
Golok Merah mencoba mengedarkan sinar obornya ke sekitar, namun nihil, tidak terlihat satupun sosok dari bayangan tadi. Dia kembali ke tempat semula, lalu berseru.
"Semuanya hati-hati! Hutan ini tidak sesederhana kelihatannya."
Setelah beberapa menit, mereka melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan di bukit itu amat sukarnya. Banyak sekali ditumbuhi rumput tinggi dan juga batu runcing.
Batu-batu runcing itu membuat mereka sedikit merasa khawatir. Pasalnya, batu sebesar itu tentu mampu dijadikan tempat sembunyi oleh para "penghuni" bukit. Maka dari itu mereka semua terus mengawasi setiap batu sampai tak sadar ada sebuah jebakan di depan.
"Awass!!" seru Zhi Yang memperingatkan barisan paling depan.
Tiba-tiba, dari arah kanan dan kiri, mengayun tiga balok kayu besar dari masing-masing sisi. Mendengar teriakan Zhi Yang, barisan paling depan lekas melompat kebelakang untuk menghindar.
"Brruukk-Bruukk!"
Enam balok kayu itu saling bertumbukan. Menciptakan suara berdentum keras yang memekakkan telinga. Untung saja semuanya masih selamat.
"Ayo lanjutkan perjalanan. Tetap hati-hati dan waspada." perintah Golok Merah di barisan depan.
Kembali rombongan itu melakukan perjalanan. Namun kali ini semua orang sudah memegang senjata masing-masing. Tak terkecuali Lin Tian.
"Heh...apa itu? Tupai? Atau burung hantu? Tidak, tidak, kelelawar kah? Eh...tapi kenapa besar sekali?" Batin Lin Tian kebingungan ketika melihat siluet hitam di sebelah kanan.
"Tuan!! Lihat ke kanan!" akhirnya Lin Tian memilih untuk berseru keras memberitahukannya kepada Golok Merah.
Serentak mereka semua mengarahkan obor ke kanan. Dan apa yang mereka lihat adalah...
"Grooaaarr!!"
"Sialan!! Mereka benar-benar memasang jebakan seberbahaya ini!?"
Di sana nampak sekumpulan beruang hitam yang besar sekali. Mungkin bertubuh dua kali lebih besar dari beruang biasa. Beruang itu segera menubruk maju begitu melihat kawanan obor yang menyilaukan, melihat ini, segera Golok Merah berteriak nyaring.
"Lawan mereka!! Pertahankan diri!!"
Terjadilah pertarungan yang seru sekali di tengah malam itu. Dengan bantuan obor-obor, para manusia di sana mencoba menundukkan lima ekor beruang raksasa itu. Namun hanya sebentar saja, dan lima ekor beruang telah mati dengan leher putus.
"Syukurlah, hanya luka-luka biasa dan tidak ada yang mati." gumam Golok Merah melihat rekan-rekannya masih utuh. "Ayo lanjut!" katanya sambil kembali mendaki.
Hingga satu jam lamanya dan mereka masih belum menemukan jebakan lagi. Namun selama satu jam itu, yang mereka dengar hanyalah suara kaki mereka sendiri. Sama sekali tidak terdengar suara burung hantu, jangkrik atau hewan malam lainnya.
__ADS_1
"Sepertinya kita sedang beruntung. Lihat, tidak ada lagi jebakan menghadang kita." celetuk salah seorang tiba-tiba. Karena keadaan sedang senyap, maka ucapan yang tidak terlalu keras ini terdengar oleh mereka semua.
"Tetap waspada! Firasatku mengatakan kita sedang tidak untung. Karena itulah...." ucap Golok Terbang itu seraya membalikkan tubuh menghadap orang tadi. Namun tiba-tiba dia menghentikan perkataannya.
"Karena itulah? Ada apa Tuan, kenapa....." kata Lin Tian sambil memandang kearah Golok Merah itu melihat. Tindakannya ini membuat ucapannya berhenti.
Sontak hal ini mengejutkan mereka semua. Maka tanpa dikomando, mereka segera menengok ke belakang dan apa yang mereka lihat benar-benar di luar nalar.
"Benar-benarkah tadi kita lewat jalan ini?" Zhi Yang berkomentar.
"Kenapa jadi seperti itu? Bukankah kita daritadi jalan mendaki?" sahut salah satu pasukan.
"Ada apa lagi ini?" tanya Golok Merah dalam hati.
Pasalnya, sedaritadi rombongan besar ini terus berjalan ke atas. Namun aneh sekali, begitu mereka memandang ke belakang, tampak jelas di sana terdapat jalan batu menanjak yang terjal sekali. Jika tadi terus mendaki, bukankah seharusnya jalan yang mereka lihat adalah menurun?
