Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 51. Penyelamat


__ADS_3

Lin Tian masih terus berusaha lari dari kejaran para musuh itu. Dia tidak tahu kemana arah yang sedang dituju, intinya dia harus menjauh dari rombongan penyerang tersebut.


Tiba-tiba Lin Tian merasa ada sebuah serangan berbahaya yang mengancam punggungnya. Ternyata itu adalah beberapa buah senjata rahasia.


Sambil terus berlari, Lin Tian menacabut pedangnya dan menangkis roboh hampir semua senjata itu. Tiga jarum beracun berhasil dia tangkap dan kemudian ia kembalikan kepada pemiliknya.


"Aaaarrghh!!" Terdengar jerit kesakitan ketika jarum lemparannya itu tepat mengenai sasaran.


"Berhenti kau...!!!" bentak topeng merah geram.


Lin Tian hanya mendengus dan tidak memperdulikan bentakan itu. Dia masih terus berlari.


Tak lama kemudian, dari atas meluncur dua orang pria tinggi besar yang mengirimkan serangan maut kepadanya.


"Bocah!! Kau harus membayar atas semua perbuatanmu waktu itu!!" teriak salah satu dari mereka yang ternyata adalah "Macan Iblis".


Lin Tian mendongak, lalu secepat kilat ia menghentikan langkahnya. Kemudian pemuda ini melompat tinggi keatas dan langsung menebas mereka dengan jurus "Bilah Pedang Bulan".


Hal ini tentu saja membuat kedua orang itu terkejut setengah mati karena melihat datangnya serangan yang begitu kuat dari jarak yang demikian dekatnya.


Akan tetapi tak ada pilihan lain, karena tak mampu menghindar dikarenakan sedang berada di udara, mereka lekas memutar senjata masing-masing untuk menangkis.


"Aaargghh....aaarrghhh!!"


Namun naas, senjata beserta tangan mereka putus seketika begitu hawa serangan Lin Tian menyapa tubuh kedua orang tersebut.


Tak berhenti sampai di situ, Lin Tian kemudian melakukan serangan jarak jauh sekali lagi dan kali ini serangan itu mampu membabat putus kedua tubuh itu menjadi dua.


Begitu Lin Tian sudah melayang turun hendak mendarat, ternyata para pengejar sudah berada cukup dekat dengannya. Pemuda ini kemudian berinisiatif untuk kembali mengirimkan hawa serangan jarak jauh ke sekeliling tubuhnya.


"Swuusshh...swoosshh"


Pemuda ini menebaskan pedangnya dengan jurus "Kibasan Ekor Naga Langit" ke sekeliling tubuhnya. Akibatnya cukup hebat, orang-orang yang terlalu dekat dengannya langsung muntah darah dan roboh kaku seketika. Sedangkan untuk orang yang letaknya sedikit lebih jauh, tubuh mereka terpental bagaikan daun kering tertiup angin sejauh dua tombak.


"Lin Tiaaannn....!!" teriak Zhang Heng dengan kemarahan meluap-luap.


Dirinya yang sudah berada cukup dekat dengan Lin Tian, tanpa basa-basi langsung menerjang dan membabatkan pedangnya kearah lutut.


Lin Tian yang baru saja mendarat tentu saja terkejut. Namun dia adalah seorang pemuda sakti, maka melihat serangan ini, cepat dia kembali meloncat dan mengirim serangan balasan dengan tendangan kaki kiri yang langsung diarahkan ke muka lawan.


Zhang Heng lalu miringkan sedikit kepalanya. Melihat serangan pedangnya gagal, dia lalu menggerakkan lengan kanan berniat untuk mencengkram kaki Lin Tian.


Akan tetapi serangannya ini kembali gagal karena pemuda itu sudah terlebih dahulu menarik kakinya dan melompat jauh ke belakang.


"Bunuh!!"

__ADS_1


"Kepung diaaaa!!"


Teriak beberapa orang di antara pengeroyok itu.


Lin Tian hendak membalikkan tubuh dan kembali melarikan diri. Akan tetapi betapa terkejut hatinya karena saat ini dia benar-benar sudah dalam keadaan terkurung rapat.


"Cih...sialan!!" dia mengumpat kesal sambil matanya melirik kesana-sini untuk mencari celah agar dirinya bisa melarikan diri.


Namun belum sempat dia bereaksi, dari belakang meluncur sebuah sambaran angin yang sangat panas mengancam punggungnya.


Pemuda ini secepat kilat sudah meloncat dan berguling-guling ke kanan untuk menghindar dari serangan. Sambil berguling, dia menyambitkan beberapa kerikil kearah para penyerang itu.


Begitu dia sudah bangkit berdiri, ternyata dari arah depan dan belakang sudah diserbu oleh beberapa orang.


Maka cepat ia kerahkan seluruh tenaga dalam dan memutar pedang untuk menyerang mereka.


"Trang-trang-trang"


Hujan senjata itu mampu ditangkisnya, namun baru saja Lin Tian hendak mengambil nafas, dua orang guru murid itu sudah menerjang pula kearahnya.


