang Qiaofeng berseru.


"Hm kenapa?" tanya kakeknya.


Gadis itu lalu mneceritakan semuanya, tentang kitab pusakan keluarga Cin dan Wang yang dicuri oleh Golok Penghancur Gunung. Tetapi tentu saja mereka tak memberitahu jika si pencuri adalah Song Qian dan Fen Lian.


"Jadi benar dugaanku. Apa yang akan kalian lakukan?"


"Kami mendapat informasi jika mereka bersembunyi di dalam Hutan Kabut. Kita harus memberitahu Taun Cin dan Wang soal ini."


"Lekas lakukan! Kita harus segera merebutnya kembali! Memang empat kitab pusaka itu seperti mustahil jika dipelajari tanpa guru, namun bisa berbahaya jika jatuh ke tangan iblis itu."


Zhang Qiaofeng segera mendatangi Minghao untuk minta dibuatkan surat itu. Sedangkan Lin Tian masih duduk di hadapan Zhang Hongli.


"Guru, menurut anda, siapakah pasangan dari Sepasang Naga Putih?" tanya pemuda ini sungguh-sungguh.


Setelah menghela nafas panjang, kakek itu menjawab sedih, "Jujur saja aku mengira jika dia adalah Hu Tao, tapi...ah...sayang sekali dia sudah tiada..."


Diam-diam Lin Tian mengepalkan tangannya. Juga ada perasaan aneh di hatinya, entah kenapa setelah mengetahui jika kemungkinan dia adalah Sepasang Naga Putih, dia merasa sebentar lagi akan pergi meninggalkan keluarga ini demi tugas itu. Dan itu berarti, dia akan jauh dari nonanya!


"Tak ada pilihan lain, jika memang aku Sepasang Naga Putih, mau tak mau bersama rekan nagaku aku harus menumpas mereka. Entah apa yang terjadi kedepannya, aku tak akan bisa lari dari kenyataan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2