"Tuan, kita dalam bahaya....Hei lihat ke sana!!" seru Lin Tian dengan muka terkejut sekali.
Spontan mereka semua kembali memandang ke depan. Kembali hal mengejutkan terjadi. Mereka semua tadi ingat, betapa jalan di depan sana adalah jalan setapak yang ditumbuhi alang-alang di kanan kiri.
Akan tetapi, yang mereka lihat saat ini adalah sebuah batu yang menanjak ke atas, lalu di ujung batu itu adalah jurang. Si Golok Merahlah yang paling dekat dengan jurang.
"Ini sihir, pasti sihir!!" seru seseorang dengan muka pucat sekali.
"Heh jangan menakut-nakuti!! Mana ada sihir? Itu hanyalah cerita dongeng." sahut kawannya yang berwajah pucat pula.
Sedangkan Lin Tian dan Zhi Yang, mereka sudah siap dengan senjata di tangan dan beradu punggung. Memandang sekitar dengan pandangan tajam.
"Zhi Yang, ada yang tak beres."
"Aku sudah tahu!!!" jawabnya ketus.
Beberapa detik kemudian, berkelebat dua bayangan hitam dan hendak menikam dua orang yang berdiri paling dekat dengan barisan pohon hutan. Lin Tian yang melihat ini segera menerjang sambil berseru.
"Menunduk kalian!!"
Refleks, dua orang ini merendahkan tubuh sampai berjongkok. Lin Tian lewat di atas mereka dan....
"Scraaassh!!"
__ADS_1
Sekali tebas, dua bayangan yang ternyata adalah manusia itu terpotong seketika.
"Waah ada yang hampir mencelakakan kita!!" ucap salah satu orang yang ditolong Lin Tian dengan muka kaget.
Melihat penyerangan gelap ini, mereka lekas memasang kuda-kuda dan menelisik tempat sekitar. Membentuk sebuah barisan bulat yang saling melindungi satu sama lain.
Lin Tian memandangi dua mayat itu lekat-lekat. Meneliti setiap inci dari tubuh orang tersebut.
"Siapa mereka?" gumamnya ketika melihat sebuah kalung tergantung di leher mereka. Kalung itu terbuat dari batu yang dibentuk menjadi segitiga. Di tengah-tengahnya, terukir sebuah huruf yang tak dimengerti Lin Tian. Ukiran itu juga mengeluarkan cahaya redup berwarna ungu.
"Bersiap!!" terdengar Golok Merah berseru yang membuat Lin Tian seketika membalikkan tubuh memandang.
Ternyata, rombongan itu sudah dikepung dari dua arah. Pertama dari sisi jurang, kedua dari sisi batu-batu terjal. Entah sejak kapan puluhan orang berpakaian aneh itu datang.
Memang pakaian mereka aneh, sama anehnya dengan orang yang dibunuh Lin Tian barusan. Mereka semua memakai pakaian ketat sekali, baik perempuan atau laki-laki. Entah terbuat dari apa namun pakaian itu terlihat mengkilap ketika terkena sinar obor.
Untuk yang perempuan, pakaian atas mereka hanya menutupi sampai bagian dada, sedangkan perut sampai kebawah pusar dibiarkan terlihat secara terang-terangan. Bawahannya memakai celana ketat yang juga berbahan sama seperti bajunya. Persamaan mereka adalah, kesemuanya memakai kalung batu dengan ukiran bercahaya.
"Mengapa kalian mengacau di rumah kami!?" tanya salah satu dari para pengepung itu.
"Sebelum itu, apakah benar bahwa kalian adalah si penebar teror di desa yang bertempat di bawah bukit ini?" tanya Golok Merah.
"Benar. Jika kau bertanya, hal itu kami lakukan untuk guru kami!"
"Panggil gurumu keluar!!"
"Kalian tak pantas bertemu dengannya!!"
"Dasar pengacau!! Matilah kalian di rumah sendiri!!" teriak Golok Merah garang dan langsung menerjang ke depan. Sedetik kemudian, ratusan orang dari rombongan itu ikut pula menerjang.
Pengeroyok itu berjumlah tujuh puluh orang. Karena hari sudah malam dan pakaian mereka hitam semua, maka sedikit merepotkan para pendekar.
Lin Tian pun juga tak tinggal diam. Pemuda ini segera membantu dengan cara yang luar biasa. Pedangnya itu berkelebat cepat menghasilkan cahaya perak kebiruan. Sesekali obor di tangannya itu juga menyambar ke sana-sini, membakari sekumpulan orang itu seperti lebah saja.
Akan tetapi ada satu hal yang merugikan mereka. Ternyata pakaian para peneroyok itu licin sekali, sehingga sedikit banyak membikin kerepotan. Maka, setelah sekian lama bertempur, tidak sedikit dari pihak pendekar yang roboh tewas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1