Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 70. Sastrawan Sakti


__ADS_3

Malam ini adalah malam bulan purnama. Saat ini Lin Tian dan gurunya sedang bermalam disalah satu penginapan di kota raja ini.


Di kamar Lin Tian, saat ini dirinya sedang berbaring terlentang di tempat tidurnya sambil melamunkan sesuatu. Apa yang sedang dilamunkannya?


Ya, dia sedang melamunkan akan Nona mudanya, Zhang Qiaofeng. Hal ini bukan pertama kalinya terjadi, bahkan hampir setiap hari. Ketika pemuda ini sedang sendiri, selalu saja pikirannya terbayang akan Nona muda itu.


"Hah....sampai kapan aku harus melakukan pencarian ini?"


"Sudah lama sekali aku mencarimu Nona, akan tetapi pergi kemanakah engkau?"


"Semoga saja Asosiasi dapat memberikan jawaban yang memuaskan."


Gumam Lin Tian seorang diri dengan helaan nafas yang sudah terdengar entah keberapa kali.


"Hah...andai kata ada Nona disini, pasti akan lebih menyenangkan untuk melihat semua keindahan ibukota. Kalau ada Nona, aku sebagai pengawal pribadi bisa selalu disisinya untuk melindunginya. Jika sudah seperti itu, otomatis aku akan selalu bersamanya. Jika sudah bersama kita-BUAAGHH!!!" ditengah-tengah gumaman Lin Tian, secara tiba-tiba sekali, pemuda ini membenturkan kepalanya kedinding kamar.


"Bodoh!! Apa yang kupirkan!!" katanya sedikit berteriak.


"Woi Lin Tian!! Ada apa!??" teriak Zhang Hongli dari kamar sebelah dengan nada suara kesal karena tidurnya telah diganggu.


"Ti-tidak ada apa-apa guru!!" jawab Lin Tian.


Akhirnya, dengan kepala benjol yang berwarna merah kebiruan, Lin Tian hanya bisa menghela nafas dan merebahkan dirinya di atas kasur. Tidur...


...****************...


Tiga hari berlalu, Lin Tian dan Zhang Hongli sudah tiba di hutan tempat pertemuan mereka dengan Asosiasi. Sudah lima menit lamanya mereka berada di sini. Tiba-tiba, berkelebat tiga orang yang langsung berdiri di hadapan mereka.


"Kami sudah menemukannya Tuan!" ucap salah satu dari mereka.


"Bagaiamana, tolong jelaskan!" jawab Zhang Hongli.


Kemudian orang itu menjelaskan semua tentang informasi yang didapatkannya. Dia berkata jika Nona muda Zhang itu sedang dalam perjalanan menuju Barat daratan. Dia juga bersama seorang wanita cantik yang terlihat seumuran.


"Apa kau tahu, kira-kira kemanakah Nona muda itu hendak pergi?" tanya Lin Tian.


Orang itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Tentu saja hal ini membuat kedua orang guru murid itu kecewa.


"Tapi Tuan, aku punya satu informasi lagi yang menjadi ciri-ciri mereka."


"Apa itu?"


"Mereka berdua menggunakan baju serba hitam dan memakai cadar untuk menutupi wajahnya. Kami bisa tahu jika itu adalah Nona Zhang karena ketika mereka sedang beristirahat, mereka membuka cadar itu."


Zhang Hongli dan Lin Tian mengangguk. Akan tetapi ada satu hal yang mengganjal di hati Lin Tian.


"Bagaimana mereka bisa mengenal wajah Nona?" tanyanya dalam hati.


"Kalau begitu terima kasih banyak Tuan." Zhang Hongli menjura lalu pergi dari sana.


Lin Tian pun hanya mengikut dari belakang.


Selang beberapa menit, begitu kedua guru murid itu sampai di jalanan kota.

__ADS_1


"Guru, apa kita akan langsung mengejar?" tanya Lin Tian.


"Benar." jawab kakek ini singkat.


Lin Tian merasa heran kepada jawaban gurunya itu. Tidak biasanya gurunya ini bersikap begini dingin seperti sekarang.


"Aku punya firasat buruk..." Zhang Hongli berkata perlahan.


"Firasat apa guru?"


