
Lin Tian menebas kearah leher disusul dengan totokan tangan kiri mengarah ulu hati. Sungguh serangan yang berbahaya sekali. Namun agaknya serangan ini masih belum ada artinya bagi Elang Salju yang dengan secepat kilat sudah menundukkan badan dan menangkis totokan itu.
"Plak!!" totokan Lin Tian gagal mengenai sasaran dan pedangnya hanya menebas angin saja. Pemuda ini cepat melompat ke belakang begitu merasakan bahaya dari kedua telapak tangan Elang Salju yang menyambar angin dingin sekali.
"Boleh juga kau!! Coba hindari ini!!" bentak Elang Salju yang masih dalam posisi jongkok. Kemudian disusul dengan hentakan kedua lengan yang menyebabkan daun di tiga pohon lebat sekitar Lin Tian rontok semua. Namun betapa terkejut hati pria tersebut begitu memandang. Kiranya pendekar hantu itu masih berdiri di tempatnya tanpa ada masalah berarti.
"Hanya itu? Kalau begitu coba ini!" kali ini Lin Tian balas menyerang dengan mendorongkan tangam kiri ke arah Elang Salju.
Akibatnya sangat luar biasa. Dari telapak tangan itu menyambar serangkum angin dingin yang kencang sekali. Dia juga mampu merontokkan semua daun di tiga pohon sama seperti musuhnya. Akan tetapi kali ini dua diantaramya rontok berikut pohon-pohonnya.
Elang Salju berdiri dengan muka pucat. Maklum akan kelihaian lawan karena begitu dirinya menahan angin tersebut, terasa olehnya betapa angin yang ditimbulkan itu amat dingin dan mencekam. Jika orang lain yang menahan serangan itu, agaknya dia telah membeku dalam keadaan berdiri.
Akan tetapi belum juga hilang rasa terkejutnya, dia kembali dikagetkan dengan sambaran tiga sinar putih panjang yang menghasilkan kabut tipis dari arah kanan, kiri dan atas.
"Aiihh!!" dia berseru kencang sembari menggerakkan pedang menangkis.
"Trang-Trang-Crokk!! Aaakkhh!!"
Dua kali sinar itu mampu tertangkis, namun sayang, tebasan yang mengarah pundak kanannya berhasil lolos mengenai sasaran.
Makin gentarlah hati Elang Salju. Sudah satu jam dirinya dan Pendekar Hantu Kabut beradu ilmu, namun selama itu belum juga terlihat ada yang terdesak. Kiranya Pendekar Hantu Kabut itu masih menyimpan kekuatannya dan baru sekaranglah dia menunjukkan taringnya.
"Swuusshh-Scring-Scring!"
Kembali sinar-sinar putih itu berkelebat kearah titik-titik mematikan dari tubuhnya. Tak ada pilihan lain, pria ini segera melompat berdiri dan menahan serangan berbahaya dari Lin Tian.
Pertarungan berlangsung makin sengit, dan kali ini Lin Tian lah yang nampak mendominasi. Pada jurus ketujuh puluh, Elang Salju melompat tinggi ke atas. Agaknya julukan Elang yang disematkan bagi pendekar itu bukan hanya nama kosong belaka.
Terbukti dari tindakannya saat melompat tinggi dengan ringan sekali itu. Bagaikan burung elang, pria ini melompat tinggi-tinggi dan setelah bersalto dua kali, dia mengarahkan pedangnya ke arah ubun-ubun Lin Tian.
"Terima ini dasar hantu!!" teriaknya dari ketinggian sana.
__ADS_1
Namun posisi dari Elang Salju ini ternyata amat menguntungkan bagi Lin Tian. Pasalnya, pemuda ini mempunyai sebuah jurus pamungkas di situasi seperti ini. Ya, jurus itu adalah jurus Pedang Penopang Langit.
Maka cepat Lin Tian merendahkan tubuh sampai rendah sekali, dengan posisi kaki kiri jauh kebelakang dan kaki kanan ditekuk. Lalu menusukkan Pedang Dewi Salju ke atas sembari mengangkat tubuh bagian depan secepat kilat.
"Crookk!! Ngiikk!!" terdengar suara mengerikan begitu Pedang Dewi Salju berhasil menembus tenggorokan lawan. Sebelum pedang musuh mencapai tubuhnya, Lin Tian sudah lebih dulu menusuk lehernya yang membuat Elang Salju tergantung di ujung pedang Lin Tian.
Tubuh itu berkelojotan hebat sekali, namun hanya sebentar saja sebelum diam tak bergerak lagi. Elang Salju telah tewas!
Lin Tian lalu mengibaskan pedangnya yang membuat tubuh Elang Salju terlempar. Kemudian pemuda ini melangkah mendekat, memotong kepalanya dan sambil bergumam , dia menatap mata yang masih melotot itu lamat-lamat.
"Kurang enam lagi..."
Setelah itu, Lin Tian menjambak rambut Elang Salju dan diangkatnya. Kemudian, pemuda ini segera berlari cepat menuju markas Aliansi Golongan Hitam.
...****************...
"Cepat-cepat, sebelah sana!! Itu gedung penting, jangan sampai hangus!!"
Selama satu jam lebih, ternyata kobaran api masih belum bisa dipadamkan. Hal ini tak mengherankan mengingat betapa banyaknya rumah-rumah yang terbakar, ditambah kencangnya angin yang berhembus malam itu.
"Ayo-ayo cepat!!"
"Gawaatt....sudah seperempat lebih markas kita hangus!"
Demikianlah mereka berteriak-teriak panik sambil berusaha memadamkan api dengan siraman air sungai.
"Kenapa Tuan lama sekali? Ada apa ini?" batin Ang Bei cemas.
"Lin Tian tentu sudah tahu bahwa aku ada di sini. Dia harus mati! Apa lebih baik jika aku menyusul saja?"
Tiba-tiba, Ang Bei tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara seseorang yang menggetar dan menyeramkan. Suara ini juga mampu menindih teriak-teriakan semua orang, sehingga mereka semua serentak berhenti melakukan kegiatan.
__ADS_1
"Hei...anjing-anjing busuk!" demikian suara ini terdengar. Arahnya dari sebelah tebing Barat.
Kemudian kembali suara itu melanjutkan, "Kalian semua, tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa untuk menghancurkan kami. Aku sudah mengetahui semua rencana kalian, kalian tak lagi bisa mengelak atau apapun. Hanya menunggu waktu saja sampai kehancuran kalian tiba."
Setelah itu terjadi keheningan beberapa saat, sebelum dari atas tebing sebelah Barat sana, meluncur sebuah bayangan hitam yang tepat mengarah ke tengah pemukiman.
"Bruukk!" benda itu jatuh ketanah dengan amat keras.
Segera semua orang mengerubung ke tempat jatuhnya benda itu untuk melihat. Namun alangkah kaget dan ngeri hati mereka ketika menyadari bahwa benda itu adalah kepala milik salah satu petinggi mereka, yaitu Elang Salju.
"Woah!!"
"Bagaimana mungkin!!?"
Seru mereka terkejut dan ngeri ketika memandang sebuah kepala yang masih dalam keadaan melotot lebar lebar.
Yang paling terkejut adalah Ang Bei. Dia memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat pasi, bibir gemetar sampai kebiruan, juga di punggung dan dahinya muncul bintik-bintik besar yang bukan lain adalah keringat dingin.
Diam-diam timbul perasaan takut setengah mati. Bagaimana tidak, Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut itu mampu membunuh Elang Salju dengan amat kejamnya. Apalagi dia!? Tentu dialah target selanjutnya karena telah mengkhianati keluarga dan Asosiasi Gagak Surgawi.
Berpikir demikian, spontan Ang Bei menoleh kearah dimana suara itu terdengar. Begitu memandang ke atas tebing, matanya melotot makin lebar dan wajahnya makin pucat seperti mayat.
Di sana, di puncak tebing itu, berdiri seseorang berjubah putih dengan gagahnya. Jubahnya itu berkibar ke kanan-kiri tertiup angin malam. Bulan di langit itu sudah cukup untuk menerangi sosok yang tengah berdiri bersedekap tangan itu.
"Lin....Tian...." gumam Ang Bei dengan kaki menggigil. Dalam pandangan Ang Bei, mata di balik sosok bertopeng itu sedang memandangnya dengan bengis dan penuh kebencian. Maka tanpa sadar, pria paruh baya ini sudah menggigil hebat saking takutnya.
"Aku harus lari...aku harus lari!!" gumamnya dalam hati sebelum lari pontang panting ke arah Selatan. Agaknya pria ini berusaha keluar dari markas tersebut.
"Kau tidak akan bisa lari pengkhianat! Aku tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG