
"Sudah kubilang, aku tidak tahu apa-apa! Kenapa kalian memandangku seperti itu?" ujar Chan Fan tidak terima sambil bangkit berdiri dan memandang sekeliling dengan mata melotot.
Lima bersaudara pendekar sejati, Lin Tian, Zhang Heng dan Sian Yang memandangnya dengan tatapan penuh keraguan. Agaknya hanya Lin Tian seorang yang memandang tenang tanpa ekspresi apapun.
"Heh pelayan, apa yang kau katakan kepada ketuamu ini hah?" sekarang Chan Fan menghadapi Xin Kiu yang duduk di sudut ruangan sambil diobati lukanya oleh pelayan lain. Tentu saja bentakan itu membuat dia tersentak kaget dan menegakkan posisi duduknya.
"S-saya hanya mengatakan yang sejujurnya...saya lihat, a-anda waktu itu berjalan menuju kearah ledakan. Saya tidak tahu apakah itu benar anda....saya hanya berkata demikian kepada ketua dan tuan Sian Yang." dengan perasaan gugup luar biasa karena menjadi pusat perhatian dari orang-orang kuat itu, Xin Kiu menjawab sedapatnya seperti apa yang direncanakan dengan Lin Tian kemarin. Setelah berkata demikian, dia tak berani mengangkat kepala lagi dan hanya menunduk memandang lantai.
Chan Fan menoleh kepada Sian Yang dan Zhang Heng secara bergantian, dari sorot matanya masih menunjukkan perasaan penasaran dan tidak terima. Zhang Heng cepat-cepat memotong disaat pria mirip wanita itu hendak memprotes lagi.
"Sudahlah, mungkin memang bukan engkau pelakunya. Tapi ingat Chan Fan, aku akan mengawasimu!" ujar Zhang Heng tegas dan mantap. Aura wibawa dan kepemimpinan terpancar dari sekeliling tubuhnya yang membuat Chan Fan bungkam.
Karena hal itu pulalah maka saat dia berkata kembali, suaranya sedikit rendah dan lebih tenang daripada tadi, "Lalu, kenapa pelayan ini bisa terluka? Apakah dia berada di tempat kejadian?"
Saat itulah akhirnya Lin Tian yang sedari tadi diam buka suara. Diawali dengan kekehan pelan penuh ejekan dan senyum miring tanda keangkuhan, dia menjawab hal tersebut dengan cukup logis.
"Heheh, Chan Fan....kau pikir seberapa besar ledakan itu?"
Pertanyaan ini tentu tak ada orang yang mampu menjawab karena mereka semua sudah tahu bagaimana kenyataannya di lapangan. Terlihat bahwa kawah yang tercipta akibat ledakan itu garis tengahnya bisa sampai puluhan meter.
"Tak mengherankan pelayan itu kena imbasnya karena mungkin dia sedang lewat di sana. Lagipula, siapa yang mengetahui ruang bawah tanah itu selain tuan Sian Yang dan para pengawalnya?" kembali Lin Tian melontarkan pendapatnya yang tak mampu dijawab.
Namun Chan Fan tetap membantah juga, "Kau sekarang sudah tahu dan semuanya mungkin juga sudah sadar, tempat itu ada di dalam hutan lebat, mana mungkin pelayan sepertinya lewat di sana?"
Lin Tian justru menghendikkan bahu sambil menghela nafas, "Mana kutahu? Hanya itulah pendapatku yang kupikir cukup masuk akal. Kalau kau hendak menuduh pelayan itu yang menghancurkan ruang bawah tanah, kau ada bukti? Bahkan pelayan itu pun tak punya ilmu silat. Kau mau bilang saat ledakan terjadi, nenek sinting itu sedang tidur mendengkur? Kalau memang iya, orang-orang sekuat dia mana mungkin tidak sadar akan kehadiran seseorang, bahkan seseorang yang tak punya kepandaian untuk menyembunyikan suara langkah kaki."
Keadaan makin menegang disaat Lin Tian dan Chan Fan saling beradu pandang dalam diam. Begitu pula dengan Zhang Heng yang merasakan firasat buruk ini segera mengambil alih.
Sejatinya dia cukup senang karena ada satu pelayan yang menjadi saksi bahwa Chan Fan lewat di sana sebelumnya, itu bisa dia gunakan untuk mencari celah guna membunuh Chan Fan. Karena dia memang sudah menetapkan pilihan untuk menghilangkan ancaman, yaitu Sian Yang dan para anak buahnya itu.
Tapi tentu saja dia tak mau bertindak sembrono dengan melakukan segala siasatnya secara berterang. Maka dari itu untuk saat ini dia memilih menenangkan keadaan.
__ADS_1
"Masalah cukup sampai sini. Chan Fan untuk saat ini tak bersalah!" akhirnya berkatalah demikian. Zhang Heng memijit kepalanya.
...****************...
