Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 63. Guru Murid Pengacau


__ADS_3

Dari gedung utama, keluarlah dua puluh orang yang berjalanan menuju ke kursi-kursi mewah itu. Sikap mereka membayangkan keangkuhan dan keagungan.


Tapi dalam sekali lihat, Lin Tian, Zhang Hongli beserta dua orang bermarga Chu itu tahu bahwa mereka ini bukan orang baik-baik. Hal ini terlihat jelas di wajah mereka yang tampak garang dan sangat tidak bersahabat.


Begitu kedua puluh orang itu sampai di sana dan mendudukkan dirinya, salah seorang anggota Perguruan Tongkat Bambu Kuning melompat naik ke atas panggung dan bersuara lantang. Dia menggunakan bantuan tenaga dalam supaya semua orang yang hadir mampu mendengar suaranya.


"Selamat datang kepada Tuan-tuan sekalian yang sudah datang berkunjung ke perguruan kami! Seperti yang sudah kita semua sadari, kami dari Perguruan Tongkat Bambu Kuning ingin mengadakan pertandingan antar pendekar yang bertujuan untuk mempererat tali persahabatan diantara kita semua. Maka dari itu, mohon untuk setiap kekalahan dan kemenangan jangan terlalu dimasukkan hati."


"Kalau begitu, tanpa berlama-lama lagi, marilah kita mulai pertandingan ini!!!!" teriaknya seraya mengepal tangan kanan ke atas.


Setelah itu, terdengar sorak sorai dari para penonton yang memang sudah tidak sabar untuk menyaksikan jalannya pertandingan. Ada golongan orang yang datang memang ingin mengadu ilmu di panggung, ada juga golongan orang yang datang hanya ingin untuk menonton dan bersenang-senang saja.


Orang yang di atas panggung kemudian mengangkat salah satu tangannya, memberi isyarat untuk diam. Setelah keadaan kembali hening, kembali ia berucap,


"Kalau begitu, akan aku jelaskan peraturannya. Yang pertama, setiap orang berhak untuk naik keatas arena dan menantang siapapun juga. Jika dirinya menang, maka dia boleh memilih untuk mundur atau menantang peserta lain. Jika dirinya kalah, maka peserta yang menang itulah yang memiliki kesempatan untuk memilih mundur atau menantang peserta lain."


"Yang kedua. Peserta yang masih berdiri di arena dan tidak ada yang mau menantangnya selama dua menit, maka dia dinyatakan sebagai pemenang dan akan diberi hadiah untuk menjadi murid Perguruan kami tanpa tes dan ujian seleksi!!"


Mendengar ucapan ini, kembali terdengar suara sorak sorai penonton dengan penuh antusias.


"Baiklah, mari kita mulai!! Siapa yang akan menjadi penantang pertama?" tanya pembawa acara tersebut.


Sedetik kemudian, terlihat seorang pria jangkung berjubah kuning tua melompat ke atas arena. Di pinggangnya, terlihat sebuah golok.


"Aku yang menjadi orang pertama!! Namaku Pendekar Golok Merah, siapa berani menantangku!?" kata orang itu.


Detik berikutnya, melompatlah seorang lagi yang berbadan kekar dan tinggi besar, serta berwajah hitam. Orang ini juga menggunakan golok sebagai senjata.


"Aku, Macan Hitam Pegunungan, menerima tantanganmu!!" kata orang tersebut.


Setelah pembawa acara melompat kesamping dan memberi aba-aba, mereka berdua secepat kilat langsung menerjang maju mengirimkan serangan-serangan hebat.


...****************...


Tiga jam berlalu, dan kini sudah banyak sekali orang-orang yang babak belur akibat pertarungan sebelumnya. Saat ini, ada satu orang yang masih bisa berdiri tegak di atas arena. Walau pun masih bisa berdiri, tetapi terlihat nafasnya memburu dan juga peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Lin Tian, sekarang giliranmu untuk memancing amarah Raja Tongkat butut itu." kata Zhang Hongli sambil tersenyum licik.


Lin Tian yang memang sudah tidak suka kepada Ling Shi langsung saja berjalan perlahan menuju panggung untuk menjadi penantang.


"Aku menantangmu!!" ucap Lin Tian lantang seraya menaiki setiap anak tangga panggung itu dengan langkah tenang dan tegap.


"Siapa dia?"


"Terdengar seperti suara seorang bocah?"


Terdengar bisik-bisik dari para penonton yang terkejut akan kehadiran Lin Tian. Namun pemuda ini masih tetap berjalan dan memilih untuk tidak ambil peduli kepada setiap ocehan penonton itu.

__ADS_1


"Ah, dia itu Pendekar Hantu Kabut!! Orang yang sudah membunuh Naga Air dan Tangan Iblis!!!" tiba-tiba terdengar sebuah teriakan seperti seorang pria tua yang terkejut setelah melihat lebih teliti akan penampilan Lin Tian


"Apa? Pendekar muda itu?"


"Itukah Pendekar Hantu Kabut?"


Kembali terdengar suara ribut-ribut dari mereka yang sedikit tidak percaya akan kenyataan ini.


Sedangkan orang yang sebelumnya masih mampu berdiri di atas panggung hanya menyeringai dan menatap tajam.


"Heh...jadi kau Pendekar Hantu Kabut itu? Majulah, ingin kulihat sampai mana kemampuanmu!!" ucapnya menyombongkan diri.


Lin Tian yang mendengar ucapan ini menganggap bahwa orang itu sudah siap untuk bertarung dengannya. Maka tanpa basa-basi lagi, pemuda ini melesat ke depan dengan cepatnya dan langsung menendang ulu hati orang itu.


"Buaghh!! Aaaarrgggghhh!!!"


Orang ini lalu terlempar jauh ke belakang, disusul dengan suara bedebuk ketika tubuhnya membentur meja panjang para petinggi perguruan. Memang Lin Tian lakukan ini dengan sengaja, dia bahkan mengarahkan tubuh orang itu tepat kearah Ling Shi yang langsung melompat bangun dan bersiap.


"Keparat....!! Ternyata kau benar-benar punya nyali untuk datang ke sini ya!?" ucap Raja Tongkat itu marah sembari tubuhnya berkelebat ke depan Lin Tian.


"Tentu aku punya nyali, hanya datang ke tempat ini, siapa takut? Apa sekarang malah kau sendiri yang sudah kehilangan keberanian begitu melihatku datang kemari huh?" tanya Lin Tian dengan nada mengejek.


"Sialan....!! Terima seranganku!!!" Ling Shi berkata sambil menggerakkan tangan kanan untuk mengirim hawa pukulan hebat kearah Lin Tian.


Pemuda ini dengan santai hanya mengibaskan salah satu lengannya dan bertiuplah serangkum angin dingin yang memapaki angin pukulan Ling Shi. Terlihat hawa pukulan Lin Tian itu berwarna putih transparan, hampir mirip seperti kabut di pagi hari.


"Desss!!"


"Terima ini!!" kembali Ling Shi berteriak marah. Kali ini dia sudah memainkan tongkatnya untuk menghantam topeng Lin Tian.


Dengan langkah lebar dan cepat, Lin Tian menggeser tubuh ke kiri dan balas menyerang dengan tonjokan tangan kanan mengarah perut Ling Shi.


Raja Tongkat ini dengan cekatan sudah memutar tongkatnya menangkis. Terdengarlah bunyi nyaring begitu tongkat dan kepalan tangan itu bertemu. Sedetik kemudian, mereka sudah bertarung dengan sangat cepatnya hingga yang terlihat hanyalah bayangan mereka yang berkelebat kesana-kemari.


Kedua bayangan ini terlihat saling gulung dan menekan. Akan tetapi kali ini, terlihat bayangan putih yang bukan lain adalah Lin Tian telah mendominasi pertarungan.


"Trak-trak-trak"


Tiga kali berturut-turut, terdengar suara benturan tongkat yang sangat keras. Kemudian disusul dengan suara bentakan keras dan berhembusnya kabut dingin ke area sekitar.


Inilah jurus andalan Lin Tian. Jurus ini merupakan salah satu jurus dari Ilmu Silat Halimun Sakti ciptaannya. Yang mana jika dalam keadaan terdesak, Lin Tian mampu mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh dan dalam waktu singkat, dia mengeluarkan tenaga hempasan ke segala sisi seperti yang telah dilakukannya sekarang.


"Arrghhh!!"


Ling Shi berteriak begitu tubuhnya terpental sejauh dua tombak. Akan tetapi agaknya orang ini sama sekali belum menyerah, secepat kilat dia sudah kembali menerjang dan bertarung hebat.


"Hahaha....bagaimana? Hebat bukan? Dialah muridku, dasar tikus busuk!! Kau tak bisa mengalahkan muridku yang bertangan kosong dan kau sudah berani berlancang mulut untuk mengaku sebagai seorang Raja? Heh...sungguh lelucon yang terlalu dipaksakan!!" teriak Zhang Hongli dari kerumunan penonton.

