
"Aku akan pergi sebentar."
"Biarkan kami ikut nona!!" seru hantu merah dengan serempak.
"Tidak usah, aku tidak akan kenapa-kenapa. Kalian di sini saja."
Setelah berkata seperti itu, Zhang Qiaofeng lalu pergi ke salah satu tempat yang tidak jauh dari sana. Walau pun dibilang begitu, tetapi lima orang hantu merah itu tetap mengikuti dari jauh dan Zhang Qiaofeng sadar akan hal itu. Namun dia memilih untuk mengabaikannya dan tetap berjalan menuju tujuannya.
Kemanakah dia akan pergi? Gadis pemimpin keluarga Zhang ini berniat untuk mengunjungi sekaligus "berpamitan" kepada seseorang. Tempat yang akan dia datangi ini merupakan tempat yang dianggap keramat oleh keluarga Zhang. Letaknya berada di tepi jurang yang berada di dekat situ.
"Lin Tian, aku kembali..." ucapnya lirih begitu sampai di sebuah batu nisan yang bertuliskan "Pendekar Hantu Kabut Lin Tian".
Zhang Qiaofeng mendekati nisan itu dan membersihkannya dari rumput-rumput. Dia sedikit terkejut karena rumput-rumput itu tidaklah terlalu panjang, seperti baru saja ada orang yang membersihkan.
Gadis ini tak sadar, jika seminggu yang lalu ada seseorang yang datang kemari dan membersihkan tempat itu sambil menangis. Siapa lagi kalau bukan Zhi Yang si Hantu Seratus Lengan itu.
Selesai membersihkan rumput, Zhang Qiaofeng duduk di hadapan nisan itu dan mulai bercerita. Inilah kebiasaan baru Zhang Qiaofeng, yaitu setiap kali datang ke makam pengawalnya ini, dia pasti akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang lalu. Entah itu yang penting atau tidak, semuanya dia ceritakan.
Hingga pada akhir cerita, suaranya terdengar makin lirih dan sedih, "Lin Tian, kaisar memerintahkan kami semua untuk pergi mengirim bantuan ke kekaisaran Song. Aku akan pergi dari sini untuk beberapa waktu, mungkin sedikit lama sampai aku bisa kembali lagi ke sini."
Gadis ini berhenti sejenak untuk mengusap air matanya setelah membuka topengnya.
"Lin Tian....semoga dalam perjalananku kali ini, aku bisa menemukanmu. Entah dalam keadaan hidup atau mati." lanjutnya sambil mendekati nisan itu dan menciumnya. Sesaat kemudian, dia memeluknya erat. Lama sekali gadis itu memeluk nisan Lin Tian, sampai lima orang hantu merah menjadi tak tahan dan keluar dari persembunyian.
"Nona, hari sudah mulai terik, kita tidak bisa beristirahat terlalu lama di sini. Kita harus segera pergi." kata Fen Lian mengingatkan.
__ADS_1
Zhang Qiaofeng seperti sadar dari mimpi, dia membuka matanya yang basah air mata sebelum menjawab, "Kau benar, ayo lanjutkan perjalanan."
Enam orang wanita itu lalu kembali ke pasukan dan berkemas. Kemudian setelah siang hari, mereka pergi melanjutkan perjalanan ke Utara.
Mungkin sekitar empat atau lima jam setelah kepergian keluarga Zhang dari sana, nampak bayangan berkelebat dan tiba-tiba sudah berdiri di depan makam Lin Tian.
"Hm...apakah ada seseorang yang membersihkan ini? Oh, mungkinkah itu Nona Zhang?" gumam orang tersebut sambil membuka topeng tengkoraknya. Dia ini tak lain tak bukan adalah Zhi Yang yang seminggu lalu sudah mampir ke sini.
Saat ini, dia juga hendak "berpamit" kepada sahabatnya itu untuk terakhir kali.
"Lin Tian, aku akan pergi...mungkin lama dan lama sekali. Atau bahkan tidak akan kembali ke sini." dia lalu mendekati nisan itu dan menundukkan kepala.
"Semoga kau tenang di sana sahabatku...." gadis ini lalu mencium lembut ujung batu nisan Lin Tian.
