Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 276. Kombinasi Serangan


__ADS_3

Kedatangan Wang Ling Xue dan Chong San benar-benar memberi keringanan kepada Lin Tian maupun Zhang Qiaofeng. Saat ini, dua orang itu mampu bertarung dengan memfokuskan perhatian terhadap satu musuh.


Peperangan sudah berakhir, anggota Iblis Tiada Banding tak satu pun yang masih terlihat hidup. Hanya ada tumpukan mayat yang banyak sekali jumlahnya.


Pasukan kaisar membentuk semacam pagar jauh dari tempat pertempuran sepuluh pendekar besar itu. Mereka takut jika terlalu dekat, maka serangan-serangan nyasar akan mencelakakan mereka.


Akan tetapi, Kang Lim yang sudah tua, agaknya salah memilih lawan. A Tong jelas masih amat muda dan stamina orang itu jauh lebih kuat dari Kang Lim.


Setelah ratusan jurus berlalu, Kang Lim yang sejatinya sedikit lebih kuat dari A Tong mulai kelelahan dan kualahan. Akan tetapi mulutnya terus menyeringai seolah mempermainkan lawannya.


Kang Lim meloncat ketika sambaran dua tangan A Tong hendak melubangi perutnya. Serangan ini disusul dengan hentakan kedua tangan yang mengarah dada Kang Lim. Kakek itu melakukan gerakan menangkis dan terpelanting.


"Kakek tua, kau hampir mati dan bisa-bisanya masih tertawa?"


"Hahaha...uhuk...memang kenapa kalau mau mati? Bukankah keuntungan buatmu?"


Gigi-gigi A Tong bergemelutuk, matanya melotot merah menunjukkan sinar kemarahan. Dia benar-benar merasa diejek saat ini. Kang Lim yang hampir mampu dimatikannya itu sedang mengejek dan menganggap jika A Tong membunuhnya, hal itu tak jadi suatu hal besar.


"Aaahhhh!" pekik A Tong marah dan kembali menerjang. Kang Lim cepat menangkis dan mengelak, namun semakin lama berjalannya pertarungan, Kang Lim makin terdesak.


...****************...


"Ahhh!" A Yin memekik ketika tendangan Zhang Qiaofeng berhasil mendarat di perutnya.


Zhang Heng bergerak cepat, dari arah samping kanannya, membacokan pedang hitam itu untuk menggorok lehernya. Zhang Qiaofeng hanya melirik sesaat kemudian menyeringai.


"Trang!"


"Sialan!"


Lin Tian lebih dulu bergerak untuk menghalangi laju pedang Zhang Heng. Kemudian dengan kecepatan yang tak terduga, Zhang Qiaofeng menusukkan kedua belatinya dari kanan dan kiri tubuh Lin Tian.


Zhang Heng yang melihat ini terkejut bukan main dan melompat mundur seraya berteriak.


"Aiihh!"


Teriakan itu bukan hanya karena terkejut akan serangan Zhang Qiaofeng, namun lebih kepada serangan dahsyat Lin Tian yang menjadi serangan susulan.


Begitu tubuh Zhang Heng terlempar ke belakang, Lin Tian dengan gerak kilat melakukan gerakan menusuk. Gerakan terakhir dari serangkaian jurus ilmu pedang Bunga Teratai.


Menciptakan suara berdesingan dengan angin puyuh yang menggiriskan. Angin berpusingan menuju tubuh Zhang Heng, dimana jika telak mengenai target, dapat dipastikan dia akan tewas dengan tubuh berlubang.

__ADS_1


Zhang Heng tak mau mati cepat, dia memutar pedangnya dan hawa panas tercipta untuk melindungi tubuhnya.


"Blaarr!" ledakan besar dengan kilatan cahaya menyilaukan tercipta. Zhang Heng terpental beberapa tombak sebelum bangkit kembali dengan tubuh gemetaran.


Saat itu A Yin sudah pulih dan kembali menerjang. Akan tetapi dengan sebuah kode berupa bisikan sesaat, Lin Tian membalikkan tubuh dan menebaskan Pedang Dewi Salju mengarah leher.


Bersamaan dengan ini, Zhang Qiaofeng merunduk dan melakukan gerakan memotong dari kanan kiri. Suara senjata keduanya berdesingan dan seolah mampu memecahkan konsentrasi lawan.


A Yin melihat ini dengan mata terbelalak penuh kagum. Selamanya tak pernah ia menyaksikan perpaduan gerakan serangan sekompak dan semematikan ini.


Dia bergerak cepat, pecutnya berkelebat menjadi gulungan hitam dan melibat pedang Lin Tian. Kemudian ia hentakkan ke bawah dan menggunakan senjata Lin Tian pula, ia tangkis kedua belati Zhang Qiaofeng.


"Trang-trang!"


Tak berhenti sampai di sana, ia kembali melanjutkan serangan. Pecutnya ia lepas dari pedang Lin Tian dan membuatnya menjadi kaku. Lalu ia tusukkan senjata itu tepat pada tenggorokan Lin Tian.


"Croookkk!"


Dunia serasa berhenti bagi Lin Tian. Sepasang matanya itu terbuka lebar seolah hendak keluar. Darah segar terciprat mengotori wajahnya, menutupi pandangannya yang berubah menjadi merah.


"Akkkhhh!"


Zhang Qiaofeng merintih dan terhuyung ke belakang. Saat itu A Yin mengirim serangan maut, mengelebatkan pecutnya untuk menusuk dahi Zhang Qiaofeng.


Akan tetapi betapa terkejutnya ia ketika ada segulungan sinar perak kebiruan yang meliuk-liuk di depannya. Refleks dia melompat mundur. Lalu tiba-tiba dia merasakan rasa perih di pipinya, di samping rasa beku yang mengilukan.


"Apa!?" ujarnya setengah memekik melihat darahnya mengental dan membeku sebelum menetes ke tanah. Kiranya kelebatan perak kebiruan tadi berhasil melukainya. Saat dia memandang, dia melihat Lin Tian telah mendekati Zhang Qiaofeng.


"Nona, anda baik-baik saja?"


"Plak!"


"Jangan panggil aku nona lagi!" bentaknya setelah menampar pipi kanan pemuda itu.


Lin Tian menahan rasa nyeri di pipi dan di hatinya, ia merasa prihatin sekali melihat pergelangan tangan kanan nonanya telah berlubang ditembus pecut A Yin untuk menolongnya.


"Saya bisa menghindarinya, sungguh. Kenapa anda menahan serangan itu untuk melukai diri sendiri...?" ujar Lin Tian sedih.


Memang tadi saat pecut A Yin hampir mengenai tenggorokannya, dengan ilmu meringankan tubuhnya, pemuda ini mampu menghindar bahkan balas menyerang. Namun betapa bingung dan kaget hatinya saat melihat nonanya mengangkat tangan kanan untuk menahan laju pecut itu.


"Di belakang!" pekik Zhang Qiaofeng ngeri.

__ADS_1


Lin Tian sudah sadar tanpa diperingatkan. Namun entah kenapa, Zhang Qiaofeng segera mendekapnya dan bergulingan menjauhi serangan Zhang Heng.


Lin Tian kembali dibuat bingung. Dia tidaklah selemah itu hingga seseorang harus terus menyelamatkannya. Namun sebelum kebingungannya hilang, rasa marah sudah naik ke ubun-ubun saat terdengar bentakan Zhang Heng.


"Bukan waktunya untuk pencurahan cinta kasih!" bentaknya seraya menerjang maju.


"Pengganggu kau!!"


Zhang Qiaofeng melongo, memandang Lin Tian yang sudah menghadapi Zhang Heng kembali. Agaknya pemuda itu marah bukan karena serangan Zhang Heng yang tiba-tiba, melainkan karena waktu berduaan dengan dirinya diganggu.


"Jangan bengong!"


"Swingg!"


"Trang!"


Pisau di tangan kanan berkelebat, menangkis pecut A Yin untuk kemudian disusul serangan pisau sebelah kiri yang menusuk tenggorokan.


Pertarungan sengit kembali terjadi. Akan tetapi masih sama seperti tadi, Zhang Qiaofeng dan Lin Tian terus berdekatan untuk menciptakan kombinasi serangan mematikan. Membuat A Yin juga Zhang Heng tak mampu menembus pertahanan dua orang itu.


...****************...


"Luar biasa...." gumam Chong San saat menangkis pukulan A Jiu hampir seperti gerakan malas dan tak sengaja.


"Aduh....!" pekik A Jiu kesakitan.


"Heh, Pengelana Tanpa Bayangan, hadap ke lawanmu!" pekik A Jiu yang merasa diremehkan.


Chong San menoleh ketika menjawab, "Ada apa? Bukankah menonton pertandingan itu jauh lebih menarik dan enak dilihat? Di sana ada dua bidadari." katanya santai menunjuk Zhang Qiaofeng dan A Yin dengan tongkatnya.


Wajah A Jiu memerah sampai ke telinga. Terdengar gerengan-gerengan seperti macan marah yang keluar dari tenggorokannya.


Chong San yang melihat ini memasang tampang terkejut. "Ahhh...mengerikan sekali."


"Jangan meremehkanku!"


"Blaarr!"


Tulang lengan kanan A Jiu membuat tikungan tajam ketika menghantam tongkat butut Chong San.


"Ahh...tanganmu sudah tidak lurus..."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2