Melihat kedua pemimpin mereka ikut menyerang, dua puluhan orang pendekar itu menjadi bersemangat dan ikut pula menerjang kedepan.


"Bajingaann....!!" teriak Lin Tian.


Namun karena pemuda ini dikeroyok oleh sekian banyaknya pendekar lihai, ditambah dengan bantuan dua orang guru murid itu, maka sebentar saja Lin Tian sudah terdesak sangat hebat.


Semua pergerakannya seolah-olah telah ditutup oleh serbuan berbagai macam senjata itu.


Dalam lima menit saja, keadaan Lin Tian sudah benar-benar payah dan tubuhnya sudah tercetak banyak sekali luka di sana-sini. Bajunya yang berwarna putih seputih salju itu kini sudah berubah menjadi warna merah akibat darahnya sendiri.


"Hah...hah....hah...." terdengar nafas Lin Tian memburu.


"Hohohaha....bagaimana Pendekar Hantu Kabut?? Adakah kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?" ucap pendekar topeng merah dengan nada mengejek.


"Pendekar Hantu Kabut? Siapa itu? Apakah itu aku? Jika benar, tidak buruk juga nama sebutan itu." ucap Lin Tian dalam hati yang malah lebih memperhatikan nama julukannya ketimbang nyawanya sendiri.


"Heh bocah!! Apa kau sudah begitu takutnya sampai menjadi bisu seperti itu hah?" tanya Zhang Heng dengan pandang mata tajam dan angkuh.


"Hmph...dasar manusia-manusia rendah!!" bentak Lin Tian dengan garang.


"Heheh...sampaikan salamku untuk kakak, matilah!!" teriak Zhang Heng yang sudah melompat dan mengirim serangan.


Lin Tian yang melihat ini, hanya mampu menggerakkan pedang sekuat yang dia bisa dengan sisa-sisa tenaganya.


"Tring!!" pedang itu berhasil tertangkis, akan tetapi akibatnya, Lin Tian terdorong mundur sejauh tiga langkah.

__ADS_1


"Pergilah ke neraka!!" teriak Zhang Heng yang kembali mengirimkan serangan.


Kali ini Lin Tian benar-benar sudah tak berdaya. Tenaganya habis dan pandangannya pun sudah berkunang-kunang akibat terlalu banyak mengeluarkan darah.


"Maafkan aku...Nona" batin pemuda ini yang masih saja memikirkan Nona mudanya bahkan ketika nyawanya sendiri sudah berada di ujung tanduk.


"Trang!!"


"Aaahhhh....!!"


Terdengar jerit kesakitan yang keluar dari mulut Zhang Heng. Pria ini terpental sejauh lima tombak begitu dirinya sudah berada dekat dengan Lin Tian.


Pemuda ini terkejut dan secara spontan membuka matanya. Ternyata di depannya sudah berdiri seorang kakek tua.


Kakek ini rambutnya sudah putih semua san dikuncir dengan ikat rambut berwarna biru muda. Jubahnya sederhana saja, berwarna abu-abu sedikit kehitaman. Dia berdiri di depan Lin Tian dengan sikap tenang seakan-akan tidak menyadari keadaan sekelilingnya.


"Siapa kau!??" bentak topeng merah yang tidak terima atas perlakuan orang itu terhadap muridnya.


Orang yang baru datang ini hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Topeng merah yang merasa diabaikan, dengan perasaan jengkel dia kemudian memerintahkan semua anak buahnya untuk menyerbu kakek tersebut.


"Habisi dia!!" perintah topeng merah dengan penuh amarah.


Walaupun mereka semua merasa ragu karena telah melihat kekuatan orang itu yang mampu mementalkan Zhang Heng hanya dalam sekali pukulan saja, tetapi mereka tetap menuruti perintah.


Dengan nekat, dua puluhan orang itu menyerbu dari segala jurusan.


Akan tetapi hebat sekali orang ini, hanya beberapa kali kibasan tangan saja, semua penyerbu itu sudah terpental kesana-sini dengan keadaan tak bernyawa.


Memang luar biasa kekuatan kakek tua ini. Ketika tadi dia menggerakkan tangannya, menyambar angin pukulan yang sangat dahsyat setiap kali tangan tua itu berkelebatan.


Sehingga sebentar saja dia mampu mengalahkan pengeroyokan kedua puluh orang itu yang tadinya hampir membunuh Lin Tian.


Topeng merah yang mengenal adanya bahaya, cepat ia menarik muridnya yang sudah berdiri dengan muka pucat dan pergi dari sana.


Sebelum kedua tubuh itu benar-benar menghilang, terdengar Zhang Heng berkata, "Tunggu pembalasanku Lin Tian!!"


Kakek itu tidak mengejar mereka. Dia lalu membalikkan tubuh dan menghadap Lin Tian. Wajahnya masih saja terlihat ramah dan menenangkan seperti halnya ketika dia datang.


Lin Tian memandang dengan mata terbelalak dan takjub, kemudian dia bertanya kepada diri sendiri, "Siapa kakek ini?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2