"Aku pergi dulu..." gumamnya lirih dan berkelebat pergi dari sana.
Yang menjadi pertanyaan semua orang, benarkah Lin Tian sudah mati? Bukankah dia hanya menghilang dan karena tak pernah kembali lagi, orang-orang menganggap keberadaannya sudah lenyap dan mati? Jawabannya salah besar! Lin Tian masih hidup dan belum mati!!
Untuk lebih jelasnya, marilah kembali ke masa empat tahun lalu, ketika Lin Tian terjun ke jurang bersama Zhang Heng dan masih terus melakukan pertarungan dahsyat.
Begitu dia dan Zhang Heng menghantam air di sungai bawah jurang, beruntungnya bagi mereka karena berhasil mendarat di bagian sungai dalam, sehingga tidak membuat mereka mati seketika.
Namun bagaimana jadinya setelah Lin Tian dan Zhang Heng berpisah jalur sungai yang berbeda itu?
Beruntung sekali nasib pemuda itu karena pada saat dia hanyut ke jalur kanan, sungguh pun aliran air masih lah ganas dan deras, namun sangat jarang terdapat batu-batu yang mencuat keluar. Sehingga membuat dia mampu terbawa arus dengan lancar.
__ADS_1
Hingga sampai beberapa jam dia berada dalam keadaan pingsan dan hanya mengikuti aliran arus saja. Sampai secara tidak sengaja, Pedang Dewi Salju yang masih digenggamnya itu menyangkut ke sebatang dahan pohon di pinggir sungai.
Begitu pedang tertancap, Lin Tian yang masih memegang erat pedang itu berhasil tertahan laju tubuhnya dan berhenti di pinggir sungai itu. Mungkin karena dia memang seorang pendekar, sehingga dalam keadaan tak sadar pun masih menggenggam erat pedangnya.
Hingga malam Lin Tian berada dalam keadaan seperti itu dan belum ada tanda-tanda akan sadar kembali. Hingga tangan yang memegang pedang itu terlepas dan membuat tubuhnya hanyut lagi.
Hingga datanglah seorang kakek aneh yang berekspresi mirip seperti orang gila. Jubahnya berwarna kuning lusuh dan memakai caping. Dia juga membawa tongkat bambu yang selalu diketuk-ketukkan ketika berjalan.
Di saat tubuh Lin Tian mulai hanyut kembali, kakek ini dengan sigap meloncat ke tepi sungai dan mencengkeram kerah belakang baju pemuda tersebut lalu melemparnya ke darat. Lalu dia berjalan menghampiri pedangnya yang masih tertancap di batang pohon dan mencabut benda tersebut.
Siapakah kakek ini? Dia adalah seseorang yang menyebabkan Lin Tian jatuh ke dalam jurang, dia juga yang menyebabkan mengapa Empat Dewa Mata Angin tidak membantu pertempuran tiga keluarga melawan pasukan Golok Penghancur Gunung. Dia juga lah yang menanti-nantikan akan hancurnya keluarga Xiao yang pada waktu ini belum terjadi.
Apakah dia merupakan sosok tokoh hitam yang jahat dan menginginkan kehancuran keluarga Xiao? Menginginkan kematian Lin Tian? Sama sekali bukan seperti itu, dia hanyalah orang biasa yang sedikit "spesial".
"Sudah takdir....sudah takdir....aku tak bisa mengubah, tak bisa mencegah, tak bisa menunda. Sudah takdir...." gumam kakek ini sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Kemudian dia menghampiri Lin Tian yang sudah nampak seperti mayat itu. Tubuhnya pucat sekali dengan bibir membiru dan mata menghitam. Benar-benar seperti mayat, dan seandainya kakek itu telat menolong beberapa menit saja, dapat dipastikan bahwa saat ini Lin Tian sudah jadi hantu sungguhan.
Kakek itu lalu menotok beberapa bagian tubuh Lin Tian, membuat pemuda itu memuntahkan semua air sungai yang masuk ke perutnya. Lalu kakek ini memasukkan sebuah pil obat ke dalam mulutnya, mengurut lehernya untuk membantu Lin Tian menelan obat tersebut, lalu memondongnya dan membawa pergi dari sana.
"Waktunya bekerja...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1