Malam harinya, pemimpin muda dari Iblis Tiada Banding ini akhirnya memutuskan untuk turun tangan sendiri menyelidiki bekas ruang bawah tanah yang sengaja dibuatkan khusus untuk nenek siluman. Begitu dia tiba di sana, yang dilihatnya hanya pohon-pohon tumbang dan pecahan-pecahan perkakas milik nenek itu.
Zhang Heng merasa tak heran dengan ini dan dia mencoba masuk ke dalam kawah yang baru tercipta setelah ledakan itu. Dia menyelidik kemari bukan untuk mencari bukti bahwa Chan Fan bukan pelakunya, malah sebaliknya, dia ingin mencari-cari bukti sekecil apapun yang menunjukkan bahwa Chan Fan lah pelakunya.
"Percuma, semuanya sudah hangus berantakan." gumamnya melempar pecahan panci yang sudah gosong.
Dia memandang sekitarnya dan lambat laun pandangan matanya menajam, menandakan kewaspadaannya sudah bangkit. Berdiri tanpa bergerak, matanya menyorot jauh ke kegelapan malam. Angin yang berhempus pelan-pelan itu seolah menambah kesunyian malam yang kian mencekam.
Tiba-tiba, Zhang Heng mencabut pedang dari pinggangnya dan kelebatan hitam terlihat saat senjata itu menebas kearah belakang tubuhnya. Karena malam hari, sehingga pedang berbilah hitam itu seolah tak tampak kecuali terdengar angin bercuitan yang menyambar sesosok berjubah panjang lebar.
"Trang"
Bunga api berpijar di saat sebuah kilatan panjang menyambar kepala Zhang Heng, namun dengan tangkas pria itu mampu menangkisnya dan memaksa si penyerang melompat mundur.
"Chan Fan!!" pekik Zhang Heng geram.
Namun orang itu sama sekali tak hiraukan pekikan Zhang Heng, justru dia malah menyerang lebih hebat dengan putaran-putaran rantai yang lihai sekali. Mengurung tubuh Zhang Heng dari segala sisi.
Akan tetapi Zhang Heng tenang saja menangkis dan menghindari setiap serangan itu. Bahkan mampu balas menyerang dengan sabetan pedang mengarah ginjal lawan yang mampu dibalikkan dengan hantaman rantai keras.
"Ternyata benar itu ulahmu. Haha, kau pikir bisa mengalahkan aku!?"
Orang yang menyerang ini tetap bungkam dan terus mendesak Zhang Heng. Tapi Zhang Heng tetap lebih unggul sehingga dalam beberapa sabetan dia mampu mendesak pria senjata rantai itu.
Beberapa belas jurus kemudian, pedang hitam Zhang Heng berhasil merobek daging di pundak kiri orang itu. Tapi anehnya sama sekali tak terdengar suara kesakitan atau apapun, justru orang ini melemparkan sebuah bola yang Zhang Heng kenal sebagai bola buatan nenek siluman yang bisa meledak.
Saat bola itu masih melayang, orang ini menggesekkan ujung rantai ke ujung satunya sehingga menciptakan percikan bunga api. Percikan-percikan itu berhasil membakar sumbu bola itu yang segera meledakkannya.
__ADS_1
"Keparat!!" Zhang Heng melompat mundur dan bergulingan. Ledakan itu tak cukup besar, tapi sudah lebih dari cukup untuk menciptakan asap tebal yang mampu menyamarkan kepergian orang ini yang lekas tenggelam di balik gelapnya hutan.
"Sialan!!" Zhang Heng membanting-banting kakinya sebelum melesat mengejar orang itu. Lebih tepatnya ke kediaman Chan Fan karena dia sudah yakin jika pelakunya adalah orang itu.
...****************...
"Trang-Tring!"
"Lin Tian!! Kau manusia busuk!!"
"Trang!"
"Hahaha....kau tak lebih baik daripada aku!"
Pedang Dewi Salju berkelebat cepat sekali, membentuk segulungan sinar putih kebiruan yang seperti kilat menyambar. Chan Fan yang saat itu sedang dalam keadaan sedikit miring, tak mampu menghindarkan pedang lawan sehingga.
"Sraat!"
Tepat seperti perkiraan Lin Tian, pedang itu mampu menggores pundak kiri Chan Fan yang segera terhuyung sekaligus menggigil. Tak heran karena Lin Tian tadi mengerahkan hawa saktinya untuk sedikit membekukan darah lawan.
Tak sampai di sana, Lin Tian menggerakkan kaki kanannya dan ujung sepatunya dengan telak mengenai ulu hati lawan. Saat itu, seluruh tubuh Chan Fan lemas dan kaku-kaku. Tanpa mampu dicegah lagi dia jatuh berlutut.
"Haha...sekarang tunggu sebentar lagi. Kematianmu sudah dekat!" ujar Lin Tian sesaat sebelum tubuhnya berkelebat pergi dan meninggalkan rasa penasaran di hati Chan Fan.
Tapi sedetik kemudian, wajahnya yang sudah pucat itu makin pucat mendengar suara yang snagat dikenalnya.
"Chan Fan....terima kematianmu!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1