
"Apakah harga diri dari Pilar Neraka sudah jatuh begini rendahnya sampai berani menyerang seorang yang masih muda?"
Ucap orang itu dengan suara halus namun penuh teguran.
Akibat dari tangkisan ini ternyata mampu membalikkan serangan sabitnya. Topeng merah yang menyadari jika seseorang yang datang ini bukanlah orang sembarangan, maka cepat ia melompat kebelakang untuk menjaga jarak.
"Mari, jika ingin mengadu kepandaian, aku yang tua ini agaknya masih bisa menemanimu untuk main-main." kembali orang itu berucap halus dan perlahan.
Ketika topeng merah memandang, alangkah terkejutnya pria ini melihat siapa orang yang telah mampu menangkis sabitnya itu. Terlihat di balik topeng itu, keringat dingin bercucuran tatkala melihat seorang di depannya.
Orang yang mampu menangkis serangannya itu adalah seorang pria tua gundul yang mengenakan baju biksu warna hitam. Terlihat pula sebuah tasbih besar yang melingkar di lehernya.
"Kau....!!" ucap topeng merah tertahan.
Dia ini bukan lain adalah seorang biksu yang ditemui Lin Tian malam itu, lebih tepatnya di perempatan jalan depan gedung tiga laantai itu.
Lin Tian juga terkejut melihat kenyataan ini. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa kakek biksu itu adalah seorang yang demikian sakti. Mampu menangkis serangan sabit dengan mudahnya sudah membuktikan jika orang tersebut memiliki kepandaian tinggi.
"Kau...!! Dewa Angin Selatan, sudah lama kau tidak pernah menunjukkan diri ke dunia ramai, sekarang kenapa kau datang-datang mengganggu urusanku!??" bentak topeng merah dengan kemarahan meluap-luap.
Lin Tian diam-diam merasa sangat terkejut mendengar penuturan topeng merah itu. Dewa Angin Selatan? Apa kakek biksu ini adalah salah satu dari Empat Dewa Mata Angin? Para datuk kaum putih itu?? Dalam hati pemuda itu bertanya-tanya.
"Hm...memang sudah terlalu lama aku berdiam diri. Akan tetapi, melihat keadaan dunia persilatan saat ini yang sudah dikuasai kedelapan Pilar Neraka juga melihat keadaan kota kelahiranku ini yang sungguh memprihatinkan, tidak mungkin aku hanya berpeluk tangan dan menjadi penonton saja!" jawab biksu itu tegas.
Tepat ketika ucapannya terhenti, dari arah depan kediaman terdengar suara riuh rendah yang sangat berisik. Tak berselang lama, berbondong-bondong datang puluhan orang berpakaian petugas keamanan yang mendatangi tempat itu.
"Sudah lama aku menyimpan benci terhadap keluarga Hu semenjak pergantian pemimpin. Sekaranglah waktunya untuk membalas!! Serbuuu!!" teriak orang paling depan yang sepertinya menjadi pemimpin pasukan itu.
Topeng merah tentu terkejut melihat kedatangan banyak sekali petugas keamanan di sana. Kemudian dia memandang kearah biksu tua itu. Setelah berpikir sejenak, tahulah ia jika biksu inilah yang telah memanggil mereka semua.
"Dasar manusia sok suci!! Hadapi seranganku!!" teriaknya dengan dibarengi loncatan kedepan mengirimkan serangan mematikan.
Biksu tua itu juga tak tinggal diam, dia lalu melompat maju menghadapi terjangan lawan dengan jurus-jurus yang tak kalah berbahaya dan mematikan.
__ADS_1
Berbarengan dengan beradunya dua orang sakti ini, pasukan petugas keamanan juga sudah menerjang kearah lawan.
Pertempuran kembali pecah bahkan lebih hebat daripada yang tadi. Setiap orang berusaha untuk saling menekan dan menjatuhkan lawan. Pihak Hu Tao yang tadinya sudah terdesak, kini bangkit kembali semangat tempur mereka setelah melihat kedatangan para petugas itu.
"Cih..." terdengar dengusan kasar dari mulut si topeng putih yang sedang bertempur melawan Tuan muda itu.
Lin Tian pun juga tidak ingin diam saja, pemuda ini kemudian melesat cepat kearah Hu Tao dan membantu pemuda itu.
Topeng putih yang tadinya berada dalam posisi menyerang, setelah kehadiran Lin Tian, dirinya berubah menjadi posisi bertahan total. Topeng putih terlihat sangat kerepotan menghadapi gempuran dua orang pemuda sakti itu, terutama sekali Lin Tian. Pendekar topeng putih itu merasa sangat kualahan untuk menahan permainan pedang Lin Tian yang demikian lihai.
"Sialan...!! Haaaa....!!!" umpat topeng putih disusul dengan tusukan pedangnya yang mengarah jantung Hu Tao.
"Trang"
Sebelum pedang itu mencapai sasaran, ada pedang lain yang menyambar pedangnya sehingga membuat serangannya membalik ke atas.