Zhang Hongli diam sejenak, dahinya berkerut. Kemudian menjawab, "Aku pernah mendengar bahwa...markas Aliansi Golongan Hitam berada di ujung Barat sana."


"Jika benar seperti itu, tentu cucuku berada dalam bahaya karena kau tahu sendiri, jika sampai saat ini Aliansi masih berusaha mengejar kalian berdua untuk dimusnahkan. Ini sangat gawat!" ucapnya menjelaskan.


Seketika pucatlah wajah Lin Tian sepucat topengnya. Jika benar seperti itu bukan hanya gawat, tetapi benar-benar gawat!! Jika sampai Nona diketahui keberadaannya, tentu saja dia tak akan mampu menghadapi para pendekar Aliansi. Pikir Lin Tian.


"Kalau begitu kita harus cepat guru!!" Lin Tian mendesak.


Zhang Hongli hanya mengangguk dan memepercepat langkahnya.


...****************...


Ketika mereka sudah berada cukup jauh dari kota raja, lebih tepatnya di sebuah hutan besar di sebelah barat kota. Mereka dikejutkan dengan suara teriak-teriakan yang berasal dari kedalaman hutan.


Jelas suara itu adalah suara orang kesakitan yang entah karena apa. Kalau karena pertempuran, disana sama sekali tidak terdengar suara beradunya senjata. Hanya saja, dari tempat Lin Tian berdiri saat ini, terdengar suara alat musik yang-khim yang terdengar sangat merdu.


"Suara apa itu?" gumam Lin Tian.


"Hm...entahlah, ingin lihat?" tanya Zhang Hongli sambil mengerutkan kening. Agaknya kakek ini sedang menerka-nerka, apa yang sedang terjadi di tempat teriakan itu terdengar.


Setelah beberapa menit, sampailah mereka di sebuah padang rumput yang cukup luas. Di sana duduk seorang pria tampan berumur tiga puluhan yang sedang memainkan yang-khim di pangkuannya. Di sekelilingnya, terdapat puluhan orang yang mengurungnya dengan sikap mengancam.


Namun di dekat kaki orang tersebut, menggeletak tujuh orang mayat yang mati dalam keadaan mata terbuka lebar.


"Sastrawan Sakti!! Menyerahlah, kau sudah dikepung!!" bentak salah satu pengurung itu.


"Heh...menyerah? Kalian saja tidak mampu menangkapku dan memintaku menyerah? Sungguh lucu!" jawab orang itu santai sembari memetik yang-khim nya. Sedetik kemudian, telinga, hidung, mata dan mulut orang yang membentak tadi, mengeluarkan darah dan orang itu tewas seketika.


"Apa-apaan itu?" tanya Lin Tian yang terkejut sekaligus heran.


"Oh...jadi ini yang disebut Sastrawan Sakti. Hebat juga ya..." kata Zhang Hongli.


Kedua guru murid ini sedang menonton kejadian itu dari balik semak belukar yang berada tak jauh dari sana. Mereka sengaja tidak menampakkan diri karena memang merasa tidak ada kepentingan untuk ikut campur.


"Cih...serbu!!" seru orang lainnya dan langsung maju menebaskan goloknya.


Seorang yang disebut Sastrawan Sakti ini langsung melompat, tinggi sekali. Akan tetapi, lompatannya ini sungguh membuat Lin Tian dan gurunya merasa kagum bukan main. Pasalnya, orang ini melompat dalam keadaan yang masih duduk!! Dan tangannya itu sama sekali tidak pernah berhenti untuk terus memetik yang-khim nya.


"Woah....hebat!!"


"Luar biasa!! Sungguh pemuda yang lihai sekali!!"


Ketika sedang melayang di udara, suara yang-khim nya ini telah mampu merobohkan tiag orang. Begitu sudah kembali duduk di atas rumput tebal, ternyata para pengurung itu belum menyerah dan kembali mengeroyok.

__ADS_1


Sastrawan Sakti ini masih santai-santai saja. Kemudian dengan beberapa kali petikan alat musiknya, menyambar angin dahsyat yang langsung mementalkan mereka sampai bergulingan tak karuan.


Detik berikutnya, orang ini memainkan sebuah nada yang cepat sekali. Bahkan kali ini, nada ini sedikit banyak juga berpengaruh kepada tubuh Lin Tian dan gurunya. Maka cepat-cepat dua orang ini mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi gendang telinga.


