
"Tidak mungkin, Golok Penghancur Gunung anggota Pilar Neraka itu?" batin mereka semua secara serempak.
Walaupun menimbulkan perasaan jeri, namun pasukan Zhang itu sama sekali tidak nampak memperlihatkan ketakutan itu. Justru amarahnya makin memuncak bahwa orang ini adalah murid dari musuh besar keluarga mereka.
"Bagus!! Golok Penghancur Gunung adalah anggota Pilar Neraka, dan kau muridnya!! Ini memudahkan kami untuk membantai musuh-musuh besar keluarga kami!!" kata salah seorang dari mereka seraya menudingkan pedangnya.
Seperti setan saja, tanpa suara dan dengan cara tiba-tiba, di sana telah berdiri Lin Tian dengan sikap mengintimidasi. Berdiri sekitar lima meter di hadapan Sie Lun, memandang tajam kearah pemuda itu.
Bahkan kali ini, kabut-kabut tipis sudah menyelubungi tubuhnya. Menandakan bahwa pendekar bertopeng itu benar-benar serius akan bertarung habis-habisan jika diperlukan. Karena dia belum pernah mengerahkan tenaga dalam sampai ketahap ini kecuali saat melawan Sian Yang lalu.
Tak lama setelah itu, Minghao dan lainnya berhasil menyusul. Tiga orang ini memandang penuh ketegangan ke arah depan dimana Lin Tian dan Sie Lun saling berhadapan.
Sie Lun waspada, matanya memandang tajam dan berkata, "Cepat buka jalan untuk kami keluar jika ingin Nonamu--"
"Buka jalan keluar!" potong Lin Tian dan memerintahkan pasukan Zhang.
Hal ini membuat terkejut mereka semua, tak terkecuali Hu Tao yang segera melontarkan pertanyaan, "Apa maksudmu Lin Tian? Kau akan membiarkan mereka pergi begitu saja?"
"Buka jalannya!" Lin Tian tak acuh dan kembali memerintah. Bahkan Zhang Qiaofeng sendiri memandang dengan tatapan sedikit tak percaya dan kecewa kepada pemuda itu.
Tak ada jalan lain, mereka yang berasal dari keluarga Zhang segera membuka barisan dan terbukalah jalan bagi Sie Lun dan kawan-kawan.
"Hahaha...sungguh Pendekar Hantu Kabut amat bijaksana, terima kasih dan hutang budi ini akan kubayar suatu hari nanti!!" kata Sie Lun dan segera membalikkan tubuh pergi meninggalkan rumah itu.
Seluruh ruangan itu menjadi hening, tak ada yang berani buka suara dengan keadaan yang kian menegangkan ini. Hingga kesunyian itu buyar akibat bentakan dari walikota.
"Pendekar Hantu Kabut, apa yang kau lakukan!! Istriku dibawa sekalian dan kau malah menyuruh mereka pergi!? Apa kau gila!!?" walikota hendak mencengkeram pundak Lin Tian dari belakang, namun tiba-tiba wajahnya memucat akibat tanggapan Lin Tian.
"Diam!" suara ini perlahan saja diucapkan, namun mampu membuat mereka semua yang berada di ruangan menjadi gemetar. Jika sudah seperti ini, orang-orang Zhang yang sudah paham akan keadaan Lin Tian maklum bahwasannya sudah tak ada yang mampu menghentikan pengawal itu lagi.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan..." katanya lagi dan melangkah ke depan.
Baru satu langkah Lin Tian bergerak, namun satu langkah itu juga mampu membawa Lin Tian sampai dimana Sie Lun pergi lari. Pemuda itu ternyata baru mencapai gerbang kediaman walikota.
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Sie Lun ketika tiba-tiba ada sebuah bisikan yang berasal dari belakang telinganya.
"Jika kau ingin membalas budiku, maka serahkan nyawamu..."
__ADS_1
Sie Lun yang cerdik tahu bahwasannya itu adalah suara Pendekar Hantu Kabut yang sudah datang mengejar. Maka lekas dia mencabut pedang dan menebaskan kearah Zhang Qiaofeng, mencoba melaksanakan ancamannya tadi.
Akan tetapi Lin Tian sudah berhasil merebut Zhang Qiaofeng dari tangan Sie Lun. Sehingga serangan pemuda itu luput.
"Eh...??" Zhang Qiaofeng tersentak kaget begitu dia merasa ada sebuah jubah hangat yang menyelimuti tubuhnya. Dan kaget pula karena tahu-tahu dia sudah bebas dari tangan Sie Lun.
"Kami masih punya Nyonya Wang!! Jangan bergerak atau--aakhhh!!" orang yang menyandera Nyonya Wang mulai mengancam. Akan tetapi perkataannya terputus berbareng dengan lehernya yang juga terputus.
"Terima saja kematian kalian dan jangan banyak alasan....inilah akibatnya jika kalian berani mengusik kami." kata Lin Tian setelah menebas orang barusan.
Tiga puluhan orang pengawal Sie Lun itu serentak bergerak mundur untuk melindungi Sie Lun.