__ADS_1


Sontak kedua orang yang sedang bertarung hebat itu menjadi marah sekali. Ling Shi yang diejek seperti itu merasa malu karena harga dirinya telah diinjak-injak. Sedangkan Lin Tian, dia merasa marah kerena akibat omongan gurunya, serangan Ling Shi semakin menghebat dan dia sendiri semakin kerepotan. Maka secara otomatis, pertempuran menjadi bertambah seru dan menegangkan.


"Dasar orang aneh..." batin kakak beradik itu dengan wajah datar menatap kearah Zhang Hongli yang masih tertawa-tawa keras.


Kembali di atas panggung. Setelah mencapai jurus ke seratus dua puluh, Lin Tian akhirnya mengeluarkan pedangnya dan memainkannya dengan ilmu silat Ketenangan Batin serta pengerahan hawa dingin.


Hebat sekali ternyata akibatnya. Begitu pedang putih bersih itu bergerak, terasa oleh Ling Shi menyambar sebuah angin dingin yang berhembus lembut, akan tetapi di sisi lain juga terasa sangat mengancam.


Maka pria ini tidak ingin bertindak sembrono. Begitu sambaran pedang itu sudah sangat dengan dan mengancam lengan kirinya, cepat ia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mencelat ke atas.


"Woah...dia terbang!!" kata salah seorang dari para penonton.


Lin Tian yang memandang ketinggian lompatan itu juga menjadi kagum. Namun dia sama sekali tidak panik atau merasa jeri, justru malah sebaliknya, dia merasa sangat tertantang karena telah melawan seorang lawan yang cukup seimbang.


"Matilaaaahhh!!" teriak Ling Shi dari atas sana yang sudah mengarahkan ujung bambunya kearah kepala Lin Tian.


Dengan gerakan yang sulit diikuti pandang mata, Lin Tian menggerakkan kedua lengannya dengan kecepatan hampir berbareng.


Tangan kanan menebaskan pedangnya untuk menangkis tongkat, sedangkan tangan kirinya ia gerakkan untuk menotok jalan darah maut yang berada di leher.


Ling Shi yang melihat hal ini sontak terkejut. Begitu tongkatnya berhasil tertangkis, dia cepat mengelak ke kiri dan berhasil selamat dari totokan kematian tersebut. Akan tetapi, pria ini harus rela pundak kanannya kena hantam jari tangan Lin Tian yang langsung membuatnya lumpuh seketika.


"Aiihhh...." serunya dan jatuh dalam keadaan tengkurap di depan Lin Tian.


Pemuda ini agaknya belum merasa puas. Melihat betapa musuhnya sudah jatuh tak berdaya, dia lalu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk mengusir nyawa dari dalam tubuh orang ini.


Hal ini tentu membuat semua orang yang hadir merasa tegang. Mereka semua memandang dengan pandang mata lebar seakan-akan bola mata itu bisa melorot jatuh kapan saja.


Namun sebelum Pedang Dewi Salju itu bergerak. Terdengar sebuah teriakan keras, disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang naik ke atas panggung.


"Hm...sepertinya ada orang yang hendak pamer di sini. Hei kawan, bukankah kau di sini hanya sebagai pengunjung dan kami adalah tuan rumah? Sopankah jika seorang tamu bersikap sedemikian lancang dan arogan kepada tuan rumah? Sangat disayangkan bahwa seorang sakti sepertimu sungguh berbudi rendah." ucap orang itu dengan lembut. Sungguh berbeda dengan wajahnya yang terlihat menyeramkan dengan bola mata yang terus melotot lebar.


"Jangan sok suci kau!!" kali ini Zhang Hongli membentak dari kejauhan.


"Sobat siapa kau!? Kau sudah tua dan melihat dari pakaianmu, sepertinya kau juga seorang pendekar. Dan pasti tentu saja kau adalah seorang pendekar besar, apa dugaanku salah?" kembali orang tua berwajah menyeramkan itu berucap.


"Hentikan semua ocehan tak berguna ini!!" kata Zhang Hongli dengan emosi meluap-luap.


Begitu kalimat ini selesai, dia sudah mengirimkan serangan jarak jauh yang cukup kuat untuk menghancurkan isi dada orang tersebut.


Akan tetapi, orang tersebut hanya memiringkan tubuh dan hawa pukulan Zhang Hongli itu mampu ia elakkan secara sempurna.


"Sungguh kasar...." orang itu berucap sambil menggelengkan kepala perlahan.


Zhang Hongli tentu saja terkejut melihat betapa sambaran angin pukulannya mampu di elakkan. Kemudian ia memandang kearah Chu Wei dan adiknya dengan pandangan bertamya.


"Dia kalau tidak salah adalah salah satu petinggi Asosiasi Golongan Hitam." ucap Chu Wei dengan wajah yang menyiratkan sedikit ketakutan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2