"Aarrghh!!!" teriak para pengurung itu saling sahut menyahut.


Mereka semua sudah roboh di tanah sambil berkelojotan. Namun permainan yang-khim itu masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Hingga beberapa detik kemudian, setelah memastikan mereka semua telah mati, orang itu menghentikan permainan alat musiknya.


"Keluarlah!!" ucapnya seraya melirik ketempat Lin Tian dan gurunya bersembunyi.


Dua orang ini jelas terkejut. Pasalnya, mereka yakin betul jika saat mereka datang, sama sekali tidak menimbulkan suara. Akan tetapi agaknya sastrawan satu ini sudah sadar sedari tadi.


"Hahaha....hebat...hebat!! Jadi ini orang yang berjuluk Sastrawan Sakti!? henat sekali, sungguh tak sia-sia telah mendapat julukan itu!" kata Zhang Hongli begitu sudah keluar dari persembunyiannya.


"Ah...senior terlalu memuji. Semua ini masih tak seberapa jika dibandingkan dengan kepandaian senior." ucap orang tersebut seraya menjura kepada mereka berdua.


"Heh...kita baru bertemu. Bagaimana bisa kau bilang bahwa aku lebih lihai daripada engkau!?" tanya Zhang Hongli dengan kening berkerut karena heran.


Lalu kembali orang itu menjawab, "Tentu saja Tuan, karena saya belum mampu untuk membasmi orang-orang lihai secara sekaligus sebanyak anda. Seperti ketika anda membuat suatu peristiwa yang disebut Runtuhnya Tongkat Budiman."


Mendengar ini, Lin Tian dan gurunya jelas terkejut. Lalu Kakek itu bertanya, nadanya terlihat sangat kaget, "Apa? Kau tahu? Apakah itu artinya kau juga sedang menonton waktu itu?"


"Benar Tuan. Sedari awal saya sudah menyaksikan semuanya. Betapa anda dan Tuan bertopeng ini dengan gagah menentang orang-orang Perguruan Tongkat Bambu Kuning yang telah menyeleweng. Mana bisa saya melupakan peristiwa yang sedemikian hebat itu?"


"Hahaha...jadi kau juga termasuk penonton ya??"


Kemudian mereka melanjutkan obrolan sejenak. Selang beberapa detik, terdengar sastrawan itu berkata, "Tuan, bolehkah saya ikut bersama anda?"


Sontak hal ini kembali membuat guru murid itu terkejut, sekaligus curiga. Bagaimana mungkin seorang yang baru ditemui ini, ingin melakukan perjalanan bersama? Tentu saja hal ini membuat keduanya bingung.


Maka cepat Lun Tian berkata, "Untuk apa kau ikut kami?"


"Jujur saja, saya memusuhi sesuatu yang juga saya yakin kalian amat membencinya sama seperti diriku."


"Hm...maksudmu?" tanya Zhang Hongli yang masih belum paham.


"Aliansi Golongan Hitam. Aku tahu kalian sangat membenci mereka, sebuah organisasi yang telah menghancurkan keluarga kalian." jawab orang itu serius.


"Hah...bagaimana kau bisa tahu?" kembali Zhang Hongli bertanya. Kali ini sikapnya terlihat waspada, begitu juga dengan muridnya, Lin Tian.


"Tentu saja, karena saya pun juga berasal dari Utara sama seperti kalian. Karena itulah sebelum saya sampai di sini, saya telah lebih dulu mengetahui kabar akan kehancuran keluarga Zhang yang dihancurkan oleh Aliansi Golongan Hitam.,".


Guru murid itu kemudian saling pandang sejenak. Seakan-akan mereka sedang berbicara lewat raut wajah itu dan pandang mata itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya Zhang Hongli mengambil keputusan. Disamping rasa curiganya, dia juga membutuhkan tenaga orang lain untuk menjadi penyokong kekuatan keluarga Zhang yang baru. Maka dari itu, dia akhirnya setuju.


Toh orang ini sudah terkenal akan sifat kependekarannya yang patut disegani, untuk apa khawatir? Begitulah pikir Zhang Hongli.


"Siapa namamu?" tanya Zhang Hongli.


Pemuda ini lantas tersenyum dan menjawab, "Minghao."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2