"Sandera sudah bebas!! Untuk apa kalian masih menonton di sana!!!" Lin Tian membentak dan saat itu juga, lima puluh orang-orang Zhang beserta pengawal walikota berbondong-bondong mendatangi gerbang kediaman dengan perasaan marah.
"Bunuh!!"
"Basmi pengkhianat!!"
Mereka berseru nyaring dan tanpa aba-aba lagi, pasukan gabungan itu mengeroyok tiga puluhan orang rombongan Sie Lun.
Hal ini dilakukan agar tidak ada yang melihat tubuh setengah telanjang Zhang Qiaofeng dan nyonya Wang yang pakaiannya sudah robek-robek tak karuan.
Di sana hadir pula walikota Wang yang segera memeluk istrinya erat. Sedangkan anak mereka sibuk bertempur membalaskan sakit hati itu.
Tiba-tiba, Zhang Qiaofeng yang sudah terselimuti jubah luar Lin Tian itu mendekat kearah pengawalnya. Menarik ujung baju pemuda itu sambil berkata lirih.
"Entah untuk keberapa kalinya, tapi aku tak akan pernah bosan untuk mengucapkan rasa terima kasih kepadamu....terima kasih Lin Tian..." katanya lirih sekali, sehingga hanya Lin Tian seorang yang mampu mendengar.
Tanpa menolehkan kepala dan masih melihat kearah pertempuran, Lin Tian menjawab, "Entah untuk keberapa kalinya, tapi saya tak akan pernah bosan untuk menolong Nona, karena itu merupakan satu dari janji-janji yang harus saya penuhi terhadap anda."
Zhang Qiaofeng tersenyum tipis, "Tidak perlu bicara formal kepadaku, agaknya hanya itu yang belum kau penuhi."
"Saya tak pernah berjanji soal itu."
Sungguh, suara lembut Nonanya itu benar-benar seperti air tenang yang mampu memadamkan api kemarahannya. Maka tanpa sadar, kabut tipis yang menyelubungi pemuda itu lambat laun makin menipis dan menghilang.
Kiranya tidak berlebihan untuk mengatakan jika Lin Tian adalah seekor singa, Zhang Qiaofeng ini adalah pawangnya atau penjinaknya atau pemiliknya atau mungkin rantai pengikatnya. Karena memang begitulah kenyataannya.
__ADS_1
Bisa dilihat dari kejadian saat ini dan kejadian di masa lalu, bahwa Lin Tian akan benar-benar berubah buas jika dia berada jauh dari nonanya. Entah karena didorong oleh rasa kesetiannya sebagai seorang pengawal kepada majikan, atau karena hal lain? Lin Tian pun juga tak paham akan hal itu.
...****************...
Setelah berselang lama, seluruh pengawal Sie Lun habis tak bersisia. Menyisakan pemuda itu yang sudah luka-luka hebat. Sedangkan di pihak penyerang, sama sekali tidak jatuh korban.
"Kalian lihat saja....jika aku tak kalian bunuh hari ini....lihat saja...guruku yang akan membalas dan membantai kalian...." kata Sie Lun sambil berlutut kelelahan.
"Memang itulah kehendak kami! Panggil gurumu dan akan kami bunuh sekalian bersama muridnya." Minghao menyahut.
"Kalian...akan....menyesal...." kata terakhir Sie Lun sebelum jatuh pingsan.
"Bunuh!! Dia dan girunya merupakan ancaman besar!!" ucap walikota Wang.
"Yang akan menghadapi gurunya adalah kami. Kalian dan kota ini tak usah ikut campur jika ingin tetap hidup." jawab Lin Tian sambil merangkul Nonanya. Membantu gadis itu berdiri.
"Nona bagaimana ini?" Lin Tian bertanya memintai pendapat.
Gadis itu nampak berpikir, memandang kearah pasukannya dan Sie Lun secara bergantian. "Bunuh saja dia atas nama keluarga Zhang. Jika memang gurunya datang, kita akan lawan." ucapnya yang berarti perintah.
"Siap Nona!!" jawab salah satu pasukan dan sudah bersiap menebas leher Sie Lun. Akan tetapi ada sesuatu hal yang memaksa ia mengurungkan tindakannya.
"Ada apa itu?" katanya heran sambil memandang kearah gerbang kota yang secara tiba-tiba sekali menjadi terang benderang.
Mereka semua juga memandang dengan heran. Tengah malam seperti ini, mana mungkin ada orang yang beramai-ramai pergi ke gerbang kota tanpa tujuan? Demikian pikir mereka.
Namun hal yang membuat mereka bingung segera terpecahkan tatkala ada salah satu pengawal datang dan segera berlutut di hadapan walikota Wang.
"Tuan...ada seseorang yang mengaku sebagai Golok Penghancur Gunung. Dia mengacau di gerbang kota." katanya dengan wajah menyiratkan ketakutan.
Jelas laporan ini membuat mereka terbelalak kaget. Tak pernah disangkanya bahwa guru dari pemuda itu akan datang dalam waktu sesingkat ini.
"Bawa semua harta yang hendak dicuri Sie Lun ke gudang harta. Kita akan melihat ke sana!! Jangan sampai ada warga kota jadi korban!!" perintah walikota Wang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1