
Bedaknya tak cukup tebal, bahkan boleh dibilang tipis saja, karena sejatinya wajahnya itu sudah terlalu cantik bahkan tanpa bedak maupun riasan. Sedikit gincu pada bibirnya, dan sedikit celak hitam di kedua matanya. Sosok ini benar-benar mampu membius pandangan siapa pun juga.
"Sung Hwa....kau harus melakukan yang terbaik malam ini." antara lain wanita itu bergumam pada bayangannya yang ada di cermin.
Pakaiannya sangat indah, sebuah jubah hitam panjang yang memiliki sulaman-sulaman bunga lotus berwarna merah jambu. Sedangkan pada bagian punggung sampai pinggangnya, jubah itu didesain untuk tak menutupi bagian itu. Sehingga hanya tubuh bagian depan sajalah yang tertutup rapat.
Sedangkan untuk menutupi tubuhnya karena pasti akan kedinginan mengingat punggungnya terbuka, Sung Hwa mengenakan sebuah mantel panjang warna gelap pula. Mantel biru tua itu memiliki hiasan bulu-bulu tebal di bagian lehernya.
Celanannya ketat sekali, membayangkan bentuk kaki ramping yang sangat diidam-idamkan para kaum wanita. Sedangkan untuk alas kakinya, adalah sebuah sepatu mewah yang mampu meninggikan tinggi tubuhnya beberapa senti.
Sung Hwa bangkit dari duduknya dan menatap pantulan dirinya pada cermin sambil memutar-mutar tubuhnya. Tak jarang dia tersenyum-senyum sendiri.
"Kurasa ini sudah cukup, semoga sesuai dengan seleranya." bisiknya sebelum terkekeh-kekeh dan pergi keluar dari kamarnya.
Sebelumnya, dia sudah meminta ijin kepada gurunya agar malam ini diperkenankan pergi ke pantai di pulau sebelah Utara pulau utama. Ketika ditanya mau apa pergi ke sana malam-malam, dengan penuh kepercayaan diri yang ketinggian, Sung Hwa menjawab mantap.
"Aku akan menjadi istri seseorang."
Agaknya Kiam Bong sudah paham akan maksud dari muridnya ini sehingga dia mengiyakan saja. Diam-diam dia setuju sekali jika dia mampu bersanding dengan Lin Tian, karena tentu saja dia bisa jadi lebih mudah untuk mendekati Zhang Heng. Perlu diketahui, sejatinya Lin Tian ini memang hanya seorang pengawal di Iblis Tiada Banding, tapi tak ada satu pun orang yang berani meremehkannya karena yang bisa mengalahkan pemuda itu hanyalah para pendekar sejati milik Iblis Tiada Banding.
Yah jika seandainya mereka tahu, Lin Tian hanya menekan kekuatannya saja. Dia bahkan tak berani menunjukkan ilmu-ilmunya selain Ilmu Silat Ketenangan Batin, ilmu silat Halimun Sakti serta teknik Pedang Pelukis Langit. Itu pun jika seandainya ia mainkan di level tertinggi, diragukan masih ada orang yang mampu menandinginya selain Zhang Heng.
Sung Hwa segera berlari dengan penuh perasaan bahagia menuju pesisir. Dia mendorong perahu kecilnya ke tengah sebelum dinaikinya dengan cara melompat dan mendarat tepat di tengah perahu. Mengambil satu-satunya dayung yang ada di sana, Sung Hwa mendayung menuju tempat tujuan.
Mukanya telah menjadi merah sekali ketika pikirannya melayang-layang untuk menghayal akan kejadian nanti. "Lin Hwa jika perempuan dan Lin Fan jika laki-laki. Ihhh....nama yang bagus sekali untuk putra-putriku nanti. Yang akan dibuat malam ini...."
...****************...
Tak beda jauh dari saingannya, Fu Hong si rambut putih salju itu juga sudah berdandan secantik dan seanggun mungkin.
Dengan riasan dan gincu tipis, wanita ini mengenakan pakaian yang agaknya jauh lebih tertutup dari saingannya. Sampai sini dapatlah dibuktikan siapa kiranya diantara dua orang itu yang lebih genit.
Dia memakai jubah berwarna biru mulai dari atas sampai bawah. Selayaknya baju pendekar pada umumnya, sebuah jubah ringkas dengan sabuk berbahan sutra berwarna merah darah. Jubah itu tak berlengan, sehingga menampakkan pundak serta lengan atasnya yang putih bersih. Sedangkan dari ujung jari sampai siku, dia memakai sarung tangan panjang warna hitam.
__ADS_1
Celana yang tak terlalu ketat namun mampu membayangkan bentuk dan lekukan kaki itu terbuat daripada sutra halus, warnanya hitam pula. Sedang sepatunya yang berwarna hitam itu memiliki alas besi sehingga jika untuk menendang lawan kiranya tengkoraknya mampu pecah kalau tak waspada.
Dia sengaja berpakaian pendekar, karena ingin bersikap gagah di hadapan Lin Tian nanti. Dia berpikir, kalau Lin Tian itu bukanlah tipe seseorang yang menyukai wanita manja. Buktinya, selama ini dia selalu bersikap manja di hadapan Lin Tian hanya mendapat balasan tatapan dingin dan cemoohan.
Dengan riang dia berlari cepat menuju pesisir untuk membawa perahunya. Secepat kilat dia meloncat begitu perahu kecil miliknya ia tendang ke tengah laut.
"Haha....Sung Hwa, aku menang darimu!! Besok saat kau bertemu denganku, perutku sudah terisi putra dan putri kami!! Hahaha akhirnya...akhirnya aku bisa mengalahkanmu!!" serunya tertawa-tawa. Tapi mukanya merah sekali, agaknya tadi itu ia gunakan untuk sedikit meredam rasa gugupnya.
"Sial, belum pernah aku segugup ini! Ah...untuk apa gugup? Lagipula nanti Lin Tian akan melihat semuanya...."
...****************...
"Ah....mereka sudah datang....?" gumam pemuda itu di pantai sebuah pulau. Pulau ini adalah pulau dimana mereka sudah berjanji untuk bertemu.
Lin Tian lah orang itu, dia melihat jika dari kejauhan nampak sebuah perahu kecil sedang berjalan menuju kearahnya, tahulah jika mereka ini adalah Sung Hwa dan Fu Hong.
"Haha...mereka ini, benar-benar tak lebih cerdas daripada anjing! Hanya mampu menurut sesuai perkataan tuannya. Eh...aku bukan tuannya!"
Selang beberapa menit kemudian, dua perahu ini sudah datang dan brlabuh di pantai. Dua orang wanita itu segera turun lalu mendorong perahu sedikit ke tengah agar tidak hanyut.
"Eh...sepertinya ada yang mengganggu kita. Lin Tian, ayo pergi!! Jangan dekat-dekat dengan siluman satu ini." Sung Hwa yang mendahului bicara seraya menarik lengan kiri Lin Tian.
Fu Hong cepat bertindak dan menahan lengan kanan pemuda tersebut, "Lin Tian, sepertinya ada babi kehilangan ibunya di sini. Marilah ke tempat lain, di tengah hutan. Aku akan melayanimu di sana."
Tarikan di lengan kiri menguat, "Hei, apa-apaan itu, Lin Tian mengundangku kemari!!" bentak Sung Hwa tak terima.
"Aku diundang Lin Tian, jangan meniru-niru alasanku untuk datang kemari. Kau pasti sudah membayangi pelayan yang mengirim pesan padaku kan?" tuduh Fu Hong yang juga memperkuat tarikannya pada lengan Lin Tian.
"Hah...mana mungkin itu?" sentak Sung Hwa.
"Apa, kau tak terima? Hei jelek, punya apakah engkau sampai berani merebut suamiku?"
"Aku yang seharusnya berkata seperti itu? Wanita kasar, kau tak pantas untuk menyentuh suamiku!" kali ini Sung Hwa yang sudah marah sekali menggerakkan tangan kiri untuk mendorong tubuh Fu Hong. Gerakannya ini diisi oleh tenaga dalam kuat.
__ADS_1
"Pergi kau!" bentak pula Fu Hong yang mengirimkan pukulan dahsyat dengan tangan kanan. Terdengar angin bercuitan dari tangan yang meluncur secepat kilat itu.
Tiba-tiba, secara aneh kedua tangan Lin Tian bergetar dan terlepas dari cengkeraman dua bidadari itu. Kemudian dengan kecepatan yang lebih cepat dari dua tangan wanita di kanan-kiri, sepasang lengannya sudah bergerak di depan dada untuk memapaki dua telapak tangan halus itu.
"Duk–duk!"
"Apa?" dua orang wanita itu sama-sama terkejut dan berseru. Dia memandang Lin Tian dengan tak percaya.
Sebelum ada yang sempat protes, Lin Tian sudah lebih dulu berkata. Tangannya juga bergerak cepat merangkul keduanya untuk dipeluknya.
"Sudahlah, jangan bertengkar istri-istriku. Aku memanggil kalian berdua."
"Apa maksudmu?!??" seru keduanya marah.
"Bukankah sudah kubilang, aku tak kuat menahannya. Kupikir satu saja masih kurang, karena itulah aku mengundang kalian berdua. Ayo kita mulai!" jawab Lin Tian santai tanpa beban.
"Duk!"
Serentak dua wanita itu mendorong dada Lin Tian kasar dan memandang tajam.
"Lin Tian!" seru Sung Hwa. Entah mengapa wajahnya yang biasanya penuh kelembutan itu berubah menjadi bengis mengerikan.
"Aku atau dia!!?" bentak keduanya saling tunjuk.
Tersenyumlah pemuda ini, kemudian dia merentangkan kedua lengannya, "Aku pilih semuanya, hehe...."
"Kalau begitu, salah satu dari kita harus tidur selamanya di sini!!"
"Setuju sekali!! Sung Hwa, ayo kita tentukan malam ini!!"
"Siapa takut!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG