Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 65. Dua Hantu dari Utara


__ADS_3

Begitu mendengar perintah pemimpin mereka, dua orang yang sama-sama terlihat berumur lima puluh tahun itu langsung melompat ke atas arena dan mengirimkan serangan maut kepada pendekar tengkorak itu.


Seorang menusukkan pedang berniat menembus kepala, seorang lagi menghantamkan tongkat mengarah pinggul untuk menghancurkan sambungan badan itu.


Hebat sekali serangan ini, dapat di pastikan bahwa topeng tengkorak tentu tak akan sanggup menghindar atau menangkis keduanya. Mengingat serangan itu dilakukan secara tiba-tiba dari arah belakang, kemungkinan besar pendekar tengkorak itu akan tewas di tempat begitu kedua serangan mengenai tubuhnya.


"Sialan..!!" desis pendekar tengkorak yang diam-diam memutar akal untuk mencari jalan keluar dan menyelamatkan diri. Namun betapa keras ia putar otaknya, tak ada satupun cara yang masuk akal untuk dirinya bisa selamat dari kedua serangan tersebut.


Maka hanya ada satu pilihan, dia harus membawa satu dari dua orang itu untuk ikut mati bersamanya.


"Hiaaaa....!!" teriaknya sambil menusukkan pisaunya kearah leher pria pertongkat.


Pria ini terkejut namun dengan tenang, dia belokkan laju tongkatnya dan menangkis serangan pisau.


"Triing"


Terdengar suara dentingan nyaring dan pisau itu terlempar entah kemana.


Pendekar tengkorak itu dengan cepat menggerakkan tangan kiri hendak menyambitkan beberapa pisau kearah pria berpedang. Akan tetapi gerakannya masih kurang cepat dengan laju pedang itu dan...


"Trang....aakkhh!!!"


Terlihat bayangan putih yang berkelebat cepat dan menangkis laju pedang itu. Dia ini tak lain adalah Lin Tian, Pendekar Hantu Kabut yang sedang naik daun.


"Kau...berani-beraninya kau ikut campur dalam pertempuran!!" bentak pria berpedang garang.


Lin Tian hanya diam, tidak berminat menanggapi perkataan lawannya itu.


"Kau...t-terima kasih..." ucap perlahan si topeng tengkorak.


"Hm..." balas Lin Tian singkat.


Merasa diabaikan, pria bersenjata pedang itu makin marah dan membentak, "Dasar tuli!! Apa kau tidak dengar perkataanku!?"


"Dasar banyak omong!! Kau bicara seakan-akan aku ini adalah seorang pendekar yang hanya tahu cara main curang. Coba lihat dirimu! Bisa-bisanya seorang pendekar yang mengaku gagah mengeroyok satu orang di atas arena? Sungguh lucu!!" balas Lin Tian dengan kesal.


"Kalau begitu, lebih baik kita berlomba untuk saling curang di sini!!" lanjut Lin Tian yang sudah maju kedepan diikuti pendekar tengkorak di sebelahnya.


"Trang-traakk"


Pedang bertemu pedang dan tongkat bertemu pisau. Detik berikutnya, pendekar tengkorak itu menyambitkan tujuh buah pisau kearah dua orang lawannya.


"Hiaaa...!!" teriak mereka berdua dengan terkejut dan berusaha menghindar.


Melihat musuhnya yang hendak menghindarkan diri daripada pisau-pisau itu, pemuda ini cepat mainkan Ilmu Pedang Pelukis Langit miliknya untuk memblokir jalan keluar mereka.


Dengan gerakan cepat sekali, Lin Tian berkelebat menjadi bayangan putih yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Sedetik kemudian, dia tebaskan Pedang Dewi Salju yang sudah terselimuti hawa dingin itu kearah mereka berdua. Terlihat bilah pedang itu mengeluarkan kabut tipis yang terasa sangat dingin.


"Aahhh!!" kembali dua orang perguruan Tongkat Bambu Kuning itu berseru kerena terkejut.


Namun dengan banyaknya pengalaman dan kematangan jurusnya, seperti di komando, tanpa berkata apa-apa lagi dua orang ini sudah saling membelakangi dan melindungi satu sama lain. Pemegang tongkat menahan laju pisau-pisau itu, sedangkan pemegang pedang berusaha menangkis serangan Lin Tian.


"Trang-trang-trang"


Terdengar suara nyaring sebanyak tujuh kali, disusul dengan terlemparnya setiap pisau kecil itu ke sana-sini.


"Trang-buughh...aakkhh!!"


Sedangkan untuk rekannya yang berhadapan dengan Lin Tian, agaknya dia kalah saing yang membuatnya terlempar ke samping kanan sejauh dua tombak.


Hebat sekali pemuda ini, begitu pedangnya berhasil ditangkis oleh musuh, dia cepat menggerakkan kakinya untuk mengirim sebuah tendangan kilat yang langsung mengenai lambung orang tersebut.

__ADS_1


Begitu orang ini terlempar, Lin Tian dan pendekar tengkorak itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Mereka lalu melompat maju dan membuat gerakan menusuk dengan senjata masing-masing yang langsung ditujukan kearah jantung lawan.


"Mati kau!!" seru pendekar tengkorak.


"Jangan mimpi!!" balas orang itu sambil memutar tongkatnya keseluruh tubuh hingga sosoknya kini terbalut gulungan sinar kuning tongkatnya.


"Trang-trang-trang"


Enam kali berturut-turut dua pendekar bertopeng ini berusaha menyerang, akan tetapi ternyata pertahanan gulungan tongkat bambu itu amat kokoh dan kuatnya. Hingga mereka tak sadar jika pendekar berpedang yang tadinya terlempar itu, sudah bangkit berdiri dan ikut menyerang pula.


Kembali terjadi bentrokan hebat. Lin Tian melawan orang berpedang dan pendekar topeng tengkorak itu melawan orang bertongkat.


Saking cepat dan hebatnya pertarungan ini, tubuh mereka sampai lenyap bentuknya, digantikan dengan kilatan-kilatan senjata masing-masing yang menciptakan percikan bunga api setiap kali mereka bertemu.


Di tempat penonton sana, Chu Wei dan adiknya makin berdebar jantungnya. Perasaan was-was dan khawatir mulai menggerogoti perasaan mereka yang sedari awal terus mengikuti jalannya pertandingan dengan seksama.


Mereka merasa khawatir akan keselamatan dua orang pendekar perwakilan golongan putih itu, terutama sekali Lin Tian yang sudah menyelamatkan mereka.


Jika kakak beradik ini merasa sangat khawatir, berbeda dengan Zhang Hongli yang seiring dengan berjalannya wkatu, senyumnya makin melebar dan matanya makin memandang berbinar-binar akan pertempuran tersebut.


Memang aneh watak orang tua ini, disaat nyawa murid satu-satunya sedang terancam bahaya, dia malah terlihat makin senang dan bersemangat.


"Bagus Lin Tian, teruskan!! Jadikan pertempuran ini sebagai pengalaman untukmu di masa depan!!" batin Zhang Hongli.


Lima belas menit berlalu, akan tetapi pertempuran sudah mencapai seratus jurus. Hal ini membuktikan betapa hebat dan tangkasnya empat orang yang kini berdiri tegak dan saling pandang di atas arena itu.


Walaupun sudah saling gempur sebanyak seratus jurus, namun nafas keempat orang ini masih terlihat teratur dan stabil. Terang bahwa ilmu kepandaian serta tenaga dalam mereka sudah berada di level yang sangat tinggi.


Melihat keempat orang itu yang terlihat masih baik-baik saja, sontak hal ini membuat penonton heboh karena terheran-heran. Terutama sekali Lin Tian, pemuda ini adalah seseorang yang paling terkejut akan keadaan dirinya sendiri.


"Bagaimana mungkin? Aku sudah bertarung kira-kira sebanyak seratus jurus, akan tetapi nafasku masih bisa tetap terjaga dalam kondisi normal. Apa-apaan ini, sejak kapan aku sekuat ini??" teriak Lin Tian dalam hati penuh penasaran.


"Apa ini karena semua ilmu dan latihan dari guru? jika benar, itu hebat sekali!! Aku tak pernah menyangka akibatnya akan begini menakjubkan!!" lanjut Lin Tian dalam hati.


"Heh muka tak berkulit!! Siapakah engkau? Kenapa selama aku berkecimpung dalam dunia persilatan tidak pernah bertemu dengan orang sehebat dirimu? Siapa sebenarnya kau itu!?" tanya orang bertongkat yang diam-diam merasa kagum akan kepandaian lawannya.


Pendekar tengkorak itu mendengus lalu menjawab, nadanya terdengar dingin dan menyeramkan, "Tentu saja kau tak pernah bertemu denganku. Aku berasal dari Utara, dan baru datang ke Selatan ini satu tahun yang lalu. Para pendekar Utara sana menyebutku sebagai Hantu Seratus Lengan."


"Heh...kau berasal dari Utara? Hm...aku juga pernah mendengar sebuah kabar burung kalau Pendekar Hantu Kabut itu juga lahir di tanah Utara." kata pria pemegang pedang menjawab perkataan pendekar topeng tengkorak berjuluk Hantu Seratus Lengan itu.


"Hahaha.....kiranya pengacau perguruan kita ini adalah hantu-hantu dari Utara. Hahah...kalau begitu, akan kubuat kalian menjadi hantu yang sesungguhnya!!!" sahut pendekar bertongkat sembari meloncat dan mengarahkan tongkatnya untuk memukul ubun-ubun Hantu Seratus Lengan.


Pendekar topeng tengkorak yang sudah merasa kesal karena sedari tadi pertempuran belum juga mencapai akhir, membentak dan menyiapkan delapan buah pisau di celah-celah jari kedua tangannya.


"Bangsaat....!! Akan kutunjukkan padamu bagaimana aku bisa mendapat julukan sebagai Hantu Seratus Lengan!!"


Sedetik kemudian, orang ini sudah melompat dengan sangat cepat dan menangkis tongkat itu dengan kedelapan buah pisaunya. Begitu keduanya sudah menginjak tanah, kembali si topeng tengkorak ini meloncat maju dan segera mendesak musuhnya.


"Trang-trang-trang"


"Bagaimana mungkin!?" seru pendekar bertongkat itu dengan perasaan heran.


Sama halnya dengan Lin Tian dan pendekar pedang itu. Mereka juga sama-sama merasa heran dan pendasaran melihat setiap gerakan Hantu Seratus Lengan.


Pasalnya, gerakan hantu itu kali ini menjadi jauh lebih cepat dan lebih berbahaya dibanding sebelumnya. Sambaran tangannya itu seolah-olah berubah menjadi puluhan banyaknya karena saking cepat gerakan hantu topeng tengkorak itu.


Kedelapan pisaunya itu, setiap detik selalu mengancam jalan-jalan darah berbahaya di seluruh tubuh musuhnya. Tak jarang pula kedua kakinya juga ikut bekerja untuk menendang leher atau tengkuk. Sungguh perpaduan gerakan yang demikian hebat dan berbahaya.


Melihat pendekar tongkat itu mulai terdesak, sebuah akal licik melintas di kepala Lin Tian. Karena sebelumnya dia sudah berseru untuk "beradu curang" di pertandingan ini, maka sekarang pun dia sudah tak peduli akan pertarungan yang adil dan gagah.


Pemuda ini dengan secepat kilat melompat kearah pendekar pedang dan menendang perutnya. Karena pendekar itu masih dalam keadaan berdiri terpaku memandang kearah pertarungan rekannya, dia tidak menyadari ada sebuah tendengan maut yang sudah mengarah ke lambungnya.

__ADS_1


Begitu dia menyadari, semua sudah terlambat. Kaki Lin Tian sudah berada dalam jarak yang begitu dekat dan didetik berikutnya, pendekar pedang ini terpental jauh ke belakang kemudian tidak lagi bergerak. Lambungnya berantakan, dia tewas seketika


Kemudian, pemuda ini memutar tubuhnya dan ikut mengeroyok pendekar tongkat itu.


"Bedebah kaliaaaannn!!!" teriak orang itu marah. Tangannya masih terus memutar tongkat untuk menahan serangan kedua musuhnya.


"Hehe bagaimana rasanya dicurangi?" tanya Lin Tian mengejek.


"Kau...!!!"


Di barisan para penonton itu, Zhang Hongli sedang tertawa-tawa menyaksikan kenalakan muridnya.


"Hahaha....bagus Lin Tian, bagus!! Hajar cacing-cacing itu sampai mampus!!"


...****************...


"Sialan!! Sialan!! Sialaaaannn!!"


"Bagaimana mungkin ini terjadi? Dua orang petinggi perguruanku mampu dibuat tak berdaya oleh mereka? Yang benar saja!?"


Di barisan kursi para petinggi Pergurian Tongkat Bambu Kuning, terlihat Feng Hu yang duduk sambil menundukkan muka. Tangannya yang sudah keriput itu mencengkram lengan kursi kuat-kuat saking marah dan terkejut melihat pertandingan di hadapannya.


Dia kaget karena dua orang petinggi yang terkenal kuat dan menjadi kekuatan utama perguruan Tongkat Bambu Kuning mampu didesak hebat oleh dua pendekar yang namanya saja bahkan belum terlalu terkenal.


Maka dengan kemarahan meluap, kakek ini bangkit berdiri dan secepat kilat sudah menerjang Lin Tian menggunakan ilmu pukulannya yang berbahaya.


Lin Tian yang sedang sibuk membantu Hantu Seratus Lengan itu menjadi terkejut tatkala punggunya merasa ada sebuah sambaran angin panas yang sangat dahsyat.


Hantu Seratus Lengan juga menyadari akan hal ini. Maka cepat dia berteriak keras memperingatkan Lin Tian.


"Awas dibelakangmu!!!" teriaknya yang terlihat panik.


Namun sudah terlambat, begitu Lin Tian membalikkan badan, terlihat Feng Hu sudah berada dalam jarak yang sangat dekat dan tangan itu sudah hampir mencapai wajahnya.


"Celaka!!"


"Mati kau!!!"


"Deeesss...."


Semua orang melongo melihat pemandangan itu. Bukan karena melihat Feng Hu yang berani melakukan penyerangan secara menggelap seperti itu, namun karena melihat bahwa pukulan yang sudah teramat dekat itu tidak berhasil mengenai targetnya.


"Guru!!" seru Lin Tian terkejut.


Ya, gurunya inilah yang telah menyelamatkannya. Begitu kakek ini melihat gelagat aneh dari Feng Hu, diam-diam dia sudah bersiap untuk segala kemungkinan buruk. Dan ternyata dugaannya ini benar!


"Dasar orang tua bau tanah!!! Jika kau ingin menacri lawan, akulah orang yang tepat untuk melawanmu!!!" bentak Zhang Hongli sambil menghempaskan tubuh Feng Hu kembali ketempat duduknya.


"Braaakk!!"


Kursi beserta meja itu hancur berantakan. Serempak, semua petinggi langsung berdiri dan mendekati pemimpinnya. Berusaha membantu kakek itu bangkit.


"Pemimpin!!" teriak mereka seraya membantu kakek itu berdiri. Namun tangannya malah ditangkis dengan kasar oleh Feng Hu.


Melihat kejadian ini, semua penonton yang ada di sana menjadi tegang juga marah. Maka mereka secara spontan sudah mencabut senjata masing-masing karena maklum, tak lama lagi akan terjadi sesuatu yang buruk.


Dengan pandangan tajam yang menusuk, Zhang Hongli mengangkat salah satu tangannya dan memberi tanda kepada Feng Hu untuk maju. Sikapnya ini terlihat menantang dan sangat merendahkan Feng Hu.


"Majulah...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2