
Saat ini, Hu Tao sedang sibuk berlatih di halaman belakang bersama keempat gurunya. Ya, pemuda ini memang menerima tawaran untuk menjadi murid mereka.
Lantas mengapa pemimpin muda ini setuju-setuju saja? Bagaimana cara keempat orang sakti ini dapat meyakinkan Hu Tao untuk menjadi murid mereka?
Tentu saja Hu Tao seorang pemimpin muda ini tidak asal setuju saja menerima tawaran itu, walaupun di dalam hatinya, dia sangat ingin menerima ajakan menjadi murid tersebut. Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu akan tujuan keempat datuk ini sehingga dia berinisiatif untuk bertanya lebih dulu.
Waktu itu, ketika Dewa Angin Barat menawarkannya untuk menjadi seorang murid, Hu Tao menjawab.
"Maaf untuk senior sekalian, tapi ada apakah gerangan sampai-sampai Tuan sekalian ingin mengangkat saya sebagai murid? Bukankah masih ada lebih banyak orang yang lebih pantas dari saya?" tanya Hu Tao sopan.
Lalu, Shi Yong melangkah maju dan menjawab, "Anak muda, dengarlah penjelasanku..."
Setelah itu biksu ini mulai bercerta. Soal ramalan kakek gurunya yang mengatakan akan ada kelompok pengacau dunia persilatan. Tapi tentu saja kakek ini tidak berkata apa pun tentang Sepasang Naga Putih.
Dia hanya berkata bahwa keluarga Hu harus menjadi lebih kuat untuk menghadapi para pengacau ini. Juga keluarga Hu saat ini adalah keluarga terlemah dari ketujuh keluarga, sehingga dia berniat untuk melatih Hu Tao agar kedudukan keluarganya sebanding dengan keluarga lainnya.
Bujukan yang amat sederhana ini ternyata membuahkan hasil. Ditambah Hu Tao yang masih muda dan juga sedari awal sejatinya dia sama sekali tidak menolak tawaran tersebut, maka cepat pemuda ini setuju untuk menjadi murid mereka.
Dan, dalam hati Hu Tao, diam-diam dia juga sangat ingin untuk mengimbangi Lin Tian atau bahkan lebih kuat. Karena alasan inilah, Hu Tao tanpa ragu-tagu lagi memilih untuk berlatih di bawah bimbingan mereka.
Selama Hu Tao dalam masa pelatihan, kepemimpinan keluarga Hu sementara ini dipegang oleh tetua pertama. Karena Hu Tao berpikir jika tetua pertama adalah orang terkuat di keluarganya saat ini, juga karena kakek itu termasuk seorang yang dapat dipercaya, sehingga Hu Tao memilihnya untuk memimpin keluarga dalam beberapa waktu.
Dan hari ini sudah empat minggu lamanya Hu Tao menjadi murid, selama itu pula ternyata pemuda ini sudah mengalami perkembangan yang mampu membuat keempat gurunya kagum.
"Tak salah lagi, dengan bakat seperti ini, tentulah dia ini adalah Sepasang Naga Sakti." batin Shi Xue.
"Semoga saja benar jika dia dan pendekar bertopeng itu adalah Sepasang Naga Sakti. Karena hanya merekalah satu-satunya harapan bagi dunia ini." bisik pula Shi Yong dalam hati.
"Tunggu aku Lin Tian, suatu saat nanti, aku juga akan menjadi pendekar hebat sama seperti engkau!!" batin Hu Tao penuh semangat.
...****************...
__ADS_1
"Haaa!! Haaa!! Haaa!!"
Terdengar teriakan-teriakan seorang pemuda di dekat danau itu. Sebuah danau yang dikelilingi dengan pohon-pohon berdaun merah.
Terlihat pemuda itu sedang melatih jurus-jurus pukulannya yang jika dilihat sekali pandang, tentu orang akan menilai jika pemuda tampan tersebut sedang main asal pukul angin saja.
Akan tetapi jika dilihat oleh ahli silat tinggi, tentu dia akan sadar jika setiap gerakan pemuda itu mengandung daya kerusakan hebat.
Pemuda ini adalah Lin Tian. Saat ini dia sedang melatih ilmu silat yang diturunkan oleh Zhang Hongli. Ilmu ini bernama "Pukulan Pemecah Karang", yang dimana mampu membuat tangan si pemukul menjadi keras sekeras baja dan jika sudah mencapai tingkat tertinggi, batu karang pun mampu ditembus dengan pukulan ini.
Terlihat banyak sekali peluh yang membasahi tubuh kekarnya, baju putih pemberian gurunya itu sudah terlihat basah kuyub oleh keringatnya sendiri. Hal ini terjadi karena Lin Tian sudah berlatih pukulan itu sejak dua jam yang lalu, dan sampai saat ini belum juga terlihat tanda-tanda bahwa pemuda itu akan berhenti.
"Cukup Lin Tian!!" perintah seorang lelaki tua yang bukan lain adalah gurunya, Zhang Hongli.
Dia keluar dari rumah sederhananya dengan membawa beberapa buah segar di dalam keranjang rotan.
"Kemarilah..." kembali kakek itu berucap sembari memberi tanda kepada Lin Tian dengan tangannya supaya datang mendekat.
"Ada apa guru? Aku belum mampu menguasai Pukulan Pemecah Karang, mengapa anda memanggil?" tanya Lin Tian hormat.
"Hah...ilmu itu mudah untuk dipelajari nanti. Yang penting, sudah satu tahun kau menjadi muridku dan berdiam diri di sini, apa kau tak merasa rindu akan Nona mudamu?" tanya Zhang Hongli dengan berwibawa.
Pertanyaan ini sontak membuat raut wajah Lin Tian berubah, pemuda ini kemudian menundukkan muka dan tidak terdengar sepatah katapun darinya.
Gurunya yang melihat hal ini hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala.
"Tentu saja aku rindu dan ingin cepat-cepat bertemu dengan Nona guru. Tapi, bahkan sampai sekarang pun aku belum bisa memastikan apakah Nona masih hidup atau tidak..." ucap pemuda ini murung.
Zhang Hongli kemudian bangkit dan menarik kerah baju Lin Tian. Kemudian berkata, nadanya terlihat sangat bersemangat dan menggebu-gebu.
"Karena itulah, lupakan soal latihamu itu!! Kau bisa menyempurnakannya di lain waktu. Sekarang ini, kita harus cepat mencarinya, aku juga sangat merindukan Feng'er, kau tahu?"
__ADS_1
Lin Tian mengerjapkan matanya beberapa kali, dia terkejut dengan sikap gurunya yang tiba-tiba berubah ini.
Setelah Zhang Hongli mengatakan ucapan barusan, sedetik kemudian dia sudah melepaskan kerah Lin Tian dan duduk kembali dengan sikap berwibawa.
"Ekhm...maafkan aku. Lin Tian, aku hanya ingin bilang bahwa kita lebih baik untuk segera mencari cucuku. Sudah terlalu lama kau berada di sini."
Kembali Lin Tian melongo heran. Bagaimana bisa kakek ini berubah sikap dalam waktu yang demikian cepat? Batinnya bertanya-tanya.
"Ah!!" tiba-tiba Lin Tian teringat akan sesuatu, maka cepat dia berkata.
"Guru, apakah anda tahu soal buku ini?" tanya Lin Tian seraya mengeluarkan buku kecil yang bukan lain adalah buku Ketenangan Batin.
Zhang Hongli nampak terkejut. "Kau...punya buku ini? Kukira buku ini sudah musnah saat penyerangan keluarga kita. Apa yang sudah kau pelajari dari buku tua ini?" bukannya menjawab, Zhang Hongli malah balik bertanya.
"Aku tidak tahu guru. Yang jelas, selama bertahun-tahun aku mencoba memahaminya, tapi tidak ada satupun yang bisa kumengerti dari buku ini." jawab Lin Tian dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Heheh....memang kau cukup beruntung menjadi muridku...hehe"
"Memangnya kenapa guru?" tanya Lin Tian penasaran.
"Hahahah....kau mau tahu? Heh Lin Tian, untung kau menerima tawaran untuk menjadi muridku, jika tidak, bisa jadi selamanya kau takkan pernah bisa memahami buku kecil ini!! Kuberitahu kau, aku bisa sekuat yang sekarang adalah berkat buku Ketenangan Batin yang ada di tanganmu itu, hahaha...!!" jawab Zhang Hongli seraya tertawa keras.
"Menerima menjadi murid? Kau yang memaksaku orang tua!!" umpat Lin Tian yang tentu saja hanya berteriak dalam hati.
Akan tetapi, diam-diam dia merasa terkejut mendengar bahwa gurunya itu sudah menguasai buku Ketenangan Batin. Maka, dengan rasa penasaran tinggi, pemuda ini kemudian berlutut dan berkata,
"Mohon berikan beberapa petunjuk pada murid, guru!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1