Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 92. Malapetaka


__ADS_3

"Cepat beritahu kaisar!!" perintah Zhang Qiaofeng kemudian.


"Siap Nona!" jawab orang tersebut kemudian berkelebat pergi.


Zhang Qiaofeng lalu menghela nafas dan duduk di kursinya, memijat kening dengan tangan kanan.


"Hah...pemberi racun kakak Lu masih belum dapat, seorang yang meracuni Lin Tian juga belum terang siapa. Sekarang muncul masalah baru lagi. Hah...melelahkan..." Zhang Qiaofeng menghela nafas berat.


Memang sesungguhnya gadis ini sudah mengetahui tentang kejadian ketika Lin Tian terkena racun dari tepukan seseorang. Lin Tian dan Minghao menceritakan masalah ini setelah seminggu Lu Jia Li sadar dari pingsannya. Karena ini pula, Zhang Qiaofeng melarang keras kepada Lin Tian dan Minghao keluar dari wilayah kediaman Zhang untuk sementara waktu.


"Ternyata begitu, setelah kalah perang di Kota Batu, mereka malah hendak menyerbu ibukota? Gila!!" gumam Lin Tian.


"Kenapa akhir-akhir ini, dunia persilatan sering sekali dilanda kejadian aneh?" celetuk Zhang Hongli.


"Maksud anda?" tanya Minghao.


"Pertama, soal kejadian Lin Tian keracunan. Siapa sebenarnya sosok pria yang murah senyum itu? Yang mampu merobohkan Lin Tian hanya dalam satu atau dua tepukan saja? Lalu yang kedua, tewasnya Iblis Tongkat Merah dengan cara yang begitu kejam. Tentu pelakunya bukanlah seorang dari golongan putih, melihat dari racun yang teramat ganas dan diluar nalar itu. Pasti pelakunya adalah golongan hitam! Dan pertanyaannya, mengapa orang dari golongan hitam menyerang pendekar segelongan?" jelas Zhang Hongli yang diangguki ketiga pemuda itu.


"Dan belum lama ini, keluarga Xiao diserbu oleh para manusia gunung yang saat ini sedang dalam perjalanan kemari. Sebenarnya ada apa dengan semua ini? Apakah ulah Aliansi Golongan Hitam?" lanjut Zhang Hongli.


Begitu ucapan itu berakhir, ruangan menjadi hening karena setiap orang sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Aku akan pergi ke keluarga Xiao dan Hu untuk meminta bantuan mereka. Lin Tian dan kakek akan menemani aku, dan paman Minghao tetap di sini." ucap Zhang Qiaofeng tiba-tiba.


Semua orang mengangguk tanda setuju. Disusul dengan perkataan Minghao, "Apa perlu kubuatkan surat untuk mereka Nona?"


"Iya, tolong paman."


"Baiklah Nona."


...****************...


"Hmpfhh!!"


"Hehe tenang-tenang, jangan berisik..."


Di tengah-tengah hutan yang gelap itu, terlihat dua manusia berlainan jenis sedang saling peluk di bawah naungan pohon besar. Tidak tidak, agaknya hanya pria itulah yang memaksa untuk memeluk si gadis.

__ADS_1


"Hm...Nona Xiao ternyata memang amat cantik." ucap pria itu disusul dengan satu ciuman mesra di pipi Nona Xiao itu.


"Hmmphh!!" gadis yang bukan lain adalah Xiao Lian itu makin meronta dan menangis. Dia benar-benar merasa takut kali ini.


Hal ini benar-benar mengejutkan hatinya. Pasalnya saat tengah malam ini, ketika dirinya masih tertidur lelap di atas hangatnya ranjang kamar, tiba-tiba dirinya dibawa dan dilarikan ke hutan ini dengan kecepatan bagaikan terbang.


Orang yang membawanya itu memakai topeng putih, dan ketika sampai di hutan ini, barulah orang itu membuka topengnya. Walaupun wajahnya cukup tampan, namun di mata gadis itu, dia merasa seolah sedang melihat sepasang mata iblis.


Setelah beberapa kali mencoba memukul dan menendang namun hasilnya sia-sia, akhirnya gadis ini memilih menyerah. Hanya mampu menangis dengan mata terpejam dan wajah pucat.


"Nah begitu lebih baik...tenang dan nikmati saja." pria itu kembali berkata sembari menggerakkan tangan untuk menggerayangi tubuh Xiao Lian.


Xiao Lian hendak berteriak, namun dengan secepat kilat, pria itu ternyata sudah menotok lehernya yang membuat ia menjadi bisu selama beberapa waktu.


"Oh iya, namamu Xiao Lian bukan? Ah sungguh tak sopan sekali diriku ini, sudah saling kenal mesra masih juga belum memeperkenalkan diri. Hah...perkenalkan Nona, nama saya Zhang Heng, seorang pangeran yang kelak akan membawamu ke gerbang kebahagiaan." kata orang tersebut penuh rayuan manis.


Pria yang ternyata bernama Zhang Heng itu hanya tersenyum sinis ketika kedua bola mata indah dari gadis yang ditindihnya itu, mengeluarkan sinar kilat. Gadis itu mendadak terkejut begitu mendengar nama orang tersebut.


Ketika mendengar nama Zhang disebut, seketika teringatlah ia kepada seseorang yang bertahun-tahun lalu, mampu mencuri cinta kasihnya dalam pandangan pertama.


"Lin Tian..." batin gadis ini tanpa sadar.


"Iblis!!! Lepaskan tangan kotormu dari gadis itu!!!"


Zhang Heng terkejut setengah mati. Namun sebelum dirinya bangkit, telah menyambar puluhan batang pisau kecil yang mengarah kejalan-jalan darah mematikan di sekujur tubuhnya.


Maka cepat pria ini mengelak kesana-sini diselingi dengan tangkisan kedua lengan. Tak lupa pula dia segera memakai topengnya setelah sebelumnya ia simpan di saku jubah.


"Siapa!??" bentak Zhang Heng dengan sorot mata berkilat tajam.


Orang yang baru membentak itu tahu-tahu sudah berdiri di sana dan menjawab pertanyaan Zhang Heng dengan tusukan pisau kearah dahi.


"Binatang!!" seru Zhang Heng marah dan menangkis menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya sudah bergerak cepat hendak mencengkram perut orang tersebut.


Akan tetapi orang ini hebat sekali. Begitu tangan kiri Zhang Heng hampir mencapai tangannya, cepat dia memutar pergelangan tangan dan melempar pisau itu ke tangan kanan Zhang Heng yang berniat untuk menyerang perutnya. Setelah itu dia melompat mundur ke dekat tubuh Xiao Lian berbaring.


"Aiihhh!!" seru Zhang Heng kaget dan menarik kembali tangan kanannya. Kemudian memandang kearah seorang pendekar yang menyerangnya itu.

__ADS_1


"Cepat mengaku!! Siapa dan mau apa kau kemari hah!!??" kembali Zhang Heng membentak.


"Orang memanggil aku sebagai Hantu Seratus Lengan. Dan aku kemari bukan untuk alasan khusus, kebetulan aku sedang lewat di sekitar sini dan secara tidak sengaja melihat dirimu hendak melakukan perbuatan iblis tadi." balas orang itu dengan gema suara mengerikan.


"Eh...Lin Tian" batin Xiao Lian seranya memandang wajah pendekar penolongnya dengan lebih teliti.


Namun gadis ini harus merasa kecewa begitu melihat kenyataan bahwa yang menolongnya ini sama sekali bukan Lin Tian sang pujaan hati. Akan tetapi dalam hatinya, dia merasa berterima kasih sekali kepada orang itu yang telah menyelamatkannya daripada lubang kehinaan.


"Bangsat!! Hei Hantu!! Apamukah Pendekar Hantu Kabut itu? Apa kalian ini sama-sama datang dari dunia orang mati dan kembali ke dunia untuk mencampuri setiap urusan semua orang hah!??"


"Pendekar Hantu Kabut adalah saudara segolongan denganku!! Dan jika kami berasal dari dunia orang mati, itu masih jauh lebih baik ketimbang engkau yang berasal dari dunia setan!! Dasar iblis cabul!!" jawab orang ini dengan bentakan garang.


"Bajingan... Terima ini!!" seru Zhang Heng penuh amarah sambil melesat maju dengan didahului sinar pedangnya.


"Jangan sombong!!" balas Hantu Seratus Lengan yang sudah menerjang maju pula.


Pertarungan hebat terjadi, pertarungan antar dua orang pendekar kelas atas yang ilmunya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.


Zhang Heng mainkan pedangnya dan Hantu itu mainkan pisaunya. Suara berdencingan senjata terdengar menggema keseluruh penjuru hutan, mengusir segala macam hewan yang tadinya sedang enak-enak bermalam di sana.


Menginjak jurus ke lima puluh, Zhang Heng menebaskan pedangnya kearah pinggul dengan harapan tubuh orang itu akan terbelah dua. Namun agaknya serangan ini masih terlampau lemah, karena orang berjuluk Hantu Seratus Lengan itu mampu menyelamatkan diri dengan cara menahan laju pedang itu dengan tiga pisau di tangan kiri.


Detik berikutnya, tangan kanan Hantu Seratus Lengan sudah berkelebat cepat melemparkan tiga batang pisau lain yang masing-masing manuju kearah mata dan dahi.


"Woah!!" Zhang Heng berseru. Setengah kaget, setengah kagum.


Pria ini melompat kebelakang dan kembali menerjang maju. Namun baru satu langkah kaki itu beranjak, terdengar suara siulan yang nyaring sekali dari arah kejauhan.


Seketika Zhang Heng menghentikan gerakannya dan berkata.


"Hmph!! Sayang sekali aku harus segera pergi. Sampai jumpa di lain waktu! Nona manis, kali ini kau selamat!"


Sedetik kemudian, tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari sana.


Hantu Seratus Lengan tidak berniat mengejar, hanya melihat bayangan orang tersebut yang makin lama makin lenyap ditelan kegelapan hutan.


"Siapa orang itu?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2