Hu Tao tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Cepat ia putar salah satu belatinya untuk kemudian ditebaskan kearah leher topeng putih.
Dua serangan ini begitu mengancam dan mematikan. Jelas jika kedua serangan ini berhasil, pendekar topeng putih itu tentu akan mati, entah mati terpenggal atau mati karena isi perut yang berantakan akibat tendangan Lin Tian.
Tapi topeng putih itu ternyata tidak kehabisan akal. Dia lalu menekuk kedua lutut hingga posisinya berubah jongkok, hal ini ia lakukan untuk menghindari tebasan belati Hu Tao. Lalu kemudian dia dorongkan lengan kirinya kearah kaki Lin Tian untuk menghempaskan pemuda tersebut.
"Aakhhh!!" karena sebelumnnya sudah menderita luka dalam yang membuat kemampuan Lin Tian menurun, sehingga hempasan itu tak dapat dielakkan lagi dan dia pun terpental sampai dua tombak jauhnya.
Sebelum tubuhnya mendarat, topeng putih itu sudah kembali mengirimkan serangan kepada Hu Tao dengan tebasan pedangnya.
"Swwiiingg-trangg"
Tebasan itu mampu ditahan dengan sempurna oleh Hu Tao. Kemudian pemuda itu mengirim serangan balasan dengan cara menusukkan belati kiri kearah dada lawannya.
Karena jarak yang terlalu dekat, topeng putih tak sempat untuk mengelak, sehingga cara satu-satunya untuk menghadapi serangan itu adalah dengan tangkisan.
Maka cepat ia menggerakkan tangan kiri hendak menangkap belati itu.
__ADS_1
"Deesss"
Hu Tao menampakkan ekspresi terkejut. Pendekar bertopeng itu ternyata mampu menangkap belatinya!! Ia sama sekali tidak menyangka akan hal ini.
Sedetik kemudian, dari atas si topeng putih merasa ada sebuah angin tajam mengarah padanya. Ketika menengok, dia terkejut karena yang menimbulkan angin itu adalah Lin Tian! Dia terkejut bahwasannya pemuda itu sudah mampu bangkit secepat ini.
Tak ada pilihan lain, dia harus membuang diri ke belakang untuk menghindari maut. Maka tanpa ragu-ragu, pendekar topeng putih itu melepaskan genggamannya lalu menghempaskan diri sendiri ke belakang, disusul dengan beberapa kali bergulingan sebelum akhirnya berdiri tegak kembali.
"Hah...hah...."
Nafas ketiga orang itu terlihat memburu. Apalagi Lin Tian, dia yang paling parah. Sebelumnya dia sudah menerima sebuah luka dalam dan sekarang dirinya masih harus melanjutkan pertempuran. Tentu saja pemuda itu merasa amat lelah.
Akan tetapi semangat dan ambisinya untuk membunuh perempuan kembar itu membuat semua rasa lelah dan sakitnya menguap seketika.
"Tak kusangka aku akan bertemu lawan tanding di sini. Kukira keluarga Hu hanya berisikan keroco-keroco rendahan, ternyata Tuan muda Hu demikian hebat seperti ini. Bagus...bagus...!!" ucap pendekar topeng putih memuji. Akan tetapi terdengar sebagai ejekan di telinga Hu Tao dan Lin Tian.
"Kalian tak punya urusan dengan permasalahan pribadi keluarga Hu, kenapa sekarang malah ikut campur!!??" tanya Hu Tao membentak dengan sikap garang.
"Tak ada sangkut paut? Kau salah...tentu saja di antara kami ada sangkut pautnya. Karena kami dari pihak Aliansi Golongan Hitam sudah menjalin kerja sama dengan keluarga Hu, sehingga hal itu menjadi kewajiban bagi kami untuk mempertahankan keluarga ini dari para pengacau." kata pendekar topeng putih itu.
"Pengacau? Kau bilang kami pengacau? Heh bedebah!! Kalianlah yang pengacau, kami disini berperang untuk merebut kembali keluarga Hu, untuk mengembalikan kehormatan keluarga Hu!! Sedangkan kalian? Semenjak kedatangan kalian, ayah berubah dan keluarga Hu menjadi berantakan seperti sekarang!!" Hu Tao menjawab dengan perasaan marah.
"Keluargamu berantakan? Bukan salah kami. Ayahmulah pemimpin keluarga ini, mengapa engkau malah menyalahkan kami atas permasalahan ini?" topeng putih menjawab santai. Agaknya dia hendak mengejek Tuan muda itu.
"Puih!! Sudahlah jangan banyak omong, pertarungan kita belum selesai sebelum salah satu dari kita pergi ke alam baka!! Hadapi seranganku!!!"
Setelah berkata demikian, secepat kilat Hu Tao dan Lin Tian sudah kembali menerjang maju untuk merobohkan si topeng putih itu.
"Heheh....menarik." gumamnya perlahan lalu ikut pula menerjang kedepan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1